
Tidak beberapa waktu berselang Syarif dan Nana duduk warung soto itu para Sepupunya baru saja datang, Lira dengan perut membucit sama dengan Nana, mereka berdua hanya beda beberapa bulan saja usia kehamilan nya.
"Nana" teriak Lira, sangat merindukan sahabatnya itu.
"Ra, gue kangen sama lo, idih lihat perut lo sexy bangat lo hamil." kata Nana senang bertemu sahabatnya itu.
"Sexy apanya oon, gue sudah kayak kasur gulung kayak gini lo bilang sexy, jangan nyindir de lo." kata Lira membalas kata sahabatnya itu.
"Sehat lo??" kata Nana tidak memperdulikan dua lelaki yang bingung melihat istrinya mereka.
"Sepertinya kita disini sudah tidak dianggap Syah. " kata Zhidan melihat tingkah istrinya saat ini.
"Sudah nikmati saja sekarang kita sama-sama akan dicueki. " kata Syarif santai kerena mereka berdua sama-sama mengerti istrinya mereka baru saja bertemu.
"Sudah biarkan saja mereka. " kata Mentari juga sudah duduk bersama suaminya Zaki.
"Anak kamu mana Tari?? kok gak kamu bawak?" kata Syarif pada adik sepupunya itu.
"Abang gak tahu dia saja, mana akan mau dia jika sudah bersama Ayah, mereka ingin lihat sapi, biarkan saja aku juga ingin berduaan sama Mas Zaki sebentar." kata Mentari santai.
"Ahhh lo ini memang ibu aneh ya." kata Syarif tidak abis pikir dengan saudara sepupunya itu.
"Apa kabar lo Sekarang Zak?" sapa Zhidan belum bertemu dengan Zaki dari mereka baru sampai dijakarta kemarin.
"Alhamdulillah aku terus sehat seperti yang lo lihat Idan." kata Zaki santai.
Mereka berenam bercerita sambil menunggu pesanan mereka datang, Syarif disibukan berbincang dengan sepupunya itu sedangkan Nana masih saja asik bercerita tentang dirinya dan Nasib Hanna dengan reza.
Syarif hanya bisa membiarkan mereka berdua untuk bercerita dan melepas rindu mereka sudah hampir satu tahun tidak bertemu selama ini mereka berkomunikasi lewat chat saja.
Syarif melihat ibuk warung soto itu sudah menghilangkan soto di depan mereka saat ini, Syarif mengambil semangkok soto menaruh didepan istrinya yang mengiginkan.
__ADS_1
"Ini sotonya, kamu makan dulu sotonya, nantik terusin gosipnya." kata Syarif pada istrinya itu.
"Gosip apaan sih mas, mana kita ada gitu!! " kata Nana santai.
"Sudah makan dulu sayang, tadi kamu yang mengiginkan ini."Kata Syarif acuh dan bersikap dingin dan cuek seperti biasanya.
"Sepertinya kita susah nikah sama pria super dingin seperti mereka ya." kata Mentari menyahuti kata Nana.
"Benar tu Mbak Tari, arus extra sabar kita."Kata Lira lagi.
"Benar kata kamu Kakak ipar." kata Mentari sedikit ketawa kecil pada Lira.
Akhirnya mereka memakan soto yang sudah lama tidak mereka berada diwarung soto itu, mereka makan dengan diam sambil memperhatikan istri masing-masing.
Setelah siap dengan menatap soto itu mereka semua kembali kerumah Syarif kerena Gio dan Reza juga kan sampai sore ini, mereka berenam memutuskan untuk menunggu Di rumah Syarif saja kerena Zhidan juga belum bertemu sama paman dan bibinya, orang tua Syarif.
Sampai di rumah besar itu Syarif melihat kedua mertuanya lagi berbincang dengan kedua orang tuanya, Syarif hanya tersenyum saja melihat dia keluarga sangat terjalin baik saat ini.
"Kalian dari mana sih Nak?" sapa Mertua laki-laki Syarif.
"Ini Ma untuk kalian dirumah,Menantu Mama selalu ingat sama mertuanya." kata Syarif santai.
"Ini anak dasar ya, gak tahu mertuanya disni, gak sopan-sopan ya." kata Mama Emi geram pada Putranya itu, sehinga membuat semua orang ketawa melihat tingka ibu dan anak itu selalu tidak diam.
Syarif dan Nana juga duduk kembali diteras rumah mereka sambil menunggu Gio dan Reza juga mau sampai, sambil ngopi mereka saat ini di suasana desa sore seperti ini,lingkungan yang masih terjaga keasriannya.
Tidak lama Orang yang ditunggu Akhirnya sampai juga, mobil mewah milik Gio masuk kedalam pekarangan rumah besar milik orang tuanya Syarif, mereka berempat turun, Hanna yang melihat para sahabat nya lagi duduk dengan tersenyum kearahnya.
"Hanna melambaikan tangannya pada Lira dana Nana saat ini, kerena merasa senang bisa bertemu lagi dengan Lira yang sudah lama tidak bertemu.
"Hai Han, apa kabar lo?" sapa Lira senang.
__ADS_1
"Gue baik Ra, lo apa kabarnya? aku sangat merindukan kamu Bed." kata Hanna memeluk Lira.
"Alhamdulilah gue baik, dan sehat Han yang seperti lo lihat sekarang." jawab Lira senang.
"Isss,kok bisa Kak Zhidan bikin lo gembul kayak ginian sih, lucu bangat gue lihat lo." kata Hanna selalu asal bicara.
"Ya bangai mana lagi pengenya gue mintak dipompa terus. " jawab Lira juga asal bicara.
Zhidan Dan Reza hanya saling pandang saja melihat tingkah dua wanita itu tidak ada batasnya jika bicara.
Zhidan hanya bisa diam saja, membiarkan istrinya itu sesukanya bicara, memang seperti itu istrinya sebelum menikah dengannya.
"Capek ya Lo ya Jeng, kampung gue jauh?" tanya Syarif pada Sahabatnya.
"Jauh tapi gue senang dengan keadaan desa lo Syah, adam gak seperti kota, hanya bising suasana disni juga hening dan nyaman kita berada disini." kata Ajeng sambil memeluk bayinya yang baru berumur 3 bulan itu.
"Sini Shila aku peluk Mbak!! " kata Mentari mengambil putri Gio yang cantik dan imut itu. "Nantik kamu besar jadi menantuku saja ya!!" kata Maentari bicara Pada bayi kecil itu.
"Siapa yang mau saya besanan sama kamu Tari,ogah ahhh besanan sama kamu." kata Ajeng kemabali menyahuti kata mentari.
"Coba mbak pikir saja, putraku juga gagah pasti banyak dikejar sama para gadis nantik, seperti Papanya itu." kata Mentari menujuk Zaki yang sudah menatapnya.
"Kalau dia, yang ditiru sifat playboy nya bisa putriku makan hati nantik Tari." kata Ajeng lagi.
"Benar juga itu dek, apa kata istrinya Kakak, suaminya kamu itukan banyak gadis disisinya, jadi lupakn saja untuk menjadikan putri kita untuk menjadi menantu kalian." kata Gio santai.
"Diam lo Gio, biarkan saja mereka bicara gak usah ikutan." kata Zaki santai.
setelah perdebatan mereka usai dan mereka semua ketawa melihat dua pasang suami-istri itu berdebat oleh pasal anak mereka.
Syarif dan Zhidanpun hanya bisa geleng-geleng kepalah, tapi seru juga mereka bukan tentang kerjaan lagi yang dibahas kali ini melainkan anak mereka.
__ADS_1
Sungguh indah disaat mereka sudah menikah, lain dengan Reza dan Hanna, mereka berdua kadang dijadikan ajang bulanan mereka berenam, kerena Reza dan Hanna belum juga menikah sampai saat ini, entah apa yang ditunggu oleh sepasang kekasih itu.
**************