
Syarif sudah bangun dari pagi setelah sholat shubuh dirinya langsung berolah raga diruangan yang sudah ada tersedia dirumah besar itu, tempat piknes Syarif sudah dia sediaka semua alat tidak ada yang kurang diruangan saat ini dia berada.
Syarif saat ini lagi adik dengan saring tinju dan lagi memukul sebuah benda yang tergantung seperti bantal guling.
Nana masuk keruangan dimana suaminya sedang berkeringat memukul dan meninju, Nana hanya berdiri tidak jauh dari Syarif yang tidak tahu keberadaan istrinya itu.
Nana tersenyum saja melihat suaminya yang bertubuh agak berisi dan tinggi, dan tampan itu memukul benda untuk melatih dirinya agar pertahanan diri.
"Mas, apa gak bisa berenti ini sudah jam berapa, sudah beberapa jam kamu berada diruangan ini?? " kata Nana menghentikan kegiatan suaminya itu.
"Sayang dari kapan kamu berada disini?" Tanya Syarif berjalan kearah istrinya itu.
"Sudah 15 menit yang lalu Mas."santai Nana bicara.
"Kamu kelihatnya sudah cantik, apa kamu sudah serapan?" Tanya Syarif kembali pada istrinya itu, yang sudah sangat cantik dengan memakai daster dengan perut yang sudah berisi itu.
"Cantik apanya Mas, perut buncit kaya gini dibilang cantik." kata Nana sedikit mulut manjang pada suaminya itu.
"Tapi itu benaran sayang kamu mang cantik dan sexy seperti ini,bikin aku bertambah sayang. " rayu Syarif demgan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Apaan kamu Mas, lepaskan aku, badan kamu keringatan kayak gitu masa peluk aku Mas." Sambung Nana tidak mau dipeluk suaminya itu kerena Syarif saat ini basah oleh jaringan, Nana agak risih dan mungkin kerena hamil banyak yang tidak disukai.
Syarif masih saja memeluk istrinya itu kerena dia senang bikin Nana kesal padanya, apa lagi dengan perut buncit Nana Syarif lebih senang bermain tangannya di perut buncit istrinya.
"Mas lepas dulu kenapa gak usah pakai peluk aku, aku gak mau kamu dekat-dekat Bandan kamu yang penuh keringat itu." kata Nana kembali keluar dari kukungan tangan suaminya itu.
Nana menarik suaminya itu kearah kamarnya yang ada disebelah ruangan piknes itu dan menyuruh Syarif mandi setelah masuk kekamar, Syarif tidak bisa menolak apa yang sudah mau istrinya, kerena istrinya juga tidak akan tahan melihat dirinya seprti itu, bisa Nana muntah lagi.
Tidak lama Syarif keluar dari kamar mandi dengan rambut basah membuat Nana tidak bisa memalingkan matanya pada suaminya itu yang selalu terlihat mengoda.
"Kenapa begitu menatapku sayang, apa mau peluk aku?" kata Syarif tahu keinginan istrinya itu.
"Ammm" anggukan Nana dengan tidak bersuara.
Syarif hanyan tersenyum dan berjalan kearah tempat tidur, saat ini Nana lagi duduk disana, Syarif langsung mendekatkan tubuhnya itu pada istrinya, Nana dengan cepat melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya, Nana tidak pernah malu lagi apa yang di inginkannya semenjak hamil, dia ingin selalu dekat dengan Syarif apa lagi bauk ketek milik suaminya tidak bisa tidak menikmati bauk itu setiap hari.
__ADS_1
"Sudah,masih ingin lagi?" kata Syarif yang lucu melihat tingkah istrinya itu yang selalu memeluk dirinya setiap pagi kayak gini.
"Belum, sebentar lagi Mas. " manjanya pada Syarif saat ini.
"Sampai kapan kamu seperti ini Na, apa setelah bayi kita lahir sikap kamu yang bikin aku ketawa tiap hari ini akan berlanjut na?" kata Syarif .
"Aku juga gak tahu Mas, bisa jadi begitu, bisa gak !! " santainya bicara.
" Kamu lucu seperti anak kecil."Syarif selalu ingin ketawa jika melihat istrinya setiap pagi seperti ini.
" Jangan kamu ketawain aku Mas, ini semua anak kamu yang membuat aku seperti ini, kerena keinginan dia." kata Nana tidak mau dirinya disalahkan.
Tidak masala Syarif dengan semua tingkah istrinya itu, dia juga senang bisa melihat istrinya selalu tersenyum dan bahagia seperti ini setiap hari.
lama mereka saling berpelukan, akhirnya Nana melepaskan tanganya dari pingang suaminya itu, kerena dia sudah merasa puas apa yang diinginkan.
"Sudah?" Tanya Syarif yang masih memakai handuk dipingangnya itu.
"Hammm." kata Nana hanya mendehem dan anggukkan saja.
-Setelah siap dengan memakai pakaiannya Syarif langsung mengajak istrinya itu untuk turun ke lantai bawah, dengan hati-hati Nana melangkah kakinya turun dari tangah rumahnya.
Syarif memperhatikan setiap gerak istrinya itu, memang susah Nana setiap hari harus naik turun dari lantai dua ke lantai bawah, apa lagi kondisi istrinya yang lagi hamil saat ini.
Sampai dimeja makan Syarif masih melihat pada istrinya itu dengan kata yang tidak dapat ucapkannya.
"Kamu mau makan apa Mas, tadi aku masak nasi goreng cumi, kepengen. " kata Nana dengan sedikit tersenyum pada Syarif.
"Itu saja Sayang, sudah lama aku gak merasa nasih goreng bikinan kamu." kata Syarif kerena semenjak hamil Nana jarang memasak kerena Nana tidak bisa mencium bauk bahan masakan yang ada didapur.
Nana mengambilkan sepiring nasih goreng itu untuk suaminya dan menaruh didepan Syarif.
"Makan Mas, aku sudah bikin ini kerena kamu pasti suka." kata Nana dia tahu suaminya itu sangat menyukai nasih goreng cumi bikinannya itu.
"Terimakasih banyak ya." kata Syarif dengan meyendok nasih goreng itu ke mulutnya. " enak Na, aku pasti tidak akan meyisakan untuk kamu." kata Syarif bercanda.
__ADS_1
"Jika kamu suka makan saja, aku bisa makan yang lain, bi Num juga sudah masak menu lain ini." kata Nana melihat lauk yang lain dia atas meja itu.
"Tidak, aku tidak sejahat itu sayang, mana bisa aku melihat istri ku kelaparan." kata Syarif dengan merupakan satu sendok pada Nana. " Ammm, buka mulut nya sayang biar kamu juga bisa rasakan bertapa enaknya nasi goreng bikinan istri ku." kata Syarif penuh dengan senyuman.
"Gak Mas, kamu saja yang makan, aku sudah ambil ini kok." kata Nana menolak.
Setelah mereka siap dengan sarapan pagi mereka Syarif juga akan mengajak istrinya hari ini untuk belanja kebutuhannya dan apa yang sudah habis di dilemari penyimpanan makanan kering dan cemilan untuk mereka semua dirumahnya itu.
Jam 11 siang Mereka berdua berangkat ke supermarket yang tidak jauh dari tempat tingal mereka, sampai disana Syarif dan Nana memilih semua kebutuhan mereka, dimulai dengan sayur dan kebutuhan dapur lainya Nana sudah membeli, tidak lupa juga dengan cemilanya, itu yang paling utama bagi Syarif kerena istrinya selalu merasa lapar semenjak hamil istrinya itu sudah besar.
Semua sudah didapat Syarif dan Nana membayar Semua belanjaan mereka, setelah itu mereka langsung kembali kerumah, namun saat Syarif dan Nana ingin masuk kedalam mobilnya dia dipagil oleh Dokter Ridwan.
"Dokter Syarif." pangil Ridwan kerena dia juga berada di sana.
Syarif langsung menoleh kebelakang dia melihat Ridwa bersama Sari, ada tanda tanya saat ini dihati Syarif.
" Ridwan kenapa kamu ada disini? kata Syarif bingung pada Asisten ya itu.
"Memang dokter saja yang bisa libur aku juga ingin libur." Kata Ridwan Bicara dengan Santai.
"Kamu ingin belanja juga ?" kata Syarif masih memperhatikan sari hanya diam saja disamping Ridwan.
"Gak, aku hanya menemani dia belanja, sekalian juga aku ada yang mau dibeli." kata Ridwan.
"Ohhh, jika begitu kami duluan ya, kerena kalian baru datang kami tingal dulu ya, jangan lupa kerjakan perkerjaan kamu dengan benar, jangan pacaran saja." kata Syarif bicara santai dan cuek pada Asistennya itu.
"Syah aku mintak maaf." kata Sari pelan dengan sedikit menundukan kepalanya.
Syarif hanya diam saja saat mendengar kata dari gadis yang selama ini mengejarnya.
******************
Jangan lupa baca Novel baru thorr ya bunda cantik, dan Thor mintak dukungannya dengan lake dan komentar nya.
(CINTA SEBELUM PERJODOHAN 2)
__ADS_1