CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN

CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN
Akan kerumah baru


__ADS_3

Siang ini Syarif ingin mengajak istrinya untuk melihat rumah baru mereka, satu minggu lagi dia akan membawa istrinya itu tingal dirumah yang baru dibeli nya itu.


Syarif beranjak masuk ke kamar nya saat ini setelah siap dengan kerjaannya saat, dilihatnya Nana lagi tertidur nyaman ditempat tidur itu, kerena semalaman mereka menghabiskan waktu bercinta mereka dengan panas, hanya satu jam saja mereka tidur,waktu shubuh sudah masuk.


Syarif duduk di samping istrinya yang lagi tidur itu, dia menatap istrinya itu dengan sangat sayang,wajah teduh istrinya itu membuat Syarif tidak bisa berpaling pada siapapun lagi, kerena dia sudah sangat mencintai istrinya saat ini.


Syarat menyetuh wajah cantik istrinya itu dengan lebut dan dia tersenyum setelah mengigat apa yang sudah didapatkan oleh nya semalam itu, percintaan ranjangnya bersama istrinya itu membuat Syarif tidak bisa melupakan begitu saja, nana sudah membuat Syarif kecanduan dengan pergulatan mereka semalam itu.


"Terimakasih sayang kamu sudah memberikan pada ku semua,aku tidak akan sangkah sangat mencintaimu seperti ini,aku juga tidak tahu rasa cinta ini tumbuh." kata Syarif becara pada Nana yang tertidur pulas itu.


Nana terusik tidurnya oleh Syarif saat ini masih membelai pipi mulusnya itu,Nana terseyum saja saat suaminya belum sadar saat Nana mendegar apa katanya barusan.


"Aku memberikan padamu mas kerena aku juga sangat mencintaimu." kata Nana mengalungkan tangannya ke leher suaminya itu saat ini juga menuduk kearahnya.


"Jangan memancing ku Sayang, saat ini waktunya belum tepat, aku takut saja dirimu tidak akan bisa jalan nantik." Kata Syarif penuh peringatan itu.


"Sapa yang memancing mas, aku cuma ingin memeluk kamu, dan ingin lebih mesra lagi pada kamu, yang selama ini kita tidak pernah seperti ini." kata Nana santai bicara pada suaminya.


Syarif sedikit tersenyum saja melihat tingkah istrinya itu sudah mulai berani padanya, tidak seperti biasanya.


"Sepertinya istri dokter tampan ini sudah mulai berani mengodaku." canda Syarif pada Nana yang membalas senyumanya itu.


"Kamu yang yang membuat aku seperti ini Mas, jadi jangan salah kan aku" balas Nana tidak mau kalah.


"Ohhh seprti itu ya, sekarang kamu lebih berani dari sebelumnya." kata Syarif meyabar bibir istrinya itu, dia mulai melamat bibir manis istrinya itu sesaat, Nana juga sama-sama menikmati permainan mereka saat ini, walau tidak ada yang lebih yang bisa mereka lakukan saat ini kerena Syarif masih mengigat istrinya saat ini belum bisa untuk memuaskan dirinya kembali, kerena masih lecet pada milik istrinya itu akibat ulahnya semalam.


Syarif melepaskan pagutannya itu, dia juga tidak mau yang lebih hari ini, dia masih sangat kasihaan pada istri kecilnya, Syarif mencari cara agar dirinya tidak terpancing oleh kemauannya hari ini.


"Apa kamu bisa berjalan hari ini?? milik kamu tidak terlalu sakitkan???" tanya Syarif pada Nana


"Tidak, hanya sedikit saja rasa nyerinya mas, emangnya kenapa?" kata Nana kembali bertanya.


"Kita lihat rumah kita yok, dari pada kita dirumah seharian,bisa-bisa aku khilaf lagi, aku akan membuat kamu gak bisa jalan nantik.


"Itu pikiran kamu saja terus kerah sana Mas." sahut Nana cuek saja biacara..


"Kerena itu sayang aku mengajak kamu, agar kamu bebas hari ini." kata Syarif tersemyum pada istrinya.


"Ya sudah kita berangkat sekarang aku pakek pakain ini saja ya." kata Nana.

__ADS_1


"Ya sudah kita pakaian santai saja hanya dekat kok dari sini." kata Syarif menjawab kata istrinya.


"Ya sudah kita pergi sekarang." ajak Nana turun dari tempat tidurnya itu.


"Tunggu dulu sayang rapikan dulu rambutnya dan kasih bedak sedikit itu wajahnya biar gak pucat." kata Syarif bicara pada istrinya itu.


"Jika begitu aku dandan cantik saja ya, seperti suamiku tidak nyaman membawa ku seperti ini." kata Nana sedikit merungut berjalan kearah meja hiyas.


Syarif hanya tersenyum saja melihat tingkah istinya itu, hanya dia yang bisa membuat dirinya tersenyum, sebelumya Syarif selalu banyak diam dan tidak banyak bicara dengan orang tidak dikenalnya.


Tidak butuh lama menunggu istrinya berdadan dengan seadanya masih terlihat cantik Nana dimata Syarif tidak ada yang lebih cantik diri istrinya itu.


"Mas aku sudah siap, ayok kita berangkat." kata Nana mengajak suaminya untuk pergi kerumah barunya itu.


"Ayok." balas Syarif cepat kerena dia juga tidak mau menundanya lebih lama lagi, hari ini dia juga akan mengajak istrinya itu untuk belanja prabot rumah baru untuk mereka.


Syarif melajukan mobilnya dengan santai tidak terlalu laju kali, kerena tidak ada yang harus dikejarnya hari ini.


Syarif membelokan mobilnya ditoko yang dimana menjual alat perlengkapan rumah tangga sebelum mereka kerumah barunya itu.


"Mas kok kita jadi ke sini, mau ngapain ??" kata Nana bingung melihat pada suaminya itu.


"Yang benar Mas aku boleh milih apa yang aku suka??" kata Nana kembali.


"Benaran Sanyang kamu boleh milih apa yang kamu suka hari, Mari kita turun." ajak Syarif membawak istrinya itu turun dan masuk kedalam toko Parabotan itu.


Nana berkeliling mencari apa model Parabotan yang dia inginkan saat ini belum ada yang di temukan ynga dia suka saat ini,Syarif masih tenang saja mengikuti langkah istrinya itu dari belakang.


"Apa ada yang kamu suka?" kata Syarif bertanya pada istrinya itu.


"Mas aku ingin sofa diruanga tamu seperti itu, apa aku boleh memilih bahan dari jati itu?? " kata Nana lembut pada Suami itu.


"Itu terserah kamu Na, aku hanya mengikuti apa pilihan kamu saja." kata Syarif.


"Terimakasih mas, aku mau yang itu saja cantik." kata Nana memeluk Syarif tampa malu didepan Karyawan toko itu.


"Sayang lihat itu di belakang kita ada karyawan lagi melihat kita, apa kamu tidak malu??" kata Syarif berbisik pada istrinya itu.


"Iya Mas, aku lupa semakin senangnya." kata Nana merasa sedikit malu.

__ADS_1


Setelah sofa ruang tamu dapat mereka pinda untuk Prabot dapur, setlah itu mereka juga tidak lupa mencari perlengkapan untuk kamar pribadi mereka juga, itu yang paling utama oleh Syarif, kerena dia tidak mau istrinya tidak merasa nyaman saat berada dikamar.


"Untuk soal kamar itu adalah urusan aku, kamu gak boleh ikut campur sayang, bagian ini adalah untuk ku, kamu diam duduk disana tunggu saja aku tempat duduk itu." kata Syarif tidak memperolehkan istrinya lagi ikut campur dengan isi kamar mereka.


Setelah dapat dengan semua itu, hari ini alat itu akan diantar oleh Karyawan toko itu lansung ke rumahnya juga hari ini juga.


Syarif meningalkan Toko itu kembali melanjutkan perjalana mereka saat ini, namun sebelum itu mereka makan siang dulu di salah satu restoran yang biasanya Syarif berkumpul dengan para sahabat.


Disana Syarif juga sudah ditunggu oleh Gio dan Ajeng, yang segaja Syarif megajak Sahabatnya itu untuk makan siang bersama.


Sampai ditempat mereka makan itu, Syarif mengandeng tangan istrinya itu masuk kedalam restoran itu, sepasang suami-istri suadah melambaikan tangan pada mereka saat ini.


"Ayok kita kesana mereka sudah menunggu kita." kata Syarif pada Nana.


Nana hanya mengikuti langkah suaminya itu kemana dia akan mengajaknya, Nana tersenyum melihat Ajeng sudah terseyum kepadanya.


"Hai Mbak Ajeng apa kabarnya." kata Nana menyapa Ajeng.


"Seperti yang kamu lihat Na hari ini." balas Ajeng seadanya.


"Syukurlaha Mbak selalu sehat." kata Nana saat ini.


"Kalian dari mana saja sih gue sudah lama nungguin disini, untung saja gue baru priksa kandungan Ajeng dirumah sakit Syah, tapi lo gak masuk hari ini." kata Gio santai bicara pada Sahabatnya itu.


"Lo bisa priksa istrinya lo sendiri Gio kenapa harus lo bawak kerumah sakit." kata Syarif suka asal bicara.


"Memanag gila lo ya, mana mungkin gue priksa dia gak pakai alat Oon. " kata Gio kesal pada sahabatnya itu.


"Ohhh iya gue lupa jika lo tidak bertugas dokter lagi, lo sekarang seorang CEO ya." kata Syarif bicara selalu asal saja jika dengan Gio dan Ajeng.


"Ahhh tingkah lo sama Saja Syah gak berubah-ubah dari dulu, capek gue jika


dengar lo." kata Ajeng sedikit kesal.


"Ya namanya aku lupa Jeng, jangan sewot gitu kenapa sih. "Balas Syarif lagi pada Ajeng


"Sudah,, jika ladenin lo bicara gak makan makan kita nantik, gue sudah sangat lapar." kata Gio megabil buku menu dan langsuang memesan makanan untuk mereka semua.


***********

__ADS_1


__ADS_2