
Nana siap dengan mandinya detelah beberapa menit lalu dia masih perhatikan dengan suamnya itu, Nana keluar dari ruang ganti dengan tubuh yang sudah segar.
Syarif yang duduk disofa sambil melihat kerjaanya dilayar leptop itu, dia menoleh pada istrinya itu.
"Kamu Sudah tampak segar Sayang, aku suka lihat kamu seperi ini di rumah." kata Syarif pada Nana.
"Kami ini aneh saja Mas." kata Nana kurang megeyimak apa yang diucapkan oleh Syarif.
"Sayang, apa kamu sudah memikirkan apa kataku waktu kita didesa?" kata Syarif kembali menatap istrinya itu.
Nana duduk di samping Suaminya itu sedikit diam sambil berpikir, apa yang diucapkan suaminya padanya beberapa hari lalu.
"Aku belum memutuskan sekarang mas, tunggulah beberapa hari lagi aku berpikir apa yang kamu mintak padaku saat itu.
"Baiklah, lebih cepat lebih baik, kerena aku lebih suka kamu berada di rumah, menunggu aku pulang kerja, kamu sudah terlihat cantik saat aku kembali kerja." kata Syarif bicara pada istrinya itu dengan senyuman dibibirnya.
"Aku akan memikirkan lagi, belum tahu apa aku bisa menenuhi apa yang kamu mintak atau tidak." kata Nana santai.
"Jangan begitu Na, mengikutlah kata suaminya kamu, dosa tahu..!! " Celekk Syarif pada hidung mancung istrinya itu.
"Iya lihat nantik." kata Nana menutup hidungnya itu.
"Jangann berikan aku jawaban yang bikin aku kecewa sanyang." kata Syarif sedikit mendekatkan tubuhnya pada istrinya itu yang berada disampaingnya.
Nana hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah suaminya itu, tambah lama sikap suaminya itu bertambah aneh saja padanya, Syarif selalu bersikap selalu ingin dekat dengannya,sehinga Nana tidak begitu kaku dan rasa takut lagi pada suaminya itu.
"Aku gak janji Mas, kamu selalu memaksa apa yang kamu inginkan harus semua harus aku ikuti." Balas Nana pada Suaminya itu sedikit ciek saja bicara.
"Kerena Aku suaminya kamu apapun yang aku inginkan kamu haris menurut, jika tidak mau aku berbuat sesuatu pada kamu." ancam Syarif pada Nana.
"Issss tukang paksa." Nana merepet disamping suaminya dengan pelan suaranya tapi masih terdegar oleh Syarif.
"Janag megerutukku Na, dosa...!! " kata Syarif meyahuti kata istrinya itu kembali.
"Apa sih Mas."'kata Nana salah tingkah kerena Syarif mendengar ucapanya barusan.
__ADS_1
"Sekrang kamu mau aman apa mau aku melakukan sesuatu yang membuat kamu hari ini tidak bisa bicara lagi." kata Syarif betbisik ditelinga Istrinya itu.
"Mas, kenapa sih suka kali menggangu ku sih.!! " kata Nana langsung lari keluar kamarnya itu dengan mulut sedikit manyun.
Sampai di diluar kamar Nana hanya Menhentakan kakinya seperti anak kecil tidak dapat jajanan.
"Isss kamu itu selalu bikin aku kesal Mas, kesal... kesal..!!! " gerutuk Nana saat ini sambil berjalan ke arah dapur.
Sampai didapur itu Nana mengambil sayuran dan ikan yang ada dilemari es,bahan yang bisa dimasak untuk makan siang ini untuk mertua dan suaminya, dari melayani suaminya itu di kamar, bisa mati jangtungan Nana lama-lama di dekat Suaminya itu.
Nana berteman dengan alat dapur saat ini, dia serius dengan sayuran dan bumbu masak, dengan serius Nana megerjakan itu akhirnya tidak terasa waktu satu jam terlewat, masakan Nana sudah terhidang rapi diatas meja makan saat ini.
"Akhirnya siap juga kamu gue olah Coy. " kata Nana Pada seekor ikan Kakap yang sudah dimasak itu, dengan senyuman dibibirnya melihat hidangan hari ini, agar mertuanya suka apa yang dimasak hari ini.
Nana lagi menuang Sayur kedalam makok Mama Mur baru saja menogol didapur itu dengan senyuman diwajah cantik wanita paruh baya itu.
"Nan, kamu sudah siap masak ?woww ini pasti enak masakan kamu Na, mama gak sangka kamu bisa masak." kata Mama Mur melihat ikan Kakap saus padang itu.
"Tidak juga begitu ma, aku hanya bisa masak seadanaya Ma, tidak seperti koki hebat. "kata Nana biasa saja pada mertuanya itu.
"Sekarang Mama pangil Papa kita makan siang dulu, aku juga mau pangil Mas Syarif dulu kekamar Ma." kata Nana menaruh sayur yang baru dimasak itu dimeja.
Setelah itu Nana langsung masuk kekamarnya kembali untuk memangil Syarif yang lagi bekerja di meja Kerjanya.
Syarif sedikit melihat istrinya itu baru saja masuk ke dalam dengan senyuman bibir mungil itu.
"Mas kita Makan yok, aku sudah siap masak." kata Nana mengajak Syarif.
"Iya bentar lagi Na, ini tangung kali." kata Syarif masih megerjakan Kerjanya.
"Mas bisa gak meningalkan itu dulu bentar papa sudah menunggu itu dimeja makan."Repet istrinya itu.
Syarif akhirnya mengalah saja dari istrinya itu selalu merepet saja lebih baik dia mengalah untuk makan siang bersama kedua orang tuanya.
"Ya sudah ayook kita makan, dari pada mulut ini gak bisa diam." kata Syarif memeluk istrinya itu dan megusap bibir mungil itu dengan lembut.
__ADS_1
"Mas, lepas ahh, kamu ini ada saja bikin jantung aku mau copot setiap hari." kata Nana keceplosan bicara.
"Bagus dong, bisa-bisa kamu akan jatuh cinta pada Ku." Goda yarif kembali .
Syarif mencium bibir yang selalu megoceh itu padanya dengan lembut dan melepasksn kembali,dengan senyuman diwajah dokter tampan itu akhirnya dia bisa setiap hari mencicipi bibir yang sudah menjadi candu untuknya.
"Sudah Mas, jangan selalu begini, kita makan dulu yok, tidak enak sama Mama dan Papa." ingat Nana pada Syarif, Nana berjalan keluar dengan mungka memerah dan Syarif juga mengikuti istrinya itu kemeja makan dengan wajah yang bahagia, kerena siang ini dia bergasil bikin istrinya itu jantungnya berdenar.
"Maaf Pa-Ma kami lama, mas Syarif meyiapkan kerjaanya dulu." kata Nana tidak enak pada Kedua mertuanya itu.
"Tidak Apa Nak santai saja, mari kita makan!!" kata Mama Mur.
"Iya Ma, kata Nana juga langsung duduk di samping Syarif, saat ini lagi menunggu piringnya diisi nasih dan lauk oleh istrinya itu.
Nana juga negeri di juga mengabilkan Nasi dan lauk untuk suaminya itu kerena Nana semenjak menikah sudah mulai terbiasa melayani apa kebutuhan suaminya termasuk makan juga.
Syarif makan dengan lahap kerena ikan yang dimasak oleh istrinya hari terasa enak dilidahnya, cocok dengan selerahnya begitu juga dengan kedua mertuanya makan sangat lahap juga.
" Seprtinya kita lagi makan di restoran enak Ma, menantu kita rupahnya pitar Masak." kata Pak Wawan memuji masakan Nana.
"Benar pa ini enak selali ikan yang dimasak oleh Nana." kata Mama Mur senang putranya mendapat istri yang bisa masak, putranya tidak akan banyak makan diluar.
"Lihat putra kamu makan gak berenti tu, lihat sudah satu potong ikan sudah habis piringnya ." canda Papa Syarif padanya.
"Tentu Pa, aku lebih senang masakan istri sediri pada beli diluar." kata Syarif berkata Santai saja pada Papanya itu.
"Ya tentu kamu senang kerena istri kamu pintar masak, coba kalau gak mungkin kamu lebih milih makan diluar dari di rumah.
"Tidak juga Pa, aku sebelum nikah, sering masak di rumah dari beli, aku kurang suka, lebih baik aku masak sendiri." kata Syarif pada Papanya itu.
"Benarkah itu??" kata Mama Mur menatap putranya itu.
"Benar Ma, jika aku lapar dan lagi malas kembali kesini aku kadang nginap ditempat Pakma jika gak di rumah Mentari aku bisa makan di sana ." jelasnya pada Kedua orang tuany itu.
Mama Mur hanya tersenyum saja mendegar penjelasan dari putranya itu, kerena dari dulu Syarif tidak akan pernah mau Belanja diluar jika meyangkut makanan diluar, dia lebih malah masak sendiri jika tidak hanya memakan masakan mamanya saja.
__ADS_1
***********