CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN

CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN
Nana dan Syarif tidak masalah dengan semuanya


__ADS_3

"Syah aku mintak maaf." kata Sari pelan dengan sedikit menundukan kepalanya.


Syarif hanya diam saja saat mendengar kata dari gadis yang selama ini mengejarnya.


Lama Syarif diam memperhatikan Sari teman sekolah waktu sma dan satu desa dengannya itu.


"Syah mungkin selama ini aku salah pada kamu dan Istrinya kamu, aku tidak pernah sadar selama ini dengan tingkahku yang membuat Nana marah padamu,aku mintak Maaf Pada kamu juga Na, atas apa yang aku ucapkan beberapa bulan lalu padamu." kata Sari sedikit melihat Nana dengan tulus.


"Aku tidak pernah masalahkan ini mbak Sari, kerena aku tahu suami ku sangat mencintaiku,aku percaya padanya." kata Nana santai.


"Baguslah jika kamu sudah dasar atas sikap kamu padaku selama ini Sari, aku sudah berulang kali bilang sama kamu, aku tidak pernah suka sama kamu, maaf jika aku juga membuat kamu merasa sakit hati padaku selama ini." kata Syarif juga tidak mau larut dalam masalahnya dengan Sari.


Syarif selama ini tidak pernah open akan sikap Sari dia lebih memetingkan keluarga nya dan pekerjaan, dari urusan yang tidak ada mafaat buatnya sendiri.


"Cobalah untuk mencari pria yang bisa mencintai kamu Sari, mungkin saja Itu dokter tampan sebelah kamu juga mulai Suka sama kamu." sindir Syarif pada Dokter Ridwan.


"Hai dokter jangan bawak-bawak aku. " kata Ridwan kesal.


"Mana saja kalian jodoh, lagian kamu juga tidak ada pacar bukan, makanya mulai sekarang kamu dekatkan Sari, buktinya kamu mau saja menemani Sari belanja, apa itu jika suka. " santai Syarif bicara pada asistennya itu.


"Sudah Mbak Sari gak usah didengar dua orang ini bicara,maaf ya mbak atas sikap suaminya aku sama mbak Sari selama ini, kerena dia juga dingin dan suka cuek dengan siapapun, sama aku juga begitu." kata Nana pada Sari.


"Sayang, jangan bilang begitu, mari kita pulang biarkan mereka menghabiskan waktunya, kita pulang sekarang." kata Syarif membukak pintu mobilnya untuk Nana.


Nana juga Tidak bisa bicara lagi jika suaminya sudah bicara seperti itu, membuatnya harus bungkam dan mengikuti kata Suaminya itu.


Nana hanya tersenyum saja saat duduk disamping Syarif yang lagi megemudikan mobilnya, Syarif juga heran melihat istrinya.


"Sayang kamu kenapa senyum gitu, apa ada yang aneh dengan aku?" bingung Syarif.


"Aku hanya sedikit terpikir sama mantan Mas itu, kok bisa dia mintak maaf, pada hal selama ini dia ingin berusaha keras untuk merebut kamu dari aku." jelas Nana masih tidak abis bukir.

__ADS_1


"Mana ada gitu sayang, Sari bukan mantanku, aku tidak pernah menjalani hubungan apapun dengan nya." kata Syarif tidak suka atas apa dari ucapan istrinya barusan.


"Manta yang kesem-sem sama kamu Mas, bukan mantan pacar.", kata Nana santai.


"Ahhh kamu suka asal jika bicara. " kata Syarif tersenyum saja mendengar kata istrinya.


Tidak lama mobil mereka akhirnya sampai juga dihalaman rumah mereka saat ini, Syarif melihat ada mobil Gio dihalaman rumahnya.


"Kayaknya ada Kak Gio disni Mas." ucap Nana


"Ngapain dia kesini, biasanya dia jika mau bertemu pasti nelpon dulu." kata Syarif agak bingung.


"Ayok turun Mas, kita masuk dulu mungkin ada perlu kak Gio kesini Mas, aku biar suruh bik Num yang angkat belanjaan ini kedalam Mas." kata Nana masuk kedalam lewat pintu samping untuk menangil bik Num.


Syarif juga masuk dari depan tidak mengikuti istrinya lewat belakang kerena dia ingat sahabat nya pasti ada diruang tamu saat ini.


Syarif masuk dengan santai dilihatnya Gio dan Ajeng sudah duduk santai diruangan santai bersama bayi lagi main dengan putrinya.


"Kalian ngapain kesini, emang gak kerja lo ?" kata Syarif pada sahabatnya itu.


Bini lo mana?" kok gue gak lihat?" Gio mencari Nana tidak terlihat.


"Dia lewat pintu samping, lagi bantuin bik Num angkat belanjaan." Syarif santai bicara pada Dua sahabatnya itu dengan gayanya yang cuek itu tidak akan pernah tingal.


"Emang laki kurang ajar Lo ya Syah, masak istrinya lo lagi hamil gitu lo suruh angkat belajaannya, gila lo ya, apa gak bisa lo mintak bantuan itu pada penjaga depan rumah lo." repet Ajeng kesal.


"Bukan aku yang suruh kok dia yang mau sendiri,biarin saja palingan dia hanya angkat yang ringan saja." kata Syarif tidak merasa salah saja.


Tidak lama Nana ikut bergabung dengan mereka, dengan berjalan dengan perut yang sudah besar itu kearah Ajeng duduk dibawah yang beralaskan kasur santai dilantai depan tv .


"Hai cantik, kamu tambah lincah aja sekarang ya, lihat tingkah kamu yang lucu banget, aku semakin gemas saja kamu sayang ." kata Nana mengambil putri Ajeng dan Gio itu dengan gemasnya.

__ADS_1


"Apa kandungan kamu sehat Na?" tanya Gio pada istri sahabatnya itu.


Alhamdulillah kak sehat, tapi mataku gak bisa tidur jika malam, susah kali aku untuk tidur??!!" keluhan Nana sambil memegang bayi Gio dan Ajeng.


"Memang seprti itu Na, kerena setiap ibu hamil pasti akan merasakan hal sama, seperti apa yang kamu rasa sekarang." kata Gio kerena dia memang seorang dokter kandungan yang sudah berenti dari pekerjaan itu kerena harus mengurus perusahaan milik orang tuanya.


"Kamu yang sabar ya Na, saat dia lahir nantik kamu sudah bisa tidur lagi, biarkan dia yang urus bayi lo jika malam." kata Ajeng mengarahkan mulut kearah Syarif.


Syarif hanya tersenyum saja mendengar kata Sahabatnya itu, dan tidak membalas apa kata Ajeng barusan kerena dia juga akan melakukan walau tidak ada orang membantu istrinya dia yang akan melakukan sendiri.


"Kenapa lo diam aja, tidak ada reaksi sedikitpun?? " Tanya Gio aneh melihat kearah teman nya itu.


"Gue harus apa? gue ayahnya pasti gue akan lakukan itu, tampa kalian ingatkan juga gue lakukan itu." kata Syarif bukan tidak tahu dengan megurus seorang bayi, itu soal sudah biasa banginya, kerena dia seorang dokter.


"Tapi benar ya mas, jika aku nantik lahiran kamu juga bantu aku, seperti kak Gio melakukan untuk mbak Ajeng. " pintak istrinya itu.


"Hamm", hanya deheman saja yang mereka dengar dari mulut Syarif saat menjawab kata istrinya sendiri.


"Susah kita nikah sama orang bersikap dingin seperti mereka Na, kita selalau sabar dengan tingkah pria ini." gerutuk Ajeng pada kedua pria pria itu.


"Lahh kok aku dibawak Sayang, salahkan saja Syarif, dia yang begitu bukan aku." kata Gio dengan cepat menyahuti kata istrinya.


"Ahh kamu sama saja dengan dia, malah kali lebih dingin seperti balok es yang dikutup utara sana, apa lagi jika kamu berada perusahaan, sikap seorang pemimpin kamu itu sangat terlihat, semua karyawan kamu tidak bisa berkutik oleh sikapmu." kata Ajeng panjang lebar pada Gio.


"Kok kalian berdua malah ribut sih, gue yang kayak gitu kalian malah ribut, jika mau ribut pulang sana, ini rumah gue oon." usir Syarif tidak serius dengan ucapanya itu.


Pada akhirnya mereka berempat terdiam sebentar setelah itu Gio dan Syarif malah ketawa.


"Hahaha,Gue yang oon apa lo?Tanya Gio kembali.


"Kalian sama gilanya. " gerutu Ajeng.

__ADS_1


Nana hanya terseyum saja melihat tiga sahabat itu selalu begitu jika sudah bertemu tidak pernah akur dan serius jika bicara, merena selalu ada yang di perdebatkan.


***********


__ADS_2