Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 10 Di tampar


__ADS_3

Sebelum pulang tadi Aqilah sudah membayar tagihan ruangan bu Lili sampai 3 hari ke depan dan sudah mengatakan pada dokter Erik untuk memakai obat miliknya.


Awalnya dokter Erik menolak mentah-mentah hingga perdebatan itu berujung sampai ke Andika, tapi Andika menyutujuinya membuat dokter Erik hanya bisa pasrah.


Dokter Erik juga awalnya sempat penasaran siapa Aqilah, tapi setelah perdebatan panjang dan Andika menerima ucapan Aqilah, lalu Aqilah mengeluarkan kartu identitasnya yang membuat dokter Erik tidak percaya dengan penampilan sederhana itu adalah seorang Nona dari keluarga Anderson.


Dalam hati dokter Erik pantas saja Andika tidak bisa berkutik karena keluarga Anderson memiliki kekuasaan yang sangat besar, bisa saja rumah sakit itu tinggal nama karena berurusan dengan keluarga Anderson.


Aqilah baru saja sampai di rumah, ia langsung buru-buru masuk kamar, ia tidak mau mendengar ocehan dari Amel dan Reysa untuk saat ini.


Tubuh dan hatinya sudah benar-benar lelah, ia ingin segera mandi karena di perjalanan ia bertemu dengan Alexsa, bahkan Alexsa menyuruh Aqilah untuk segera bercerai.


Bukan hanya itu Alexsa juga memamerkan foto mesranya bersama sang suami saat tidur di ranjang bersama.


Itu membuat otak Aqilah tidak bisa berpungsi dengan baik, walau pun Aldo sudah mengatakan kalau suaminya dan Alexsa hanya tidur dan tidak lebih dari ciuman, tapi tetap saja ia merasa tidak percaya saat melihat foto suaminya dan Alexsa yang hanya sama-sama memakai baju dalam.


Namun saat baru masuk ke dalam kamar Aqilah sudah mendapatkan tatapan tajam dari suaminya yang sedang mengacing lengannya.


"Dari mana kamu bodoh?! Tidak pantas seorang wanita bersuami pergi dari kemarin hingga menginap dan sekarang kamu baru pulang!"


"Wir, untuk kali ini aku tidak ingin berdebat, aku sudah benar-benar lelah."


Wira bisa melihat kantung mata istrinya yang menghitam dan wajah lesu dari istrinya, biasanya ia melihat istrinya yang tersenyum ceriah setiap kali melihatnya.


Ada perasaan aneh di hati Wira saat melihat istrinya tidak memeluknya, biasanya istrinya itu akan terus mencari masalah.


"Aku tanya padamu dari mana kamu?!"


"Rumah sakit."


Wira langsung mencengkram kuat ke dua pipi istrinya matanya semakin menatap tajam pada istrinya.


"Kamu sudah berani membohongiku?! Aku sudah mengecek rumah sakit terdekat untuk menanyakan pada resepsionis, tapi kamu tidak pernah datang, lalu aku bertanya pada Sasa dan Aulia, mereka bilang tidak sakit dan tidak melihatmu."


Sasa dan Aulia memang ke dua sahabat Aqilah dari kecil hingga Sasa dan Aulia bekerja di MD Anderson Grup.


Sasa dan Aulia juga menutup rapat identitas Aqilah karena permintaan dari Aqilah.


"Sekarang aku tanya sama kamu semalam kamu kemana wanita murahan?! Atau jangan-jangan kamu benar-benar memiliki hubungan bersana Aldo? Aldo juga mengambil cuti 3 hari dan kamu tidak pulang semalaman."


Entah kenapa Wira semakin curiga pada istrinya saat melihat istrinya dan Aldo saling berandu pandang di samping kulkas, hingga saat ini hatinya mulai curiga.

__ADS_1


Walau pun kemarin sore Wira tidak membalas pesan dari istrinya, bukan berarti ia tidak peduli, ia bahkan mencari tau kemana istrinya pergi.


Aqilah melepaskan tangan suaminya yang mencengkram ke dua pipinya.


"Apa kamu itu tidak punya otak Wira?! Kamu menyuruhku untuk menjawab pertanyaan kamu sedangkan tangan kamu mencengram ke dua pipiku."


Wira langsung melayangkan tamparan cukup keras pada istrinya.


Plak...!


"Wanita murahan sepertimu tidak pantas memanggilku tidak punya otak!"


Aqilah yang di tampar oleh suaminya hingga ia tersungkur ke lantai karena ia tidak bisa mengimbangi tubuhnya yang sudah benar-benar lelah.


Aqilah langsung menegakan badanya, ia tetap sama seperti biasanya tidak merintih kesakitan, hanya saja pagi ini ia tidak menampilkan senyuman ceriahnya.


"Aku lelah Wira."


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung berjalan ke arah kamar mandi, belum sempat masuk ke kamar mandi suaminya sudah mencengkram pergelangan tangannya.


"Aku tanya kemana kamu semalam?!"


"Jangan lupa aku adalah istri di atas kertas!"


Wira hanya menatap punggung istrinya dengan perasaan tidak percaya, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada apa dengan Aqilah? Aqilah belum pernah berbicara dengan suara lantang, tapi tadi Aqilah membentaku." batin Wira


Wira duduk di atas sofa sambil menunggu istrinya, ia tidak mau terkena pukulan lagi oleh kakenya.


Setelah sekitar 20 menit Wira melihat istrinya keluar dari kamar mandi, wajah istrinya sangat cantik tanpa make up tipisnya itu, membuat ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada apa dengan hatiku? Tidak mungkin aku tergoda dengan wanita murahan itu." batin Wira


Wira yang terus menatap istrinya hingga tatapan mereka saling bertemu.


Aqilah baru menyadari kalau suaminya itu ada banyak bekas luka pukulan di wajahnya, tapi kali ini ia lebih memilih mengabaikannya.


Bukan Aqilah tidak peduli pada suaminya, tapi tubuhnya merasa sangat lemas, hatinya begitu hancur.


Aqilah langsung masuk ke ruangan ganti untuk ganti baju, hari ini ia akan nongkrong bersama ke dua sahabatnya.

__ADS_1


Setelah selsai mengganti baju Aqilah langsung merias wajahnya yang sudah lama tidak memakai make up seperti saat masih lajang, apa lagi sekarang ia memakai make up semata-mata menutupi bekas tamparan oleh suaminya.


Wira menghela nafas berat saat melihat istrinya masih sibuk di meja rias.


"Aqilah, ayo turun, kakek dan nenek pasti sudah menunggu kita!"


"Kamu turun duluan saja, sebentar lagi aku juga turun."


Setelah mendengar ucapan dari istrinya Wira langsung keluar dari kamar itu.


Setelah 10 menit Aqilah selsai, ia langsung memakai tas kecil dan sepatu hak tinggi.


Aqilah langsung keluar dari kamar, ia berjalan menuju meja makan untuk berpamitan.


"Kakek, nenek, Aqilah pamit dulu."


Aqilah berbicara masih jauh sekitar 3 langkah dari meja makan membuat semua orang yang ada di meja makan menoleh ke arah Aqilah.


Wira melihat penampilan istrinya tidak percaya, ia akui sekarang istrinya sangat cantik, bahkan bekas tamparanya pun tidak ada di pipi istrinya.


"Kenapa tidak sarapan dulu nak?"


"Aqilah buru-buru kek."


"Kamu mau kemana lagi Aqilah?!"


Wira bertanya sambil berdiri, entah ada apa pagi ini dengan istrinya yang menurut ia tidak seperti biasanya.


"Aku mau menjadi asisten peribadi Danu."


Semua yang ada di meja makan sangat terkejut, tapi tidak dengan Bagas dan Susan, mereka yakin kalau Aqilah akan melihat laporan pengembangan di MD Anderson Grup.


"Berapa gajih yang kamu inginkan? Aku bisa memberikan kamu uang lebih banyak, jadi jangan keluar rumah dengan pakaian menggoda seperti itu!"


Menurut Wira dress yang di gunakan istrinya sangat seksi, bukan hanya lekuk tubuhnya saja yang terlihat, namun bagian dadanya sedikit terbuka.


"Aku tidak butuh uangmu, aku masih mampuh dan sanggup untuk mencari uang sendiri, jadi kamu jangan membuang-buang uangmu untuk wanita murahan dan istri di atas kertasmu."


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung pergi, ini pertama kalinya ia membantah ucapan dari suaminya.


Wira memandang punggung istrinya yang semakin menjauh, ia tidak percaya kalau istrinya sekarang membangkang.

__ADS_1


"Lihatlah kek, kalau istri kaka sepupu itu tidak sopan, lebih baik kake suruh kak Wira bercerai saja."


"Aqilah adalah segalanya untuk kakek Resya."


__ADS_2