
Malam harinya Aqilah hanya melihat pemandangan malam dari arah jendela yang sudan di paku oleh suaminya, mungkin agar ia tidak loncat dari sana, ia merasa menjadi tahanan suaminya seutuhnya.
Aqilah berdiri dengan ingatan yang terus mengingat Danu, ia sesekali tersenyum, rasa rindu terhadap Danu semakin besar, ia memeluk ke dua lengannya di perutnya.
"Dan, aku rindu kamu, apa kamu juga merindukan aku di sana? Kamu sedang apa? Bagai mana pekerjaan hari ini? Apa semua berjalan dengan lancar?" batin Aqilah
Aqilah ingin sekali menjadi wanita perhatian untuk lelaki yang mencintainya, dan selalu menghargai perasaannya. Aqilah juga tersenyum saat mengingat pertama kali Danu jujur dengan perasaannya, dan pertama kali juga ia menangis untuk orang lain selain keluarganya.
Wira menghela napas berat saat melihat istrinya terus saja berdiri di depan jendela, bahkan istrinya berdiri di sana sudah lebih dari 1 jam.
"Maafkan aku Aqilah, aku sangat mencintaimu hingga membuat aku melakukan hal ini." batin Wira
Aqilah masih tersenyum lebar sambil mengelus perut ratanya sendiri saat mengingat ia membohongi suaminya tentang kehamilan dan ia berharap kalau kebohongannya itu menjadi kenyataan, ia berharap suatu saat ia bisa hamil dari benih Danu.
Sebenarnya Aqilah ingin sekali menelpon Danu, tapi ia takut ketahuan oleh suaminya, jadi ia terpaksa tidak menelpon Danu, walaun pun rasa rindunya itu sangat besar.
Aqilah tidak tau harus bagai mana lagi agar ia bisa lepas dari suaminya, sudah berbagai cara ia lakukan agar bisa keluar dari kamar suaminya, tapi nyatanya ia tidak bisa semudah itu, mungkin ia harus meminta bantuan Aldo.
Apa lagi selama ini Aldo bisa Aqilah percaya, jadi ia hanya mencoba saja dan berharap kalau Aldo mau menuruti permintaannya.
Aqilah langsung pergi ke arah kamar mandi, ia langsung mrngunci pintu kamar mandi dan langsung menyalakan keran agar suaminya tidak mendengar pembicaraan ia bersama Aldo.
Aqilah langsung mengambil ponselnya di perutnya, lalu ia langsung menghubungi Aldo hingga telponnya di angkat oleh Aldo.
"Hallo Al."
"Iya nyonya, selamat malam."
"Tidak perlu basa-basi, kamu bisa tidak membantu saya keluar dari kamar Wira?"
__ADS_1
"Sebenarnya bisa nyonya, saya memiliki kunci cadangan kamar tuan, tapi akan sangat berisiko, kalau bisa nyonya bangun pagi-pagi, saya akan membuka pintu kamarnya, tidak masalah kalau saya ketahuan dan berakhir di pecat oleh tuan."
Aldo memang sangat membutuhkan pekerjaan, tapi ia tidak lupa dengan Aqilah yang pernah menolong ibunya, jadi ia sebisa mungkin untuk membantu Aqilah walau pun pekerjaan ia menjadi taruhannya, bahkan mungkin bukan hanya pekerjaan yang akan berakhir, tapi bisa jadi nyawanya juga akan berahir di rumah sakit.
"Kamu bisa membantuku, tapi semua ruangan Cctv kamu matikan, kamu buka pintu jam 4 malam."
"Lalu nyonya keluar dengan siapa?"
"Aku akan menelpon Kenny, aku yakin kalau Kenny berada di sekitar sini, aku akan membuka pintu balkon dan kamu juga hapus Cctv saat kamu masuk ke ruangan Cctv, jangan ada satu jejak pun agar nyawa dan pekerjaanmu tidak berbahaya Al, aku tau siapa Wira, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa setelah menolongku."
Memang saat suaminya mandi, Aqilah langsung mencari kunci balkon yang di lempar oleh suaminya hingga ia menemukan kunci itu.
"Baik nyonya, kalau begitu saya matikan dulu telponya, selamat malam."
"Malam."
"Wir, sana tidur di ranjangmu, jangan tidur di sini sempit."
"Tidak mau, aku ingin tidur di sini Aqilah."
Aqilah tidak mau berdebat lagi dengan suaminya, ia langsung membaringkan tubuhnya, ia manpaatkan waktunya untuk tidur terlebih dahulu, agar ia bangun lebih pres.
Setelah istrinya membaringkan tubuhnya, ia langsung mencium kening istrinya sekilas sambil tersenyum lebar lalu langsung ikut membaringkan tubuhnya.
"Sekarang sayang tidur, kasian bayi kita."
Aqilah hanya diam saat suaminya mengatakan bayi kita, tapi perlakuan manis suaminya yang mencium keningnya membuat ia menghela napas berat, andai saja suaminya tidak terlambat, mungkin ia akan membalas cinta dari suaminya, tapi kali ini ia sudah mencintai Danu, dan ia tidak mau belajar untuk mencintai suaminya lagi, ia ingin bersama Danu, lelaki yang sangat mencintainya.
"Maafkan aku Wira, aku tidak bisa mengecewakan Danu, bukan hanya itu, aku juga sudah mencintai Danu." batin Aqilah
__ADS_1
Wira langsung memeluk istrinya dengan sangat erat, ia tidak peduli walau pun istrinya sekarang sudah tidak mencintai ia dan bahkan istrinya sudah mengandung benih dari lelaki lain, tapi ia akan tetap mencintai istrinya.
Istrinya adalah Gadis kecilnya, Wira tidak peduli apa pun yang di lakuk istrinya, yang jelas ia akan tetap mencintai istrinya, ia juga mengelus-elus punggung istrinya agar istrinya tidur dengan nyaman.
Perlakuan suaminya mampu membuat hati Aqilah tersentuh, dan membuat ada rasa sedikit ingin bersamanya, tapi ia tepis perasaan itu, Danu adalah lelaki yang paling baik, ia tidak boleh mengecewakan Danu.
"Aqilah, apa pun yang suamimu lakukan, kamu jangan goyah, ingat, hanya Danu lelaki yang pantas kamu perjuangkan sekarang, kalau kamu kembali bersama Wira, bukan hanya Danu yang kecewa, tapi kamu juga akan mengecewakan orang tua Danu dan Diana, mereka pasti membencimu karena kamu telah menghianati Danu." batin Aqilah
Aqilah mencoba mengontrol keinginannya agar tidak bersama suaminya lagi, ia tidak mau mengecewakan banyak orang yang sudah menyayangi ia dengan tulus selama ini, ia tidak mau kalau sampai di benci oleh orang-orang yang sudah menyayanginya hanya untuk orang yang sudah menyakitinya.
Wira tersenyum lebar saat melihat istrinya sama sekali tidak menolak perlakuan ia, ia berharap kalau istrinya juga membalas cintanya dengan berjalannya waktu, agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Wira tau kalau cintanya memang tidak pantas ia balas, karena ia sudah menyakiti istrinya sangat dalam, tapi ia berharap kalau istrinya tidak memiliki dendam dengan apa yang ia lakukan.
Wira berharap juga kalau istrinya menerima ia sebagai Papa dari janin yang telah di kandung Aqilah, ia berharap istrinya tidak pernah mempermasalakan siapa yang berhak atas anak itu, karena ia tidak mau kalau istrinya sampai kembali lagi bersama Danu.
Aqilah yang sudah memejamkan mata, begitu pun dengan Wira saat melihat istrinya memejamkan mata ia juga ikut memejamkan mata lalu ikut tertidur juga.
Pagi harinya Aqilah langsung bangun lebih dulu sesuai waktu yang ia rencanakan bersama Aldo, lalu ia langsung membuka pintu balkon memakai kunci, setelah itu ia langsung keluar dari pintu dan langsung menyuruh Aldo mengunci pintu lagi.
Aldo mengantar Aqilah sampai di pintu gerbang belakang karena Kenny memang sudah menunggu di sana.
"Al, terima kasih banyak."
"Sama-sama nyonya, lebih baik segera pergi, sebelum tuan membunyikan alaram perintah."
"Baik."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung segera masuk ke mobil Kenny.
__ADS_1