
Aqilah terbangun dari tidurnya, ia sangat terkejut saat di sampingnya ada Danu yang sedang tidur di kursi dengan wajah di sandarkan di atas ranjang milik ia.
Aqilah langsung duduk sambil memukul kepalanya yang sangat merasa pusing, ia mencium parfum sang daddy di pakaiannya, tapi saat menyadari pakaiannya berubah ia langsung berteriak masih sambil memukul-mukul kepalanya.
"Ahhh...!"
Danu yang baru saja tidur akhirnya ia terbangun karena mendengar teriakan dari Aqilah.
"Qi kamu kenapa?"
Danu bertanya sambil memegang ke dua tangan Aqilah yang sedang memukul kepalanya sendiri.
"Bajuku siapa yang mengganti?!"
Danu langsung melepaskan ke dua tangan Aqilah sambil menghela nafas berat, apa lagi ia tidak bisa tidur semalaman karena mendengar permintaan dari Albet.
Danu tidak masalah kalau harus terus menjadi kepercayaan di MD Anderson Grup, ia juga tidak menginginkan harta, ia hanya menginginkan cinta dari Aqilah, tapi ia sadar kalau ia tidak akan mendapatkan Aqilah.
"Oh itu tuan yang menggantikan baju kamu."
"Daddy ada di sini?"
Aqilah bertanya dengan wajah terkrjut dan ia yakin kalau Daddy nya tau tentang rumah tangganya jika Daddy datang.
"Iya, semalam tuan ada di sini katanya sedang ada pertemuan, semalam kamu muntah-muntah dan meracau tentang Wira."
"Huh sialan, bagai mana bisa aku mabuk hanya minum beberapa teguk vokda?"
"Kamu bilng beberapa teguk? Semalam kamu minum 3 botol vokda dan kamu bilng beberapa teguk? Dasar wanita aneh."
"Sembarangan kamu bilang aku wanita aneh, kalau sampai kamu jatuh cinta sama aku baru tau rasa!"
Danu hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepalanya, ia langsung duduk lagi.
"Aku ngantuk Qi semalam aku tidak bisa tidur."
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu sedang memiliki pekerjaan?"
"Tidak ini lebih berat dari pekerjaan, cepat cuci muka, aku akan mengantarmu pulang."
"Pulang kemana?"
"Ke rumah Wira, kenapa otak kamu jadi lemot juga kalau baru bangun?"
"Aku tidak ingin pulang ke sana."
Aqilah menghela nafas berat, ia langsung mengambil ponselnya dalam tasnya, lalu langsung mematikan ponsel yang nomer ponselnya Wira tau, untuk saat ini ia akan menghindari Wira terlebih dahulu dan yakin kalau keinginan berpisah dengan Wira sudah bulat.
Walau pun Aqilah sudah mengatakanhya dengan jelas kalau ia akan melayangkan gugatan cerai, tapi hatinya masih tidak rela untuk melepaskan Wira.
__ADS_1
Namun Aqilah juga ingat kalau perjuangannya itu sia-sia dan sampai kapan pun ia mungkin tidak akan mendapatkan cinta dari Wira.
"Kita kemana sekarang? Kamu mau pulang ke rumah tuan? Atau mau tinggal di apartement?"
"Aku ingin keluar dari jakarta untuk sementara waktu, untuk menata hatiku yang sudah hancur berkeping-keping, tapi aku juga tidak ingin pergi ke luar negri."
"Iya sudah kamu bisa tinggal di rumah orang tuaku di kampung, masalah pakaian tadi aku suruh Sinta untuk membawa 5 setel pakaian karena aku tidak tau kamu suka yang bagai mana."
"Kamu punya kampung? Bukan'kah kamu lahir di jakarta?"
"Iya itu kampung ibu aku, ibu yang melahirkan aku, kalau di sini Papa dan yang biasa aku panggil Mama itu adalah ibu tiriku."
"Boleh kalau kamu mengijinkan aku tinggal di sana, tapi aku mau sama kamu, MD Anderson Grup biar Kenan dan asisten pribadimu untuk mengurus sementara."
"Baik kalau begitu."
Danu tersenyum tipis di bibirnya saat mendengar Aqilah mengatakan ia juga ikut, awalnya ia akan menyuruh asisten pribadinya untuk mengantar Aqilah dan menemani Aqilah yang kebetulan dari kampung.
Tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu.
Tok-tok
"Bentar."
Danu langsung berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu.
"Danu ini bajunya saya bawakan 7 setel. Saya kurang tau selera nona."
"Iya sama-sama, permisi."
Danu menganggukan kepalanya, ia langsung menutup pintu kamar itu kembali.
"Qi, ini baju kamu, aku akan menunggu kamu di luar."
"Tunggu dulu, daddy bilang apa semalam?"
"Tidak bilng apa-apa, hanya mengatakan terima kasih telah menemani putri saya."
"Oh begitu, kamu duduk saja di sofa dulu aku akan mandi dan mengganti pakaianku di dalam kamar mandi."
"Iya sudah."
Setelah Aqilah masuk ke dalam kamar mandi Danu langsung duduk di sofa, ia menyadarkan kepalanya sambil memejamkan mata, ia memang masih sangat ngantuk.
Sekitar 20 menit Aqilah di kamar mandi, ia sudah selsai mandi lalu duduk di atas ranjang untuk melihat isi tasnya, apa yang kurang untuk di bawa pergi.
Tidak ada yang kurang di sana hanya saja hilang obat tidur satu, ia yakin kalau semalam Danu yang memasukan obat tidur di minumannya.
"Danu kamu kenapa?!"
__ADS_1
Aqilah bertanya sambil berjalan ke arah Danu, tapi saat Danu memajamkan mata, ia menghentikan ucapannya, ia yakin kalau Danu tertidur.
"Apa yang di bicarakan Daddy? Aku yakin Danu semalaman tidak bisa tidur karena Daddy." batin Aqilah
Aqilah yakin kalau Daddy mengatakan sesuatu pada Danu hingga membuat Danu tidak bisa tidur.
Dret... Dret...
Suara getar telpon itu membuat Danu bangun, ia langsung merogoh ponselnya di saku celana dan mengangkat telpon itu.
"Iya bu."
"Kamu kapan pulang nak?"
"Hari ini bu, mungkin sore Danu sudah sampai sana, sekalian sediakan kamar kosong satu Nona Vero mau ikut ke sana."
"Baik kalau begitu ibu tunggu."
"Iya bu."
Danu langsung memutuskan sambungan telponnya, ia akan memejamkan mata lagi, tapi ia melihat Aqilah sedang menatapnya membuat ia tidak jadi tidur dan langsung memasukan ponselnya dalam saku celana lagi.
"Qi, kamu sudah selsai mandi?"
"Menurut kamu? Sudah sana mandi gih!"
"Entar baju kamu suruh Kenny ambil."
"Tidak usah Qi, aku sudah bawa baju semalam."
"Wow, apa yang kamu recanakan sebenarnya?"
Aqilah berjalan ke arah Danu, lalu ke dua tangannya ia letakan di bahu Danu, ia menatap mata Danu dengan seksama.
Danu yang di tatap lebih intens membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat, ia sangat malu kalau sampai Aqilah mendengar detak jantungnya hingga wajahnya sedikit memerah.
Aqilah yang melihat wajah Danu memerah ia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kamu aneh, seperti di tatap oleh orang yang kamu cintai saja sampai malu-malu! Aku jadi penasaran siapa wanita yang sudah mengisi hatimu."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung duduk di samping Danu.
Danu tidak menjawab ucapan dari Aqilah, ia langsung pergi ke kamar mandi sambil membawa paper bag yang memang sudah di siapkan oleh asisten dari Albet.
Danu sendiri tidak tau apa motif Albet mendorong ia untuk mendekati putrinya, tapi Danu tidak bisa menolak, apa lagi kalau sudah berhubungan dengan Aqilah tentu saja ia bersedia.
Walau pun di hati Danu yakin kalau Aqilah tidak akan pernah membalas cintanya, tapi selama ia ada di samping Aqilah tidak apa-apa walau pun Aqilah hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Setelah Danu masuk ke dalam kamar mandi Aqilah menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa sangat lucu pada sikap Danu yang tiba-tiba pipinya bersemu merah.
__ADS_1
Aqilah langsung mengambil ponselnya, ia langsung mengirim pesan pada Kenan untuk mengurus MD Anderson Grup bersama asisten pribadi Danu.
Aqilah juga tidak lupa menturuh Kenan untuk mengantar seluruh obat-obatan ke alamat kamarnya untuk di bawa ke kampung Danu.