
Wira sama sekali tidak merubah posisnya hingga sore hari, ia masih tiduran sambil memeluk istrinya, tapi berkali-kali ia hanya menghela napas berat, ia memang merasa egois terhadap istrinya, tapi ia tidak mau kehilangan istrinya.
Sudah cukup hampir 1 bulan Wira mabuk-bukan karena rindu dengan istrinya, ia tidak mau kalau istrinya pergi lagi.
"Tolong belajar mencintaiku lagi Aqilah, aku tidak mau kehilanganmu lagi, tolong mengerti perasaanku sedikit saja."
Wira berbicara pada Aqilah yang masih memejamkan mata, seolah-olah Aqilah bisa mendengar ucapannya. Tidak lama Aqilah bangun dari tidurnya dengan kepala yang merasakan pusing, tapi ia masih tetap memejamkan mata, ia bisa merasakan pelukan hangat dari suaminya, hingga ia berandai-andai.
"Andai saja yang memelukku sekarang adalah Danu, mungkin aku akan sangat bahagia." batin Aqila
Aqilah tidak tau kemana cinta ia untuk suaminya, semenjak ia mengungkapkan cinta pada Danu, semenjak itu juga pikirannya terus saja berkelana memikirkan Danu.
"Danu, aku harap kamu bisa bersabar menungguku, aku harap kamu tidak akan membohongiku dengan menerima perjodohan itu, tapi siapa sebenarnya wanita yang di jodohkan bersama Danu, apa dia Olivia, wanita yang selalu mencintai Danu saat SMA, aku yakin kalau Olivia masih mencintai Danu, mengingat Olivia tidak memiliki scandal apa pun." batin Aqilah
Aqilah menghela napas berat sambil masih memejamkan mata, ia tidak tau bagai mana caranya agar ia bisa keluar dari kamar suaminya, kalau ia bisa keluar dari kamar suaminya, ia akan langsung menggugat suaminya melalui pengadilan, ia tidak perlu meminta tanda tangan dari suaminya lagi.
Cukup Aqilah menujukan bukti perselingkuhan suaminya dengan Alexsa, ia bisa menggugat cerai suaminya dengan sangat mudah.
Namun bagai mana Aqilah bisa keluar dari kamar suaminya kalau ia sekarang sudah seperti tahanan, suaminya sudah menyiapkan segalanya yang membuat ia tidak bisa mencari alasan.
"Ah Aqilah, putar otakmu, bagai mana bisa kamu menjadi wanita bodoh sekarang? Seorang pembisnis termuda, kenapa menjadi bodoh?" batin Aqilah
Aqilah terus berpikir bagai mana ia bisa keluar dari kamar suaminya, hanya satu cara agar ia bisa keluar dari kamar suaminya dengan ia pura-pura hamil, tapi tetap akan sangat beresiko karena ia tidak memiliki test kehamilan yang sudah garis dua, kalau ia memiliki itu ia akan mudah juga bercerai dari suaminya dengan berbohong kalau ia sudah mengandung benih dari Danu.
Sekitar 1 jam Aqilah terus saja berpikir hingga ia pun memutuskan membuka mata karena tidak betah suaminya terus saja menciumi wajahnya layaknya seperti ia itu seorang bayi.
__ADS_1
"Berhenti menciumku Wira!"
"Kamu sudah bangun sayang?"
Wira bertanya sambil tersenyum berbinar, ia langsung mengecup bibir istrinya sekilas.
"Wir, berhenti menciumku, aku terasa mual."
"Kenapa? Kamu sakit atau masuk angin sayang?"
Wira bertanya sambil mengangkat kepalanya, sedangkan tangannya sibuk memegang pipi dan kening istrinya.
"A-aku sebenarnya hamil sudah 1 Minggu Wira, itu kenapa aku ingin segera berpisah denganmu."
Ucapan istrinya membuat Wira merasa dadanya tertindih banyak batu, ia merasakan sesak dan tidak bisa bernapas.
Wira bertanya sambil duduk, matanya sudah memerah, walau pun ucapan istrinya sudah sangat jelas, tapi tetap saja ia merasa kalau ucapan istrinya hanya mimpi.
Aqilah langsung duduk, ia menatap mata Wira yang sudah memerah, membuat ia merasa bersalah pada suaminya, tapi di sisi lain ia tidak mau mengecewakan Danu, apa lagi ia sudah mencintai Danu.
"Maafkan aku Wira, tapi itu pakta yang sebenarnya, aku tau kalau aku masih istrimu, tapi saat aku tau Danu akan di jodohkan dengan wanita lain, aku terpaksa tidak mengomsumsi pil KB, aku ingin memiliki Danu dengan menggunakan anak itu untuk mendapatkan Danu seutuhnya, aku tidak peduli walau pun orang tua Danu sangat tidak setuju, karena sampai kapan pun aku hanya ingin bersama Danu."
Wira menghela napas kasar saat mendengar ucapan panjang dari istrinya.
"Aku tetap tidak peduli Aqilah, mau kamu hamil benih Danu, atau kamu pura-pura hamil, karena sampai kapan pun kamu tetap milikku Aqilah, kalau pun kamu benar hamil aku mau menjadi Papa dari benih yang ada di dalam kandunganmu, bahkan aku sangat bahagia karena nanti anak itu memanggil aku dengan panggilan Papa."
__ADS_1
Ucapan Wira bukan sekedar ucapan, ia memang akan menerima anak yang ada dalam kandungan istrinya dengan senang hati, walau pun anak yang ada dalam kandungan istrinya bukan benih hasil miliknya.
Aqilah menghela napas kasar saat mendengar ucapan girang dari suaminya, bukan'kah tadi suaminya menatap ia dengan perasaan kecewa, tapi kali ini terlihat jelas kalau suaminya sangat bahagia.
"Kamu jangan gila Wira, bagai mana bisa kamu tega memisahkan janinku dengan Papanya sendiri, aku ingin tetap bercerai Wira."
"Aku akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri Aqilah, jadi janin yang ada dalam kandunganmu itu tidak butuh Danu agar Danu menjadi Papa, aku juga bisa menjadi Papa yang baik untuk anakmu sayang. Aku akan memangil dokter nanti untuk memeriksa kandunganmu dan memberikan vitamin untuk kandunganmu."
"Bukan'kah katanya kamu tidak memiliki kunci kamar ini lagi? Bagai mana bisa kamu mengundang dokter untuk datang kemari Wira?! Apa jangan-jangan benar adanya kalau kamu memiliki kunci cadangan?"
"Itu mudah di atur sayang, nanti aku menyuruh Aldo untuk mengambil kunci yang aku lempar darj jendela, apa sekarang sayang sudah lapar? Sayang dari kemarin sore belum makan."
Aqilah menghela napas kasar saat mendengar pertanyaan dari suaminya, sudah banyak alasan yang ia buat supaya ia bisa lepas dari suaminya, tapi nyatanya ia tetap tidak bisa lepas dari suaminya, suaminya selalu saja melakukan banyak cara agar ia tidak bisa lepas dari suaminya.
Entah kenapa suaminya sekarang memiliki sikap yang sangat berbeda, suaminya lagi-lagi mempertahankan ia dengan seribu alasan agar ia tidak bisa lepas dari suminya.
"Jangan gila Wira! Aku tidak akan sudi kalau benih Danu, tapi di anggap anak olehmu, Danu berhak atas aku Wira!"
"Kamu bilang Danu berhak atas kamu Aqilah?! Apa kamu tidak berpikir kalau aku adalah suamimu Aqilah, aku jauh lebih berhak atas kehidupanmu, Danu hanya lah kekasihmu, mau kamu membela Danu ke jalur mana pun Danu tetap tidak berhak atas kamu Aqilah!"
"Kamu yang tidak berhak denganku Wira, berhenti bersikap kanak-kanakan, aku ini mencintai Danu, aku ingin bercerai dari kamu, aku tidak akan meminta hartamu walau pun hanya seribu, tapi biarkan aku bahagia bersana Danu, bukan'kah dulu kamu berpikir kalau aku ingin mendapatkan harta kalian?! Aku tidak ingin tentang harta mau pun dulu atau sekarang!"
Aqilah menghela napas kasar sebelum ia melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Dulu aku hanya mengharap cinta darimu, semua siksaan yang aku dapatkan darimu aku selalu menerimanya karena aku mencintaimu, tapi kali ini aku sudah tidak mencintaimu lagi, aku ingin bersama Danu, kenapa kamu masih juga bersikap egois dengan tidak melepaskan aku, kadang-kadang aku heran sendiri kenapa aku bisa mencintai lelaki seperti kamu, lelaki yang hanya mementingkan diri sendiri!"
__ADS_1
Wira menghela napas kasar saat mendengar ucapan panjang dari istrinya.
"Karena sekarang aku mencintaimu Aqilah, jadi aku tidak ingin melepaskanmu!"