Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 17 Di guyur


__ADS_3

Semalam untuk pertama kalinya Wira tidur di ranjang yang sama bersama sang istri dan untuk pertama kalinya Wira mencium kening istrinya.


Saat mencium bibir sang istri adalah saat pendeta menyuruhnya untuk berjanji dengan nama tuhan mengikat Aqilah dengan pernikahan.


Namun saat jam menujukan pukul 04.00WIB Wira buru-buru pindah ke ranjangnya sendiri walau pun ia masih ingin berlama-lama di atas ranjang istrinya.


Harum tubuh istrinya memiliki aroma lavender membuat ia nyaman di peluk oleh istrinya dan ia baru menyadari kalau tubuh harum istrinya memiliki khas yang berbeda.


Bahkan Alexsa saja tidak seharum tubuh istrinya, memang kalau di lihat dari postur tubuhnya menurut Wira istrinya terlihat biasa, mungkin karena ia dari awal menikah sudah sangat membenci sang istri.


Apa lagi saat kelakuan konyol sang istri membuat ia semakin membenci sang istri dan selalu menyiksa istrinya agar semata-mata istrinya itu mau bercerai, tapi hingga sekarang istrinya itu wanita yang keras kepala dan kebal dari caci maki mau pun dari siksaan yang ia buat, seolah-olah penyiksaan itu tidak pernah berarti apa-apa oleh istrinya.


Sudah 2 hari Aqilah tidak melakukan aktifitas seperti memasak karena ada Bagas dan Susan, Amel dan Resya tidak berani menyuruh Aqilah kalau sedang ada mereka berdua karena Amel dan Resya akan di marahi oleh mereka.


Aqilah masih betah dengan tidurnya walau pun jam sudah menujukan pukul 08.00WIB.


Sedangkan Wira sudah rapih dengan kemeja putih dan celana jeans, hari ini ia akan pergi untuk nongkrong bersama para sahabatnya untuk menghilangkan stres.


Apa lagi semenjak menikah dan mengambil alih sebagai CEO membuat ia tidak memiliki waktu untuk berkumpul.


Namun saat melihat istrinya masih terlelap membuat Wira melihat istrinya, tidak biasanya istrinya itu tidur hingga siang.


"Apa jangan-jangan kemarin di gempur terus oleh Danu hingga Aqilah kelelahan?"


Sekali lagi Wira memilikirkan hal mesum tentang istrinya.


Tiba-tiba saja suara panggilan telpon milik Aqilah membuat Aqilah terusik.


Dret... Dret....


Wira yang melihat telpon istrinya bergetar ia buru-buru mengambil ponsel istrinya agar tidak membangunkan istrinya, tapi istrinya sudah lebih dulu bangun.


Aqilah langsung mengambil ponsel yang di pegang suaminya sambil mengusap matanya, ia mengangkat telpon itu.


"Hallo, selamat pagi Nona Veronica."


"Iya pagi."


"Tuan Mahesa ingin bertemu dengan anda, apa Nona Veronica memiliki waktu luang?"


"Kapan Mahesa pulang?"


"Tadi pagi Nona, jadi bagai mana apa Nona Veronica bersedia datang?"

__ADS_1


"Bilang pada Mahesa mungkin sekitar 2 jam lagi aku sampai di sana."


"Baik Nona Veronica. Selamat pagi."


"Pagi."


Aqilah langsung memutuskan sambungannya sepihak, ia meletakan ponselnya di meja lalu langsung melihat ke arah suaminya.


"Tampan."


Satu kata yang keluar dari mulut Aqilah saat melihat wajah tampan dan terlihat segar dari suaminya, tapi sedetik kemudian Aqilah menggelengkan kepalanya pelan.


Suaminya memang sangat tampan, tapi suaminya hanya menganggap ia istri di atas kertas, kata itu mampu membuat hati Aqilah seperti tertusuk ribuan pisau.


Sudah 2 hari Aqilah menghindari suaminya semenjak suaminya mengatakan ia hanya istri di atas kertas.


Selama ini Aqilah berusaha sabar, tapi rasa sabar yang selalu ia tunjukan tidak bisa mengubah sifat keras kepala suaminya,


Belum kering luka atas ucapan dari suaminya Aqilah harus di hadapkan dengan video yang di kirim oleh Alexsa, hatinya sudah hancur dan sekarang semakin hancur.


"Mau kemana?"


"Aku mau bertemu dengan Mahesa."


"Mahesa Pradipita?"


Wira sangat terkejut saat melihat jawaban dari istrinya, ia sedikit bingung kenapa istrinya mengenal Mahesa, pengusaha muda yang selalu menduduki peringkat pertama dalam bisnis perhiasan.


"Bagai mana kamu bisa kenal dengan Mahesa?"


"Kamu juga tau kalau aku bersahabat dengan Aulia dan Sasa tentu saja aku kenal dengan Mahesa."


"Seberapa banyak kebohongan yang tidak aku tau Aqilah? Bahkan saat datamu pernah bekerja menjadi asisten Danu ternyata bohong! Kamu membohongiku hampir 1 tahun tentang pekerjaan. Apa kamu ingin aku menilai kamu wanita baik-baik?! Namun sayangnya kamu tetap wanita murahan di pikiranku, terlebih saat tau kalau kamu tidak pernah bekerja di sana, tapi mengenal Danu itu sangat menjijikan!"


Sebenarnya Wira tidak ingin memaki istrinya setelah kejadian semalam, tapi saat mendengar ucapan istrinya dan ia tau istrinya sedang berbohong membuat emosinya meledak.


"Iya aku wanita menjijikan, aku tidak munafik seperti Alexsa yang terlihat anggun, tapi liar di ranjang!"


Plak...!


Satu tamparan langsung mendarat di pipi Aqilah hingga kepalanya terhempas ke atas ranjang, sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah.


Wira langsung menarik rambut istrinya agar mendongkak menatapnya.

__ADS_1


"Berani kamu memanggil nama Alexsa dari mulut kotormu?! Akan aku robek bibirmu kalau kamu berani mengatakan Alexsa yang tidak-tidak!"


Wira melepaskan rambut istrinya, ia langsung menarik istrinya ke arah kamar mandi.


Setelah di kamar mandi Wira langsung menyalakan shower untuk membasahi tubuh istrinya dengan air dingin.


"Seharusnya seluruh tubuhmu itu di cuci agar mulutmu itu tidak ikut kotor!"


Aqilah hanya diam membisu mendengar makian dari suaminya, ia menyeka darah yang mengalir deras di sudut bibirnya.


"Kapan aku bisa membenci Wira? Kapan aku tidak menjadi bodoh karena cinta?" batin Aqilah


Tangan Wira bersidakep dada sambil memandangi wajah istrinya, ia hanya ingin tau apa istrinya tetap tersenyum ceriah seperti biasanya atau akan menangis, tapi ia tidak melihat senyuman ceriah seperti biasanya atau sekedar menangis saja tidak.


"Apa dingin?"


Tiba-tiba saja mulut Wira bertanya seperti itu pada istrinya.


Aqilah hanya diam, bukan ia tidak mendengar pertanyaan dari suaminya, pertanyaan suaminya sangat jelas di telinganya, tapi ia sudah tidak memiliki alasan untuk sekedar menjawab pertanyaan itu.


Wira menghela nafas berat saat tidak mendengar jawaban dari sang istri, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.


Semenjak istrinya mengirim pesan menginap di rumah sakit, semenjak itu juga istrinya tidak banyak bicara dan bahkan sepertinya enggan untuk menyentuhnya.


Biasnya setiap hari istrinya akan memeluknya, tapi dari kemarin ia tidak mendapatkan pelukan dari sang istri.


Sudah 10 menit Aqilah berdiri di bawah guyuran shower, tapi ia masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.


Ini lah yang selalu membuat Wira aneh dalam sifat istrinya, setiap kali tanganya selalu melukai istrinya, tapi istrinya tidak pernah memohon pada ia untuk tidak menyakitinya.


Wira langsung mematikan keran airnya sambil menghela nafas berat.


"Cepat mandi, setelah itu kamu istirahat dan jangan keluyuran, aku tidak suka."


Aqilah tidak menggubris ucapan dari suaminya, ia langsung melepas bajunya, sekarang ia memakai tengtop dan celana tidur, lalu langsung masuk ke dalam batup


Aqilah menyalakan keran untuk mengisi batup, setelah itu ia langsung membuka sabun mandi cair untuk di campurkan ke dalam air.


Setelah selsai semuanya Aqilah merendamkan seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki layaknya seperti orang bunuh diri.


Wira masih setia melihat istrinya hingga sekitar 20 menit istrinya masih saja tidak memunculkan kepalanya.


Wira langsung buru-buru mendekati istrinya, ia langsung mengangkat tubuh istrinya dengan perasan kuatir, tapi istrinya menepis kasar tangannya.

__ADS_1


"Apa kamu ingin mati Aqilah?!"


"Bukan'kah jika aku mati kamu akan senang?"


__ADS_2