Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 78 Gagal mengancam


__ADS_3

Setelah menelpon Danu, Aqilah langsung mandi, ia menyiram tubuhnya sambil berkali-kali mengerjepkan mata, ia merasa sangat ngantuk setelah pikiranya tenang karena sudah menelpon Danu tadi.


Walau pun pikirannya tenang, tapi ia tau kalau Danu mungkin masih ragu dengan ungkapan cinta yang mendadak, tapi ia akan buktikan kalau ia serius pada Danu.


Setelah selsai mandi Aqilah langsung menyembunyikan ponselnya di letakan di perut karena ia menggunakan manset. Aqilah langsung berjalan ke arah Wira, ia langsung membangunkan Wira.


"Wira bangun aku lapar."


Aqilah sebenarnya belum lapar, tapi ini rencana ia untuk kabur dari rumah Wira, ia bukan tahanan yang terus di kurung di dalam kamar.


"Kamu lapar sayang?"


Wira bertanya sambil mengusap-usap matanya, ia lsngsung duduk dan menatap wajah istrinya sambil tersenyum.


"Kalau kamu lapar, kamu berjalan saja ke arah ruangan kerjaku, di sana sudah ada chef untuk membuatkan makanan."


Aqilah menatap suaminya tidak percaya, jadi suaminya merencanakan rencana itu sangat matang.


"Wira, aku bukan tawananmu, bagai mana bisa kamu menyediakan segalanya di kamar?"


"Itu adalah caraku agar kamu tidak kabur lagi, dengar Aqilah, kamu itu istriku jadi tetap patuh di rumah."


"Wira, tolong lepaskan aku, jangan sampai perusahaanmu bangkrut karena mengurungku."


"Semua urusan kantor sudah aku serahkan pada Aldo, jadi kamu tidak perlu kuatir kalau perusahaanku akan bangkrut."


Aqilah tersenyum lebar pada suaminya saat mendengar jawaban dari suaminya.


"Maksudku bukan bangkrut karena kamu menunda pekerjanmu, tapi bangkrut karena scandal tentang perselingkuhanmu bersama Alexsa, aku bukan wanita bodoh Wira, aku tau setiap trik licikmu, jadi jika kamu masih tidak mau melepaskan aku, siap-siap saja kalau video percumbuanmu bersama Alexsa tersebar luas!"


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung berjalan ke arah balkon, ia ingin memutar otak agar bisa keluar dari kamar suaminya terlebih dahulu, masalah perceraian ia bisa pikiran nanti.


Wira langsung mengikuti ke arah istrinya, ia menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya kalau istrinya memiliki banyak cara untuk bebas darinya.


Saat melihat tangan suaminya akan memeluk pinggangnya, Aqilah dengan cepat memegang tangan suaminya dan langsung memutar tangan suaminya.


"Jangan macam-macam kalau lenganmu itu masih ingin berpungsi!"


Setelah memutar tangan suaminya Aqilah langsung mendorong tubuh suaminya hingga suaminya tersungkur ke lantai.

__ADS_1


Bruk...


"Kamu seharusnya tau siapa aku Wira! Kalau cara lembut masih tidak bisa membuatmu ingin melepaskan aku, maka akan aku gunakan cara kasar, dan bisa jadi kamu akan berakhir di ranjang rumah sakit!"


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung berjalan maju, ia langsung naik ke tembokan yang ada pagar besi kecilnya, tidak ada cara lain agar ia bisa keluar dari rumah itu, cara pura-pura nekad akan membuat suaminya melepaskannya.


Apa lagi suaminya sudah tau kalau ia wanita yang berani, ia yakin kalau suaminya akan menyerah. Wira sangat terkejut saat melihat istrinya sudah naik, ia yakin kalau istrinya itu akan loncat, kalau loncat istrinya bisa meninggal karena dari lantai empat ke lantai satu.


"Apa yang kamu lakukan Aqilah?!"


Wira langsung menarik tangan istrinya yang sudah merentangkan tangan hingga istrinya jatuh ke pelukannya.


"Tolong jangan lakukan ini Aqilah, aku tidak mau kehilanganmu."


Wira berbicara sambil memeluk erat istrinya, ia sesekali menghela napas berat, ia tidak mengerti kenapa istrinya selalu tidak takut dalam hal apa pun.


"Lepas Wira! Aku lebih baik mati dari pada aku tersiksa di kamar ini, aku tidak suka menjadi tawaanan, tolong biarkan aku pergi kalau tidak ingin melihat aku mati!"


Aqilah mencoba melepaskan pelukan dari suaminya hingga ia membenturkan kepalanya pada kepala suaminya agar terlepas.


Dugkk...!


"Itu balasakan karena kamu berani menahanku!"


Wira yang mendengar ucapan dari istrinya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ada saja sikap kekerasan istrinya yang memang sudah mendarah daging.


"Aku tidak akan membiarkanmu untuk pergi dari rumah ini, karena sampai kapan pun kamu hanya istriku Aqilah!"


Aqilah langsung meludah ke lantai saat mendengar ucapan dari suaminya.


"Ciuh! Jangan berharap kalau kamu ingin menjadi suamiku, karena sampai kapan pun aku tidak akan menganggap kamu sumiku lagi."


Setelah mengatakan itu Aqilah berjalan ke arah pagar besi lagi yang langsung di panggul oleh suaminya seperti mengangkat karung beras.


"Jangan berharap kalau kamu bisa lari dariku Aqilah!"


Wira terus saja menggendong istrinya ke arah kamar lagi, lalu langsung menutup pintu kaca balkon kamarnya, setelah itu ia langsung melempar kunci kamar itu ke sembarang tempat karen Ia tidak mau istrinya melakukan hal yang di luar dugaannya.


"Lebih baik kita sarapan sekarang sayang, dari pada kamu terus saja melakukan hal konyol!"

__ADS_1


Aqilah mendengus kesal saat rencananya tidak berhasil, ia pikir suaminya akan memberinya kunci, tapi nyatanya suaminya itu tidak melakukan itu, bahkan suaminya sekarang mengurung ia lagi.


"Aku bukan tawananmu Wira! Jadi berhenti bersikap kanak-kanakan! Aku ingin pergi dari rumah ini!"


"Kamu yang bersikap kanak-kanakan Aqilah, seharusnya kamu memberikan aku kesempatan ke dua, tapi kamu tudak mau memberikan aku sempatan ke dua, jadi jangan salahkan aku kalau membuat kamu seperti tawaan, aku ingin kamu belajar mencintaiku lagi Aqilah, bukan belarajar untuk mencintai Danu, aku ini suamimu, sedangkan Danu bukan suamimu ."


"Sudah aku bilang tidak ada kesempatan ke dua Wira!"


Setelah mengatakan itu Aqiilah langsung melayangkan pukulan pada suamunya.


Bugkk...!


"Itu adalah balasan karena kamu menahanku di kamar sialan ini!"


Bugkkk...!


Satu pukulan lagi di layangkan Aqilah pada suaminya hingga suaminya tersungkur ke lantai untuk yang ke dua kalinya.


"Seharusnya bukan satu atau dua pukulan, seharunya kamu menerima banyak pukulan agar kamu tidak berdaya dan berakhir di ranjang rumah sakit!"


Wira bangun dari lantai karena pukulan tiba-tiba dari istrinya tadi membuat ia hilang keseimbangan. Aqilah langsung berjalan ke arah vas bunga, ia mengambil vas bunga itu untuk ia lemparkan ke arah pintu kaca balkon.


"Jika kamu tidak mau membiarkan aku terjun ke bawah, aku akan tetap terjun ke bawah dengan melempar vas bunga ini pada pintu kacamu!"


Wira henghela napas kasar saat mendengar ucapan dari istrinya, istrinya itu sangat banyak cara agar bisa keluar dari kamarnya, ia tau kalau istrinya tidak pernah takut pada apa pun, tapi ia tidak kenyangka kalau istrinya akan melakukan hal gila hanya untuk keluar dari kamarnya.


"Jangan banting vas bunga itu Aqilah, itu adalah pemberian dari almarum neneku."


Aqilah menghela napas kasar saat mendengar ucapan dari suaminya.


"Aku tidak peduli kalau kamu masih tidak mau membuka pintu kamarmu, akan aku pastikan kalau vas bunga ini pecah!"


Bukannya Aqilah mengurungkan niatnya untuk melempar vas bunga itu, tapi bahkan ia mengancam suaminya dengan vas bunga. Wira menghela napas kasar, istrinya memang sangat keras kepala dan tidak mudah untuk ia tipu dalam hal apa pun.


"Berhenti bermain-main Aqilah, kita itu suami istri."


"Sudah aku bilang kalau aku ingin bercerai darimu! Apa kamu masih tidak mengerti ucapanku juga?!"


"Bukan aku tidak mengerti keinginanmu Aqilah, tepatnya aku tidak akan mengabulkan keinginanmu!"

__ADS_1


__ADS_2