Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 66 Surat persetujuan


__ADS_3

Teman adalah kata yang cocok untuk Malvin karena Aqilah tau kalau Malvin sebenarnya lelaki baik-baik, tapi kebaikannya tidak terlihat setelah Malvin membalas dendam pada orang-orang yang membunuh orang tuanya.


Apa lagi Aqilah akui ia sendiri pun bukan wanita baik, hanya saja ia tidak memberi maaf untuk orang-orang yang mencoba ingin menghancurkannya, begitu pun keluarga Alexsa, ia ingin menghancurkannya, tapi ia sama sekali tidak suka bermain kasar pada lawannya, cara halus lah yang akan ia gunakan.


Bukan hanya itu suatu saat juga Aqilah pasti akan menghancurkan Wira suaminya sendiri, walau pun ia masih mencintai suaminya bukan berarti suaminya akan lolos dari penderitaan permainan halusnya, bagai mana pun ia harus tetap dengan pendirian yang sudah kokoh di bangun untuk membalas orang-orang yang sudah menyakitinya, dan bahkan bangunan itu hampir saja roboh karena kata cinta, tapi ia bersyukur karena Danu selalu ada di sampingnya, mengobati luka hati yang sudah hancur bahkan mungkin akan tinggal menjadi abu.


Aqilah sangat bersyukur karena Danu selalu mencoba membahagiakannya, untuk itu Aqilah tidak ingin lelaki itu terluka, mau pun hati atau pisiknya, ia tidak mau melihat Danu terluka.


Aqilah akhirnya terbebas dari kejaran-kejaran bawahan Malvin, bahkan Malvin sendiri yang mengantar Aqilah pulang ke rumah Danu.


Sepanjang perjalanan Aqilah mengobrol ringan bersama Malvin, awalnya Malvin sangat canggung dan hanya menanggapi ucapan Aqilah, tapi lama-lama ia juga ikut menceritakan tentang masa kecilnya lalu tentang pembunuhan yang di rencanakan.


Sedangkan Kenny sudah pergi dari tadi di suruh Aqilah untuk melihat keadaan Sinta, walau pun Kenan sudah ada di sana, tapi ia tidak mau lepas dari tanggung jawab, apa lagi sekarang sudah ada Malvin.


Supir pribadi Malvin sesekali tersenyum saat melihat senyuman dari Malvin, baru pertama kalinya ia melihat Malvin tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama mereka sampai di depan rumah Danu. Sebenarnya Malvin penasaran kenapa Aqilah pulang ke rumah Danu karena yang Malvin tau dari Kenzi Aqilah sudah menikah dengan Wira, tapi ia sama sekali tidak berani bertanya.


Baru juga Aqilah dan Malvin turun dari mobil sudah di sambut oleh Danu yang langsung memeluk Aqilah sangat erat hingga Aqilah meringis karena Danu mengenai luka lengannya.


"Aku kuatir sama kamu, kamu jangan seperti anak kecil langsung kabur tanpa memberi tau aku terlebih dahulu!"


Suasana sekarang membuat Malvin semakin bingung, tapi ia hanya diam saja di samping Aqilah.


"Maafkan aku Dan, aku tidak ingin kamu terluka."


Setelah mengatakan itu Aqilah melepaskan pelukannya, ia menatap lekat mata Danu yang menujukan kekuatiran membuat ia tersenyum lebar, entah kenapa hatinya sangat senang saat melihat kekuatiran dari Danu.


"Orang kuatir kamu masih bisa tersenyum?!"


Danu berbicara sambil mengacak-acak rambut Aqilah saat melihat senyuman bahagia dari Aqilah.


"He, oh iya Dan, itu Malvin."


Danu langsung melirik ke samping dengan raut wajah berkerut, ia bingung kenapa Aqilah pulang bersama Malvin.


"Kamu tidak sedang mencari selingkuhan baru'kan Qi?"

__ADS_1


Pertanyaan Danu mampu membuat Aqilah menyentil gemes kening Danu sambil tersenyum lebar.


"Kalau selingkuhanku sudah paket komplit, kenapa harus mencari selingkuhan yang lain?"


Danu hanya menanggapinya dengan senyuman, ia langsung mengulurkan tangan pada Malvin yang langsung di jabat oleh Malvin.


"Danu."


"Malvin."


Setelah itu mereka langsung melepaskan tangannya masing-masing.


"Vin, ayo masuk dulu."


"Tidak perlu Qi, aku harus segera pulang, kalau tidak nanti kemalaman di jalan, supirku itu tidak menginap dia sudah berkeluarga."


Aqilah menganggukan kepalannya sambil tersenyum lebar, tidak salah kalau ia menilai Malvin adalah lelaki baik, nyatanya benar adanya kalau Malvin sangat menghargai orang kerjanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan Vin, sekali lagi terima kasih sudah mau mengantar aku pulang."


"Iya sama-sama Aqilah, Danu aku pulang dulu."


"Iya."


Setelah mengatakan itu Malvin langsung masuk ke dalam mobilnya, lalu ia membuka kaca mobilnya sambil tersenyum.


Saat mobil akan melaju Aqilah melambaykan tangannya sambil tersenyum lebar pada Malvin hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.


Danu yang melihat senyuman Aqilah untuk Malvin membuat hatinya cemburu, tapi ia berusaha bersikap biasa saja, berusaha melawan sifat egoisnya, ia masih belum siapa-siapa di kehidupan Aqilah, ia hanya selingkuhan Aqilah, kata itu yang membuat ia berusaha diam.


"Ayo masuk Qi."


Aqilah menganggukan kepalanya, ia langsung menggenggam tangan Danu sambil tersenyum lebar.


"Eh kamu, sayang sudah pulang?"


Sonia menyapa Aqilah sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Iya bu, Aqilah ke kamar dulu."


"Iya nak."


Aqilah dan Danu langsung pergi ke kamar, lalu mereka langsung duduk di sofa. Aqilah mengambil surat persetujuan perceraian, ia juga mengambil pena di meja samping ranjang, setelah duduk, ia akan tanda tangan, tapi Danu mecekal tangannya.


"Pikirkan lebih dulu Qi, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, Wira adalah cinta pertamamu."


Danu memang ingin memiliki Aqilah, tapi setelah ia tau kalau Aqilah pergi untuk membuat surat persetujuan perceraian dan akan menandatanganinya, ia langsung menahan tangan Aqilah karena ia tidak mau melihat wanita yang ia cintai tidak bahagia.


"Hatiku sudah sangat mantap Dan, aku benar-benar sudah ingin bercerai dengan Wira, bukan'kah kamu ingin melihat aku tidak menjadi wanita bodoh lagi?"


"Tapi aku tidak mau kalau suatu saat kamu menyesal Qi, aku memang tidak ingin melihat kamu menjadi wanita bodoh, tapi Wira adalah kebahagianmu."


"Tidak, kebahagianku adalah kamu Danu, dan sampai kapan pun tetap kamu."


Aqilah langsung memeluk Danu dengan sangat erat, ia memang sangat berat melepaskan Wira, tapi bukan berarti ia akan memberikan kesempatan ke dua untuk Wira.


Aqilah percaya kalau suatu saat ia bisa melepaskan Wira sepenuhnya seperti ia mencoba menerima Danu hingga ia bisa benar-benar menerima Danu dalam hidupnya sekarang.


Danu juga membalas pelukan dari Aqilah sambil mengecup pucuk kepala Aqilah, ia bingung dengan hatinya sekarang, haruskah ia bahagia atau ia harus bersedih karena melihat wanita yang di cintainya tidak sungguh-sungguh melepaskan Wira.


"Pikirkan lebih dulu Qi."


"Tidak, keinginanku sudah bulat, aku percaya kalau kamu bisa membahagiakanku Dan."


Sekarang Aqilah lebih baik di cintai dari pada ia harus mencintai, ia sudah merasakan bagai mana perjuangan untuk mendapatkan cinta dari lelaki yang tidak pernah menginginkannya, dan ia juga sudah merasakan sangat di hargai oleh lelaki yang mencintainya, rasa cinta itu lebih indah dari pada ia harus mengejar cinta pada lelaki yang tidak mencintainya.


Aqilah langsung melepaskan pelukannya, ia langsung menandatangani surat persetujuan bercerai, kini hanya tinggal minta persetujuan dari Wira saja, setelah itu tinggal di ajukan ke pengadilan.


Aqilah merasa sangat lega setelah menandatangani surat persetujuan itu, ia langsung melihat ke arah Danu sambil tersenyum lebar.


"Sebentar lagi aku hanya milikmu Dan, jangan pernah mengecewakan aku, karena aku sudah mempercayakan seluruh hidupku untukmu."


Danu langsung mengecup kening Aqilah sekilas, ia mengusap lembut kepala Aqilah.


"Aku akan berusaha tidak akan mengecewakanmu Qi, dan semoga kamu selalu merasa bahagia di sampingku."

__ADS_1


"Iya pasti, kita akan selalu bahagia karena bisa bersama dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita."


__ADS_2