Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 70 Aqilah pulang ke rumah Wira


__ADS_3

Aqilah merasa sangat berat untuk meninggalkan rumah orang tua Danu yang memang sudah berasa rumah sendiri.


Bukan hanya itu Aqilah juga merasa memiliki keluarga lengkap saat ke dua orang tua Danu menyayangi ia dengan setulus hati.


Terlihat jelas kalau orang tua Danu sangat menyayanginya dari semua hal yang selalu di tunjukan untuknya, terlebih saat Lukman membela Aqilah dari pada adik kandungnya sendiri, Aqilah meresa seperti putri mereka.


Aqilah baru pertama kalinya merasa memiliki keluarga yang lengkap setelah kematian Mommynya, ia tidak pernah merasakan kasih sayang lagi.


Dulu Aqilah selalu berharap kalau Mama mertuanya akan menyayanginya dengan berjalannya waktu, tapi nyatanya hingga ia benar-benar menyerah dalam pernikahannya, ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari Mama mertuanya.


Sebenarnya Aqilah sangat berat meninggalkan Diana yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, apa lagi saat melihat Diana dan memeluk ia sangat erat, ia juga merasa ingin selalu tinggal di sana, tapi ia harus segera menyelesaikan rumah tangganya terlebih dahulu. Aqilah juga sudah berjanji pada Diana, ia akan datang di hari kelusan Diana nanti.


Sekarang Danu dan Aqilah sudah ada dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Danu menyetir mobil dengan tangan kirinya terus menggenggam tangan Aqilah, sebenarnya ia tidak mau Aqilah segera pulang, terlebih tangan Aqilah masih terluka, ia sangat kuatir jika Aqilah bersama Wira, ia takut kalau Wira nanti melakukan hal kasar lagi dan ia takut kalau Aqilah hanya diam tanpa melawan seperti dulu lagi.


"Dan, sehabis mengantarku pulang ke rumah Wira, kamu segera ambil ponselmu di asistenmu, takut aku ingin mengabari kamu."


"Iya Qi."


"Setelah ini kamu pulang ke apartement? Atau pulang ke rumah Papamu?"


"Pulang ke rumah Papa terlebih dahulu, aku yakin Papa mencariku karena aku telah membawa kabur istri orang."


Danu yakin kalau Papanya akan mencarinya karena foto yang di unggah oleh Mahesa tempo hari, dan ia yakin kalau Wira mendatangi rumah Papanya untuk mencari Aqilah.


"Hahaha...! Sepertinya kebalik Danu, bukan kamu yang membawa kabur istri orang, tapi aku yang membawa kabur lelaki single."


"Apa benarkah begitu?"


Danu bertanya sambil melihat ke wajah Aqilah sekilas yang sedang tertawa, dan seperti ada rasa senang membuat hatinya sangat dilema, ia tidak yakin kalau Aqilah akan benar-benar bercerai dengan Wira dan memilih ia saat Wira berubah mencintai Aqilah.


Apa lagi Aqilah sudah lama mengharapkan cinta dari Wira, tentu saja membuat Danu tidak yakin kalau Aqilah tetap ke pendirian awalnya untuk bercerai dengan Wira.


"Iya, tentu saja benar adanya."


Tidak terasa mereka berdua sudah memasuki kota Jakarta dan sekitar 30 menit lagi mereka berdua sampai di rumah Wira.


"Qi, apa kamu mau aku temani kamu atau kamu mau sendiri saja memberikan surat persetujan itu?"


"Sendiri saja Danu, aku tidak ingin menyeretmu pada permasalahanku lebih dalam lagi."


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Sebenarnya Danu ingin melihat Aqilah kalau Aqilah tidak goyah dengan pendiriannya, tapi ia tidak ingin memaksa Aqilah, ia takut kalau Aqilah beranggapan ia tidak pecaya padanya.


"Ingat kamu harus menjaga dirimu, lenganmu sudah terluka, aku tidak mau kalau kamu semakin terluka."


"Iya Dan, kamu tidak perlu kuatir."


Danu hanya menganggukan kepalanya pelan dengan mata yang masih fokus pada kemudi, ia tidak ingin melihat Aqilah, ia takut kalau Aqilah menyadari raut wajah kecewanya.


Tidak terasa Danu dan Aqilah sudah sampai di depan luar gerbang rumah Wira, Danu juga tidak lupa menelakson pintu gerbang itu.


Tit... Tit...!


"Dan di sini saja, biar aku jalan dari sini."


"Iya sudah."


Gerbang itu di buka sedikit oleh satpam untuk melihat siapa yang menelakon. Danu dan Aqilah langsung turun dari mobil.


"Sore Tuan, sore Nyonya."


Satpam itu menyapa Danu dan Aqilah dengan perasaan tidak percaya kalau Aqilah pulang berasama lelaki yang menjemput Aqilah sebelum Aqilah di nyatakan hilang.


Danu dan Aqilah hanya menganggukan kepalanya pelan. Tanpa malu Aqilah langsung memeluk Danu dengan sangat erat dan di balas pelukannya oleh Danu. Setelah merasa cukup mereka melepaskan pelukannya.


"Iya sayang."


Danu berbicara dengan ke dua tangannya membelai kepala Aqilah, lalu mencium kening Aqilah cukup lama, sebenarnya ia sangat berat harus jauh dari Aqilah, tapi mau bagai mana lagi, ia juga ingin mendapatkan status yang jelas di hati Aqilah, entah Aqilah memilihnya atau memilih Wira.


Satpam itu menghela nafas berat saat melihat adegan itu yang ia yakini kalau Danu adalah selingkuhan Aqilah, kalau bukan selingkuhan Aqilah tidak mungkin mereka berdua peluk-pelukan lalu Danu mencium kening Aqilah.


"Masuk gih sana sayang."


Kata sayang Danu ucapkan untuk ke dua kalinya tanpa malu pada satpam rumah Wira.


"Iya sudah."


Aqilah langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri Danu, lalu ia langsung masuk ke dalam gerbang dengan melangkah mundur sambil melambaykan tangan.


Aqilah juga merasa tidak mau jauh dari Danu, tapi ia masih ada masalah yang lebih penting agar Danu segera menggenggam tanganya di altar pernikahan.


Begitu pun dengan Danu, ia juga membalas lambaian tangan Aqilah sambil tersenyum. Aqilah memasuki rumah itu yang langsung di sambut oleh omelan Resya.

__ADS_1


"Ngapain kamu pulang wanita murahan?! Setelah kamu membuat kak Wira babak belur oleh kakek setelah kamu kabur bersama selingkuhanmu, kamu pulang ke rumah ini?! Dasar tidak tau malu!"


"Lebih tidak tau malu lagi karena kamu tinggal di sini numpang!"


Aqilah berteriak marah saat mendengar omelan dari Resya.


"Dasar murahan! Wanita jallang!"


Aqilah tidak meladeni Resya, ia langsung meneruskan langkah kakinya akan menaiki tangga, tapi Resya menahan lengannya.


"Mau kemana kamu jallang?! Pergi kamu dari rumah ini! Rumah ini tidak sudi di injak oleh wanita jallang seperti kamu!"


Aqilah langsung menghempaskan tangan Resya dengan kasar hingga Resya tersungkur ke meja.


Bruk..!


Resya tidak terima saat mendapat perlakuan kasar dari Aqilah, ia langsung mengambil pas bunga untuk memukul Aqilah, sebelum pas bunga itu di lempar, suara Susan menggelegar di seluruh ruangan.


"Jika kamu melukai Aqilah! Kamu bukan cucuku lagi Resya!"


Suara Susan mampu mengundang bayak orang yang datang, dari Rika, Amel dan Wira, tapi tidak dengan Bagas, karena Bagas sedang ada perjalanan bisini ke luar negri tadi pagi.


Sebenarnya Bagas sudah mengajak istrinya untuk sekalian pulang saja, tapi istrinya ingin memunggu Aqilah pulang hingga keinginannya tidak sia-sia, ternyata Aqilah hari ini pulang.


"Aqilah!"


Wira yang masih di tangga ia langsung lari ke arah istrinya, lalu langsung memeluk istrinya dengan pelukan yangsangat erat.


"Lepas!"


Aqilah langsung mendorong keras tubuh suaminya, ia menatap ke arah suaminya dengan tatapan tajam.


"Aku rindu kamu Aqilah. Kamu lihat aku memakai kalung ini."


Wira menujukan kalung yang di lempar kakenya saat itu. Aqilah langsung duduk di sofa walau pun tidak ada yang menyuruhnya untuk duduk.


"Akhirnya kamu pulang juga nak."


Susan berbicara sambil menujukan raut bahagia saat melihat Aqilah pulang.


"Iya, saya pulang untuk segera mengakhiri rumah tangga kami."

__ADS_1


Kata saya mampu membuat wajah bahagia Susan menjadi murung, kalau Aqilah memanggilnya dengan kata saya, itu artinya ia di anggap orang asing oleh Aqilah.


__ADS_2