
Setelah kepergian Aqilah Bagas langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi pada cucunya layaknya orang kesetanan.
Bagas tidak peduli dengan cucunya lagi, ia lebih peduli pada Aqilah, apa lagi saat mendengar ucapan Aqilah yang sering mendapatkan kekerasan dari cucunya membuat ia sangat emosi.
Bukan karena kedudukan Aqilah atau tentang Aqilah menolongnya, tapi Aqilah adalah seorang wanita, seharusnya wanita di jaga bukan mendapat kekerasan.
"Sudah Pa! Putraku bisa meninggal kalau Papa terus saja memukulnya!"
Rika langsung memeluk putranya yang sudah berkali-kali tersungkur di lantai, wajahnya sudah lebam dan sudat bibirnya mengeluarkan banyak darah.
"Iya seharusnya cucu tidak berguna seperti Wira itu harusnya mati saja! Saya tidak sudi memiliki cucu banci seperti dia!"
Bagas masih menatap tajam ke arah Rika yang sedang memeluk Wira.
"Papa tidak pernah menyuruh Wira untuk melakukan kekerasan terhadap Aqilah! Dari awal Papa sudah bilang kalau ingin mewarisi Atmaja Grup Wira harus menikahi Aqilah, dan kalau masih memilih Alexsa Wira boleh ceraikan Aqilah, tapi jangan bawa apa pun dari keluarga Atmaja!"
"Kenapa Papa selalu membela Aqilah dari pada cucu Papa sendiri?!"
"Sudah 1 tahun Papa kom'a dan Aqilah yang menolong Papa dari kom'a. Aqilah Gadis baik-baik, dia hanya butuh cinta dari kamu Wira! Tapi kamu tidak pernah sedikit pun memberikan ruang untuk Aqilah!"
Bagas merogoh saku celananya, ia melempar kalung itu pada Wira.
"Kalung itu di kembalikan oleh Aqilah sebelum makan malam!"
Tangan kanan Wira mengambil kalung yang di lempar oleh kakeknya yang berbentuk love di dalamnya ada sebuah foto dan di luarnya bertulisan WiQi. Singkatan dari Wira Qilah.
"Aqilah baru menemukan kalung itu kembali kemarin setelah di cari Aqilah hampir 12 tahun lamanya, saat Aqilah membuka foto itu, dia menyamakan foto masa kecil kamu dan foto yang ada di kalung itu."
Dengan tangan gemetar Wira membuka bandul kalung itu, ternyata itu memang benar foto ia dan Aqilah saat masih kecil.
"Aqilah bilang dia tidak menyangka kalau akan jatuh cinta pada lelaki yang dia tolong saat kecil."
__ADS_1
Wira masih diam membisu, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya setelah melihat kalung itu.
Wira mengingat kembali kejadian ia di culik saat itu, di mana Aqilah menolongnya tanpa rasa takut, jelas-jelas saat itu usia Aqilah masih 8 tahun, tapi Aqilah mengikuti para perman masuk ke rumah kosong dengan mengendap-mendap dan mengisyaratkan pada ia untuk diam saat ia melihat Aqilah hingga ia di bebaskan oleh Aqilah.
Aqilah yang membawa Wira lari dari rumah kosong itu, dari situlah mereka saling kenal dan menjadi teman, tapi sayang mereka hanya berteman hingga 1 Minggu karena Aqilah akan pergi ke luar negri dan Wira memberikan kalung itu agar suatu saat jika bertemu lagi bisa saling mengenal.
Sedangkan kalung milik Wira sendiri sudah hilang, kejadiannya 3 tahun yang lalu di pantai, di mana Wira saat itu menolong adik dari Alexsa.
"Kenapa Wira harus tidak mengenali dia Ma?"
Setelah dari tadi Wira diam hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, air matanya tiba-tiba saja menetes begitu saja.
Bukan menangis karena rasa nyeri di perut dan wajahnya termasuk lengannya, tapi ia menangis saat mengingat bagai mana ia memperlakukan Aqilah hampir 1 tahun ini.
Akhirnya Wira mengerti kenapa Aqilah sangat kebal dan tidak memiliki rasa takut, bahkan saat pertemuan pertamanya saat menolong ia juga Aqilah tidak takut, walau pun saat itu tangan kiri Aqilah tertusuk pisau, tapi Aqilah tidak mengeluh sama sekali.
"Mama juga tidak tau apa lagi Mama yang belum pernah melihat Qilah langsung."
Aldo pun langsung mendekati Wira saat Wira mengambil flashdiks yang memang sudah berdiri di depan pintu saat suara Aqilah menggema di lantai dua.
"Tuan, mari saya bantu."
Wira hanya menganggukkan kepala saja.
"Mama obatin luka kamu dan Aldo biar memanggil dokter."
"Tidak perlu Ma, biar Aldo saja yang mengobati, Mama istirahat saja."
"Tangan kamu?"
"Ini hanya terkilir Ma, nanti Wira suruh Aldo untuk mencari tukang urut."
__ADS_1
"Iya sudah kalau begitu."
Setelah Wira dan Aldo pergi ke kamar Rika langsung marah-marah pada Papa mertuanya.
"Kenapa Papa tega memukul Wira hanya karena orang luar Pa?! Belum cukup'kah tadi Aqilah sudah melakukan kekerasan?! Apa Papa ingin Wira mati baru puas?! Jangan lupa kalau Wira itu cucu Papa!"
"Dan jangan lupa kalau Wira masih hidup karena Aqilah! Mungkin kalau bukan karena Aqilah Wira sudah mati, tapi apa yang Wira lakukan terhadap Aqilah? Menyiksa Aqilah setiap harinya dan kamu sebagai Mama dari Wira hanya diam saja di saat putranya melakukan kekerasan? Mama macam apa kamu Rika?!"
Air mata Rika mengalir deras, ia memang tidak pernah tau kalau Wira melakukan kekerasan, tapi di bagian bibir dan perut rata menantunya memang sering ada bekas cambukan layaknya seperti mendapatkan kekerasan.
Namun Rika memang tidak peduli tentang itu bagi ia Aqilah memang tidak pantas dengan putranya, tapi sekarang ia baru merasakan bagai mana sakitnya saat putraya mendapatkan kekerasan, dan membuat ia yakin kalau menantunya juga sebenarnya merasakan sakit.
"Rika, Papa tidak pernah menyangka kalau kamu tidak memiliki sifat kemanusiaan, Papa kecewa sama kamu, dan jika Atmaja Grup hanya tinggal nama ini ulah kamu yang tidak mau membujuk putramu untuk menerima Aqilah!"
Setelah mengatakan itu Bagas menarik tangan istrinya untuk ke kamar.
Amel langsung memeluk kaka iparnya dengan perasaan iba.
"Tenang kak, aku percaya kalau Wira baik-baik saja, kaka jangan terlalu memikirkan Wira, ini memang salah Aqilah, wanita sialan itu kenapa harus hadir menjadi istri Wira? Lalu apa hebatnya Aqilah sampai Papa itu sangat membela Aqilah?"
Rika juga membalas pelukan dari adik iparnya.
"Tapi yang di lakukan Papa tidak sebanding dengan apa yang Wira lakukan pada Aqilah, dan terlebih yang di katakan Papa memang benar kalau bukan karena Aqilah mungkin Wira sudah meninggal, bahkan Aqilah rela lenganya tertusuk pisau hanya untuk menolong Wira."
Putranya memang sudah menceritakan tentang putranya di culik dan di tolong oleh Aqilah, bahkan kata putranya Aqilah juga tertusuk pisau hanya untuk menyelamatkan putranya, tapi sayang Rika tidak pernah menyadari kalau Aqilah yang di nikahi putranya itu adalah Aqilah yang menolong putranya.
Apa lagi putranya juga sama-sama tidak mengenali Aqilah, membuat ia merasa bersalah dan benci secara bersamaan.
Bersalah karena membiarkan Aqilah di siksa oleh putranya dan di jadikan pembantu oleh Amel dan Resya, benci karena Aqilah datang untuk mengusik kehidupan damai putranya dan putranya merasa di asingkan oleh kakeknya hanya karena kedatangan Aqilah.
"Aqilah juga yang menolong Papa dari kom'a Mel, aku tidak habis pikir kenapa Papa menyembunyikan pakta sebesar itu."
__ADS_1
"Tapi tetap saja Wira di pukul habis-habisan oleh Papa karena Aqilah kak, jangan lupakan itu, wanita itu memang banyak hal yang di sembunyikan, buktinya Aqilah bisa melawan Wira dengan mudah, Aqilah memang sudah seperti ulat bulu."