
Danu sudah mandi bahkan sudah mengobrol-ngobrol ringan bersama ke dua orang tuanya, Diana dan Lisa.
Lisa adalah keponakan dari Lukman, saat tau Danu pulang ia langsung berkunjung ke rumah Lukman.
Lisa adalah Gadis yang sangat mencintai Danu, ia selalu memberikan perhatian kecil pada Danu dari dulu, tapi hingga sekarang ia belum bisa mendapatkan cinta dari Danu.
"Bu, Danu akan melihat Aqilah dulu."
"Iya nak."
"Aqilah siapa Dan?"
Lisa bertanya dengan perasaan bingung, ia memang melihat sepatu hak tinggi, tapi ia pikir sepatu itu milik Diana habis pergi, nyatanya ada wanita lain di rumah ini.
"Anak dari bosku."
Setelah mengatakan itu Danu langsung pergi ke kamar yang di tempati oleh Aqilah, saat ia membuka pintu ternyata Aqilah baru bangung karena ia melihat Aqilah sedang duduk sambil mengusap ke dua matanya.
"Qi, kamu sudah bangun?"
Danu bertanya sambil berjalan ke arah Aqilah.
"Iya aku baru bangun."
Danu langsung duduk di samping ranjang Aqilah, ia mengelus lembut kepala Aqilah.
"Iya sudah kamu mandi, baju-bajumu di lemari itu, tadi sudah di rapihkan oleh bibi."
Danu berbicara sambil menujuk ke lamari putuh paling ujung.
"Iya, aku mandi dulu. Kamu tunggu saja di sini."
"Iya sudah iya."
Aqilah perlahan turun dari ranjang, tapi lantai yang sangat dingin mampu membuat ia terkejut dan tiba-tiba saja mengalungkan ke dua tangannya di leher Danu dengan kaki yang ia gantungkan.
"Lantainya dingin sekali Dan."
"Iya namanya juga samping sawah Qi, biasanya kamu suka dingin?"
"Iya, tapi aku baru bangun tidur, jadi membuatku terkejut."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung turun dari tubuh Danu, ia mengijak lantai sambil berjingjit.
"Lebih terkejut lagi saat kamu memelukku secara tiba-tiba Qi, jantungku ini bisa lepas kalau mendapatkan pelukan mendadak dari kamu." batin Danu
__ADS_1
"Kamu pakai sendalku dulu, nanti aku ambil sendal untuk kamu."
Danu langsung melepas sendal miliknya untuk Aqilah.
Aqilah menganggukan kepalanya, ia langsung memakai sendal milik Danu lalu langsung pergi ke lamari untuk mengambil pakaian, setelah itu ia langsung pergi ke kamar mandi.
Setelah Aqilah pergi ke kamar mandi Danu langsung mengelus dadanya karena jantungnya berdetak lebih cepat.
"Aku tidak tau kapan aku bisa menghapus rasa cintaku padamu Qi. Bahkan saat kita berpisah karena kuliah saja aku tidak pernah bisa melupakan kamu, apa lagi sekarang semakin dekat dengan kamu, rasanya tidak mungkin kalau aku bisa menghapus rasa cintaku padamu, tapi aku hanya berharap jangan sampai aku melakukan kesalahan karena rasa cintaku semakin besar, aku tidak ingin memiliki cinta yang egois seperti kamu Qi." batin Danu
Setelah sibuk dengan pikirannya Danu memutuskan untuk meminta sendal pada adik tirinya.
"Diana, kamu masih punya sendal rumah tidak?"
"Ibu baru belaja kak tadi siang, belum di bawa ke toko, tuh ambil saja di sana."
Diana menujuk belanjaan di ruangan stok belajaan.
Danu mengangguk pelan ia lansung pergi ke arah sendal di ikuti oleh Diana.
"Mau yang mana kak?"
"Ini saja satu kalau sendal rumah, sendal untuk keluarnya itu, itu, itu."
Danu menujuk 3 sendal dengan model yang berbeda dan Warna yang berbeda.
"Tidak usah, saat bibi membereskan baju Aqilah kaka melihat baju untuk keluarnya hanya biru, coklat, dan merah, jadi sendalnya juga harus warna itu karena Aqilah biasanya memakai sepatu atau sendal yang senada dengan kemeja atau dressnya."
"Wow, hebat iya kaka sampai segitu hapalnya karena cinta."
"Sssttt, jangan keras-keras nanti Aqilah dengar, kaka malu tau."
Diana hanya terkekeh saat mendengar ucapan dari kaka tirinya sambil memberikan 3 sendal yang kaka tirinya minta.
Setelah itu Danu langsung masuk ke dalam kamar Aqilah, ia duduk di atas ranjang sambil melihat ke arah jendela, memang hordengnya belum di tutup.
Setelah sekitar 15 menit Danu duduk di atas ranjang Aqilah keluar dari kamar mandi, ia langsung ke arah meja rias.
Di sana make up Aqilah juga sudah di susun rapih oleh asisten rumah tangga Danu.
Aqilah langsung memakai make up sambil melihat Danu dari pantulan kaca sedang fokus melihat ke arah jendela.
Danu melihat ke arah meja rias sambil tersenyum, andai saja Aqilah bisa jadi istrinya, mungkin ia sudah memeluk Aqilah dari belakang sambil melihat Aqilah memakai make up, tapi sayang itu hanya sebuah mimpi yang tidak.mungkin menjadi kenyataan menurutnya.
Setelah selsai Aqilah langsung berjalan ke arah Danu sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Danu, terima kasih untuk segalanya, kamu selalu ada buat aku, maaf karena aku menggunakan namamu untuk membuat Wira cemburu."
Danu juga tersenyum lebar pada Aqilah.
"Kalau kamu ingin menggunakan aku untuk masalah pribadimu juga tidak apa-apa Qi, aku sama sekali tidak marah. Ini sendal rumah kamu, dan yang itu sendal untuk kamu kalau kamu mau keluar."
Aqilah melihat ke bawah, ia tersenyum lebar saat melihat 3 sendal untuk pergi.
"Kamu tau warna bajuku yang di simpan bibi di lemari?"
"Iya, ayo makan malam."
"Dan, ponsel kamu di matiin, aku takut kalau Wira melacak nomermu. Terakhir kali yang menjemput aku kerumah kamu."
"Kamu itu terlalu percaya diri Qi, belum tentu juga Wira mencari kamu."
Danu berbicara sambil tersenyum yang terkesan mengejek menurut Aqilah hingga tangan Aqilah akan memukul dada Danu, tapi ia tersandung ranjang hingga berakhir menindih tubuh Danu yang berposisi telentang.
Beberapa saat ke duanya hanya saling menatap dan tidak bersuara membuat detak jantung Danu lagi-lagi berdetak lebih cepat, apa lagi sekarang bibir Aqilah menempel di bibirnya.
"Astaga kalian sedang apa?!"
Lukman bertanya dengan rasa malu, seharusnya saat melihat putra tirinya dan Aqilah di atas ranjang ia langsung pergi, tapi karena terkrjut mulut ia tiba-tiba saja bertanya seperti itu karena tadi ia mau memanggil mereka berdua untuk makan malam.
Apa lagi putra tirinya dan Aqilah dari tadi sore belum makan karena Aqilah tidak kunjung bangun dari tidurnya.
Aqilah buru-buru bangun dari tubuh Danu begitu pun dengan Danu yang buru-buru berdiri.
"Om."
"Ayah."
"Maaf mengganggu dan terkesan tidak sopan, Om pikir kalian tidak sedang bercumbu mengingat Danu hanya bawahanmu, tadi Om hanya akan mengajak kalian berdua makan."
Setelah mengatakan itu Lukman buru-buru pergi dari kamar Aqilah sambil mengelus dada, ada rasa malu dan ada juga rasa senang saat melihat adegan itu.
Apa lagi Lukman tadi mendengar kalau putra tirinya mencintai Aqilah, ia berharap cinta putra tirinya tidak bertepuk sebelah tangan.
Setelah kepergian Lukman Aqilah langsung melihat ke arah Danu
"Kenapa pintu kamar tidak di kunci?!"
"Mana aku tau kalau Ayah mau masuk ke kamar, lagian juga untuk apa aku mengunci kamarmu, yang ada nanti Ayah curiga kalau aku ngapa-ngapain kamu."
"Benar juga, untuk yang tadi aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja."
__ADS_1
Aqilah minta maaf dengan rasa menyesal, ia tau kalau Danu paling tidak suka di dekati oleh wanita, dan mungkin juga Danu dekat dengan ia hanya menghargai ia sebagai putri dari Anderson.
"Tidak apa-apa Qi."