Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 11 Perubahan sikap Aqilah


__ADS_3

Mata Reysa membulat sempurna begitu pun dengan Amel dan Rita saat mendengar Bagas mengatakan kalau Aqilah sangat berarti.


"Ih kakek, wanita itu tidak setia dengan kak Wira, bahkan Reysa punya buktinya."


Reysa mengambil ponselnya, ia menujukan foto Aqilah dan Aldo saat di samping kulkas pada kakenya.


"Lihat ini kek."


Bagas mengambil ponsel yang di serahkan cucunya, ia tidak percaya kalau foto itu kedekatan Aqilah dan Aldo, apa lagi ia tau betul siapa Aqilah.


"Kakek jauh lebih mengenal siapa Syaqilah dari pada kalian semua yang ada di sini, dan kakek tidak suka kalau kamu mengopori kaka sepupumu dengan foto seperti ini."


Bagas meletakan ponsel itu dangan sangat keras.


Wira langsung berlalu mengejar istrinya tanpa memperdulikan ucapan mereka dan bahkan tidak berpamitan pada mereka.


Wira merasa ada yang tidak beres dengan sikap istrinya yang selalu terkesan wanita murahan, tapi pagi ini istrinya seperti sedang menjaga jarak darinya.


Saat istrinya sudah keluar gerbang sambil berjalan kaki Wira buru-buru masuk ke mobil lalu langsung melajukan mobilnya untuk menyusul sang istri.


Wira berhenti tepat di samping istrinya, tapi istrinya itu tidak mempedulikannya terus saja berjalan lurus tanpa menoleh ke arah mana pun.


Wira segera mencekal pergelangan tangan kanan istrinya.


"Aku butuh bicara."


"Apa lagi? Jangan buang-buang waktu berhargamu untukku."


Wira langsung menarik istrinya wasuk ke dalam mobil lalu langsung mengunci mobil itu.


"Aku sudah bilang berkali-kali kamu jangan bekerja, kalau kamu butuh uang aku bisa memberikanmu setengah kekayaanku, tapi cukup."


"Cukup aku minta bercerai darimu begitu Wira?! Apa kamu sudah tidak tahan ingin segera menikahi Alexsa begitu?!"


Wira menghela nafas berat saat mendengar pertanyaan dari istrinya. Bukan pertanyaan seperti itu yang ingin Wira dengar, ia juga belum selsai berbicara, ia mau mengatakan cukup kamu di rumah saja.


Alasan Wira yang selalu melarang istrinya keluar karena istrinya selalu saja memakai pakaian seksi dan itu mengundang gairah para lelaki.


Walau pun Wira tidak mencintai istrinya dan merasa jijik pada tubuh istrinya, tapi sebagai suami yang baik mana mungkin ingin nasib buruk terjadi pada istrinya.


Wira akui kalau ia sangat kasar terhadap istrinya hingga sering mencambuk dan menampar istrinya sudah makanan setiap hari, tapi ia juga tidak tau kenapa tidak ingin nasib buruk menimpa istrinya selain bukan karen ia sendiri.


"Kenapa diam Wir? Benar ucapanku kalau kamu masih ingin bercerai dariku?"

__ADS_1


Aqilah menggelengkan kepalanya pelan saat suaminya hanya diam, cukup sudah kesabarannya selalu di kikis habis oleh suaminya.


Selama ini Aqilah diam karena rasa cinta membuat ia buta dan membiarkan tubuhnya di siksa.


Kalau saja Aqilah tidak di didik keras oleh sang Daddy mungkin ia sudah gila menghadapi suami seperti Wira, atau mungkin ia sudah meninggal karena terus mendapatkan kekerasan.


"Buka pintunya aku mau turun!"


Wira masih diam dengan pikiran yang terus berpikir keras.


"Ada apa dengan Aqilah?" batin Wira


"Aku akan mengajukan satu pertanyaan. Jika kamu bisa menjawab pertanyaan itu bisa membuat hatiku senang. Aku bisa menurunkanmu dari mobilku."


"Cepat katakan!"


"Aku tanya semalam kamu kemana? Apa kamu pergi bersama lelaki?"


Aqilah menganggukan kepalanya pelan dengan pandangan menunduk, ia masih bingung jawaban itu bisa memuaskan hati suaminya atau tidak.


Wira meremas tangan kananya sendiri saat mendengar jawanan dari istrinya.


"Bahkan aku juga tidur bersama layaknya seperti kamu dan Alexsa lakukan. Kalau kamu bisa tidur dengan wanita lain, kenapa aku tidak boleh tidur dengan lelaki lain? Anggap saja aku membalas perbuatanmu."


Ucapan istrinya mampu membuat mata Wira membuka lebar dengan mulut yang menganga.


Apa istrinya juga sama dengan ia yang hanya tidur, atau istrinya itu memberikan kepuasan pada lelaki lain.


"Terserah kamu mau tidur atau melakukan making love dengan banyak lelaki aku tidak peduli yang jelas jangan seret keluarga Atmaja oleh ulahmu."


Aqilah hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum menyeringai.


Wira bisa melihat senyuman dari istrinya, tapi bukan senyuman biasanya yang istrinya tampilkan untuk ia, senyuman kali ini senyuman menyeringai, entah apa yang akan istrinya lakukan membuat ia menjadi penasaran pada istrinya.


Kalau dulu Wira terkesan tidak peduli, tapi dari semalam ia di hantui rasa penasaran pada istrinya.


"Bagai mana kalau kamu bekerja menjadi asistenku? Kamu boleh meminta berapa uang yang ingin aku bayar untukmu."


Bukan menjawab pertanyaan dari suaminya justru Aqilah menempalkan punggung tangannya pada kening suaminya sekilas.


"Kamu tidak sakit, tapi kenapa pagi ini kamu banyak sekali bicara? Biasanya kamu tidak suka kalau aku cerewet?"


"Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar, sekarang kamu ikut aku ke kantor untuk menjadi asistenku."

__ADS_1


Belum sempat Aqilah menjawab ucapan dari suaminya tiba-tiba saja ponsel Aqilah bergetar.


Dret... Dret...


Aqilah langsung mengambil ponselnya di tas, lalu ia langsung mengangkat panggilan telpon dari Danu.


"Nona kapan kemari?"


"Saya akan kesana sekarang Danu."


"Baik saya tunggu Nona."


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung memutuskan sambungan telponnya lalu langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


Sedangkan Wira masih diam mematung dengan perasaan terkejut saat istrinya tidak memanggil Danu dengan embel-embel Bapak.


"Apa jangan-jangan Aqilah memiliki hubungan bersama Danu? Kenapa Aqilah memanggil Danu hanya dengan panggilan nama?" batin Wira


Sekali lagi Wira di hadapkan dengan perasaan aneh pada sikap dan ucapan dari istrinya.


Sekali lagi Wira memiliki rasa curiga pada istrinya.


"Apa ini alasan kamu tidak menggodaku lagi? Apa kalian sudah memiliki hubungan di belakangku?"


Aqilah tersenyum lebar, ia tidak habis pikir kalau suaminya terus menuduh ia dari memiliki hubungan bersama Aldo dan sekarang ia di tuduh memiliki hubungan bersama Danu.


"Kamu sudah dewasa Wira, kenapa kamu harus bertanya padaku? Lagian juga untuk apa aku menggodamu? Bahkan saat aku memakai linger saja kamu tidak tertarik pada tubuhku. Bukan kepuasan yang aku dapatkan darimu, tapi cambukan darimu. Lalu apa salah kalau aku mencari kesenangan dan kepuasan dari lelaki lain? Lelaki yang selalu menjamah tubuhku dengan belaian lembut dan perasaaan sayang?"


"Kalau kamu butuh kepuasan aku akan memuaskanmu, kita sekarang pulang atau kamu ingin kita pergi ke hotel?"


Dari tadi Wira mengikuti alur pembicaraan istrinya tanpa kekerasan.


"Aku tidak menginginkan itu. Danu sudah memberikan segalanya untukku. Bahkan Danu tidak pernah mengatakan aku wanita murahan sepertimu, Danu sangat menyayangiku."


Wira menggeram, adaikan saja Danu bukan kepercayaan dari MD Anderson Grup Wira mungkin sudah membuat Danu terbaring di rumah sakit.


Namun Wira masih ingat kalau ia sedang membutuhkan model dari MD Anderson Grup untuk meluncurkan produk terbarunya.


"Baik, akan aku buat lelaki kesayanganmu itu terbaring di rumah sakit!"


Wira tidak benar-benar sampai hati mengatakan itu, ia hanya ingin mengancam istrinya.


"Bagus kalau kamu bisa membuat Danu masuk rumah sakit."

__ADS_1


Wira mengerutkan keningnya sesaat, bukan eskpresi rasa takut yang ia dapat, tapi rasa bahagia dari istrinya, bisa di lihat dari senyuman ceriahnya.


"Nanti setelah itu Atmaja Grup bangkrut dan kamu meringkuk di penjara."


__ADS_2