
Cukup lama Aqilah dan Danu berpelukan, bahkan ke dua orang tua Danu langsung duduk masih terus memperhatikan mereka berdua yang berpelukan.
Bukan Lukman dan istrinya ingin ikut campur, tapi ia ingin tau apa jawaban dari mulut Aqilah setelah putranya berbicara panjang lebar pada Aqilah.
"Dan, aku minta maaf."
"Untuk apa kamu minta maaf Qi? Cinta tidak bisa di paksakan, aku tidak apa-apa dan selalu baik-baik saja, asalkan aku bisa melihat kamu tersenyum bahagia, bagiku sudah lebih dari cukup Qi. Aku juga minta maaf karena telah mengatakan ini, seharusnya aku pendam semuanya sendiri dan buang rasa cintaku untukmu, tapi aku tetap tidak bisa, sulit untuk aku melupakanmu Qi. Apa lagi aku sadar kalau kamu akan selalu mencintai suami kamu, karena aku sangat tau sifat kamu."
"Maaf karena telah menyakiti hatimu tanpa sadar, maaf karena aku menjadi wanita bodoh karena cinta dan melukai hatimu. Dan, kamu yakin akan selalu menerimaku? Kamu tau kalau aku begitu gila mengharapkan cinta dari Wira, terkesan murahan, sedangkan kamu sebagai lelaki, kamu begitu menjungjung tinggi harga dirimu tidak sepertiku."
Danu menghela nafas berat, ia tidak tau apa maksud Aqilah, kenapa Aqilah seolah-olah sedang menerimanya.
"Aku bukan menjungjung tinggi harga diriku Qi, aku takut di tolak, tapi sekarang aku sama sekali tidak takut di tolak, bahkan setelah mengungkapkan isi hatiku padamu, aku jauh lebih lega, kalau kamu bilang kamu murahan? Menurutku kamu bukan wanita murahan Qi, kamu sedang memperjuangkan cintamu pada suamimu, itu hal yang wajar. Sedangkan suamimu memperjuangkan wanita murahan seperti Alexsa. Kamu bukan wanita seperti Alexsa yang mau tidur dengan sembarang lelaki, jadi aku tegaskan sekali lagi kamu bukan wanita murahan, hanya saja cara kamu mencintai sesaorang itu sangat salah Qi."
Ada sedikit senyuman di bibir tipis Aqilah, untuk ke dua kalinya ia mendengar kalau cara mencintai sesaorang itu salah, termasuk Mahesa juga mengatakan itu.
"Dan, kalau kamu bersungguh-sungguh denganku, tolong bantu aku untuk membuang rasa cintaku pada Wira dan menggantikannya denganmu, aku mau dengan lelaki yang saling mencintai, aku tidak mau berjuang sendiri untuk hubunganku."
"Aku akan berusaha untuk membantu kamu tidak mencintai Wira lagi jika kamu sudah mengijinkan aku untuk mengisi hatimu."
"Maaf karena sekarang terkesan aku menjadikan kamu selingkuhanku, tapi tolong tetap genggam tanganku hingga kita di satukan di altar pernikahan."
Aqilah mengatakan itu bukan hanya sebuah ucapan, apa lagi setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Danu, sepertinya ia memang harus membuka hati untuk Danu, lelaki yang selama ini mencintai ia, dan membuang rasa cintanya pada suaminya karena memang tepat anniversery ke 1 tahun ia akan melayangkan gugatan cerai sesuai permintaan suaminya yang ingin segera berpisah dengannya.
Danu merasakan sangat bahagia mendengar jawaban dari Aqilah, tapi tetap saja ia masih cemas tentang restu dari Albet.
"Bagai mana tentang porjodohan kamu?"
"Kamu tenang saja, aku akan meminta untuk membatalkan pada Daddy, tapi bagai mana dengan ke dua orang tuamu Dan? Walau pun aku belum di sentuh suamiku, tapi tetap saja nanti statusku janda."
Aqilah menghela nafas berat, ia lupa kalau dari tadi orang tua Danu menyaksikan obrolannya bersama Danu.
Sebelum Danu menjawab, Lukman lebih dulu berbicara karena dari tadi mendengar obrolan mereka.
"Ayah dan ibu tentu akan merestui hubungan kalian nak. Bahkan Ayah sangat senang karena nak Aqilah mau menerima Danu putra Ayah yang tentu saja nak Aqilah tau kalau kami tidak memiliki banyak harta."
__ADS_1
Aqilah yang mendengar ucapan dari Lukman, ia melepaskan pelukannya dari Danu, ia langsung tersenyum lebar pada ke dua orang tua Danu.
"Terima kasih Om, bu."
"Kamu jangan panggil saya Om, panggil saya Ayah, bagai mana bisa istriku di panggil bu, saya di panggil Om."
"Eh iya Ayah."
Aqilah tersenyum canggung pada Lukman yang memancarkan senyum bahagia. Bisa Aqilah lihat kalau ke dua orang tua Danu tersenyum bahagia dengan mata berbinar.
Danu langsung mengambil ponsel Aqilah yang terjatuh tadi, lalu ia mengelus kepala Aqilah sambil tersenyum lebar.
"Kamu jangan pulang dulu iya Qi? Aku tidak tau memiliki perasaan tidak enak."
Entah kenapa Danu merasa kalau Alexsa tidak akan tinggal diam, ia yakin Alexsa akan membalas dendam.
"Iya."
Aqilah menjawab ucapan Danu sambil menganggukan kepalanya.
"Iya bu, kata almarum Mommy Aqilah tidak boleh bergantung dengan siapa pun itu termasuk pelayan, karena Mommy bilang kehidupan orang itu seperti roda berputar, kadang di atas kadang juga di bawah."
"Orang tuamu sangat hebat nak Qi, bisa mendidikmu menjadi wanita yang luar biasa."
Sonia sangat kagum pada ke dua orang tua Aqilah yang mendidik Aqilah menjadi wanita sederhana walau pun mereka sangat bergelimbang harta. Aqilah menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Ayo sarapan Qi, Ayah ibu kita sarapan dulu."
Lukman dan Sonia hanya menjawab dengan anggukan kepala. Danu langsung menggenggam tangan Aqilah, mengajak Aqilah untuk sarapan.
Senyuman Danu dari tadi tidak pudar, walau pun sekarang ia terkesan seperti selingkuhan Aqilah, tapi ia sangat bahagia saat Aqilah mau menerimanya.
Namun ada juga rasa menyesal di hati Danu, seandainya saja ia tau sifat Aqilah yang tidak mementingkan derajat keluarganya, ia mungkin sudah mengungkapkan isi hatinya pada Aqilah, dan mungkin juga Aqilah tidak akan mencintai Wira, lelaki yang sangat kasar menurut Danu.
Danu langsung menggeser kursi untuk Aqilah, ia juga mengambil tas Aqilah yang sudah di tengteng dari tadi.
__ADS_1
Aqilah langsung duduk, ia mengambil sarapan untuk Danu dan ia.
"Sini biar aku suapin Qi."
Aqilah hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, ia menerima suapan dari Danu dan mencoba untuk terbiasa dengan Danu.
"Sekali lagi maaf Dan."
"Maaf untuk apa Qi? Kamu sama sekali tidak salah, aku senang kamu mau mencoba menerimaku."
Danu tau ia juga salah karena membiarkan Aqilah belajar mencintai ia di saat status Aqilah masih istri orang, tapi ia juga tidak mau kalau terus melihat wanita yang di cintainya menjadi wanita bodoh karena cinta.
"Dan, kamu pakai sendok ini tidak apa-apa?"
Aqilah mengambil sendok bekas ia makan. Danu menganggukan kepalanya, ia menerima suapan dari Aqilah.
Tangan kiri Aqilah menggenggam tangan Danu di bawah meja.
"Masakan kamu sangat enak Qi."
"Kamu suka? Kalau kamu suka setiap pagi aku akan buat sarapan untukmu."
"Kamu bukan pembantuku Qi, tidak boleh melakukan hal yang membuat kamu capek."
"Kamu selingkuhanku!"
Setelah mengatakan itu tawa Aqilah pecah di sela-sela kunyahannya hingga membuat Danu menggelengkan kepala sambil mencubit gemas pipi Aqilah.
Aqilah yang di cubit pipinya membuat ia menghentikan tawanya dan tersenyum lebar.
"Apa begini rasanya di cintai oleh lelaki? Di berikan perhatian kecil dan di manjakan?" batin Aqilah
"Walau pun aku sekarang selingkuhanmu, aku berharap suatu saat namaku dan namamu ada di buku nikah Qi."
Danu tidak peduli dengan kata selingkuhan, selama ia bisa di perbolehkan berjuang untuk mendapatkan cinta dari Aqilah, ia akan memperjuangkan cintanya.
__ADS_1