
Akhirnya Wira mengerti kenapa saat awal-awal menikah data tentang istrinya tidak bisa di bobol dan saat di bobol ia juga mendapatkan pakta kalau pekerjaan istrinya yang pernah menjadi asisten pribadi Danu itu nyatanya bohong.
Tidak heran kalau istrinya bisa mengenal Danu dan Mahesa, bagai mana pun juga Danu adalah kepercayaan keluarga Anderson dan tentang Mahesa, rumor yang beredar kalau Mahesa sahabat kecil Veronica dan pernah memiliki hubungan perjodohan hingga ke duanya memilih membatalkan entah apa alasanya ia juga tidak tau pasti.
Namun yang Wira tau kalau Mahesa dulu sempat menjalin hubungan bersama Alexsa, kekasihnya yang sekarang.
Wira juga tidak tau sebab Alexsa dan Mahesa putus yang jelas bagi ia Alexsa adalah kekasihnya hingga sampai saat ini.
"Dari mana kamu tau kalau Aqilah adalah asisten tersembunyi dari Veronica?"
"Kebetulan saat pulang mobil yang di kendarai nyonya untuk menjemput Nona Veronica bannya kempes, saya tidak sengaja melewati jalan itu, jadi saya menawarkan tumpangan karena kebetulan kita memang satu arah melewati rumah sakit Hespital. Tuan juga tau kalau rumah sakit itu jauh dari purumahan di tengah-tengah perkebunan sepanjang perjalanan."
Ini untuk pertama kalinya Aldo membohongi tuannya, ia tidak peduli kalau suatu saat tuannya mempermasalahkan kebohongannya, tapi yang jelas ia harus menutupi identitas Aqilah.
Sebenarnya hati Aldo sangat berat saat memulai kebohongan pada tuannya sendiri, tapi bagai mana pun juga Aqilah adalah orang yang sudah menyelamatkan ibunya.
Walau pun Aldo membantu menutupi identitas Aqilah, tapi ia tetap merasa tidak sebanding dengan perlakuan baik Aqilah pada keluarganya.
"Di tengah perjalanan nyonya menceritakan kalau nyonya adalah asisten pribadi dari Nona Veronica. Tuan jangan berpikir kalau saya memiliki hubungan lebih bersama nyonya, nyonya hanya memancing emosi tuan saja untuk melampiaskan rasa marahnya."
"Aqilah marah kenapa?"
"Akhir-akhir ini nyonya selalu mendapat pesan dari Nona Alexsa, dan itu membuat nyonya sangat risih."
Aldo bersyukur karena saat di rumah Aqilah sudah menceritakan kalau Aqilah sering di kirimi pesan oleh Alexsa, bahkan video percumbuan Alexsa dan tuannya juga di ceritakan oleh Aqilah.
Aldo tau kalau suatu saat Aqilah sudah benar-benar mundur dari pernikahannya video itu akan di sebarkan.
Aldo tau kalau Aqilah akan menghancurkan ke dua perusahaan melalui video itu tanpa membuka identitas aslinya.
Aldo akui kalau Aqilah memang baik, tapi rumor yang beredar tentang membuat lawannya tidak bisa berkutik itu ternyata benar adanya, Aqilah memiliki cara cerdas dan licik.
"Sssttt! Wanita itu kenapa selalu membuat perkara saja!"
Wira tidak suka kalau Alexsa selalu membuat masalah dan ia tidak mau kalau sampai Alexsa di cap sebagai wanita simpanannya, tapi lagi-lagi Alexsa selalu melakukan seenaknya.
Aldo tersenyum samar saat melihat tuannya emosi.
__ADS_1
"Bahkan saat nyonya pulang dari rumah sakit, saat menginap itu Nona Alexsa juga mencegat taksi yang di tumpangi nyonya dan memamerkan foto tuan dan Nona Alexsa yang sedang tidur bersama memakai baju dalam saja."
Wira menghela nafas kasar, pantas saja istrinya enggan untuk mengganggunya, artinya istrinya sedang cemburu, biasanya istrinya memeluknya, tapi akhir-akhir ini istrinya enggan untuk memeluknya.
Wira tidak percaya kalau Aldo bisa mengetahui tentang istrinya yang pergi ke rumah sakit, bukan'kah istrinya lebih dulu pergi lalu Aldo meminta cuti.
"Dari mana kamu tau tentang Aqilah menginap di rumah sakit? Bukan'kah Aqilah lebih dulu berangkat lalu kamu meminta cuti?"
Aldo menghela nafas pelan, ia lupa kenapa juga ia harus berbicara tentang Aqilah yang pergi ke rumah sakit.
"Orang tua angkat Nyonya masuk rumah sakit di rumah sakit yang sama tuan. Kebetulan kami berpapasan saat nyonya keluar mau membeli makanan dan saya masuk ke dalam."
Untuk ke sekian kalinya Aldo berbohong lagi, ternyata kata pepatah sekali berbohong akan terus berbohong seperti yang di alami Aldo sekarang, ia terus berbohong hanya untuk kebaikan Aqilah.
Wira tidak percaya kalau istrinya itu berbohong sebesar itu membuat ia menggeram marah
"Kenapa Aqilah bilang kalau sahabatnya yang masuk rumah sakit?! Kenapa tidak jujur saja?! Sungguh saya tidak mengerti dengan pikiran Aqilah!"
Wira mengusap wajahnya dengan kasar, ada rasa menyesal saat ia melakukan kekerasan pada istrinya di saat istrinya terkena musibah.
"Saya kurang tau kalau untuk hal itu tuan, tapi yang saya tau dari nyonya kalau nyonya tidak ingin di kasihani, nyonya dari kecil sudah terbiasa di didik dengan sangat keras, jadi hati dan pisik nyonya sudah kebal."
"Bagai mana dengan keadaan ibumu? Apa dia sudah membaik atau belum? Kalau belum membaik kamu bisa ambil cuti lagi dan kalau kekurangan biyaya kamu bilang saja sama saya."
"Alhamdulilah ibu sudah boleh pulang kemarin tuan."
"Syukurlah kalau begitu, saya keluar dulu."
Sebelum Aldo menjawab ucapannya, Wira lebih dulu keluar kamar Aldo, ia langsung buru-buru menaiki tangga untuk ke arah kamarnya, tapi saat di kamar ia tidak melihat istrinya di kamar dan kamar mandi masih tertutup rapat membuat ia menghela nafas berat.
Wira langsung mendekati kamar mandi, ia langsung mengetuk pintu kamar mandi.
Tok-tok.
"Aqilah! Kamu masih di dalam?!"
Tidak ada jawaban dari istrinya dan tidak ada germicik air juga di dalam kamar mandi membuat Wira mengetuk pintu lebih keras.
__ADS_1
Tok-tok!
"Aqilah! Buka pintunya!"
Lagi-lagi tidak ada jawaban membuat Wira memutar gagang pintu, tapi ternyata pintunya di kunci oleh istrinya dari dalam.
Wira buru-buru membuka laci tempat kunci serep karena setiap pintu menggunakan kunci yang sudah menempel di pintu, sedangkan kunci biasa ia akan menggunakannya saat terdesak.
Setelah menemukan kunci kamar mandi Wira langsung membuka pintu itu, lalu buru-buru masuk ke dalam.
Wira melihat istrinya yang berendam di batup dengan seluruh tubuhnya seperti kejadian 2 hari yang lalu saat di suruh mandi oleh ia.
Wira buru-buru mengangkat ke dua pundak istrinya dengan perasaan cemas.
"Apa kamu tidak bisa mandi layaknya orang normal?!"
"Tolong jangan mengganggu aku."
Setelah mengatakan itu Aqilah merendamkan kembali tubuhnya.
Wira langsung membangunkan kembali istrinya untuk duduk, tangan kirinya langsung meraih handuk.
"Ayo bangun Aqilah! Jangan terus membuat emosiku meledak!"
Aqilah hanya menghela nafas berat sambil menatap mata suaminya yang menatap ia dengan tatapan tajam, tapi ia tau kalau sorot mata tajam suaminya ada kecemasan.
"Aku tidak akan mati hanya karena berendam di air, bahkan sering kamu pukul dan kamu cambuk juga aku tidak mati."
"Kamu sedang berbicara apa?! Aku tidak peduli kalau kamu mati, tapi setidaknya jangan sampai aku terseret oleh khasus kematianmu!"
Suara Wira masih tetap tegas, tapi tidak dengan hatinya yang sangat mencemaskan istrinya.
Wira mengusap lembut wajah istrinya untuk pertama kalinya, ia memegang sudut bibir yang bengkak oleh pukulannya tadi.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau orang tua angkatmu masuk rumah sakit?! Apa aku ini tidak berhak tau?!"
"Hah?"
__ADS_1
Aqilah tidak mengerti apa yang suaminya ucapkan.