
Malam ini Aqilah benar-benar sangat lelah karena sehabis makan siang ia harus pergi ke salon bersama Danu lalu sehabis magribnya ia harus datang di tempat party yang sudah di atur oleh Sinta.
Jam sudah menujukan pukul 23.00WIB Aqilah dan Danu baru dalam perjalanan pulang, sehabis makan-makan bersama karyawanya tadi mereka langsung masuk ke ruangan karoke.
Danu tidak meminum alkhol jadi ia sekarang masih bisa menyetir.
Sedangkan Aqilah menghabiskan 12 gelas minuman beralkohol, ia bukan senang karena memenangkan tander, tapi ia minum banyak alkohol karena hatinya sangat kacau.
Tadi Aqilah mendapatkan video dari nomer yang tidak ia kenal tentang kemesraan suaminya di dalam kamar bersama Alexsa.
Namun sayang Aqilah tidak tau apa suaminya itu benar melakukan hubungan badan atau tidak bersama Alexsa, yang ia lihat di video itu suaminya menindih tubuh Alexsa sambil berciuman, lalu tidak ada kelanjutanya lagi.
Hati Aqilah benar-benar sakit, ia juga sudah menyuruh Sinta untuk melacak nomer yang mengirimi ia video tentang suaminya bersama Alexsa.
Aqilah tidak percaya kalau suaminya yang mengirim video itu, sedangkan Alexsa ia merasa tidak mungkin kalau Alexsa nekad mengirim video itu.
Bukan'kah akan berdampak pada karir Alexsa jika video itu tersebar luas, bukan hanya di cap wanita murahan saja, tapi di panggil selingkuhan dari Wira juga.
"Kamu tidak apa-apa Qi?"
Aqilah menggelengkan kepalanya pelan, sudah lama ia tidak mendengar Danu memanggil ia dengan panggilan Qi.
Hanya Danu satu-satunya yang memanggil ia Qi, apa lagi semenjak Danu tau identitasnya, ia merasa kalau Danu sangat menjaga jarak.
Danu tau hati Aqilah tidak baik-baik saja, ia yakin kalau pernikahanya sampai sekarang masih belum ada kemajuan.
"Qi, wanita sempurna seperti kamu, kenapa kamu harus mencintai lelaki seperti Wira yang tidak pernah menghargai kamu." batin Danu
Danu pikir hubungan Aqilah dan Wira sudah membaik karena pernikahan mereka sudah hampir 1 tahun, tapi hingga sekarang Wira masih saja belum menerima kehadiran Aqilah.
"Aku tidak tau kapan terakhir kali kamu memanggil aku Qi, rasanya aku seperti Gadis kecil 17 tahun lagi."
Aqilah tersenyum lebar sambil melirik Danu yang masih fokus menyetir.
"Derajat kita berbeda dan aku adalah bawahanmu, mana pantas aku memanggil kamu Qi."
"Danu, tetap panggil aku Qi, setidanya aku pernah memiliki nama sepesial dari sahabatku."
Danu melirik ke Aqilah sambil menganggukan kepalanya pelan dan tersenyum lebar.
__ADS_1
Cinta Danu sangat sederhana, saat dekat dengan wanita yang ia cintai ia merasa sangat senang.
Walau pun sampai kapan pun Danu tidak bisa memiliki Aqilah, tapi cintanya cukup ia pendam di dalam hatinya.
Bagi Danu cinta tidak perlu di miliki, asalkan melihat wanita yang di cintainya bahagia, ia akan ikut bahagia dan bagi ia cinta Aqilah pada Wira bukan hanya cinta, melainkan obsesi, Aqilah selalu ingin memiliki seluruhnya dalam diri Wira.
"Danu."
"Iya QI."
"Aku boleh cerita tidak?"
"Katakan saja Qi, kita kenal bukan 1 tahun 2 tahun."
"Ini untuk pertamanya aku cerita pada orang lain bahkan ke dua sahabatku saja tidak tau, menurutmu apa aku bisa mendapatkan hati Wira? Jujur sebenarnya aku sudah merasa lelah, pisik dan hatiku terus saja di siksa oleh Wira."
Danu menghentikan mobilnya di samping jalan, ia langsung melihat ke arah Aqilah, bisa ia lihat kalau matanya memang menujukan rasa lelah, siapa pun juga mungkin tidak akan pernah tau tentang itu, tapi ia tau kalau hati Aqilah sangat rapuh sekarang.
"Ikuti kata hatimu Qi, bagi aku cinta tidak harus saling memiliki, yang penting melihat orang yang kita cintai itu bahagia kita juga ikut bahagia. Cintamu itu salah Qi, kamu boleh mencintai siapa pun, tapi jangan korbankan masa depanmu hanya untuk hal yang tidak pasti. Kamu berhak bahagia Qi."
"Semakin hari cintaku semakin menjalar Danu, aku tidak tau harus dengan cara apa agar aku bisa membuang rasa cintaku. Hatiku sudah benar-benar hancur saat suamiku enggan untuk menyentuhku, tapi suamiku menyentuh wanita lain."
Danu tidak menanggapi ucapan dari Aqilah, ia langsung melajukan lagi mobilnya.
"Apa aku ini kurang cantik Danu? Atau lekuk tubuhku ini tidak menarik?"
"Kamu cantik Qi, kamu juga menarik, hanya orang gila yang tidak tertarik dalan dirimu Qi."
Aqilah menganggukan kepalanya pelan, memang semua lelaki mengejar ia, tapi hanya suaminya yang menolak ia mentah-mentah dan selalu mencari cara agar suaminya bisa bercerai darinya.
Dengan selalu membentak Aqilah dan menyiksa Aqilah semua itu semata-mata agar Aqilah mau bercerai.
Aqilah tau itu, ia bukan wanita bodoh, perlakuan suaminya hanya semata-mata agar ia mau bercerai, tapi cinta membuat ia menjadi wanita bodoh.
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam mereka sampai di pekarangan rumah Wira.
Danu langsung membuka pintu untuk Aqilah. Setelah Aqilah keluar Danu langsung memeluk Aqilah.
"Aku percaya kalau kamu wanita cerdas, jadi pikirkan lah baik-baik Qi, masa depanmu masih panjang. Kamu juga penerus keluarga Anderson, tidak pantas seorang Nona dari keluarga Anderson bertekuk lutut di depan sampah."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Danu melepaskan pelukanya.
Sementara Aqilah tidak bisa berkata-kata saat mendengar semua ucapan dari Danu.
"Aku pulang dulu Qi."
"Terima kasih Danu, terima kasih untuk segalanya."
"Sama-sama."
Danu langsung masuk ke dalam mobilnya lalu langsung melajukan mobilnya.
Sementara Wira yang melihat istrinya dari Cctv sudah mengepalkan tangan kananya saat melihat istrinya berpelukan dengan Danu.
Namun di sisi lain Susan dan Bagas yang sedang mencari udara segar di sebelah teras itu sangat terkejut saat melihat Aqilah di peluk oleh Danu.
Setahu mereka Danu paling tidak suka di rayu oleh wanita, bahkan bersentuhan dengan wanita saja enggan, tapi sekarang ia melihat Danu memeluk Aqilah.
Namun beberapa detik kemudian mereka ingat kalau Danu dan Aqilah pernah menjalin hubungan sebagai sahabat sebelum akhirnya Danu menggantikan Papanya untuk menjadi kepercayaan di MD Anderson Grup.
Aqilah langsung masuk ke dalam kamar, alkhol yang di minum tidak membuat ia mabuk.
Namun saat baru masuk kamar Aqilah di kejutkan oleh Wira yang sudah berdiri sambil bersandar di dinding dengan ke dua tangannya ia letakan di dada.
Aqilah tidak peduli ia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar mandi, tapi tanganya sudah di cekal oleh suaminya.
"Habis dari mana saja kamu baru pulang?!"
Aqilah langsung menghempaskan tangan suaminya, ia menatap mata suaminya dengan tatapan sangat kecewa, bibirnya sudah tidak mampu untuk tersenyum dan menutupi luka yang ada di dalam hatinya.
Sesabar apa pun manusia jika sudah berkali-kali di sakiti tentu tidak bisa lagi menutupi luka itu, luka yang terus suaminya goreskan setiap harinya.
Bukan hanya luka pisik, tapi hatinya juga sekarang sangat terluka.
"Aku tanya kenapa kamu baru pulang jam segini?!"
Wira membentak istrinya untuk ke dua kalinya, tapi istrinya masih sama tidak mau berbicara.
"Aku robek bibirmu kalau kamu masih saja tidak menjawab pertanyaanku Aqilah!"
__ADS_1