
Aqilah tetap lah Aqilah tidak ada lawan yang tidak bisa ia kalahkan dalam hal apa pun, seperti sekarang wajah polosnya yang ia gunakan untuk membuat Lisa keluar dari rumah Lukman.
Sebenarnya Aqilah sendiri merasa jijik pada dirinya yang menggunakan wajah polos untuk membuat lawannya kalah, karena itu tidak ada dalam kamus hidunya, tapi ia belum terlalu mengenal keluarga Danu, ia takut beranggapan buruk dengan sifatnya.
Lisa ingin sekali mencakar-cakar wajah so polos Aqilah, ia tidak menyangka wanita muda yang terlihat belasan tahun itu bisa berekting sangat baik, ia menjadi yakin kalau menarik simpati Danu dengan berekting pura-pura polos seperti sekarang.
"Om itu jahat! Hanya karena wanita luar Om memarahiku?!"
"Om tidak akan memarahimu kalau kamu bisa menjaga bicaramu terhdap Aqilah, jadi sekarang kamu pulang!"
Lisa langsung melangkah ke arah Aqilah tanpa menjawab ucapan dari Lukman, tangannya sudah ia angkat untuk menampar Aqilah hingga tamparan itu benar-benar mengenai pipi Aqilah.
Plak...!
"Gara-gara kamu Om menjadi membela kamu dasar murahan..!"
"Dasar wanita gila!"
Danu langsung memaki Lisa sambil melihat pipi Aqilah.
Lukman yang melihat itu ia pun sudah mengangkat tangannya akan menampar keponakannya, tapi dengan sigap tangan Aqilah menahan tangan Lukman.
"Tolong jangan melakukan kekerasan Om, Aqilah tidak mau melihat ini semua."
Danu langsung mengambil tangan Aqilah yang sedang memegang tangan Ayah tirinya sambil menghela napas berat.
"Tapi Lisa berhak mendapatkan itu Qi, kamu sudah di tampar olehnya, aku tidak mau kamu membela wanita jahat."
Aqilah menggelengkan kepalanya, ia tau gerakan Lisa yang akan menamparnya, tapi ia membiarkan Lisa untuk menamparnya, setidaknya bisa membuktikan pada orang rumah kalau Lisa itu bukan wanita lemah lembut seperti suara dan tutur katanya.
"Kamu lihat Lisa! Aqilah masih tetap baik saat di tampar oleh kamu, tapi kamu menilai Aqilah wanita murahan! Kamu sadar tidak yang terkesan murahan dan tidak tau malu itu kamu! Kamu mengakui aku sebagai milikmu, dasar wanita gila! Sekarang kamu pulang sebelum kelakuanmu aku adukan pada Ayah kamu!"
Danu berteriak marah, kalau saja ia tidak ingat ucapan Aqilah tadi, mungkin ia sudah melayangkan pukulan bertubi-tubi, tidak peduli orang itu wanita atau lelaki, yang jelas orang yang sudah menyakiti Aqilah harus merasakan hal yang Aqilah rasakan atau lebih karena ia sekarang kekasih Aqilah bukan sahabat Aqilah.
Danu yang sudah menjadi kekasih Aqilah ia juga merasa harus memiliki tanggung jawab untuk selalu menjaga Aqilah.
"Wanita sialan!"
Setelah mengatakan itu Lisa lari dari rumah itu tanpa permisi dengan perasaan yang sangat emosi, tapi ia tidak mau kalau Danu mengadukan perbuatannya pada Ayahnya, karena nanti Ayahnya akan mengomel habis-habisan. Diana menatap ngilu pipi Aqilah yang ada bekas telapak tangan Lisa.
"Seharunya kak Qi biarkan saja Ayah menampar Lisa, dia itu sangat keterlaluan kak."
"Kejahatan tidak boleh di lawan oleh kejahatan juga Diana, kalau kita melawan perbuatan dia, apa bedanya kak Qi dengan dia? Bukan'kah sama-sama jahat?"
__ADS_1
"Iya juga kak."
Diana menjawab ucapan Aqilah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maafkan Lisa nak Qi."
Sonia minta maaf dengan perasaan bersalah, apa lagi saat melihat Aqilah yang melarang menyakiti Lisa, membuat ia lebih merasa bersalah lagi pada Aqila.
"Aqilah tidak apa-apa bu."
"Apa yang di ucapkan oleh Lisa jangan di dengarkan, Danu sama sekali tidak memiliki hubungan bersama Lisa nak."
"Iya bu."
"Iya sudah kita keluar dulu."
"Iya bu."
Mereka semua langsung keluar dari dapur, sekarang tinggal ada Aqilah dan Danu. Danu mengusap wajah Aqilah dan meniupnya perlahan.
"Apa mau di kompres pakai es batu?"
"Aku tidak apa-apa."
"Serius aku tidak apa-apa Danu."
Setelah mengatakan itu Aqilah menghela nafas berat saat melihat mata Danu yang menujukan sangat kuatir padanya, membuat ia merasa bersalah karena membiarkan dirinya di tampar hanya untuk mengusir Lisa.
Danu mengusap kepala Aqilah dengan perasaan kuatir sambil menghela nafas kasar.
"Jangan tunjukan sifat baikmu di depan orang yang mau menjahati kamu Qi, aku tidak suka kalau sampai itu terjadi lagi."
"Iya maaf Danu, aku tidak akan mengulanginya lagi, ayo kita sarapan aku sudah lapar."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung menyajikan nasi goreng di satu piring.
"Bukan maaf yang aku inginkan Qi, tapi kamu harus memegang apa kata-kataku."
"Iya aku tau, ayo."
Tangan kiri Aqilah menggenggam tangan Danu, sedangkan tangan kanannya membawa nasi goreng.
Mereka berdua langsung duduk di meja makan. Danu masih gelisah saat melihat wajah Aqilah, ia berkali-kali menghela nafas berat.
__ADS_1
Aqilah yang mendengar helangan nafas Danu, ia langsung menggenggam tangan kiri Danu.
"Aku tidak apa-apa Danu."
Danu langsung menarik Aqilah untuk duduk di pangkuannya, ia menatap lekat mata Aqilah yang sedang menatapnya hingga ia bisa menemukan kalau Aqilah tidak menahan tangan Lisa itu adalah sebuah kesengajaan, bukan karena kecolangan, terlebih saat ia dan Ayah tirinya akan menampar Lisa, Aqilah dengan sigap menahan tangan ia dan Ayah tirinya, itu artinya Aqilah memang sengaja tidak menahan tangan Lisa.
"Aku tidak tau apa yang membuat kamu membiarkan Lisa menamparmu, aku yakin kalau kamu merencanakan sesuatu."
Aqilah yang mendengar tebakan dari Danu membuat ia tersenyum menyeringai. Danu menghela nafas berat saat melihat senyuman menyeringai dari Aqilah, sesuai dugaannya kalau Aqilah memang sengaja.
"Rencana apa yang membuat pipimu rela di tampar?"
Danu bertanya dengan tangan kanan yang mengelus kepala Aqilah, sedangkan tangan kirinya merangkul pinggang Aqilah.
"Habis Lisa ngeselin banget, masa ngatain milikku donat basi, tidak tau apa kalau donatku ini masih pres, jadi aku merancanakan agar kamu mengusir Lisa dari rumah ini, sebenarnya aku sudah ingin merobek mulut sialan Lisa, tapi aku tidak mau bikin keributan di rumah ini, apa lagi ada Diana, nanti Diana takut sama sifat bar-barku."
"Jadi kamu rela di tampar karena perkara donat?"
"Ih mulut kamu mesum banget!"
"Itu hanya sebuah donat Qi, di mana mesumnya?"
Aqilah menghela nafas berat saat mendengar pertanyaan dari Danu yang terkesan tidak mengerti.
"Jadi kamu tidak tau arti donat yang di bicarakan oleh Lisa?"
Danu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar.
"Ah enggak asik kamu masih anak ingusan ternyata!"
"Aku tau donat apa yang di maksudmu Qi."
"Tuh kamu ternyata mesum."
"Memang iya lelaki selalu salah di depan wanita."
Setelah mengatakan itu Danu menghela nafas berat, bukan ia marah, tapi memang tingkah Aqilah membuat ia pusing sendiri.
Lukman dan istrinya dari tadi menguping pembicaraan putranya dan Aqilah membuat ia tersenyum senang.
Walau pun Aqilah merencanakan agar Danu mengusir Lisa, tapi mereka senang karena nyatanya Aqilah tidak marah pada putranya.
Lukman dan istrinya juga berpikir kalau Lisa memang tidak boleh datang ke rumahnya, apa lagi setelah menghina Aqilah habis-habisan, mereka takut nanti membuat hubungan putranya dan Aqilah berakhir.
__ADS_1
Mereka berdua tau kalau mengijikan putranya mendekati wanita yang sudah bersuami itu salah, tapi mereka bahagia saat melihat putranya tersenyum bahagia karena Aqilah menerimanya.