Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 65 Minta maaf


__ADS_3

Setelah mendengar kemarahan dari Aqilah Malvin melihat ke arah Aqilah dengan tatapan intenst hingga ia menyadari kalau wanita di depannya adalah wanita yang ingin di tangkap Kenzi.


Malvin tidak menyangka 3 tahun tidak bertemu dengan Aqilah, tapi wajah Aqilah bukannya semakin tua, tapi semakin terlihat muda.


"Bagai mana bisa Nona menggunakan nama Syaqilah?"


"Bukan'kah namaku ini Veronika Syaqilah?!"


Malvin menghela nafas berat sambil merutuki kebodohannya, ia tidak menyangka kalau Kenzi memiliki musuh bukan orang biasa, tidak heran kalau bawahannya tidak bisa menangkap Aqilah karena ada bodygaur tersembunyi, ternyata itu adalah wanita yang menolongnya.


"Kamu lihat tanganku tertembak!"


Aqilah menyingkabkan lengan bajunya untuk memperlihatkan lengan yang di perban bekas luka tembakan.


Malvin menghela nafas berat, jadi ia mengerahkan 100 anggota untuk membunuh wanita yang sudah menolongnya.


"Maafkan saya Nona."


Malvin langsung berlutut di depan Aqilah, hingga membuat para bawahanya menatap Malvin tidak percaya, selama ini mereka belum pernah melihat Malvin berlutut di depan orang lain, tapi kali ini mereka melihat Malvin berlutut di depan orang lain.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Kamu membahayakan nyawaku! Bahkan kamu juga membahayakan nyawa Sinta, sekarang Sinta sedang ada di penginapan, kakinya tertembak!"


Malvin menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari Aqilah, ia tau kalau ia sangat salah karena tidak mengenali sesaorang dengan teliti.


"Tolong maafkan saya Nona. Nona boleh melakukan apa pun termasuk membunuh saya, tapi tolong maafkan saya."


Walau pun Aqilah memanggil diri sendiri dengan panggilan aku, tapi Malvin masih tetap berbicara pormal. Malvin langsung berdiri, ia langsung mengambil pistol di laci lalu langsung berjalan ke arah Aqilah.


Kenny yang melihat Malvin membawa pistol ke arah Aqilah, ia langsung berdiri di depan Aqilah, ia takut sesuatu terjadi pada Aqilah.


"Saya tidak akan menembak Nonamu, bagai mana pun juga dia juga Nona saya."


Malvin berbicara sambil terus berjalan maju ke arah Aqilah. Malvin langsung menyodorkan pistol pada Aqilah.


"Jika membunuh saya Nona bisa memaafkan perbuatan saya, Nona bisa membunuh saya."

__ADS_1


Aqilah langsung mengambil pistol yang di serahkan Malvin, ia langsung menarik pelatuk dan mengarahkannya pada Malvin, gerakan itu mampu membuat semua bawahan Malvin bergetar dan takut terjadi apa-apa pada Malvin, tapi saat beberapa bawahannya akan menghalangi Malvin, Malvin mengangkat tangannya untuk tidak ikut campur pada urusanya.


"Maafkan saya karena tidak mengenali Nona, maafkan saya karena sudah melupakan wajah Nona."


Setelah mengatakan itu Malvin memejemkan mata sambil merentangkan ke dua tangannya, ia sudah siap apa pun yang di lakukan oleh Aqilah karena ia selalu menepati janjinya seperti saat itu ia mengatakan kalau nyawanya adalah milik Aqilah.


Aqilah langsung menembakan pistol itu ke arah meja kayu yang terletak di samping dingding.


Dor...!


Satu tembakan itu mampu membuat semua bawahan Malvin memekik takut dan memejamkan mata, karena mereka bisa melihat kalau pistol itu di arahkan ke perut Malvin.


Saat mendengar bunyi tembakan, tapi tubuhnya tidak merasakan sakit, Malvin langsung membuka mata untuk melihat seluruh tubuhnya, lalu ia melihat ke arah belakang, ternyata Aqilah menembak ke arah meja.


"Kalau aku membunuhmu, lalu apa bedanya aku dan kamu? Bukan'kah ke duanya adalah orang jahat?!"


Setelah mengatakan itu Aqilah melempar pistol ke sembarang tempat, lalu langsung duduk di sofa sambil tumpang kaki.


Setelah mendengar ucapan dari Aqilah semua anggota Malvin membuka matanya sambil mengelus dada karena ternyata Aqilah tidak benar-benar menembak Malvin.


"Apa yang Nona inginkan dari saya?"


"Aku ingin satu permintaan darimu, bubarkan anggotamu. Mereka memang sangat membutuhkan pekerjaan, tapi kamu juga tidak semiskin itu, kamu bisa mempekerjakan mereka menjadi satpam rumahmu, satpam kantormu, dan untuk mencari tentang inpormasi termasuk sebagainya agar perusahaanmu meningkat, bukan menyuruh mereka untuk mebunuh sesaorang!"


"Maaf saya tidak bisa Nona, membunuh orang adalah kebahagiaan saya."


Aqilah menghela nafas kasar, ia langsung berjalan mendekati Malvin.


"Saya tau apa yang kamu rasakan memang berat Vin, tapi apa kamu tidak kasihan dengan orang-orang yang tidak berdosa? Dendammu juga sudah terbalaskan, lalu apa lagi yang kamu cari?"


"Nona tidak akan pernah tau bagai mana rasanya kehilangan orang-orang yang saya sayangi."


"Kalau kamu berpikir seperti itu kamu salah, aku juga merasakan hal yang sama di saat usiaku baru menginjak 6 tahun, Mommy meninggal karena di siksa oleh pesaing bisnis Daddy, hingga setiap malam aku selalu melihat Mommy yang bersimbah darah di rumah kosong dalam mimpiku, itu bukan sebuah mimpi, tapi itu nyata penglihatanku saat usiaku 6 tahun, aku selalu tersiksa setiap malam karena kejadian itu, bahkan hingga sekarang aku masih mengalami mimpi itu, jadi aku mohon hentikan semua ini, jangan membunuh orang-orang yang tidak berdosa, kamu boleh mempekerjakan mereka seperti untuk mencari sesaorang, tapi jangan menerima untuk membunuhnya."


Aqilah berbicara sambil sesekali air matanya jatuh, hati ia sangat sakit, setiap kali membicarakan tentang Mommynya.

__ADS_1


Malvin yang melihat air mata Aqilah ia sangat terkejut, saat Aqilah mengobati lukanya hampir sebulan, ia belum pernah melihat Aqilah menangis, baru kali ini ia melihat Aqilah menangis.


"Seberat apa pun hidupmu, kamu harus menjalaninya dengan kedamaian, jangan pernah memiliki kebencian hingga membunuh banyak nyawa."


Aqilah langsung mengusap air matanya, ia menepuk punggung Malvin dua kali.


"Aku percaya kalau kamu bisa berubah, karena aku tau kalau kamu orang baik."


"Bagai mana bisa Nona mengatakan saya orang baik? Setelah saya membunuh ribuan nyawa?"


"Tapi saya tetep percaya kalau kamu bisa berubah dan percaya kalau kamu orang baik, jangan dengar apa kata orang yang mengatakan kamu jahat, cukup kamu dengar ucapanku kalau Veronika Syaqilah Anderson orang yang tidak pernah takut dan tidak pernah percaya pada sesaorang, tapi sangat mempercayaimu."


"Baik Nona, saya tidak akan melakukannya lagi."


Pada akhirnya seorang Malvin mengalah pada sesaorang juga, lelaki keras kepala dan tanpa takut, tapi ia menghargai Aqilah yang sudah menyelamatkan nyawannya.


Aqilah tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari Malvin hingga Malvin terpesona dengan senyuman Aqilah yang belum pernah ia lihat saat Aqilah mengobati lukanya, ia hanya mendengar omelan Aqilah seperti ibu-ibu saat itu.


"Mari kita berteman."


Aqilah langsung mengulurkan tangannya pada Malvin.


"Apa Nona yakin berteman dengan penjahat seperti."


Belum sempat Malvin melanjutkan ucapannya, Aqilah langsung meletekan telunjuknya pada bibir Malvin.


"Sudah aku bilang kalau kamu orang baik."


Kenny yang melihat interaksi Aqilah dan Malvin, ia tersenyum lebar, ia kagum dengan Aqilah yang selalu bersikap dewasa dan selalu berbuat baik, selama orang itu tidak mengusik hidup Aqilah, sedangkan Malvin ia tau kalau Malvin tidak sengaja ingin membunuh Aqilah karena melupakan wajah Aqilah.


"Jadi kita teman sekarang?"


Malvin bertanya sambil menjabat tangan Aqilah.


"Iya kita teman sekarang, jadi kamu panggil saja aku Aqilah, kalau kamu memanggilku Vero, aku takut identitasku ketahuan."

__ADS_1


"Baiklah Aqilah."


Aqilah juga terpesona saat melihat senyuman Malvin, senyuman yang belum pernah Aqilah lihat saat mengobati Malvin, tapi hanya terpesona bukan berarti suka.


__ADS_2