Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 81 Mie Instan


__ADS_3

Aqilah merasa bosan mendengar ucapan dari suaminya, cinta, cinta dan cinta saja yang suaminya ucapkan, tidak bisa'kah sedikit saja suaminya itu menghargai perasaannya, dulu hanya kata jijik dan wanita murahan yang terus terlontar dari mulut suaminya.


"Wira, sepertinya gangguan kejiwaanmu itu terganggu, harusnya kamu itu ke rumah sakit jiwa, bukan di sini tempatnya!"


Wira hanya tersenyum menyeringai saat mendengar ucapan dari istrinya, ia langsung mendorong tubuh istrinya untuk telentang, lalu ia langsung di atas tubuh istrinya.


"Bagai mana kalau kita coba untuk olah raga sore, agar kamu bisa tau kalau kejiwaanku ini masih sehat."


Saat suaminya akan mencium bibirnya, Aqilah langsung pura-pura mual.


Wuekkk... Wuekkk...


Aqilah langsung mendorong tubuh suaminya lalu langsung lari ke arah kamar mandi dan langsung mengunci pintu kamar mandi, ia langsung menyalakan keran di westapel sambil terus pura-pura muntah.


Tok-tok!


"Aqilah, buka pintunya!"


Wira mengetok pintu sambil berteriak, ia sangat kuatir pada istrinya.


"Aqilah! Sayang tolong buka pintunya! Jangan membuat aku kuatir Aqilah!"


Wira menghela napas kasar saat istrinya masih mengunci kamar mandi.


"Apa orang hamil itu sensitip iya? Mulutku ini tidak bau apa pun, kenapa Aqilah muntah-muntah?" batin Wira


"Sayang buka pintunya, aku dobrak iya?!"


Aqilah menghela napas berat saat mendengar teriakan terakhir dari suaminya, ia buru-buru cuci muka agar menampilkan kesan habis muntah, lalu langsung membuka pintunya.


"Jangan teriak-teriak, entar bayiku merasa pusing."


Aqilah berbicara sambil mengelus perut ratanya, beberapa saat ia merutuki kebodohannya, bagai mana kalau suaminya ingin memegang perutnya juga dan ada sesuatu yang mengganjal, ia bisa ketahuan kalau menyembunyikan ponselnya di perut.


Setelah itu Aqilah langsung berjalan ke arah tempat kerja suaminya yang sudah di jadikan dapur. Bi Ira langsung tersenyum saat melihat Aqilah.


"Selamat sore nyonya, mau makan apa?"


"Iya sore juga bi, saya mau makan mie instan dan tiga telur, di potongin cabai 30 iya bi."


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung duduk di meja makan. Bi Ira mamatung tidak percaya saat mendengar permintaan dari Aqilah. Wira yang baru masuk ke ruangan itu langsung mendekati bi Ira.

__ADS_1


"Bi, jangan di buatin mie instan, apa lagi banyak cabai, jangan bi, entar saya sangat berdosa kalau ada apa-apa dengan janin Aqilah."


Bi Ira di buat mematung lagi saat mendengar ucapan Wira yang mengatakan janin Aqilah, apa lagi ia tau kalau Wira dan Aqilag belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri, tapi sekarang Aqilah sedang hamil.


"Apa kepala tuan itu terbentur tembok? Sejak kapan Nyonya hamil, melakukan making love saja tidak, ko bisa hamil?" batin bi Ira


"Bibi saya berbicara bibi ko bengong?!"


"Eh iya tuan."


"Wir kamu jangan seenaknya, aku mau makan mie instan!"


Aqilah menatap tajam pada Wira yang masih berdiri di depan bi Ira.


"Makanan yang sehat sayang, biar bayinya tumbuh dengan sehat."


Aqilah mendengus kesal, bukan kebebasan yang ia dapatkan dari Wira, tapi larangan yang semakin menjadi-jadi.


"Tapi aku ingin makan mie instan Wira, kalau janinku ileran emang kamu mau?!"


Bi Ira hanya tersenyum meringis, ia bingung jadi yang otaknya gila itu siapa.


Namun baru saja bi Ira mengumpat ke dua pasangan suami istri, ingatannya teringat saat Wira mengambil jarum suntik di lantai tadi pagi.


"Apa jangan-jangan tuan menyuntikan obat agar nyonya lupa ingatan dan mengatakan kalau nyonya sedang hamil? Atau memang obat yang di berikan tuan obat gila, agar nyonya tidak bisa kabur?" batin bi Ira


"Tidak ada mie instan mie instanan sayang, kamu itu sedang hamil, tidak boleh makan mie instan, itu akal-akalan kamu saja agar bayinya ileran!"


Wira tetap lah Wira yang keras kepala, ia tidak mau ucapannya di bantah.


"Iya sudah aku tidak jadi makan!"


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung keluar dari tempat makan. Wira yang melihat kepergian istrinya, ia menghela napas berat.


"Bi buatkan saja mie instan tiga telur, tapi cabainya kasih saja dua biji jangan di potong."


"Baik tuan."


Wira langsung duduk di meja makan sambil menunggu bi Ira membuatkan mie instan permintaan istrinya.


"Wanita hamil itu ternyata ngeselin, ucapannya tidak bisa di bantah." batin Wira

__ADS_1


Tidak lama bi Ira membawa mie telur cabai ke arah Wira.


"Ini tuan mau saya yang mengantar ke nyonya, atau tuan sendiri yang bawa?"


"Sini biar saya saja yang bawa bi."


"Baik tuan."


Wira langsung mengambil nampan yang sedang di pegang bi Ira, lalu langsung berjalan ke arah istrinya yang sedang duduk di sofa. Wira langaung meletakan mie instan itu ke meja depan istrinya, lalu ia juga langsung duduk di samping istrinya.


"Ini mie instan yang kamu inginkan sayang, mie tiga telur."


Aqilah langsung melihat ke arah mie instan, tapi di sana hanya ada dua cabai saja.


"Cabainya mana Wira?!"


"Jangan aneh-aneh Aqilah, kamu sedang hamil, kalau kenapa-kenapa sama janin kamu bagai mana? Lebih baik kamu makan saja mie intan ini dulu sayang."


Aqilah mendengus kesal saat mendengar ucapan dari suaminya, lalu ia langsung memakan mie instan itu tanpa mau menawarkan makan itu pada suaminya, ia juga tidak peduli kalau suaminya belum makan.


Bahkan Aqilah berharap kalau suaminya tidak makan terus sakit, kalau suaminya sakit ia bisa dengan mudah untuk melarikan diri, sedangkan sekarang ia sama sekali tidak bisa melarikan diri, saat akan pura-pura terjun saja suaminya sudah berjaga-jaga, bahkan sekarang ia benar-benar sudah seperti tahanan oleh Wira.


"Tidak mau menawari Papanya Aqilah?"


Wira bertanya sambil tersenyum lebar.


"Papa-Papa, jangan harap kalau janinku akan memanggil kamu Papa, lagian juga kalau mau mie instan kamu buat sendiri Wira, aku mana kenyang makan mie instan segini, sekarang aku berbadan dua, jadi mie segini tidak kenyang, kalau di bolehin sama kamu aku mau nambah 2 bungkus lagi."


Wira menghela napas kasar saat mendengar ucapan dari istrinya, yang ia tau dulu istrinya tidak suka mie instan saat kecil, tapi setelah tumbuh menjadi wanita dewasa, istrinya suka sekali mie instan.


Namun Wira tau mungkin istrinnya menyukai mie instan itu karena bawaan dari janin, mungkin Danu menyukai mie instan, jadi bayinya mirip seperti Danu.


"Iya sudah sayang habiskan makanannya, setelah itu sayang segera mandi, sekarang sudah sangat sore."


"Iya Wira."


Aqilah langsung melanjutkan memakan mie instannya, setelah selsai sambil berkali-kali menghela napas karena perutnya sudah sangat kenyang.


Apa lagi Aqilah makan sedikit, sedangkan sekarang ia sedang makan mie instan dengan tiga telur. Bahkan makan telur dua saja sudah kenyang, apa lagi mau menghabiskan mie instan dan 3 telur, tapi ia tetap harus menghabiskannya, kalau tidak suaminya mencurigainya kalau ia tidak hamil karena suaminya tau kalau ia selalu makan sedikit.


Wira tersenyum sambil mengelus kepala istrinya saat melihat istrinya makan dengan perlahan, ia tau kalau istrinya sudah kenyang, tapi ia hanya diam.

__ADS_1


__ADS_2