Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 46 Ke pantai


__ADS_3

Sore harinya Aqilah sudah memakai kemeja warna coklat yang di masukan ke dalam celana jeans panjangnya hingga membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas karena ia dan Danu akan pergi berjalan-jalan.


Danu juga sudah rapih dengan kemeja coklatnya yang senada dengan kemeja Aqilah


Diana yang melihat mereka berdua sudah rapih dan berpegangan tangan, ia langsung tersenyum lebar, seakan ia lupa kalau Aqilah sudah memiliki suami.


Apa lagi saat melihat raut wajah dari kaka tirinya yang terlihat bahagia, jelas ia juga sangat bahagia.


"Diana, ikut kaka Qi tidak?"


"Tidak kak, kaka pergi saja sama kak Danu."


"Iya sudah kaka Qi pergi."


Diana menganggukan kepalanya. Danu sudah siap untuk membonceng Aqilah dengan motor sport.


"Qi, peluk kenapa?"


Danu langsung menyuruh Aqilah memeluknya karena Aqilah hanya diam.


"Oh iya."


Aqilah langsung memeluk Danu. Danu langsung melajukan motornya meninggalkan rumah, ia akan mengajak Aqilah ke pantai.


Aqilah menyadarkan kepalanya di punggung Danu, senyumanya mengambang di bibir tipisnya.


Ada rasa sedikit bahagia, tapi ada juga merasa bersalah pada Danu dan suminya, apa ia salah sekarang memberikan harapan pada Danu di saat ia masih terikat status pernikahan dengan Wira, dan apa ia juga salah telah menghianati Wira yang sudah memiliki janji dalam pernikahan saat pendetaka menyuruhnya untuk berjanji.


Pikiran itu membuat Aqilah bingung sendiri, memang suaminya bermain api dengan Alexsa, tapi kalau ia mengikuti jejak suaminya, itu sama saja tidak jauh beda dengan sifat suaminya yang menghianti pernikahan.


Danu merasa Aqilah menyadarkan kepalanya, ia sangat bahagia, dan semoga perjuangannya itu tidak sia-sia untuk mendapatkan hati Aqilah.


Setelah 30 menit mereka sampai di pantai yang mereka tuju, Aqilah dan Danu langsung berjalan ke arah pantai sambil berpegangan tangan.


Setelah di pesisir pantai Aqilah melebarkan ke dua tangannya agar angin itu menerpa tubuhnya sambil melihat ke arah ombak pantai dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Danu langsung memeluk Aqilah dari belakang dengan kepala yang ia sandarkan di leher Aqilah.


"Kamu menyukainya?"


"Iya aku sangat suka, apa lagi saat mata hari tenggelam."


Sedangkan Danu sendiri bukan angin pantai yang ia hirup, melainkan lipstik Aqilah yang menerpa dalam indra penciumannya, lipstik Aqilah sangat harum di tambah lagi wangi tubuh Aqilah yang harum levender membuat ia ingin terus memeluk Aqilah seperti itu.

__ADS_1


Awalnya Aqilah merentangkan tangan, lalu langsung memegang tangan Danu yang melingkar di perutnya.


"Danu, apa aku salah memberikan kamu harapan di saat aku masih berstatus istri orang? Lalu apa bedanya aku dan Wira? Kita sama-sama menghianati pernikahan dan sama-sama brengsek."


Setelah itu Aqilah menghela nafas berat, ia bingung dengan perasaannya sekarang.


"Kamu bukan orang seperti itu Qi, kita berdua juga masih di batas wajar, tidak seperti suamimu dengan Alexsa, tapi kalau kamu merasa resah, lebih baik kamu hanya fokus dengan perceraianmu, jangan memikirkan tentangku."


"Aku tidak resah, aku merasa sangat jahat, orang baik sepertimu aku manfaatkan untuk menghapus cintaku pada Wira."


Danu langsung membalikan tubuh Aqilah untuk menatap ke arahnya tanpa melepaskan ke dua tangannya yang terus melingkar di perut Aqilah.


"Aku tidak baik, mana mungkin lelaki baik ingin memiliki istri orang, jelas aku bukan lelaki baik, lalu kalau kamu merasa bersalah, kamu menganggap aku apa Qi? Hanya sebatas sahabat lagi?"


Aqilah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar menutupi rasa bersalahnya.


"Aku mau kamu menjadi kekasihku, aku ingin merasakan bagai mana memiliki kekasih, jangan meledekku kalau di usiaku yang ke 24 tahun dan hampir ke 25 tahun ini belum merasakan memiliki kekasih."


"Aku pun sama, aku belum pernah memiliki kekasih, karena aku hanya mencintai satu wanita di dunia ini yaitu kamu."


Lagi-lagi Aqilah harus merasa bersalah pada Danu, dari pagi hingga sore rasa bersalah itu kian membesar.


Walau pun Aqilah tidak pernah berbuat janji dan tidak tau kalau Danu mencintainya, tapi tetap saja ia merasa bersalah karena ia pernah merasakan betapa sakitnya tidak di cintai oleh orang yang kita cintai.


"Kalau aku masih mencintai suamiku bagai mana?"


Aqilah bertanya sambil menunduk, bagai man pun juga suaminya adalah cinta pertamanya, tentu saja tidak mudah untuk menghapus rasa cintanya pada suaminya.


"Tidak apa-apa, sudah aku bilang aku baik-baik saja, asal aku bisa melihat kamu bahagia aku akan ikut bahagia."


Ini lah cinta Danu yang membuat Aqilah merasa bersalah, Danu selalu menyikapinya dengan dewasa walau pun Aqilah tau hatinya terluka.


Aqilah langsung memeluk Danu dengan sangat erat, sesekali air matanya menetes.


Lagi-lagi ucapan Danu mampu membuat air mata Aqilah menetes, ia pikir ia tidak bisa menangis untuk orang lain selain ke dua orang tuanya, tapi nyatanya Danu mampu membuatnya menangis.


Danu menghela nafas berat, ia tau kalau Aqilah sedang menangis, walau pun tidak ada isak tangisnya, tapi dada ia merasa sedikit basah.


"Kalau kamu menerimaku karena merasa bersalah, tolong jangan berikan aku harapan, dan tolong jangan menangis, aku merasa bersalah kalau kamu menangis."


Danu berbicara dengan tangan kanannya mengelus rambut Aqilah yang berantakan karena tertiup angin, sedangkan tangan kirinya membalas pelukan dari Aqilah.


"Harusnya kamu senang karena kamu adalah orang pertama yang membuat aku menangis selain ke dua orang tuaku."

__ADS_1


"Tidak ada lelaki yang senang saat wanita yang di cintainya menjadi wanita lemah."


Aqilah melepaskan pelukannya, ia menatap mata Danu dengan intents.


"Apa menurutmu aku wanita lemah?"


"Tidak, kelemahanmu hanya di depanku, aku sangat senang. Aku tau kamu tidak pernah menangis selain karena rindu terhadap Mommy kamu, jadi aku merasa sangat beruntung saat wanita yang aku cintai mau bergantung terhadapku."


"Aku haus."


"Iya sudah ayo beli es kelapa dulu."


Aqilah menganggukan kepalanya, ia langsung bergelayut manja di lengan Danu.


Danu yang melihat Aqilah bergelayut manja di lengannya, ia tersenyum lebar walau pun detak jantungnya lagi-lagi berdetak lebih cepat.


"Pak es kelapanya dua."


"Iya dek."


Aqilah dan Danu langsung duduk. Aqilah langsung mengambil ponselnya untuk berfoto bersama Danu.


"Dan sini kita foto."


Danu mengangguk pelan ia bergeser dari duduknya, lalu langsung merangkul pinggang Aqilah agar semakin dekat.


Aqilah mulai berfoto dari gaya berpelukan hingga Aqilah mencium pipi Danu, ia tidak peduli walau pun banyak pengunjung di sana yang berbisik-bisik tentang kecocokan Aqilah dan Danu.


Danu yang mendapat ciuman ia sangat terkejut, walau pun cium pipi. Setelah berfoto Aqilah mengirim foto itu pada Mahesa, ia menyuruh Mahesa untuk mengunggah di internet, agar suaminya bisa melihat kalau ia jauh lebih bahagia walau pun jauh dari suaminya.


"Ini es kelapanya dek."


"Terima kasih pak."


"Sama-sama dek."


Aqilah langsung mengambil sedotan yang ada di miliknya, ia menggeser miliknya ke samping lalu menarik milik Danu.


"Berdua Dan biar romantis."


Danu hanya mengangguk ia meminum es kelapa dengan satu gelas yang sama.


Tidak lupa Aqilah juga berfoto dengan pose itu, lalu langsung mengirimkan foto itu lagi pada Mahesa, kalau ia yang mengunggah foto itu memakai akun Aqilah, ia takut lokasinya terlacak oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2