
Pagi harinya Danu sudah duduk di atas ranjang Aqilah, ia menatap lekat wanita yang di cintainya masih terlelap.
Wajah polos tanpa olesan sedikit pun membuat terkesan lebih cantik di mata Danu.
Tidak lama Aqilah mulai membuka mata sambil merentangkan ke dua tangannya karena capek.
"Selamat pagi kekasihku."
Danu menyapa Aqilah saat Aqilah baru membuka mata sambil tersenyum lebar. Raut wajah bahagia dari kemarin tidak pernah berubah di wajah Danu saat Aqilah akan mencoba menerimanya, terlebih saat Aqilah menginginkan ia sebagai kekasihnya, ia lebih bahagia lagi.
Danu tidak peduli walau pun yang ia lakukan itu memang salah, menjadi kekasih dari wanita yang sudah memiliki suami sama saja berselingkuh, seperti yang di ucapkan Aqilah kemarin pagi memang benar adanya kalau ia selingkuhan dari Aqilah, tapi ia sama sekali tidak peduli. Aqilah sangat terkejut saat di kamarnya sudah ada Danu.
"Pagi juga kekasihku, sudah ada di kamar saja."
"Iya, aku ingin melihat kamu bangun tidur"
"Dan, badanku pegel-pegel."
"Apa mau di urut?"
Danu bertanya sambil mengelus kepala Aqilah. Aqilah hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Iya sudah lain kali kalau jalan-jalan kita bawa mobil saja, dari sini kita bawa motor sampai di tempat mobilku."
"Tapi aku suka kalau kita naik motor, terkesan romantis."
Danu tersenyum lebar, andai saja ia tidak ingat kalau Aqilah masih istri orang, rasanya ia sudah ingin mencium seluruh wajah Aqilah saat mengatakan terkesan romantis, tapi ia masih ingat kalau Aqilah istri orang, membuat ia hanya bisa tersenyum lebar.
Aqilah langsung duduk, ia langsung menyadarkan kepalanya di dada bidang milik Danu, ke dua tangan Danu ia lingkarkan ke perutnya sendiri.
Setelah itu Aqilah memejankan mata lagi, ia memang tidak pernah pergi menggunakan motor, terlebih kaki yang terkilirnya masih belum sepenuhnya sembuh.
Danu mengelus kepala Aqilah dengan sayang, senyumannya semakin lebar saat melihat Aqilah sangat manja padanya, walau pun ia tau kalau Aqilah sekarang sedang mencoba untuk membuka hati untuknya, tapi tetap tidak bisa di pungkiri kalau ia sangat bahagia.
"Kalau masih ngantuk tidur lagi Qi."
"Biarkan aku seperti ini sebentar."
"Walau pun lama juga tidak apa-apa, bahkan aku sangat senang mendapatkan pelukan pagi seperti ini."
Aqilah menganggukan kepalanya, lalu kepalanya ia sembunyikan di dada bidang milik Danu dan ke dua tangannya langsung memeluk tubuh Danu.
__ADS_1
Danu menghela nafas berat saat Aqilah mengubah posisi menjadi memeluknya karena beberapa menit kemudian ia bisa merasakan nafas hangat Aqilah yang membuat miliknya berdiri.
Apa lagi pagi-pagi begini sudah di beri kehangatan oleh orang yang di cintainya, walau pun ia bukan lelaki mesum, tapi sudah dua kali ini Aqilah membuat miliknya berdiri secara tiba-tiba.
"Aku sebelumnya tidak pernah seperti ini, tapi kenapa sudah dua kali ini aku seperti menjadi lelaki mesum?" batin Danu
Cukup lama Danu mengusap kepala Aqilah hingga sekitar 20 menit ia mendengar suara Aqilah yang memanggil nama Mommynya.
"Mommy, aku rindu."
Danu yang mendengar suara Aqilah ia mengelus punggung Aqilah, yang awalnya sura nafas Aqilah membuat miliknya berdiri, tapi setelah mendengar suara Aqilah yang sangat menyedihkan membuat nafsunya hilang seketika, dan di gantikan dengan nafas memburu, dadanya sakit setiap kali melihat tidur Aqilah selalu memanggil Mommynya.
"Mommy kamu sudah tenang di surga Qi, kamu tidak boleh sedih berlarut-larut seperti ini."
Danu mengecup kepala Aqilah untuk pertama kalinya, ia tidak peduli walau pun di anggap bajingan karena mencium tanpa sepengetahuan Aqilah, tapi ia tidak bermaksud untuk mengecupnya, entah bibirnya tiba-tiba saja melakukan itu.
Setelah sekitar 40 menit Aqilah bangun dari tidurnya, tapi ia masih memeluk Danu tanpa ia sadari, hingga saat membuka mata tanpa mengangkat kepala, ia baru ingat kalau tidur di pelukan Danu, membuat Aqilah menghela nafas berat saat menyadarinya, ia merasa sudah benar-benar menjadi wanita murahan sekarang karena tidur di pelukan lelaki yang bukan suaminya. Aqilah langsung mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Danu.
"Kamu sudah bangun?"
Danu bertanya sambil mengusap lembut pipi Aqilah dan senyumannya masih tidak redup hingga sekarang.
"Maaf."
"Maaf karena aku tidur sambil memelukmu, terkesan murahan iya?"
"Sstt... Kamu berbicara apa Qi? Aku bahkan senang dan tidak berpikir kamu wanita seperti itu."
Danu berbicara sambil membenarkan rambut Aqilah yang berantakan dan ia merasa sangat gemas saat melihat wajah bangun tidur Aqilah.
"Aku mau cuci muka dulu Dan, lalu mau buat sarapan, kamu mau sarapan apa?"
"Nasi goreng Qi."
Aqilah menganggukkan kepalanya, ia langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Danu memutuskan untuk pergi ke ruang tamu untuk bergabung dengan ibunya, tapi ia melihat Lisa juga di sana.
"Eh Lis, kamu ada di sini saja. Memang tidak membantu Ayah jaga toko?"
"Tidak, kamu sudah sarapan belum Dan? Tadi aku bawain kamu sarapan di meja makan."
"Belum, tapi kamu jangan membawa sarapan buatku lagi, ada Aqilah yang buat sarapan buat aku."
__ADS_1
Sonia mencubit pinggang putranya. Putranya memang selalu saja kaku pada wanita membuat Sonia malu, terlebih Lisa adalah keponakan dari suaminya.
Sonia tau kalau Lisa menyukai putranya, tapi jangankan Lisa yang tampangnya biasa-biasa saja, putri dari juragan di kampungnya pun putranya menolaknya.
Awalnya Sonia kuatir kalau putranya itu tidak menyukai lawan jenis, tapi setelah tau kalau putranya menyukai putri dari bosnya, ia bisa bernafas lega.
"Ibu jangan di cubit dong, Danu cuma tidak mau di repotkan oleh Lisa."
Belum sempat Lisa menjawab ucapan dari Danu, pandangan matanya melihat sosok Aqilah dari kamar yang sama, tadi juga Danu keluar dari kamar itu membuat ia berdecik kesal di hatinya.
"Ciuh! Dasar wanita murahan, hanya untuk mendapatkan Danu sampai-sampai di kamar berdua lagi, putri bos ko tidak punya malu, sudah gatel kali iya punyanya pengen segera di pakai oleh Danu sampai-sampai di kamar berdua juga mau." batin Lisa
Setelah Aqilah semakin dekat, Lisa melebarkan matanya saat melihat jalan Aqilah yang seperti menahan sakit.
"Apa-apaan? Apa Danu sudah menggarap milik Aqilah? Kenapa Aqilah jalan seperti menahan sakit? Lalu tante Sonia hanya membiarkan mereka melakukan hal itu?" batin Lisa
Lisa mengusap wajahnya dengan sangat kasar, andai saja di rumah itu tidak ada Danu dan Sonia, Lisa sudah menjambak-jambak rambut Aqilah dan meludahi wajah so polosnya.
"Selamat pagi bu, selamat pagi Lis."
Aqilah menyapa mereka sambil tersenyum lebar.
"Pagi."
"Iya pagi nak, baru bangun?"
"Iya bu, habis kecapean semalam. Ayah kemana bu?"
"Ayah sedang melihat kebun nak."
"Oh iya sudah Aqilah ke dapur dulu bu."
"Iya nak."
Setelah Aqilah berjalan ke dapur, Danu juga buru-buru menyusul Aqilah ke dapur.
"Kecapean? Jadi benar semalam Danu melakukan itu pada Aqilah? Dasar wanita murahan, mau di pakai tanpa ikatan pernikahan? Wanita gila, tapi aku tetap tidak akan membiarkan kalian bersama. Danu hanya milikku." batin Lisa
Setelah di meja dapur Aqilah melihat makanan di sana yang tersaji.
"Dan, ini sudah ada makanan, aku tidak jadi masak."
__ADS_1
"Tapi aku hanya ingin makan nasi goreng buatan kamu."
"Dasar manja!"