
Sepanjang perjalan pulang tidak berjalan mulus untuk Aqilah, nyatanya di perjalanan sudah ada orang yang menunggu dan tau kalau Aqilah akan melewati jalan itu.
Apa lagi mereka sangat teliti walau pun Aqilah mengganti mobilnya berasa percuma karena nyatanya mereka memberhentikan mobil satu-persatu dan menyuruh membuka jendela mobilnya.
"Sudah seperti buronan!"
Aqilah mengumpat sendiri saat lagi-lagi ia harus bersembunyi di bawah jok untuk menghindari keributan.
Bukan Aqilah takut, tapi ada 3 nyawa yang harus ia lindungi, apa lagi mereka juga membawa benda tajam, dari pisau dan pistol, walau pun tidak di tujukan secara terang-terangan, tapi mata Aqilah sangat jeli untuk melihat perlengkapan yang mereka bawa, sungguh di luar dugaan Aqilah.
Namun saat melihat lambang di dadanya itu adalah bawahan dari Malvin Atlanta. Malvin adalah ketua pembunuh bayaran yang memiliki jumblah anak buahnya sudah 250 orang anggota.
"Malvin brengsek! Awas saja kalau aku sudah pulang ke Jakarta akan aku buat perhitungan! Sial sekali di bayar berapa oleh Kenzi sampai-sampai bawahan Malvin memburuku!"
Aqilah lagi-lagi mengumpat, apa lagi ia baru sadar kalau sepanjang perjalanan ada bawahan Malvin.
"Nona kenal dengan lelaki yang bernama Malvin?"
Sinta memang sudah mengetahui kalau lambang api di dada orang bayaran itu adalah bawahan dari Malvin, tapi ia tidak tau wajah dan rupa Malvin seperti apa.
Bahkan Sinta tau tentang itu saja dari Kenny, karena hanya Kenny yang tau segalanya, Kenny lelaki cerdas dan pintar, jadi tidak heran kalau Kenny di tetapkan sebagai bodygaur tersebunyi dari Aqilah.
"Kejadiannya 3 tahun yang lalu, saya menemukan Malvin di pesisir pantai dengan 4 luka tembakan di tubuhnya, saya yang menolong Malvin dari kom'a saat itu, dulu Malvin hanya memiliki 30 anggota saja, hingga sekarang memiliki 250 anggota."
Aqilah menghela nafas berat sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Sebenarnya Malvin bukan lelaki yang kekurangan uang, tapi membunuh sesaorang adalah kesenangannya, ke dua orang tuanya meninggal di bunuh dengan pesaing bisnisnya, hingga Malvin menutup segala rasa kasihan atau iba, ia hanya tau kalau membunuh adalah kesenanganya."
Ke tiga Gadis di bangku penumpang belakang itu bergidik ngeri saat mendengar cerita dari Aqilah.
"Setelah menolongnya Malvin memberikan kartu nama dan siap melakukan apa pun yang saya suruh tanpa di bayar, tapi saya tidak menyangka kalau Malvin akan menyuruh anak buahnya untuk memburu saya."
Sinta menghela nafas berat, sepertinya Aqilah salah menolong sesaorang, bukan'kah seharusnya Malvin berterima kasih, tapi Malvin ingin menangkap Aqilah.
Kalau tadi berangkat hanya menempuh perjalanan 1 jam, tapi sekarang mereka menempuh perjalanan hingga 1 jam 20 menit baru sampai di tempat penyimpanan mobil milik Danu.
"Dan itu mobil siapa yang mau masuk ke sini?"
Yang bertanya adalah tetangga tempat penyimpanan mobil milik Danu karena Danu memang sedang menunggu mereka.
Danu memiliki pirasat buruk, tapi ia tidak menelpon adiknya untuk menanyakan, ia lebih memilih menunggu karena ia yakin kalau Kenny berada di sekitar Aqilah.
"Tidak tau mang."
Aqilah menghela nafas lega setelah sampai di tempat itu.
__ADS_1
"Sin, kamu antar dua Gadis ini hati-hati, dan nanti kamu taruh mobil ini di sini, kalian untuk sementara bawa mobil Danu, sepertinya mereka sudah hapal plat mobil Danu dan akan selalu di incar."
"Baik Nona."
Aqilah langsung melihat ke arah belakang, sedangkan Diana sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah kaka tirinya.
"Intan, Ayura, maaf iya jalan-jalan kita tidak berakhir baik, kaka harap kalian jangan kapok sama kaka, kaka bukan orang jahat walau pun di buru oleh mereka, kaka sedang ada masalah dengan pacar suami kaka."
"Kami berdua tidak kapok kak, terima kasih teraktirannya."
Intan menjawab untuk mewakili ucapan Aqilah. Kini mata Aqilah melihat ke arah Sinta lagi.
"Sebarkan dua video Alexsa, yang bersama Edo dan Troy, tapi potong videonya hanya adegan percumbuan saja jangan sampai pulgar, saya masih ingin bermain-main dengan mak lampir itu."
"Baik Nona."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung turun sambil membawa belanjaan miliknya dan milik Diana.
Aqilah langsung melambaikan tangan ke arah Ayura dan Intan, setelah mobil itu melaju Aqilah langsung berjalan ke arah Danu sambil tersenyum lebar saat melihat Diana memeluk Danu sangat erat, seperti sedang menyalurkan rasa takutnya, membuat ia merasa bersalah pada Diana.
"Maafkan kaka iya Diana, ini salah kaka."
Aqilah berbicara sambil mengelus kepala Diana. Diana hanya menjawab dengan memgelengkan kepala, ia langsung melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa kak, Diana duluan."
"Iya sudah."
Diana langsung pergi lebih dulu untuk pulang, ia tidak mau mengganggu kaka tirinya bersama Aqilah.
"Siapa dia Dan? Cantik banget?"
Mang Ujang memang tau kalau Danu membawa pulang seorang wanita, dari para tetangga, tapi ia belum tau bagai mana sosok wanita itu.
Aqilah langsung meletakan belanjaannya, ia langsung mengulurkan tangan pada mang Ujang yang langsung di jabat oleh mang Ujang.
"Saya Aqilah Pak."
"Saya Ujang, panggil saja mang Ujang."
"Oh iya mang."
Setelah melepaskan jabatan tangannya, mang Ujang langsung melihat ke arah Danu.
"Calon Dan?"
__ADS_1
"Dia bos saya mang."
Danu menjawab pertanyaan mang Ujang sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi kamu cuma menganggap aku bos kamu?"
Aqilah bertanya sambil melebarkan matanya tidak percaya saat mendengar jawaban dari Danu.
"Iya kamu juga kekasihku."
Danu sedikit malu mengatakan itu, ia takut Aqilah marah itu kenapa ia mengenalkan Aqilah sebagai bosnya.
Mang Ujang menggelengkan kepalanya saat Danu terlihat malu, seharusnya Danu bangga memiliki Aqilah sudah cantik dan kaya pula.
"Kamu kenapa dan siapa tadi yang mengantarmu?"
"Sinta yang mengantarku, mobil kamu ada di Kenny, aku sedang di buru oleh anak buah Malvin."
"Memang kamu membuat masalah apa Qi?"
Danu bertanya dengan wajah terkejut, ia mengenal siapa Malvin, walau pun belum pernah bertemu langsung, tapi ia sering mendengar nama Malvin sebagai pembunuh bayaran.
"Kenzi membayar Malvin, bersyukur di sana ada Kenny, bahkan sepanjang perjalanan pulng banyak anak buah Malvin."
"Kamu tidak apa-apa? Atau ada yang terluka?"
Danu bertanya sambil memutar tubuh Aqilah dengan perasaan kuatir, siapa yang tidak kuatir, kalau sudah bersangkutan dengan nama Malvin, maka bersangkutan juga dengan benda tajam, pistol dan pisau selalu menjadi senjata mereka.
"Aku baik-baik saja sayang."
Danu langsung menarik Aqilah dalam pelukannya, ternyata pirasat tidak enaknya memang benar kalau Aqilah dalam bahaya.
Aqilah juga membalas pelukan dari Danu, pelukan Danu semakin hari membuat Aqilah semakin nyaman dan merasa di lindungi.
Walau pun Aqilah masih belum bisa membuang rasa cintanya pada suaminya, tapi perasaan nyaman terhadap Danu semakin besar.
"Lalu apa kita pulang ke Jakarta untuk menemui Malvin langsung?"
"Untuk saat ini tidak perlu buru-buru Dan, aku sudah menyuruh Sinta untuk menyebarkan video percumbuan Alexsa, aku ingin membuat Wasington Grup bangkrut dengan perlahan."
"Baiklah Qi."
Mang Ujang yang mendengar percakapan mereka menghela nafas berat, menurut ia menjadi orang kaya itu tidak enak, nyatanya masih di buru.
Mang Ujang yakin kalau Aqilah di buru karena persaingan bisnis, bagai mana pun ia tau tentang pekerjaan Danu.
__ADS_1