
Semalam luka Wira sudah di obati dan tangannya sudah di urut.
Setelah menonton video tentang Alexsa kemarin malam Wira sama sekali tidak menemui Alexsa, bahkan saat di telpon oleh Alexsa ia sama sekali tidak mengangkat telpon itu.
Wira merasa sangat kecewa pada Alexsa yang sudah ia beri kepercayaan penuh, tapi nyatanya menghianatinya.
Bahkan semalam juga Aldo mengatakan kalau Aldo memang sudah tau perselingkuhan Alexsa dengan lelaki lain membuat Wira merasa begitu bodoh, dan lebih bodoh lagi saat ia tidak mengenali Aqilah.
Selama ini Wira ingin tau bagai mana saat Gadis kecil yang mengenalkan dirinya dengan nama Qilah itu seperti apa wajahnya, tapi nyatanya saat Gadis kecil itu di samping ia hampir 1 tahun ia tidak mengenalinya.
Wira merasa menyesal, seharunya ia ingat saat mengangkat tubuh istrinya yang harum lavender itu adalah Gadis di masa kecilnya, tapi sayang karena Aqilah datang untuk di jodohkan dengan ia membuat ia sangat membenci Aqilah.
Wira dari pagi hingga sore terus duduk di teras rumah sambil memegang kalung yang di lempar kakeknya kemarin malam.
Wira berharap istrinya itu datang, ia ingin menyambut istrinya saat istrinya pulang, tapi sudah pukul 17.00WIB istrinya masih saja belum pulang.
"Jika Aqilah mengatakan akan pergi maka kemungkin besar Aqilah tidak akan kembali ke rumah ini."
Wira yang mendengar suara kakeknya, ia langsung melihat ke arah kakeknya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Maksud kakek apa?"
Wira bertanya sambil berjalan ke arah kakeknya.
"Semoga kamu tidak menyesalinya, aku akan pergi, ingat kata itu yang artinya kalau Aqilah tidak akan kembali ke rumah ini."
"Bohong! Kakek pasti bohongi Wira!"
Wira berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak percaya kalau istrinya tidak akan pulang ke rumah.
Apa lagi Wira tau kalau istrinya sangat mencintainya, jadi tidak mungkin kalau istrinya itu pergi meninggalkannya.
"Kakek sangat mengenal Aqilah Wira, sekalinya pergi Aqilah tidak akan kembali, sekalinya benci, selamanya akan benci, dan sekalinya orang itu membuat masalah padanya, maka orang itu akan hancur, contohnya Alexsa, wanita yang sangat kamu cintai itu, Aqilah tau segalanya tentang Alexsa karena Alexsa mencari masalah dengan Aqilah. Aqilah diam bukan berarti dia benar-benar diam. Aqilah itu Gadis cerdik, memiliki seribu kepintaran yang tidak terduga dan memiliki seribu trik licik yang sama tidak bisa kita duga-duga."
"Tapi Wira yakin kalau Aqilah akan kembali, Aqilah sangat mencintai Wira kek."
"Menurut kakek harapan Aqilah akan kembali ke rumah ini sangat tipis. Selama ini tidak ada orang yang berani mengijak-injak harga dirinya, hanya kamu satu-satunya orang yang bisa mengijak-injak harga dirinya dan selalu berusaha mendapatkan cintamu, tapi kamu sama sekali tidak pernah memberikan ruang sedikit pun untuk Aqilah. Wira, kakek yakin dia pergi dari Indonesia dari kemarin malam."
"Bohong! Kekek pasti bohong!"
Wira langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, ia langsung menghubungi ponsel istrinya.
Ternyata nomer istrinya mati, ia mencoba menghubungi lagi layaknya seperti orang bodoh, sudah tau tidak aktif sampai 10 kali, tapi ia terus saja menghubungi istrinya.
"Aqilah pasti sudah membuang nomer itu Wira."
__ADS_1
Bagas bersuara saat melihat cucunya terus menghubungi Aqilah.
Setelah terus tidak aktif Wira langsung lari ke kanar Aldo tanpa menjawab ucapan dari kakeknya, ia langsung masuk kamar Aldo tanpa ketuk pintu.
"Tuan."
Aldo sangat terkejut saat melihat tuannya yang masuk tanpan ketuk pintu.
"Cepat lacak lokasi terakhir Aqilah ada di mana! Ponsel Aqilah tidak aktf!"
"Baik tuan."
Aldo buru-buru berjalan ke arah komputer, walau pun ia masih memakai handuk saja karena baru beres mandi.
Aldo langsung melihat lokasi terakhir Aqilah yang berada di Club hingga pagi hari.
"Lokasi terakhir nyonya ada di Club dari semalam hingga pagi hari tuan."
"Club? Bagai mana bisa istriku di Club malam sampai pagi?"
"Iya tapi hanya itu lokasi terakhir tuan."
Wira mengusap wajahnya dengan kasar, ada rasa kuatir di hatinya.
"Baik tuan, saya akan pakai baju dulu."
"Baik secepatnya ganti baju santai saja dan segera pergi temui si brengsek Danu!"
Setelah mengatakan itu Wira langsung pergi ke kamarnya, ia duduk di atas ranjang yang biasa di tiduri istrinya sambil melihat flashdiks yang di berikan istrinya kemarin malam.
"Kenapa kamu sembunyikan ini semua dariku Aqilah, terutama kenapa kamu menyembunyikan tentang menyelamatkan kakek. Aku mohon tolong kembali Aqilah, jangan pernah berniat untuk meninggalkan aku."
Wira juga menatap foto pernikahan yang ada di dinding kamarnya, ia melihat senyuman istrinya yang tersenyum lebar dan menampilkan raut bahagia.
"Tolong beri kesempatan untuk aku Qi, aku akan memperbaiki segalanya."
Lagi-lagi Wira berbicara sendiri layaknya orang gila.
...****************...
Aldo langsung memasuki Gedung MD Anderson Grup dengan memakai baju santai, ia langsung bertanya pada Resepsionis.
"Permisi, apa pak Danu ada?"
"Maaf pak Aldo, pak Danu tidak masuk untuk hari ini."
__ADS_1
"Kenapa tidak masuk?"
"Saya kurang tau pak, dan yang di percayakan adalah pak Kenan dan asisten pribadi dari pak Danu sendiri."
"Tolong kasih tau Kenan, kalau saya ingin berbicara dengannya."
"Baik pak."
Resepsionis itu langsung menelpon ke sekretaris, dan langsung menyuruh Aldo masuk ke ruangan Danu.
"Pak Aldo, kata pak Kenan suruh masuk ke ruangan pak Danu saja, bapak silahkan pakai life sebelah sana, life itu langsung menuju ke ruangan pak Danu."
"Terima kasih."
"Sama-sama pak."
Aldo langsung menuju ke arah life yang di tunjukan oleh resepsionis dengan perasaan kuatir.
Aldo bukan kuatir karena Aqilah adalah istri dari tuannya, tapi ia kuatir setelah melihat lokasi terakhir Aqilah.
Apa lagi Aldo tau kalau Aqilah sedang menyembunyikan identitasnya, bagai mana kalau tidak di awasi oleh bodygaur, bagai mana kalau tidak ada ke dua sahabatnya, bagai mana kalau di club itu tanpa Danu.
Mengingat tubuh Aqilah yang begitu menggoda, membuat ia takut ada lelaki yang memanfaatkan Aqilah saat Aqilah mabuk.
Aldo sudah sampai di ruangan Danu dan sekarang ia sudah duduk bersama Kenan.
"Saya ke sini mencari nyonya Aqilah, terakhir kali nyonya Aqilah bersama pak Danu."
"Kenapa harus mencari ke sini Aldo?"
"Saya yakin kalau nyonya Aqilah bersama Pak Danu, jadi tolong beri tau saya di mana nyonya Aqilah berada."
"Kalau kamu di suruh tuan Wira lebih baik pergi dan jangan tanya tentang keberadaan nyonyamu pada saya."
"Saya memang di suruh tuan Wira, tapi kalau memang kamu menyuruh merahasiakan tentang keberadaan nyonya Aqilah tidak apa-apa yang penting saya tau nyonya di mana."
"Kenapa kamu harus mencemaskannya?"
"Karena nyonya telah menyelamatkan ibu saya, jadi saya harus tau kaberadaan nyonya."
"Baik kalau itu alasan kamu, Nyonya Aqilah ikut dengan pak Danu ke kampungnya. Mereka berdua berangkat tadi pagi, kamu tenang saja selama ada pak Danu nyonya Aqilah akan baik-baik saja, jadi tolong rahasiakan tentang keberadaannya."
"Iya saya janji akan merahasiakan tentang ini, teriman kasih atas informasinya."
Aldo bisa bernafas lega saat tau Aqilah bersama Danu.
__ADS_1