
Aqilah sekarang sudah di sibukan dengan laporan yang ia periksa tentang MD Anderson Grup, matanya hanya fokus menatap berkas itu.
Sedangkan Danu duduk di tempat kerjanya sambil sesekali melihat ke arah Aqilah yang hanya fokus memeriksa laporan.
Dari tadi setelah masuk ke dalam tidak ada yang berbicara, Aqilah juga tidak mengucapkan terima kasih atau apa pun ia hanya bertanya tentang laporan MD Anderson Grup.
Setelah 3 jam Aqilah di sibukan oleh laporan itu hingga perutnya merasa sangat lapar.
Aqilah langsung mengirim pesan pada Aulia untuk membawa dress yang tertutup, ia tidak mungkin makan dengan menggunakan sal dan jas milik suaminya di pinggangnya.
Setelah itu Aqilah mendekati Danu yang masih sibuk dengan berkasnya.
"Danu, maaf untuk tadi pagi, aku tidak bermasud untuk memelukmu, situasinya sangat genting."
Danu langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah Aqilah.
"Tidak apa-apa Nona."
"Jangan panggil Nona, panggil Aqilah saja dan jangan menggunakan kata saya, aku mau kamu menggunakan kata aku. Ini sudah jam makan siang, kamu jangan formal begitu padaku."
"Iya Aqilah."
Tiba-tiba saja ponsel Aqilah bergetar.
Dret... Dret...
Aqilah langsung mengangkat telpon dari Sinta.
"Selamat siang Nona."
"Iya siang."
"Kita memenangkan tander dari Ausi."
"Bagus kalau begitu, kamu kasih bonus pada seluruh karyawan seperti biasa, lalu nanti malam adakan party di ruangan VIP tempat biasa."
"Baik Nona, apa Nona tidak ikut?"
"Saya akan ikut, tapi kamu tidak perlu menjemput saya, saya akan pergi bersama Danu."
"Baik Nona, kalau begitu saya matikan telponnya."
"Iya."
Setelah sambungannya terputus kini mata Aqilah fokus menatap Danu lagi.
"Oh iya nanti malam kamu ada acara tidak? Aku mau mengajak kamu untuk party."
"Tidak ada."
__ADS_1
Tiba-tiba mereka mendengar suara ketukan pintu.
Tok-tok.
"Masuk!"
Aulia dan Sasa masuk ke dalam sambil membawa paper bag. Aulia langsung berteriak saat melihat Aqilah merentangkan ke dua tanganya.
"Ah! Sahabatku!"
Aulia dan Sasa langsung lari ke arah Aqilah, mereka berpelukan bertiga.
"Aku sangat merindukan kalian."
"Kita juga rindu kamu."
Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya.
Aulia dan Sasa menyerakan paper bag itu untuk Aqilah karena mereka tidak tau mana yang di sukai Aqilah.
Aqilah langsung melihat baju di dalam dua paper bag itu.
"Ini saja deh."
"Tumben kamu mau pakai dress sebawah lutut?"
"Dari pada aku memakai jas dan sal seperti orang gila."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa dress yang akan ia pakai.
Sedangkan Sasa dan Aulia langsung tertawa terbahak-bahak saat menyadari pakaian Aqilah yang terlihat aneh.
"Apa Aqilah sudah berhasil mendapatkan hati Wira iya Sa?"
"Mana aku tau."
Aulia juga tidak tau Aqilah sudah berhasil apa belum mendapatkan hati Wira, semenjak Aqilah menikah mereka tidak pernah nongkrong atau sekedar telpon.
Aqilah keluar dari kamar mandi dengan pakaian dress sebawah lutut, lalu yang ia pakai tadi langsung di masukan ke dalam papar bag.
"Aku lapar nie dari pagi belum sarapan, makan yuk?"
Mereka hanya mengangguk pelan. Aqilah langsung menarik tangan Danu keluar lebih dulu, ia yakin kalau suaminya tidak akan tinggal diam dan akan mencari tau tentangnya.
Sedangkan Aulia dan Sasa mengekori mereka dengan bertanya-tanya di dalam hati mereka masing-masing karena merasakan bingung pada Aqilah sedang menggenggam tangan Danu.
Namun saat sudah di restoran samping kantor itu Aqilah di kejutkan dengan pandangan suaminya sedang makan sambil mengobrol bersama Alexsa, tapi beberapa detik kemudian ia mengalihkan pandanganya dan pura-pura tidak melihat.
Aqilah langsung menarik kursi untuk Danu duduk lalu ia juga duduk di samping Danu, tangan yang mencekal tangan Danu ia letakan di meja.
__ADS_1
Sasa dan Aulia juga langsung duduk di depan mereka bersebrangan oleh meja.
Sebenarnya Danu tidak suka dengan situasi seperti ini, apa lagi banyak para model sedang makan siang sambil menatap ke arah ia.
"Pak Danu tumben banget di pegang tangannya sama wanita mau?"
"Bukanya itu istrinya Pak Wira iya?
"Iya dia Syaqilah."
"Ada apa dengan mereka berdua? Pak Wira bersama Alexsa dan Syaqilah bersama Pak Danu? Atau mereka memang memiliki hubungan sebelum menikah? Setauku mereka menikah karena perjodohan."
"Apa lagi yang aku tau Pak Wira dan Alexsa memang memiliki hubungan sebelum pak Wira menikah."
"Kalau Aqilah sama Pak Danu memang cocok dari segi wajah, mereka berdua sama-sama terlihat lembut dan tutur bahasanya juga sangat lembut, tapi ini pertama kalinya Aqilah datang ke sini lagi setelah menikah. Sebelum menikah memang pernah datang kemari 4 kali seingatku selama aku bekerja menjadi model, tapi belum pernah melihat mereka berpegangan tangan seperti itu."
Masih banyak lagi kata-kata lainnya yang terdengar di telinga Aqilah bersama yang lainnya begitu pun dengan Wira, Wira juga mendengar percakapan itu sangat jelas membuat Wira melihat ke arah pengujung untuk mencari sang istri hingga ia menemukan istrinya sedang mengobrol bersama ke dua sahabatnya dan Danu.
Seolah-olah obrolan para model itu tidak mengusik pendengaran sang istri hingga membuat Wira mendengus kesal.
"Situasi macam apa? Kenapa Aqilah terus menggenggam tangan Danu?" batin Wira
Wira memang sengaja datang ke restoran ini mengajak makan Alexsa, tapi alasanya bukan untuk menemui Alexsa, ia hanya ingin tau apa yang di lakukan istrinya di kantor ini.
Apa lagi saat di kantor Wira tidak fokus untuk bekerja, bayang-bayang istrinya memeluk Danu terus saja berputar di otaknya, bahkan ia sampai membayangkan bagai mana wajah istrinya saat di setubuhi oleh Danu yang terlihat nikmat. Belum lagi bayang-bayang Aldo sedang menyetubuhi istrinya semalam.
Itu lah yang terus ada di otak Wira saat di kantor membuat Wira mengacak-acak semua berkas yang ada di meja kerjanya.
"Aku boleh tanya sesuatu tidak?"
"Iya tanya tentang apa sayang?"
"Apa sebelumnya Aqilah pernah menjadi asisten pribadi Danu?"
Wira bertanya dengan pandangan mata terus menatap ke arah istrinya, ada rasa sesak di dada ia saat melihat istrinya mengusap sisa makanan di bibir Danu, bahkan saat ada sisa makanan di bibir istrinya, istrinya meminta Danu untuk mengusap bibirnya sendiri.
Alexsa melihat ke arah yang di lihat oleh Wira.
"Setauku Aqilah tidak perah menjadi asisten pribada Pak Danu, bahkan aku juga tidak pernah melihat Aqilah dan Pak Danu bersama, tapi sebelum kalian menikah Aqilah memang pernah mendatangi kantor ini lalu langsung masuk ke ruangan Pak Danu."
"Berapa lama mereka di dalam ruangan itu biasanya?"
"Aku tidak terlalu mengingat betul tentang jam, tapi sekitar 3 jam Aqilah di dalam ruangan Pak Danu, memang kenapa kamu mencari tau tentang Aqilah sayang?"
Wira hanya menjawab dengan menggelengkan kepala, istrinya di dalam ruangan Danu selama 3 jam itu cukup untuk mereka berdua melampiaskan nafsu mereka masing-masing.
Lagi-lagi otak Wira di penuhi hal mesum saat pengakuan dari istrinya pernah di setubuhi oleh Danu.
"Kenapa kakek menjodohkanku dengan wanita yang memiliki nafsu besar?" batin Wira
__ADS_1