Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 57 Cipika Cipiki


__ADS_3

Tidak terasa Aqilah menginap di rumah orang tua Danu sudah 2 Minggu lamanya, bahkan ia merasa waktu begitu cepat.


Aqilah juga semakin dekat dengan ke dua orang tua Danu semjak kejadian di mana Lea hampir menamparnya, ia juga semakin dekat bersama Diana layaknya kaka beradik.


Bahkan sudah 3 hari berturut-turut Aqilah yang mengantar Diana bepergian karena Danu sengaja membeli motor yamaha Fino sporty 125 untuk ia bepergian.


Saat Aqilah di belikan motor oleh Danu, ia merasa sangat bahagia karena Danu memberikan ia kebebasan di kampungnya, hanya saja ia tidak suka dengan ke dua sahabat Danu saat sahabatnya main, mereka berdua selalu menggodanya hingga membuatnya risih.


Pagi ini Aqilah sedang menggoreng ikan salmon tepung, sesuai permintaan Diana semalam karena ia semalam bertanya pada Diana ingin di masakan apa olehnya.


Tadi juga Aqilah sudah masak tumis kangkung, dan sayur bayam, sisa menggoreng ikan salmon tepung saja.


Aqilah identik tidak menyukai sayuran, tapi saat di rumah Danu ia sangat menyukai sayur-sayuran karena sayurnya sangat segar baru metik dari belakang rumah.


"Selamat pagi kekasihku. Sedang masak apa?"


Danu bertanya sambil melingkarkan tanganya di perut rata milik Aqilah dan kepalanya ia sandarkan di leher Aqilah, ia selalu melakukan itu setelah Aqilah membuatkan nasi goreng tempo hari.


"Sedang menggoreng ikan salmon, adik ipar semalam minta di gorengin ikan salmon tepung."


"Tadi kamu berbicara apa Qi?"


Walau pun ucapan Aqilah sangat jelas di telinganya, tapi Danu ingin Aqilah mengulangi ucapannya.


Aqilah langsung membalikan tubuhnya ke arah Danu.


"Yang mana?"


"Oh aku bilang tadi adik ipar, memang kamu marah kalau aku menganggap Diana seperti itu?"


"Salama sekali tidak, aku sangat senang."


Danu tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi rapihnya pada Aqilah, siapa yang tidak bahagia saat orang yang di cintai menggap adiknya sebagai adik ipar, jelas pasti semua orang juga bahagia begitu pun dengan Danu yang merasakan bahagia.


"Pagi-pagi sudah senyum-senyum kamu."


"Entah kenapa liat wajah kamu aku sangat bahagia Qi, terlebih saat kamu mengatakan Diana adik iparku, rasanya dunia seperti milik kita berdua."


"Gombalan basi sudah berabad-abad."


Bi Surti yang sedang mencucu piring hanya tersenyum meringis saat mendengar keromantisan Danu dan Aqilah, ia merasa melihat kemesraan mereka tidak pernah bosan untuk di pandang.


Terlebih saat melihat senyum menyejukan di wajah Aqilah membuat ia selalu berkali-kali mengatakan di dalam hatinya


"Beruntung lelaki yang memiliki Nona Aqilah."


Kata itu selalu saja terucap di dalam hati bi Surti. Aqilah bukan hanya memiliki tubuh mungil dan cantik, atau kaya dan rendah hati, tapi juga pintar memasak, semua yang di miliki Aqilah selalu membuat bi Surti mengatakan itu.


"Nanti siang mau kemana Qi?"

__ADS_1


"Kata Diana aku di suruh ikut nonton bioskop sama ke dua sahabatnya, katanya jaraknya hanya 1 jam ko, boleh iya aku ikut?"


Setiap kali Aqilah akan pergi ia selalu meminta ijin dulu pada Danu layaknya Danu adalah seorang suami.


Danu menghela nafas berat, semenjak Aqilah di belikan motor olehnya, Aqilah tidak pernah diam di rumah.


Aqilah selalu bepergian bersama adiknya dari pagi hingga sore karena kebetulan Diana hanya tinggal menunggu surat kelulusan saja.


"Kamu itu semakin tidak ada waktu buat aku Qi."


Aqilah mendengus kesal saat mendengar jawaban dari Danu, ia langsung membalikan tubuhnya lalu langsung mengangkat ikan salmon tepung yang sudah matang.


Setelah mematikan kompor Aqilah langsung membawa ikan salmon tepungnya ke meja tanpa mempedulikan Danu yang masih berdiri di depan kompor.


Danu menghela nafas berat lalu langsung memeluk Aqilah dari belakang setelah Aqilah metakan ikan salmon tepung di meja makan.


"Kamu memangnya tidak malu ikut gabung dengan Gadis 18 tahunan hhhmmm?"


Danu bertanya sambil menghirup aroma tubuh Aqilah yang sangat ia rindukan karena akhir-akhir ini Aqilah selalu lebih banyak waktu untuk Diana.


"Wajahku itu masih terlihat 17 tahunan Danu, banyak orang bilang juga begitu, jadi ngapain harus malu?"


"Iya sudah, aku ijinin kamu, tapi di antar pakai mobil, suruh ke dua sahabat Diana datang ke rumah."


Aqilah langsung membalikan tubunnya untuk melihat ke arah Danu.


"Yakin kamu mau membawa mobil sendiri Qi?"


Danu bertanya sambil mengelus kepala Aqilah.


"Yakin, boleh iya?"


"Iya sudah boleh."


Aqilah yang memdengar jawaban dari Danu ia tersenyum lebar lalu langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri Danu.


"Terima kasih selingkuhan sayang!"


Danu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar, panggilan selingkuhan sudah menjadi makanan setiap hari oleh Aqilah, tapi ia sama sekali tidak marah, ia bahkan merasakan bahagia.


"Duh pagi-pagi sudah dapat cipika cipiki."


Danu dan Aqilah melihat ke sumber suara di sana ada ke dua orang tua Danu yang sedang berjalan ke arah meja makan.


"Ayah, ibu!"


Danu dan Aqilah memanggil mereka serempak karena terkejut.


"Santai saja sayang, ibu juga pernah muda, sekadar cipika cipiki sudah menjadi tradisi di Jakarta."

__ADS_1


Sonia berbicara sambil mengelus kepala Aqilah, dan ia selalu manggil sayang ke Aqilah semenjak tau kalau Mommy Aqilah sudah meninggal dari Aqilah kecil, ia selalu memberikan pernatian kecil pada Aqilah.


"Aqilah bukan wanita seperti itu bu, walau pun Aqilah tinggal di Jakarta, tapi Aqilah tidak pernah cipika cipiki pada teman lawan jenisnya."


Sonia yang mendengar ucapan dari putranya ia tersenyum lebar, ternyata putranya memang sudah mengenal jauh tentang kepribadian Aqilah.


"Mana berani lelaki cipika cipiki sama Aqilah yang selalu main baku hantam."


"Ih kamu Dan."


Aqilah sedikit malu walau pun rasa malunya itu tidak bisa terlihat oleh orang lain.


"Pakta itu Qi, kamu sukanya memang selalu baku hantam."


"Pagi semua!"


Diana menyapa mereka semua sambil tersenyum lebar.


"Iya pagi adik ipar."


Sementara mereka hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Wow Diana dapat panggilan baru hahaha...! Tapi tidak cocok kaka Qi di panggil kaka ipar, soalnya wajah kaka Qi imut seperti usia 17 tahunan."


"Kalau tidak imut entar Danu bisa kelain hati Diana."


"Iya benar juga."


"Mana ada aku begitu Qi, aku bukan lelaki yang suka bermain wanita."


Danu tidak terima saat Aqilah mengatakan entar bisa kelain hati, menurut ia ucapan Aqilah seperti mencerminkan ia sebagai seorang playboy.


"Becanda sayang, lagian kamu sukanya sama istri orang."


"Kalau istri orangnya secantik dan seimut kamu siapa yang tidak tergoda Qi?"


"Benar kak Danu, Diana juga kalau lelaki mau berlomba mendapatkan kak Qi."


Setelah mengatakan itu tawa Diana pecah, apa yang di katakan ia memang pakta, kalau saja ia seorang lelaki mungkin ia sudah ikut berlomba untuk mendapatkan hati Aqilah.


"Sudah-sudah, ayo sarapan dulu, ayah mau pergi ke toko setelah ini."


Mereka menjawab dengan anggukan kepala lalu langsung duduk. Aqilah mengambilkan makanan dari untuk Lukman, Sonia, Danu, Diana, dan ia sendiri.


"Dan, kamu tidak mau menyuapi aku?"


"Aduh kasian amat iya Diana sebagai jomblo."


Danu menganggukkan kepala, lalu ia langsung menyuapi Aqilah tanpa meladeni ucapan adik tirinya.

__ADS_1


__ADS_2