Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 9 Bu Lili siuman


__ADS_3

Setelah makan Aqilah di subukan untuk memeriksa keadaan bu Lili dan ia juga sudah menelpon Sinta untuk menyuruh Kenny mengantarkan obat alami buatanya yang akan di suntikan pada tabung infus pasien.


Aldo hanya melihat gerak-gerik Aqilah dari tadi, sedangkan Allena sudah tidur di ranjang sebelah.


Ruangan itu memang menyediakan dua ranjang, satu ranjang pasien dan satu ranjang untuk menginap, lalu ada satu sofa panjang juga.


Tiba-tiba pintu di ruangan itu di ketuk.


Tok-tok


Saat Aldo berdiri Aqilah lebih dulu berjalan ke arah pintu.


"Saya saja Al yang ambil."


Aldo menganggukkan kepalanya pelan, bukan berarti ia duduk lagi, ia mengintip untuk melihat siapa yang datang.


"Selamat malam Nona."


Kenny menyapa Aqilah sambil membungkukan badanya.


"Iya malam."


"Ini obat yang Nona minta."


Kenny langsung memberikan obat cair di tempat kecil. Aqilah langsung mengambil obat yang di serahkan Kenny


"Terima kasih."


"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi."


Aqilh hanya mengangguk pelan, lalu ia langsung menutup pintu lagi, ia langsung berjalan ke arah pasien.


Aqilah langsung memasukan obat cair itu ke dalam suntikan, lalu langsung menyuntik selang infus pasien.


Aldo yang terus menatap gerak-gerik Aqilah membuat ia semakin bingung siapa sebenarnya Aqilah.


Setelah selsai Aqilah langsung mendekati Aldo, ia langsung duduk di samping Aldo.


"Tidurlah Al kalau sudah mengantuk."


"Nyonya tidak pulang?"


"Saya sudah mengirim pesan pada Wira kalau saya sedang menemai sahabat saya masuk rumah sakit tadi sebelum kita makan. Setelah bu Lili siuman saya akan pulang."


"Kenapa nyonya begitu baik ke orang lain?"


"Saya tidak mau kalau orang lain mengalami seperti saya, dari kecil saya tidak merasakan kasih sayang dari Mommy. Mommy meninggal saat usia saya baru 6 tahun, dan saya selalu bertekad untuk menolong orang lain agar tidak memiliki nasib seperti saya."


Mata Aqilah mulai memerah saat lagi-lagi mengatakan tentang Mommynya.


Aldo yang melihat mata Aqilah ia sangat terkejut, ini pertama kalinya Aldo melihat Aqilah menampilkan wajah sedihnya.


"Aku pikir nyonya tidak bisa menangis, atau kelemahan nyonya adalah ibunya saja?" batin Aldo

__ADS_1


Aqilah mengusap wajahnya dengan kasar lalu langsung berdiri dari duduknya.


"Saya mau cuci muka dulu."


Aqilah langsung pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya agar perasaannya tidak kacau.


Aldo hanya mengangguk pelan sambil melihat ke arah Aqilah yang masuk ke dalam kamar mandi.


"Kalau tuan Wira tidak segera tau tentang nyonya, aku yakin suatu saat tuan akan menyesal karena ternyata nyonya Aqilah bukan orang sembarangan, hanya saja identitas nyonya masih menjadi pertanyaan untuk sekarang." batin Aldo


Setelah beberapa menit Aldo melihat Aqilah keluar dari kamar mandi.


Aqilah langsung duduk lagi di sofa, ia langsung mengambil ponselnya di meja untuk melihat suaminya membalas pesanya atau tidak.


Aqilah menghela nafas berat saat melihat pesanya hanya di lihat saja oleh suaminya, ia langsung meletakan kembali ponselnya, lalu langsung menyadarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan matanya.


Hari ini perasaan Aqilah sangat tidak karuan, rasa kecewa, marah dan lelah menjadi satu.


"Pada akhirnya seorang Veronica memiliki kegagalan dan kekalahan juga. Seumur hidupku belum pernah memiliki kegagalan dalam hal apa pun mau pun kekalahan, tapi kali ini aku gagal dan kalah karena seorang Wira." batin Aqilah


Seumur hidup Aqilah memang belum pernah memiliki kegagalan dan kekalahan dalam hidupnya, tapi masalah percintaannya ia harus gagal.


Walau pun Aqilah bisa di nikahi Wira, tapi sampai sekarang ia masih belum bisa mendapatkan cinta dari Wira.


"Nyonya, kenapa tidak tidur di samping Allena saja?"


"Saya masih harus menunggu pasien."


Aqilah berbicara tanpa membuka matanya.


"Tidak apa-apa, saya memang sudah lama tidak menangani pasien, terakhir kali setelah menyelamatkan Bagas dari ko'ma."


Aldo mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari Aqilah, terlebih saat mengatakan kakek dari tuannya itu dengan panggilan Bagas, itu artinya kedudukan Aqilah lebih tinggi dari keluarga tuannya.


Aqilah yang menyadari ucapanya itu adalah rahasia yang ia tutup rapat, ia langsung membuka matanya, lalu langsung melihat ke arah Aldo yang menampilkan wajah bingung.


"Tolong jangan ceritakan yang kamu dengar dari mulut saya pada Wira."


Aldo menghela nafas berat, akhirnya ia tau alasan Bagas dan Susan begitu kekeh menjodohkan Wira dengan Aqilah.


"Kenapa nyonya? Tuan berhak tau kalau nyonya yang menolong tuan Bagas dari ko'ma bukan menolong tuan Bagas saat kecelakaan."


"Saya tidak ingin di kasihani, saya ingin di cintai oleh Wira dengan tulus."


"Tapi sampai kapan nyonya diam? Sampai kapan nyonya tidak melawan apa yang di lakukan tuan?"


"Aldo, cinta itu buta, dan cinta yang menutup segalanya. Mata, mulut dan pikiran saya di tutup oleh cinta yang sangat besar pada Wira. Kalau kamu tanya sampai kapan saya diam? Sampai hati saya benar-benar patah seperti gelas pecah, maka di saat itu lah saya akan benar-benar berhenti mengejarnya lalu pergi dari kehidupanya."


Aqilah menghela nafas berat, rasa cintanya itu memang sangat salah. Salah terus saja bertahan seperti wanita bodoh di pernikahanya.


Aqilah langsung menyadarkan kepalanya lagi, lalu ia memejamkan matanya.


"Al, saya mau tidur sebentar di sini, boleh kan?"

__ADS_1


"Kalau begitu nyonya berbaring saja biar saya duduk di kursi samping ibu."


Aldo langsung berdiri, tapi Aqilah memegang pergelangan tangan Aldo masih memejamkan mata.


"Kamu duduk di sini saja, saya juga tidurnya sambil duduk."


Setelah itu Aqilah melepaskan pergelangan tangan Aldo. Aldo hanya menganggukan kepalanya pelan.


Setelah sekitar 20 menit akhirnya Aqilah tertidur pulas. Aldo yang mendengar suara nafas Aqilah ia tersenyum lebar.


Aldo juga ikut memjamkan mata hingga ia ikut tertidur juga dengan posisi sama-sama duduk.


Pukul 04.00WIB, Aqilah bangun lebih dulu, ia langsung mengecek kondisi pasien, lalu langsung duduk di kursi samping ranjang.


"Syukurlah, sebentar lagi bu Lili sadar."


Allena bangun lebih dulu, ia langsung turun dari ranjang lalu langsung mendekati Aqilah.


"Bagai mana keadaan ibu saya nyonya?"


"Jauh lebih baik."


Tangan bu Lili mulai bergerak membuat Allena sangat senang.


"Nyonya tangan ibu bergerak!"


Suara Allena membangunkan Aldo yang sedang tidur pulas, ia membuka matanya perlahan lalu langsung melihat ke arah ranjang ibunya.


Aldo mengusap matanya sambil berjalan ke arah ranjang ibunya.


"Kaka tangan ibu bergerak."


Aldo hanya menganggukan kepalanya. Tidak lama bu Lili membuka mata, membuat semua orang tersenyum lebar. Allena langsung memeluk ibunya.


"Allena senang akhirnya ibu sadar."


Aqilah langsung berdiri lalu menggeser tubuhnya ke belakang.


"Allena, biarkan saya memeriksa bu Lili dulu."


"Baik nyonya."


Allena langsung melepaskan pelukanya, ia langsung bergesar di samping kakanya.


Aqilah langsung memeriksa bu Lili lagi untuk memastikan kalau tidak ada masalah dengan bu Lili.


"Syukurlah, kondisinya sudah setabil."


Aqilah langsung menggeser tubuhnya lagi, ia melihat jam tanganya.


"Al, saya harus pulang sekarang, ibu kamu biarkan di rawat di ruangan VIP saja untuk 3 hari ke depan, nanti saya suruh Kenny untuk mengantar obat untuk bu Lili, kamu tidak perlu membeli obat dari sini, obat yang saya buat sangat alami."


"Mau saya antar nyonya?"

__ADS_1


"Tidak perlu."


__ADS_2