Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 6 Di tuduh


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban dari Aldo Aqilah merasa kalau matanya memanas dan dadanya sangat sakit, tapi ia masih menampilkan senyum di bibir tipisnya.


Seolah-olah hati Aqilah baik-baik saja walau pun hatinya sangat terluka.


Aldo yang melihat Aqilah hanya diam, ia yakin kalau Aqilah salah paham.


"Nyonya bertanya tentang tidur kan? Bukan bertanya tentang making love?"


"Maksud kamu apa?"


"Tuan hanya tidur bersama nyonya, tanpa melakukan apa pun. Nyonya jangan salah paham, tuan bukan lelaki yang bisa menabur benih kesembarang perempuan."


"Jadi?"


"Iya jadi hanya tidur bersama tanpa melakukan apa pun selain berpelukan dan berciuman. Jangan berpikir yang tidak-tidak nyonya. Oh iya saya mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah mau membantu saya, kalau begitu saya permisi."


Aqilah hanya mengangguk pelan, ia melihat ke pergian Aldo sambil tersenyum lebar.


Setelah itu ia langsung mengangkat ayam goreng yang sudah matang, lalu sayur-sayuran dan ayam gorengnya langsung ia bawa ke meja makan.


Setelah selsai Aqilah memutuskan untuk ke kamar, ia harus segera mengobati bekas cambukan dari suaminya tadi pagi.


Sekarang Aqilah sedang mengobati perutnya memakai salep sambil sesekali menghela nafas berat, saat mengingat ucapan dari Aldo tentang suaminya.


Apa Aqilah harus senang saat suaminya belum melakukan yang lebih intim pada kekasih dari suaminya, atau ia harus sedih karena suaminya sangat menjaga Alexsa.


Tiba-tiba saja Aqilah mendengar suara ketukan pintu.


Tok-tok.


"Masuk!"


Aqilah langsung menyembunyikan salep itu lalu langsung merapihkan dressnya lagi, setelah selsai ia duduk di tepi ranjang sambil pura-pura memainkan ponselnya.


Pelayan itu masuk dengan langkah pelan, ia sedikit tidak berani saat memasuki kamar tuannya yang belum pernah ia masuki, ia hanya bertugas membereskan di luar kamar.


"Nyonya, tuan Bagas dan nyonya Susan ada di ruang tamu, mereka ingin bertemu nyonya."


"Baik ."


"Kalau begitu saya permisi nyonya."


Setelah pelayan itu pergi Aqilah memutuskan ganti baju santai, lalu langsung keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Aqilah langsung tersenyum lebar saat melihat Bagas dan Susan.


"Kakek, Nenek."


Susan langsung memeluk Aqilah sambil tersenyum lebar, ia bangga memiliki cucu menantu seperti Aqilah yang telah menyelamatkan suaminya.


Rika hanya mengerutkan keningnya bingung, ia bisa melihat kebahagiaan di ke dua mertuanya setiap kali melihat Aqilah.


Amel sangat tidak suka saat melihat ke dua orang tuanya itu sangat dekat dengan Aqilah begitu pun dengan Resya, ia juga tidak suka kakek dan neneknya sangat dekat dengan Aqilah.


Mereka berdua langsung melepaskan pelukanya.


"Apa kabar sayang?"


"Baik nek."


Susan melihat tubuh Aqilah dari atas ke bawah begitu pun dengan Bagas yang mereka lihat kalau tubuh Aqilah semakin kurus dan kulitnya biru kemerahan membuat mereka berdua menghela nafas berat.


"Kakek ingin bicara sama kamu di kamar."


Setelah mengatakan itu Bagas langsung menggengam tangan istrinya di ikut oleh Aqilah dari belakang.


Setelah di kamar Bagas langsung minta maaf, ia yakin kalau rumah tangga cucunya itu tidak baik-baik saja, apa lagi melihat kebiruan di perut rata Aqilah membuat ia merasa bersalah.


Bagas yakin kalau Wira selalu melakukan kekerasan terhadap Aqilah.


Bagas minta maaf pada Aqilah sangat tulus dari hati, di tambah lagi kalau Aqilah murka maka perusahaan yang sudah lama ia bangun bisa bangkrut dalam sekejap.


Apa lagi Bagas hapal betul sifat Aqilah yang sangat keras kepala dan ucapanya tidak pernah main-main.


"Jangan formal seperti itu kek, Aqilah adalah cucu menantumu sekarang."


Bagas mengangguk pelan, Aqilah memang cucu menantunya sekarang, tapi bukan berarti ia lupa dengan kedudukan Aqilah yang sangat tinggi, dari pusat perbelanjaan, tempat bermain anak, restoran, pabrik tekstil, perhotelan dan MD Andreson Grup tempat model papan atas, termasuk perusahan dalam bidang pembangunan proyek.


Aqilah memiliki segalanya dan terlihat angkuh saat menjadi seorang Veronica, tentu saja Bagas tidak mau membuat masalah dengan Aqilah.


"Sampai kapan Nona menutupi identitas Nona?"


Bagas langsung duduk di sofa di ikuti oleh istrinya dan Aqilah.


"Tunggu sebentar lagi kek, sampai perjanjian bersama Daddy benar-benar datang, untuk saat ini Aqilah masih memperjuangkan cinta Aqilah, sudah Aqilah bilang berkali-kali kalau Aqilah sekarang adalah cucu menantu kakek, jadi jangan panggil Aqilah Nona, panggil saja Aqilah."


"Baik Aqilah."

__ADS_1


Memang setiap kali bertemu dengan Aqilah Bagas selalu canggung, terutama saat hanya ada ia dan Aqilah termasuk istrinya, ia akan merasa canggung.


Berbeda saat di depan anak, menantu dan cucunya, ia terlihat biasa saja pada Aqilah, tapi saat hanya ada mereka, mereka sedikit canggung, terlebih tatapan mata Aqilah sangat berbeda saat hanya ada mereka, tatapan mata Aqilah begitu tajam.


"Kakek kesini ada apa? Tumben banget, Aqilah sengang bisa bertemu kakek."


"Kakek hanya ingin berkunjung saja nak, ingin melihat cucu menantu kakek."


Aqilah hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Iya sudah kek Aqilah mau keluar dulu."


"Iya nak."


Setelah Aqilah keluar Bagas dan Susan menghela nafas panjang.


"Pa, sepertinya kita harus mendesak Wira untuk memberikan kita cicit, kalau sampai mereka bercerai Mama memiliki 2 yang di takutkan. Mama takut kalau Wira menyesal, dan ke dua Mama takut dengan kemarahan Aqilah. Bagai mana pun juga Aqilah pewaris satu-satunya dari keluarga Anderson, kalau sampai membuat Aqilah marah, perusahaan kita hanya akan tinggal nama."


"Iya Papa juga sepemikiran dengan Mama, Aqilah adalah wanita sangat keras kepala, sedangkan Aqilah hanya tunduk pada Wira, jadi jangan sampai membuat kesalahan."


Setelah dari kamar Bagas Aqilah menghela nafas berat, ia langsung kembali lagi ke kamarnya, lalu langsung bermain dengan ponselnya sambil duduk di atas ranjang hingga tidak terasa hari sudah sore, ia langsung merebahkan tubuhnya untuk tidur sebentar.


Namun baru beberapa menit Aqilah tidur ia mendengar suara orang masuk ke dalam kamarnya, ia yakin kalau orang itu adalah suaminya.


Aqilah langsung bangun dengan rasa ngantuk yang menyelimutinya, tapi rasa ngantuk itu hilang saat melihat wajah suaminya.


"Wira kamu sudah pulang?"


Aqilah langsung mendekati suaminya, ia langsung memeluk suaminya, tidak peduli walau pun suaminya habis pergi dengan wanita lain, yang jelas ia sangat mencintai suaminya.


Wira seperti biasanya ia akan mendorong istrinya, tapi berbeda tidak seperti biasanya, ia bahkan mengibaskan bekas pelukanya seperti jijik pada istrinya.


Aqilah sangat terkejut saat melihat suaminya mengibas-ngibaskan tubuhnya dan tanganya seolah-olah jijik.


"Wira kamu kenapa?"


Wira tidak menjawab pertanyaan dari istrinya, ia langsung menarik rambut istrinya hingga mendongkak saling menatap mata.


Aqilah hanya menggenggam pegelangan tangan suaminya yang sedang menarik rambutnya tanpa perlawanan.


"Jadi selama ini kamu memiliki hubungan dengan asisten pribadiku?!"


"Hubungan apa Wira? Aku tidak memiliki hubungan bersama Aldo."

__ADS_1


"Lalu dengan kamu mesra-mesraan di samping kulkas kamu masih mengelak kalau kamu tidak memiliki hubungan?! Kamu boleh memiliki hubungan sama siapa pun, tapi cepat layangkan gugatan cerai itu!"


"Apa ini ada kaitanya dengan kamu dan Alexsa? Kamu boleh bersama Alexsa, tapi jangan menduhku memiliki hubungan bersama Aldo. Kamu tadi siang menyuruh Aldo untuk meeting bersama MD Anderson Grup hanya untuk menemui Alexsa."


__ADS_2