
Danu makan nasi goreng dengan satu sendok yang sama bersama Aqilah, lagi-lagi perasaan Danu sangat bahagia, apa lagi sekarang Aqilah masih dalam pangkuannya.
Andai saja Danu tidak malu pada Aqilah, ia sudan ingin loncat-loncat girang layaknya anak kecil yang mendapatkan sebuah coklat.
Aqilah tersenyum lebar, perasaannya semakin nyaman saat mendapat perlakuan manis dari Danu.
Menurut Aqilah kalau ia melepaskan Danu dan memilih Wira lagi, ia adalah orang terbodoh di dunia ini, Danu mencintai ia tanpa syarat, melindunginya saat ia di pojokan sebelum ia bertindak, sungguh jiwa lelaki Danu sangat terlihat di mata Aqilah.
Aqilah berharap perasaan nyamannya berubah menjadi perasaan cinta, ia tidak mau menyia-nyiakan lelaki baik seperti Danu.
"Qi, kenapa masakanmu selalu enak?"
Danu bukan sekedar memuji, tapi masakan Aqilah memang sangat pas di lidahnya.
"Masaknya pakai cinta dan sayang, soalnya yang makan masakanku orang sepesal di hatiku."
Danu menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Aqilah sambil mencubit gemas pipi Aqilah.
"Perasaan aku kamu sering sekali mencubit pipiku akhir-akhir ini, kalau aku jadi cepat tua bagai mana karena tertekan olehmu?"
"Sejak kapan seorang Nona Veronica Syaqilah Anderson suka membuat drama hhhmmm?"
"Sejak Lisa mengatakan kamu miliknya."
"Aku hanya milik kamu Qi, sampai kapan pun tetap milikmu."
Aqilah tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari Danu hingga tidak terasa nasi goreng itu habis tidak tersisa karena makan sambil mengobrol.
"Akhirnya nasi goreng habis juga."
"Iya padahal banyak banget loh Qi, tapi buatan kamu memang yang terbaik, aku merasa beruntung karena bisa di manjakan olehmu."
Lagi-lagi Aqilah tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari Danu yang terlihat sangat bahagia.
"Qi, tuan tidak mengabari kamu?"
"Sama sekali tidak, kamu lupa kalau di sini ada aku, berarti di sekitar sani juga ada Kenny?"
Danu menghela nafas pelan, ia baru ingat kalau Kenny adalah baudygaur tersembunyi, di mana ada Aqilah maka di sekitar sana ada Kenny.
"Aku lupa, nanti malam kamu mau kemana Qi?"
Belum sempat Aqilah menjawab ucapan dari Danu, tiba-tiba saja di ruang tamu ada suara ribut-ribut.
"Kamu kenapa mengusir putriku kak Lukman?!"
"Putrimu pantas untuk di usir!"
"Dan, itu siapa?"
__ADS_1
"Itu adik Ayah, mungkin Lisa ngadu sama ibunya, tapi kalau Lisa ngadu pada Ayahnya, aku yakin kalau Ayahnya akan marah besar, berbeda dengan ibunya yang selalu memanjakan Lisa.
"Aku ingin melihat mereka."
Aqilah langsung bangun dari pangkuan Danu, lalu mereka berdua langsung ke arah ruang tamu.
"Apa karena wanita murahan itu?! Lisa sudah menceritakannya kalau Danu membawa wanita murahan ke sini!"
"Jaga bicaramu Lea!"
"Ayah ini ada apa?"
Aqilah bertanya dengan wajah polosnya, walau pun ia tau kalau wanita paru baya itu marah karena masalah ia dan Lisa.
"Biasa ngadu."
Lea langsung melihat ke arah Aqilah dengan tatapan sinis.
"Jadi ini wanita murahan yang membuat putri saya sampai terusir dari rumah Omnya sendiri?!"
"Ibu sama anak sama saja, sama-sama gila."
Aqilah berbicara seperti itu sangat pelan, hingga hanya Danu yang mendengarnya.
"Kamu kasih obat apa Danu hingga menjadi orang bodoh seperti itu?!"
"Aqilah tidak memberikan apa pun."
"Anak sama ibu sama saja, sama-sama gila!"
"Jaga mulutmu Diana! Kamu berbicara tidak sopan pada tante kamu sendiri!"
Lea berbicara sambil menatap marah pada Diana yang masih berdiri di tangga.
"Memang itu pakta." batin Aqilah
Aqilah ingin sekali mengatakan itu, tapi ia hanya bisa berbicara di dalam hati.
"Sini kamu wanita sialan!"
Lea maju ke arah Aqilah hingga mendorong Aqilah, bersyukur Danu dengan sigap menahan pinggang Aqilah hingga bibir mereka saling menempel.
Danu dan Aqilah hanya diam beberapa saat, detak jantung Danu berdetak lebih cepat saat bibirnya menempel di bibir Aqilah.
"Aduh mata Diana ternoda ibu Ayah!"
Diana berteriak sambil menutup mata memakai telapak tanganya dengan jari-jari di longgar-longgarkan agar tetap bisa mengintip kaka tirinya dan Aqilah.
Teriakan diana menyadarkan Danu dan Aqilah, Aqilah langsung membenarkan posisinya sambil tersenyum lebar saat mendengar detak jantung Danu yang berdetak lebih cepat.
__ADS_1
Aqilah langsung berjinjit mensejajarkan tingginya bersama Danu, ia menatap wajah Danu yang sudah bersemu merah karena malu.
"Manis."
Aqilah mengatakannya tepat di telinga Danu, lalu langsung berdiri di samping Danu sambil tersenyum lebarnya, andai saja situasinya tidak sedang seperti ini, ia ingin terus menggoda Danu yang terlihat menggemaskan menurutnya.
"Danu ternyata lucu dan menggemaskan kalau sedang malu." batin Aqilah
Danu menghela nafas kasar saat mendengar bisikan dari Aqilah, ia yakin kalau Aqilah sedaang menggodanya bukan mengatakannya dari hati Aqilah.
"Dasar wanita murahan! Bisanya cari perhatian!"
Aqilah menghela nafas berat, ingin sekali merobek mulut Lea, tapi ia tidak bisa melakukan itu, apa lagi sekarang di rumah orang lain.
"Maaf tante marah sama Aqilah kenapa? Memangnya apa salah Aqilah? Kenapa tante dan Lisa sama-sama kejam? Tadi Lisa menamparku sampai berbekas di pipiku, ini lihat buktinya."
Aqilah berbicara sambil menujukkan pipi yang ada bekas tanparan dari Lisa.
"Sekarang tante ingin mendorongku, memangnya apa salahku?"
Lea yang melihat wajah polos Aqilah, ia ingin sekali mencakar habis wajah Aqilah.
"Usiamu berapa tahun? Sampai-sampai sudah menjadi wanita murahan, apa donatmu itu kurang sentuhan?!"
Aqilah menghela nafas kasar, ia melihat ke arah Danu. Danu langsung mengelus kepala Aqilah.
"Jangan diam, apa pun yang ingin kamu lakukan aku tidak akan marah, walau pun tante Lea tanteku, tapi mulutnya sudah keterlaluan, aku tidak mau kamu terlihat lemah di keluargaku, cukup tunjukan kelemahanmu hanya di hadapanku."
Aqilah tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari Danu karena sudah mengerti isi hatinya yang sudah tidak bisa berbicara dengan berpura-pura lembut membuat ia muak dengan drama pura-puranya sendiri.
"Kamu mengatakan itu pada wanita murahan ini?! Dasar gila cinta!"
Lea langsung maju ke arah Aqilah, ia langsung mengangkat tanganya akan menampar Aqilah, tapi dengan sigap Aqilah memegang pergelangan tangan Lea.
Mata Aqilah menatap tajam pada Lea, membuat siapa saja menatap mata Aqilah memiliki ketakutan terkecuali Danu yang sudah tau siapa Aqilah.
Lukman menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tatapan dari Aqilah begitu pun dengan istrinya, tapi tidak dengan Diana, walau pun takut ia masih tersenyum lebar saat melihat sifat asli Aqilah.
"Jangan pernah berpikir kalau tangan kotormu itu bisa menyentuh pipi saya! Tidak ada orang yang bisa menyentuh saya terkecuali saya sendiri yang mengijinkan seperti Lisa tadi pagi, saya yang membiarkan Lisa menampar saya agar Lisa di usir dari rumah Ayah!"
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung menghempaskan tangan Lea cukup kasar hingga Lea terhayung ke belakang.
Lea tidak percaya wanita kecil yang ada di hadapanya tenaganya sangat besar. Danu mengelus kepala Aqilah lagi sambil tersenyum lebar.
"Aku suka, lebih baik kamu menujukan sifat aslimu seperti ini, agar orang lain tidak macam-macam padamu Qi."
"Tapi aku takut Ayah sama ibu marah."
"Kami tidak marah nak."
__ADS_1
Lukman berbicara sambil tersenyum lebar.