
Sesuai ucapan Danu tadi pagi ia akan kerumah adik dari ibunya siang hari bersama Aqilah. Sekarang Danu dan Aqilah sudah ada di rumah adik dari ibunya, tadi juga Aqilah sudah memeriksa keadaan adik dari ibunya yang bernama Lioni, ia juga sudah memberikan obat untuk Lioni.
Aqilah bersyukur karena membawa banyak setok obat, jadi ia bisa memberikan obat yang di butuhkan oleh Lioni.
Awalnya keluarga dari Lioni kurang percaya pada Aqilah termasuk dokter Yuda yang memeriksa Lioni dan sekaligus putra dari Lioni sangat tidak percaya kalau Aqilah seorang dokter, karena melihat penampilan Aqilah yang masih terlihat 17 tahun, tapi saat melihat kartu yang di berikan Aqilah mereka semua percaya, terlebih saat melihat nama belakang Aqilah yang menggunakan nama Anderson, jelas siapa yang tidak tau dengan nama marga Andreson yang sudah meluncur di berbagai bisnis.
Sonia dan Lukman sangat bangga saat melihat kepribadian Aqilah dan tidak heran kalau putranya sangat tergila-gila pada Aqilah.
Apa lagi Danu juga mengenalkan Aqilah sebagai kekasihnya, jelas bukan hanya Sonia dan Lukman yang bangga pada Aqilah, keluarga Lioni juga sangat bangga, terlebih saat tau kalau Danu kekasih dari Aqilah, mereka semua mengatakan kalau Danu adalah lelaki yang sangat beruntung.
"Apa dari kecil menyukai meracik obat-obatan herbal?"
Dokter Yuda bertanya pada Aqilah yang sedang duduk berhadapan.
"Iya, dari usia saya 7 tahun saya sudah membaca tentang berbagai macam tanaman obat herbal dan cara meraciknya."
"Wow, luar biasa masih terlalu kecil ternyata."
Dokter Yuda memuji Aqilah bukan hanya dari mulut, tapi ia juga mengagumi Aqilah karena masih terlihat muda, namun tau banyak tentang obat-obatan.
"Karena saya memiliki perinsip dari orang tua saya, hanya menjadi seorang dokter maka kamu bisa membantu orang lain, membantu orang lain bukan hanya dengan uang, bisa saja orang tersebut memang tidak membutuhkan uang, tapi orang tersebut membutuhkan kesembuhan, apa yang akan kamu lakukan jika dia sedang membutuhkan pertolongan dokter, uang tidak akan bisa membantu dia, maka satu-satunya cara adalah menjadi dokter, kalimat itu selalu saya ingat dari ke dua orang tua saya."
Dokter Yuda lagi-lagi sangat mengagumi Aqilah setiap kali mendengar jawaban dari mulut Aqilah, dan andai saja Aqilah bukan kekasih Danu, mungkin ia sudah mengejar cinta Aqilah.
"Ternyata kamu dari kecil sudah di ajarkan hal-hal positif dari orang tuamu."
"Iya, ke dua orang tua saya memang seperti itu."
"Kamu jangan terlalu pormal begitu Aqilah, gunakan saja kata aku, jangan kata saya-saya, aku jadi merasa sedang berbicara dengan anak kecil."
Aqilah tersenyum lebar sambil mengangguk pelan, senyuman itu mampu membuat hati dokter Yuda berdebar, tapi senyuman itu juga mampu membuat hati Danu cemburu saat senyuman manis Aqilah untuk orang lain juga.
Bahkan Danu yang sedang membawa jus buah naga untuk Aqilah, ia menghentikan langkahnya sesaat, saat melihat Aqilah tersenyum lebar pada adik sepupunya.
Entah kenapa sekarang Danu memiliki rasa cemburu saat ia memiliki status sebagai kekasih dari Aqilah, walau pun ia juga sebenarnya masih tidak yakin pada hati Aqilah nanti, benar-benar memilihnya atau Aqilah akan berpaling pada Wira lagi, lelaki yang sangat Aqilah cintai dan lelaki yang membuat Aqilah menjadi wanita bodoh.
__ADS_1
Danu melanjutkan langkah kakinya lagi, ia langsung meletakan jus buah naga di meja depan Aqilah.
"Di minum Qi."
Danu langsung duduk di samping Aqilah.
"Ini buatanmu?"
Aqilah bertanya sambil mengambil jus buah yang ada di meja.
"Iya itu buatanku, dan itu buah naganya masih pres seperti donat yang kamu bilang masih pres, soalnya tadi baru metik dari belakang."
"Ih kamu!"
Aqilah mencubit pelan pinggang Danu memakai tangan kirinya karena berbicara masalah donat, tidak tau'kah sekarang sedang ada keluarga Danu yang duduk tidak jauh dari sofa dan ada dokter Yuda juga yang duduk di depan ia hanya terhalang meja.
"Cuma donat sayang, tidak usah nyubit."
Aqilah tidak menanggapi ucapan dari Danu, ia langsung menyuruh Danu untuk meminum jus itu.
"Jangan bilang kalau kamu curiga ada racunnya seperti di rumah kamu menggulung selimut curiga takut aku macam-macam."
"Ih kamu ternyata nyebelin juga, itu bukan karena takut kamu macam-macam, memang aku tidak boleh kalau sedang bahagia menggulung tubuhku dengan selimut?"
"Iya boleh, tapi itu terkesan aneh."
"Dan kamu lebih aneh karena mencintai wanita aneh seperti aku!"
Setelah mengatakan itu, Aqilah meletakan jusnya lagi di meja tanpa di sedot, membuat Danu menghela nafas berat, Danu langsung mengambil jus yang di letakan oleh Aqilah, ia langsung menyedotnya, lalu langsung di sodorkan ke Aqilah.
"Ayo cepat di minum, aku sudah meminumnya."
Aqilah mengangguk pelan, ia langsung menyedot jus dengan gelas yang masih di pegang oleh Danu.
Danu tersenyum lebar saat ia menyadari keinginan Aqilah tadi, bukan Aqilah curiga, tapi ia yakin kalau Aqilah hanya ingin terlihat romantis.
__ADS_1
"Aku berharap kalau perjuanganku ini tidak sia-sia, dan aku berharap kalau aku bisa menggantikan posisi Wira di hati kamu Qi. Jujur saja semakin ke sini aku semakin ingin memilikimu seutuhnya, tapi aku selalu sadar kalau aku hanya lelaki biasa, membuat aku selalu tidak percaya diri kalau aku bisa mendapatkanmu." batin Danu
Dokter Yuda yang melihat adegan itu, ia hanya tersenyum meringis, ada rasa malu saat melihat kemesraan mereka, dan ada juga rasa iri saat tau kekasih dari Danu wanita yang sangat sempurna.
Aqilah bukan hanya dokter Spesialis bedah saja, Aqilah juga ternyata seorang peracik obat, belum lagi Aqilah adalah bos dari Danu, dokter Yuda merasa kalau Danu sangat beruntung memiliki Aqilah yang sangat sempurna.
Menurut dokter Yuda tidak heran kalau Danu selalu menolak wanita yang datang untuk menjadikan Danu suaminya, karena nyatanya Danu mendapatkan wanita yang sangat sempurna.
Awalnya dokter Yuda selalu penasaran, seperti apa wanita pilihan Danu karena Danu selalu menolak banyak wanita, tapi nyatanya Danu memang memiliki incaran wanita yang sangat sempurna.
"Beruntung banget Danu, memiliki wanita sempurna seperti Aqilah." batin dokter Yuda
"Rasanya enak Dan, masih pres seperti donat."
Danu langsung menyentil pelan hidung Aqilah sambil tersenyum lebar.
"Tapi menurut aku lebih enak donat Qi."
"Memang kamu sudah mencoba donat?"
"Sering Qi."
Aqilah langsung menatap tajam pada Danu, ia langsung menarik gelas jus yang masih tersisa setengah, lalu langsung menggenggam kuat gelas itu.
Aqilah sangat marah saat tau Danu sudah mencoba donat dan bahkan sering, entah kenapa ada rasa kecewa di hati Aqilah.
Danu menghela nafas berat, ia tau kalau Aqilah sedang marah, ia langsung menarik gelas yang di genggam Aqilah, ia tidak mau kalau tangan Aqilah menjadi korban karena genggaman gelas yang sangat kuat dan bisa ia pastikan kalau gelas itu akan pecah dalam genggaman Aqilah.
Setelah berhasil mengambil gelas dari genggaman Aqilah, Danu langsung meletakan gelas itu di meja.
"Jangan marah Qi, aku tidak mau sampai tangan kamu terluka, itu hanya donat biasa Qi, donat yang terbuat dari kentang, kamu jangan berpikir macam-macam."
Danu berbicara sambil mengusap rambut Aqilah yang terurai.
"Menyebalkan!"
__ADS_1