
Saling menempel bibir karena tidak sengaja, tapi mampu membuat hati Danu berbunga-bunga.
Walau pun ini untuk pertama kalinya Danu saling besentuhan bibir dan terkesan ciuman pertamanya, tapi ia senang karena di cium oleh wanita yang ia cintai.
"Yakin tidak marah sama aku? Aku tidak mau kamu menghargi aku karena masalah aku adalah bosmu, aku tidak mau di benci olehmu. Orang yang paling aku takutkan di dunia ini adalah kamu dan Mahesa, aku tidak mau kalian berdua membenciku."
Ada rasa cemburu saat mendengar ucapan dari Aqilah saat Aqilah mengistimewakan Mahesa di dalam hidup Aqilah, tapi ia juga senang saat Aqilah mengatakan ia dalam daftar orang teristimewa dalan hidup Aqilah.
"Kenapa harus aku juga? Kenapa tidak dengan ke dua sahabat wanitamu?"
"Kamu baik, dan lelaki paling baik yang paling aku kenal, dan aku berharap kamu bisa memiliki istri yang baik juga seperti hatimu."
"Terima kasih do'anya Qi, oh iya tentang ponselku memang ketinggalan di kamarmu Qi, saat mandi aku lupa membawanya, tadi sebelum kamu bangun aku sudah menyuruh asistenku untuk mengambil ponselku."
"Oh syukur, aku bisa bernafas lega, aku yakin Wira tidak akan diam setelah dia tau siapa aku dan tentang video Alexsa."
"Video Alexsa kamu sudah memberikannya Qi?"
"Sudah, bahkan bukan hanya 3 video, aku memberikan 7 video pada Wira."
"Eh banyak banget kamu buat koleksi video susu kental manis Alexsa?"
"Tidak, yang 4 video dari Mahesa, mana ada aku mau menyimpan video begituan, menjijikan."
"Jijik bagai mana kalau kamu setiap hari mengharap banget di kasih susu kental manis milik tuan Wira?"
"Stt.. rese kamu lama-lama! Terus juga jangan panggil Wira tuan, orangnya juga tidak ada"
"Oh iya, tentang tau siapa aku kamu membuka identitasmu Qi?"
"Tidak Dan, aku hanya memberikan kalung masa laluku bersama Wira pada Bagas, aku yakin kalau Bagas sudah memberikan kalung itu pada Wira. Itu adalah kalung agar kita saling mengenal saat sudah dewasa, tapi kalung itu hilang di rumah London dan bawahan Kenny menemukan kalung itu, sedangkan milik Wira sendiri aku tidak tau kemana, Wira tidak memakai kalung itu lagi."
"Jadi kalian sebelumnya saling kenal?"
"Iya Dan, aku tidak menyangka kalau Wira kecil yang dulu sangat lucu, menggemaskan, dan sangat penyayang, tapi tumbuh menjadi lelaki kasar."
Aqilah menghela nafas berat saat mengingat Wira waktu kecil, ia memang tidak pernah menyangka jika Wira akan tumbuh menjadi lelaki kasar, lebih tidak menyangka lagi ia mencintai Wira, lelaki yang dulu tidak ada dalam pemikirannya.
Jangankan ingin bersama, terbesit di pikirannya saja tidak karena Wira terkenal lemah lembut, sedangkan Aqilah tumbuh menjadi gadis yang menurut Aqilah nakal.
Aqilah akan selalu kabur dari pengawasan bodygaur, bahkan Kenan dan Kenny sampai kewalahan menghadapi sikap Aqilah saat kecil, dan dalam pemikiran Aqilah saat kecil ia harus bersama lelaki yang memiliki seni beladiri minimal seimbang walau pun tidak lebih pintar darinya, tapi nyatanya ia jatuh cinta dengan lelaki biasa.
Lelaki yang dulu tidak pernah Aqilah inginkan, lelaki yang dulu membuat ia harus di hukum untuk tinggal di luar negri.
Kini Danu tau kenapa Aqilah sangat tergila-gila pada Wira, karena Wira adalah teman kecilnya.
"Ayo lebih baik makan, mereka sudah menunggu kita."
__ADS_1
"Iya."
Mereka berdua langsung keluar dari kamar dan langsung ke meja makan.
"Selamat malam semua!"
Aqilah menyapa mereka sambil tersenyum lebar dan ia juga tidak mempedulikan kejadian di atas ranjang tadi.
Berbeda dengan Danu, wajahnya sudah menerah saat di lihat oleh Ayah tirinya karena mengingat kejadian tadi.
Sonia ibu dari Danu hanya mengangguk pelan begitu pun dengan suaminya.
"Iya malam kak Qi, oh kenalin kak itu Lisa keponakan Ayah."
Diana mengenalkan Lisa yang hanya diam sambil melihat Aqilah dari atas ke bawah.
Aqilah menganggukan kepalanya sambil mengulurkan tangan pada Lisa yang langsung di sambut oleh Lisa tanpa ekspresi.
"Aqilah."
"Lisa."
Setelah perkenalan Lisa merasa benci saat melihat senyuman Aqilah sangat manis dan memiliki wajah cantik layaknya seorang putri kerajaan yang selalu ia lihat di televisi, bahkan lebih cantik wajah Aqilah.
Danu langsung menggeser kursi untuk Aqilah duduk.
"Terima kasih Dan."
Aqilah langsung duduk di ikuti oleh Danu di sampingnya.
"Saya ambil sendiri saja bu."
Aqilah langsung mengambil kembali piring miliknya saat Sonia akan mengambilkan makanan.
"Iya sudah, anggap saja ini rumah kamu sendiri, iya walau pun rumahnya sangat kecil."
"Iya terima kasih bu."
Sonia hanya mengangguk pelan, tidak heran kalau putranya mencintai Aqilah, walau pun Aqilah putri dari bos tempat Danu bekerja, tapi melihat dari kepribadianya sangat sederhana.
Setelah mengambil makanan untuk diri sendiri Aqilah mengambilkan makanan untuk Danu yang membuat Lukman tersenyum-senyum sendiri layaknya seperti orang jatuh cinta.
"Ayah senyum-senyum kenapa?"
Diana bertanya dengan raut wajah bingung, sedangkan wajah Danu tambah merah karena mendengar pertanyaan dari adik tirinya.
"Bukan apa-apa nak, Ayah sedang merasa senang karena makan malam hari ini tidak hanya kita bertiga."
__ADS_1
Diana hanya menganggukan kepalanya tanpa curiga apa yang membuat Ayahnya tersenyum-senyum.
"Terima kasih Qi."
"Sama-sama."
Perasaan Danu bertambah bahagia, walau pun hanya di ambilkan makanan oleh Aqilah, ini lah cinta Danu sangat sederhana, saat di ambilkan makanan oleh orang yang di cintai saja ia sangat bahagia.
"Ayo makan."
Lukman berbicara sambil tersenyum, apa lagi melihat wajah bahagia dari putra tirinya.
Mereka hanya mengangguk dan mulai makan. Lisa makan dengan rasa kesal saat melihat Danu tidak menolak di ambilkan makanan oleh Aqilah.
Biasanya Danu akan menolak saat di ambilkan makanan oleh Lisa, Danu langsung mengambil kembali piring yang sudah di pegangnya, tapi kali ini Danu bahkan membiarkan Aqilah mengambilkan makanan untuknya.
"Sini aku saja yang mengupas udang."
Danu langsung menggeser sedikit piring Aqilah.
"Tidak apa-apa aku kupas sendiri saja."
"Memangnya kamu bisa?"
Selama Danu mengenal Aqilah, ia belum pernah melihat Aqilah mengupas udang.
"Sembarangan, kamu mengejek aku? Memukul orang saja bisa, apa lagi mengupas udang."
Aqilah tidak terima saat mendengar pertanyaan dari Danu yang terkesan merendahkan kemampuan mengupasnya.
"Sayang kuku kamu Qi."
Pada akhirnya Danu mengalah berdebat dengan Aqilah sambil mengupas udang. Sambil Danu mengupas udang Aqilah menggeser piring Danu ke arahnya.
"Cepat buka mulutnya biar cepat selsai."
Danu hanya mengangguk ia langsung membuka mulutnya saat Aqilah menyodorkan sendok yang berisi makanan.
Setelah itu Aqilah beralih ke piringnya menyuapi diri sendiri, dan menyuapi udang yang Danu kupas pada mulut Danu lalu ia juga ikut makan.
Semua yang ada di meja makan melihat mereka yang terlihat mesra, apa lagi Diana, ia terlihat senang saat melihat Aqilah sangat perhatian pada kaka tirinya.
Aqilah juga mengusap sisa makanan di bibir Danu memakai jari jempolnya sendiri tanpa menggunakan tisu.
Lagi-lagi Aqilah membuat detak jantung Danu berdetak lebih cepat.
"Akhir-akhir ini Aqilah selalu membuat jantungku tidak normal." batin Danu
__ADS_1
"Carper banget jadi cewek, putri bos, tapi seperti wanita murahan, harusnya menjungjung tinggi derajatnya, ini seperti wanita murahan saja." batin Lisa