
Wira yang mendengar ucapan dari istrinya giginya sudah bergemlutuk itu menandakan kalau emosi ia sudah tidak bisa ia kontrol lagi.
Wira langsung mendorong istrinya ke arah meja panjang. Bersyukur kepala Aqilah tidak mengenai meja karena tangan kanannya dengan sigap menahan meja itu agar tidak membentur kepala.
"Sejak kapan kamu lancang ikut campur urusanku?!"
Wira bertanya dengan tangan kanannya berkaca pinggang, ia sama sekali tidak menyangka kalau istrinya sekarang sudah sangat berani mencari tau tentangnya.
Aqilah menegakan badannya, walau pun rasa sakit di kepalanya itu sangat amat sakit, ia bisa merasakan beberapa helai dari rambutnya tercabut oleh suaminya.
"Aku sama sekali tidak ikut campur, tapi aku tidak suka kalau kamu menuduhku yang tidak-tidak."
"Kamu bilang aku menuduhmu?! Buktinya sudah di depan mata kalau kamu dan Aldo memiliki hubungan, kalau kamu tidak memiliki hubungan dari mana kamu tau aku bertemu dengan Alexsa?! Hanya Aldo orang satu-satunya yang tau."
"Tadi aku tidak sengaja mendengar suara Aldo yang sedang di telpon olehmu, lalu aku mendengar suara Alexsa di telpon itu. Aku sama sekali tidak pernah ikut campur urusanmu."
"Lalu apa yang kamu bicarakan dengan kakek di kamar kakek? Kamu mengadu tentang kekasaranku hingga aku mendapat pukulan dari kakek?!"
Aqilah tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, ia buru-buru mendekati suaminya, menatap wajahnya dengan seksama hingga ia melihat sudut bibir suaminya berdarah.
"Apa ini sakit?"
Aqilah bertanya sambil mengusap ujung bibir suaminya, tapi suaminya langsung menepis tangannya sangat kasar.
"Sudah aku bilang jangan menyentuhku bodoh! Kamu itu semakin hari semakin kurang ajar!"
"Aku hanya kuatir sama kamu Wira, apa salah seorang istri menghuatirkan suaminya?"
"Jelas salah! Kamu hanya istri di atas kertas, jadi jangan pernah melupakan itu!"
"Kita menikah sudah saling berjanji. Kamu akan menerimaku di saat aku bahagia dan sedih, sehat dan sakit, tapi kamu masih tidak bisa berikan aku sedikit saja ruang di hatimu Wira? Apa hatimu sangat keras? Aku selama ini sudah cukup bersabar. Sabar karena aku mencintaimu, berkali-kali aku selalu mengatakan cinta."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung mengambil ponselnya, lalu langsung keluar dari kamarnya, ia memang wanita kuat dan tegar, tapi ia sudah cukup lelah dengan pertengkaran hari ini.
Apa lagi Aqilah belum tidur siang, biasanya ia akan tidur siang.
Aqilah berjalan sambil merapihkan rambutnya yang sangat berantakan hingga ia sampai di ruang tamu yang hanya ada Bagas sedang duduk di sofa dengan wajah penuh amarah.
"Kek, Aqilah keluar dulu."
"Iya nak."
Bagas hanya melihat kepergian Aqilah seperti buru-buru, awalnya ia berpikir mungkin Aqilah memiliki pekerjaan, tapi saat melihat rambut Aqilah sedikit berantakan membuat ia yakin kalau Aqilah bertengkar dengan cucunya.
Bagas langsung berjalan ke arah kamar cucunya, amarahnya belum mereda, tapi kini cucunya sudah membuat masalah lagi.
__ADS_1
Bagas langsung mengetuk pintu kamar cucunya.
Tok-tok...!
Setelah pintu kamar itu terbuka Bagas langsung melayangkan pukulan pada cucunya.
Bugk...!
Wira langsung tersungkur ke lantai karena pukulan tiba-tiba dari kakeknya.
Bagas langsung menarik kerah kemeja cucunya, lalu ia langsung melayangkan pukulan sekali lagi.
Bugk...!
Wira tersungkur untuk ke dua kalinya karena menerima pukulan dari sang kakek.
"Apa yang kamu lakukan pada Aqilah?!"
"Jadi kakek memukul Wira hanya untuk Aqilah?! Apa yang membuat kakek lebih menyayangi Aqilah dari pada Wira cucu kakek sendiri?!"
"Cucu kurang ajar! Berani sekali kamu membentak kakek! Kalau bukan karena Aqilah kakek mungkin sudah mati!"
"Kakek itu terlalu berlebihan, apa lagi Aqilah cuma membawa kakek ke rumah sakit, Wira juga melakukan akan melakukan sama kalau ada yang kecelakaan, tapi tidak seperti kakek yang terlalu berblebihan."
Dulu Bagas memang mengatakan saat sadar dari ko'manya, ia di tolong oleh Aqilah karena Aqilah meminta merahasiakanya, sebenarnya yang menolong ia saat ko'ma adalah perawatan dan pengobatan dari Aqilah sendiri.
"Cukup kakek! Wira sudah menuruti apa kata kakek untuk menikah dengan anak kecil seperti Aqilah, jadi kakek jangan lagi merendahkan Alexsa. Apa lagi Aqilah dan Alexsa sangat berbeda jauh."
"Memang sangat berbeda jauh bahkan Alexsa tidak akan bisa menggapai Aqilah, bukan Aqilah yang tidak bisa menggapai seperti Alexsa yang hanya seorang model. 1 lagi, Aqilah itu bukan anak kecil, usianya sudah 24 tahun. Bukan'kah yang anak kecil itu Alexsa? Dia masih 23 tahun."
Usia Alexsa memang lebih muda dari Aqilah, tapi wajah Aqilah seperti anak remaja, di tambah lagi dengan penampilanya yang hanya memakai celana panjangnya satu jengkal, kaosnya menggunakan kaos crop hingga memperlihatkan perut ratanya sedikit.
"Terus saja kakek bela wanita kampungan dan murahan itu!"
Setelah mengatakan itu Wira memutuskan keluar dari kamar, ia meninggalkan kakeknya yang masih di dalam kamarnya.
Saat Wira sampai di ruang tamu, ia melihat Aldo baru masuk ke rumahnya.
"Selamat sore tuan."
Aldo menyapa Wira samil membungukan badan.
"Bagai mana dengan kontrak kerja samanya?"
"Pak Danu setuju tuan, tapi saya ingin cuti 3 hari untuk menemui ibu saya di rumah sakit."
__ADS_1
"Baiklah kamu boleh cuti selama 3 hari."
"Terima kasih tuan."
Wira hanya mengangguk pelan. Aldo langsung buru-buru masuk ke arah mobil miliknya yang memang di beri oleh Wira untuk Aldo saat pulang mau pun pergi.
Aldo langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga ia berhenti di luar kompleks perumahan saat melihat Aqilah berdiri sambil memainkan ponselnya.
Aldo segera turun dari mobilnya, ia langsung mendekati Aqilah.
"Nyonya mau pergi kemana? Saya antar."
Walau pun Aldo buru-buru, tapi kerja sama itu berkat Aqilah, ia tidak melupakan jasa Aqilah.
"Kamu mau kemana? Saya ikut kamu."
"Hah?!"
Aldo sangat terkejut dengan ucapan dari Aqilah.
"Iya saya jenuh di rumah, boleh saya ikut kamu, saya sudah bantu kamu tadi."
Aldo menghela nafas panjang.
"Saya mau ke rumah sakit nyonya."
Aqilah tidak berbicara lagi, ia langsung masuk ke dalam mobil.
Aldo juga ikut masuk, saat Aldo menyetir mobil, rasa canggung ia terus menyelimuti di sepanjang perjalanan karena Aqilah duduk di bangku depan.
Setelah sekitar 1 jam mereka sampai di rumah sakit.
Aqilah terus mengekori kemana perginya Aldo, ini cara ia untuk menenangkan diri saat suaminya mengatakan kalau ia adalah istri di atas kertas.
Selama ini Aqilah selalu menerima perlakuan dari suaminya, tapi saat suaminya mengatakan itu, rasanya perjuangan ia yang hampir 1 tahun itu tetap sia-sia.
Aqilah mengerutkan keningnya saat melihat Aldo memeluk seorang Gadis yang berusia 17 tahun itu.
Mereka berdua langsung melepaskan pelukanya.
"Kaka, kata dokter ibu harus segera di oprasi, kita punya uang dari mana sebanyak itu? Apa lagi dokter bilang tidak seratus persen oprasi itu berhasil. Hiks... Hiks..."
Hati Aqilah merasakan nyeri, ini mengingatkan ia dengan Mommynya setelah di siksa oleh orang yang bersaing bisnis Daddynya. Mommynya harus di operasi dan belum tentu berhasil, hingga ucapan itu menjadi nyata.
"Kaka bisa menjual mobil Allena, tentang berhasil oprasi, kita harus berdo'a."
__ADS_1
"Iya kaka