
Aqilah sudah sampai di rumah sakit tempat bu Lili di rawat, sebelum ia masuk ke ruangan bu Lili ia juga datang ke ruangan dokter Erik terlebih dahulu untuk bertanya bagai mana kesahatan bu Lili.
Aqilah bersyukur saat mendengar jawaban dari dokter Erik karena bu Lili pagi ini sudah boleh pulang.
Sekarang Aqilah berjalan ke arah ruang inap bu Lili sambil tersenyum lebar, lalu ia langsung mengetuk pintu ruangan itu.
Tok-tok.
Tidak lama pintu itu terbuka menampilan Allena yang tersenyum lebar.
"Nyonya."
Aqilah langsung memeluk Allena dengan pelukan hangat sesaat.
"Bagai mana kabarmu?"
"Baik nyonya, silahkan masuk."
Aqilah menganggukkan kepalany Pelan, ia langsung masuk ke dalam ruangan inap bu Lili.
"Selamat pagi Nona Veronica."
Aldo menyapa sambil membungkukan badan, bahkan ia benar-benar membungkuk tidak seperti biasanya.
Biasanya memang membungkuk, tapi tidak seperti sekarang sangat begitu membungkuk.
"Kamu jangan mengada-ngada Aldo, nama saya Syaqilah, mana mungkin saya adalah dia."
Walau pun Aqilah sangat terkejut, tapi ia menutupi rasa terkejutnya di depan Aldo.
"Tapi saya serius kalau nama Nona, Veronica Syaqilah Anderson, putri dari Nyonya Tania Syaqilah Abraham dan tuan Albet Anderson."
Aqilah tidak percaya kalau Aldo begitu teliti, ia tidak bisa berbohong lagi di depan Aldo.
"Kamu tau dari mana nama lengkap saya? Apa ini karena Kenny?"
"Bodyguard Nona yang bernama Kenny, bukan karena Kenny jujur pada saya Nona, tapi saat Kenny sering datang untuk melihat ibu saya, dan saya merasa Kenny sangat familiar di ingatan saya, hingga saya ingat kalau Kenny bekerja sebagai bodyguard tersembunyi untuk Nona Veronica. Sedangkan bodyguard yang selalu di samping Nona adalah Kenan adik dari Kenny sendiri, termasuk asisten pribadi Nona adalah Sinta, saya sangat ingat segalanya tentang Nona saat melihat Kenny berkali-kali, tidak heran saat tuan Wira meminta data nyonya tidak bisa saya bobol."
__ADS_1
Akhirnya Aldo bisa tau alasanya kenapa ia sangat sulit mencari data tentang Aqilah saat awal-awal Aqilah menikah dengan Wira.
Aldo sampai 2 minggu baru menemukan data Aqilah, tepatnya data palsunya.
"Kamu jadi ingat pertemuan kita 2 tahun yang lalu di Jerman?"
"Iya Nona saya sangat ingat, saat itu Nona hampir saja di lecehkan oleh tuan Wira karena pengaruh obat perangsang, tapi bersyukur karena Nona memiliki seni beladiri hingga menendang tuan, lalu menjejalkan tuan obat penawarnya. Setelah itu Kenny pengawal tersebunyi Nona juga datang ke kamar itu, saya masih mengingatnya dengan jelas."
Aldo memang masih ingat kejadian 2 tahun yang lalu saat ia kebingungan, kalau ia memukul tuannya yang hampir melecehkan Aqilah, ia takut di pecat saat tuannya itu sadar, ia sangat membutuhkan pekerjaan, tapi kalau ia tidak membantu Aqilah ia tidak tega melihat Aqilah yang sudah di tindih di atas ranjang, hingga akhirnya Aqilah menendang inti milik tuannya sampai tuannya mengaduh kesakitan.
"Saya mohon rahasiakan ini dari Wira, Al, saya tidak mau mendapatkan kasih sayang dari kekuasan saya. Saya ingin mendapatkan kasih sayang mereka dengan tulus."
Aldo menghela nafas berat saat mendengar permintaan dari Aqilah yang menurut Aldo ke duanya memang buta karena cinta.
Aqilah yang terus berjuang untuk Wira dan Wira yang terus mencintai Alexsa tanpa mau menyelidiki Alexsa terlebih dahulu wanita baik-baik atau bukan.
Aldo memang sudah tau tentang Alexsa yang sering tidur berganti-ganti lelaki demi untuk populeritasnya untuk semakin naik.
"Nona, saya minta maaf karena sempat berpikir kalau Nona saat itu memiliki hubungan bersama Pak Danu, ternyata Pak Danu adalah bawahan Nona, pantas saja saat Nona mengirim pesan pada Pak Danu, Pak Danu langsung menelpon saya."
Aldo sebenarnya sangat malu untuk minta maaf karena sudah berburuk sangka, tapi ia memang salah berpikir buruk sebelum tau siapa sebenarnya Aqilah.
"Tidak masalah, suami saya juga menuduh saya seperti itu, apa lagi kamu yang tidak tidur sekamar dengan saya, tentu saja kamu tidak mengenal sifat saya."
"Lalu tentang berita di internet apa Nona tidak ingin membersihkan gosip itu? Walau pun wajah Nona tidak terlihat saat bersama tuan Mahesa, tapi apa Nona tidak takut kalau suatu saat mengenali postur tubuh Nona?"
"Tidak perlu, biarkan sekali-sekali Mahesa memiliki gosip miring, selama ini Mahesa selalu di gosipkan seputar bisnisnya saja."
Aqilah berbicara sambil terkekeh pelan, membuat menampilkan kesan manis di mata Aldo.
Bukan karena Aldo sudah tau identitasnya, namun saat di samping kulkas saat itu, ia memang sudah terpesona dengan tatapan Aqilah, tapi ia sadar kalau Aqilah adalah istri dari tuannya, apa lagi sekarang saat tau identitas Aqilah, sangat tidak mungkin saja untuk memilikinya.
"Oh iya Nona, saya juga minta maaf karena saat itu saya ingin tau wajah Nona Veronica yang menurut saya menyebalkan saat tiba-tiba membatalkan pengajuan kontrak."
"Tidak apa-apa, jujur saja saat itu saya sedang di kuasai rasa cemburu, hingga bertekad untuk menyuruh Sinta membatalkannya."
Aldo menganggukan kepalanya pelan, jelas pasti sangat cemburu di saat lelaki yang di cintainya bersama wanita lain, apa lagi status mereka adalah suami istri.
__ADS_1
Aqilah langsung mendekati ranjang bu Lili yang sedang duduk sambil melihat ke arahnya.
"Selamat pagi Nona Veronica?"
Bu Lili membungkukan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Iya pagi, bagai mana keadaannya bu? Apa masih ada yang sakit?"
"Saya jauh lebih baik Nona, terima kasih atas bantuanya selama saya sakit, apa lagi kita tidak saling kenal, tapi Nona sangat baik pada saya."
"Jangan bilang terima kasih bu, yang menolong ibu adalah Tuhan, saya hanya lah sebagai perantaranya, jadi ibu jangan tidak enak hati sama saya. Sudah tugas sesama manusia untuk saling tolong menolong."
Mereka semua tidak percaya dengan jawaban Aqilah yang mereka tau dari gosip yang beredar kalau seorang Nona Veronica adalah orang tanpa belas kasih, itu lah rumornya dan tidak segan-segan untuk membuat lawan bicaranya tidak berkutik saat berhadapan langsung dengan Aqilah, tapi sekarang kebalikanya menurut mereka, kalau Aqilah terkesan peduli dan baik.
"Tapi tetap saja, seorang Nona dari keluarga Anderson langsung turun tangan, benar-benar kehormatan bagi saya yang hanya orang biasa, bahkan Nona juga ikut membantu mengoprasi saya."
"Tidak apa-apa bu, Al saya boleh ikut mengantar bu Lili ke rumah? Iya siapa tau saat saya memiliki waktu luang saya bisa bermain bersama Allena? Kamu tidak keberatan?"
"Sama sekali tidak keberatan Nona."
"Panggil saya nyonya, nanti kamu lupa memanggil saya Nona terus."
"Baik nyonya."
Memang dari tadi Aldo bingung sendiri, mau memanggil siapa pada Aqilah.
"Apa semuanya sudah siap?"
"Sudah nyonya."
"Baiklah, ayo bu mari saya yang membantu ibu, Aldo yang membawa tas baju."
"Terima kasih Nona."
Aqilah langsung membantu bu Lili ke arah mobil sedangkan Aldo sudah lebih dulu membawa tas baju dan Allena berjalan di belakang mereka.
Setelah di mobil Aqilah hanya mengikuti kemana arah pergi mobil Aldo karena membawa mobil sendiri.
__ADS_1
Aqilah melupakan suaminya bersama Alexsa saat melihat wajah keibuan dari bu Lili.