
Seperti yang sudah di rencanakan tadi pagi Aqilah pergi menonton bioskop bersama Diana dan ke dua sahabat Diana.
Awalnya Aqilah sempat berdebat dengan Danu, walau pun Danu menyetujui Aqilah membawa mobil sendiri tadi pagi, tapi siang harinya Danu berubah pikiran hingga sampai berdebat. Namun pada akhirnya Danu tetap mengalah dan menuruti ucapan dari Aqilah.
Setelah menonton bioskop Aqilah dan Diana termasuk ke 2 sahabat Diana memutuskan untuk makan di restoran.
"Kalian mau pesan apa?"
Aqilah membuka suara setelah mereka membaca menu makanan.
"Mahal semua kak di sini makannanya."
Yang berbicara adalah Ayura sahabat dari Diana.
"Iya kak mahal banget, uang kita tidak cukup, nanti mau beli novel."
Intan pun menimpali ucapan dari Ayura.
"Kalian tidak perlu memikirkan bayaran, nanti kaka yang bayar."
Mereka hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau kaka mau makan spaghetti carbonara, dan minumnya jus alpukat, kalian mau samain saja?"
"Iya kak, tapi kita minumnya jus jeruk."
"Baiklah, kamu Diana mau makan apa?"
"Sama seperti kaka saja, tapi munumnya jus jeruk."
"Oke."
Aqilah langsung memanggil pelayan, lalu langsung memesan makanan dan jus yang tadi di sebutkan.
Sambil menunggu makanan datang Aqilah memainkan ponselnya hingga ia menyadari ada orang mengintainya dari jarak jauh.
"Sial, apa mereka orang suruhan Wira?" batin Aqilah
Diana juga menyadari ada orang yang terus mengintai ke arahnya dari mobilnya memasuki area Mall.
"Kak, Diana rasa ada yang mengikuti kita dari tadi it."
Tangan Diana baru saja akan menujuk, tapi dengan sigap Aqilah langsung menahan tangan Diana.
"Kaka sudah tau, kamu jangan menujuk ke arah mereka dan pura-pura saja tidak tau."
"Tapi Diana takut kak, bagai mana nanti kita pulangnya? Diana hubungi Ayah saja iya agar kak Danu menjemput kita?"
Ayura dan Intan ikut cemas saat mendengar kalau mereka ada yang mengikuti.
__ADS_1
"Tidak perlu, kaka akan menghubungi Kenny."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung menghunungi Kenny.
"Selamat sore Nona Vero, ada apa?"
"Iya sore, kamu di mana Ken?"
"Saya duduk di meja paling ujung bersama Sinta dan Ikhwan Nona, posisi Nona akhir-akhir ini sedang tidak aman, bukan hanya tuan Wira yang mencari Nona, tapi Alexsa juga mengirim 4 orang bayaran untuk mencari Nona dan merencanakan pembunuhan, begitu pun dengan Tuan Kenzi, Ayah dari Alexsa juga mengincar Nona."
Aqilah menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari Kenny.
"Baik, apa kamu tau kalau saya ada yang mengikuti?"
"Saya tau Nona, bukan hanya di sebelah kiri, tapi juga di lantai atas sudah ada orang yang sedang mengincar Nona, tapi saya akan bermain halus Nona, kita bertemu di perempatan, dan menukar mobil kita. Nona membawa mobil saya dan saya yang akan membawa mobil Nona."
"Baiklah, saya juga tidak bisa untuk melawan mereka karena membawa tiga anak kecil, tapi saya akan pergi berblanja, pantau gerak-geriknya, katakan pada Sinta untuk menggunakan masker, jangan sampai ketahuan identitasku."
"Baik Nona, selamat sore Nona."
"Iya."
Setelah itu Aqilah memutuskan sambungan telponnya, tepat makanan sudah datang juga.
"Kak."
"Iya kenapa Ayura?"
"24 tahun kenapa?"
"Seriusan kak?"
"Iya."
Ke dua sahabat Diana sedikit tidak percaya saat tau usia Aqilah 24 tahun, tapi melihat dari kedewasaannya mereka berpikir memang tidak seperti Gadis 17 tahun, hanya saja postur tubuh dan wajahnya masih terlihat seperti usia 17 tahun.
Apa lagi mereka berdua juga tau kalau Aqilah adalah bos Danu, jelas mereka berpikir orang kaya banyak perawatan.
"Ayo makan, setelah ini kita belanja baju, lalu beli novel kesukaan kalian, kaka yang traktir."
"Asik."
Ke dua Gadis itu tersenyum ceriah, tapi tidak dengan Diana yang masih cemas karena ada orang memantaunya. Aqilah mengelus kepala Diana sambil tersenyum lebar.
"Jangan takut orang-orang kaka akan menjaga kita, masih ada kaka juga yang akan menjaga kamu, yang jelas kita berempat tidak boleh berpencar, dan selalu dengar aba-aba dari kaka jika bahaya menerjang kita, kamu mengertikan Diana?"
"Iya kak Qi."
"Sudah ayo makan."
__ADS_1
Mereka langsung memulai makan sambil mengobrol-ngobrol dan kadang-kadang tertawa.
Walau pun hati ke tiga Gadis itu sama sekali tidak tenang, tapi karena Aqilah memberikan isyarat mata pada mereka agar tidak menatapnya ke orang-orang yang sedang mengikutinya membuat mereka menuruti saja ucapan dari Aqilah.
Sebenarnya Aqilah juga sedikit cemas karena membawa tiga Gadis remaja, ia takut ada yang menjadi korban karena mengejarnya, tapi ia berusaha bersikap tenang agar ke tiga Gadis itu tidak terlalu cemas.
Setelah selsai makan dan membayar makanan mereka langsung pergi ke toko baju yang masih terletak di mall yang sama.
"Diana, sepertinya ini cocok buat kamu."
Aqilah berbicara sambil meletakan kemeja di tubuh Diana yang memang sangat pas.
"Iya kak ini bagus."
"Kalian berdua ambil mana pun yang kalian mau."
"Iya kak Qi."
Mereka berdua menjawab serempak. Aqilah langsung memilih baju untuk ia sendiri dengan ekor mata terus melihat ke arah orang yang membuntutinya.
Aqilah membeli dua setel baju sedangkan ke tiga Gadis itu membeli tiga setel baju. Setelah membeli baju mereka langsung masuk ke toko buku untuk membeli novel.
Aqilah hanya melihat-lihat tanpa mau membelinya karena ia memng tidak menyukai novel dan semacamnya, kalau pun ia membaca buku, tidak lebih hanya seputar membuat obat-obatan.
Setelah selsai mereka langsung masuk ke dalam mobil. Aqilah langsung memberi pesan pada Kenny untuk berjalan lebih dulu, sedangkan Ikhwan di suruh di belakang mobil Aqilah.
"Kalian harus ingat apa yang di katakan kakak tadi, sekarang siap-siap pegangan, karena sewaktu-waktu kakak bisa meninggikan kecepatan mobilnya.
"Iya kak Qi!"
Mereka menjawab serempak. Aqilah langsung melajukan mobilnya setelah mendapat balasan pesan dari Kenny.
Wajah ke tiga Gadis itu sangat tegang saat Aqilah mulai meninggikan kecepatannya karena mobil di belakang mobilnya, Ikhwan membawa mobilnya dengan ke kanan ke kiri supaya si pengejar tidak bisa mengejar mobil Aqilah yang masih di belakangnya.
"Huh, kalau tidak bawa bocil rasanya aku ingin sekali bermain-main dengan mereka."
Setelah mengatakan itu Aqilah menghela nafas pelan, ia sudah lama tidak main tonjok-tonjokan setelah menikah dengan Wira.
Aqilah terus menyalip mobil-mobil yang ada di depannya, banyak juga orang yang mengumpat pada mobil Aqilah karena menyalip dengan seenaknya.
Sekitar 30 menit Aqilah bermain-main hingga sampai di perempatan ia langsung membelokan mobilnya mengikuti mobil Kenny.
Aqilah langsung memberhentikan mobilnya saat mobil Kenny sudah berhenti, lalu mereka langsung keluar dari mobil itu sambil membawa barang-barang yang tadi di beli.
"Terima kasih Ken."
"Sama-sama Nona, lebih baik Nona segera pergi, Sinta yang akan menyetir, mobil ini tidak perlu putar balik, lurus dari jalan ini lalu belok kiri, terus lurus saja akan sampai di kampung pak Danu."
"Oke, kamu hati-hati Ken."
__ADS_1
"Iya Nona."
Mereka langsung masuk ke dalam mobil dengan ke tiga Gadis duduk di belakang dan Aqilah duduk di samping Sinta. Tanpa berbicara lagi Sinta langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.