
Pagi harinya Aqilah sudah sibuk membuat sarapan, walau pun bi Surti sudah melarangnya, tapi ia tetap memasak.
Aqilah merasa tidak memiliki beban dari kemarin saat berangkat ke kampung Danu, walau pun rumah tangganya itu sudah di ujung tanduk.
Suami yang selalu Aqilah cintai nyatanya ia tidak bisa mendapatkan hatinya sampai ia memilih untuk bercerai.
Bukan Aqilah sudah tidak mencintai suaminya lagi, bukan juga karena lelah, tapi ia tidak mau membuang-buang waktu untuk hal yang tidak mungkin.
"Qi kamu sudah sibuk saja nak."
"Selamat pagi bu, tidak sibuk bu hanya membuat sarapan."
"Iya pagi juga Qi, wah ternyata kamu bisa masak juga."
"Bisa dikit-dikit bu."
Aqilah merendah walau pun ia sangat pintar memasak, tapi ia tidak mau terkesan sombong. Setelah menata makanan di meja makan sekarang Aqilah memutuskan untuk mandi.
"Bu Aqilah mau mandi dulu."
"Iya Qi."
Sonia menatap ke pergian Aqilah sambil tersenyum lebar, satu pakta lagi yang baru ia tau dari Aqilah, tidak heran kalau putranya sangat mencintai Aqilah, tapi sayang ternyata Aqilah sudah memiliki suami.
Setelah pulang dari pasar malam suaminya menyuruh Danu untuk mengungkapkan perasaannya, tapi Danu mengatakan kalau Aqilah sudah menikah, bahkan Danu juga menceritakan perihal rumah tangga Aqilah yang membuat Sonia dan suaminya tidak percaya ada lelaki yang bisa menolak pesona Aqilah.
Sonia sendiri kalau ia menjadi lelaki ia akan langsung terpesona dengan Aqilah walau pun misalnya Aqilah menyembunyikan identitasnya.
Sonia langsung duduk di sofa, tidak lama Danu dan Diana sudah keluar dari kamar dengan Diana yang sudah memaki seragam sekolah.
"Aqilah belum bangun bu?"
"Sembarangan kamu kalau bicara, Aqilah sudah bangun dari tadi, sudah masak untuk sarapan dan sekarang Aqilah sedang mandi."
"Oh kirain belum bangun."
Danu langsung duduk di samping ibunya.
"Kamu kapan mau ke Jakarta lagi nak? Apa Aqilah mengatakan boleh di tinggal pekerjaannya?"
"Aqilah yang bilang untuk menemaninya bu."
"Tapi kamu jangan terlalu begitu dekat nak, ibu takut kamu patah hati, apa lagi ibu sudah mendengar cerita tentang Aqilah darimu semalam."
"Danu tau bu."
__ADS_1
Diana hanya menghela nafas berat, harapannya yang ingin mereka berdua memiliki hubungan pupus seketika saat mengetahui Aqilah sudah menikah, tapi ia sama sekali tidak membenci Aqilah saat sudah tau Aqilah sudah menikah.
"Pagi-pagi sudah pada ngerumpi."
Lukman berbicara sambil duduk di samping putrinya.
Mereka semua hanya membalas ucapan Lukman dengan tersenyum lebar.
Lalu mereka langsung mengobrol-ngobrol ringan, tapi sudah 30 menit Aqilah masih saja belum muncul membuat Danu langsung pergi ke kamar Aqilah, sebelum pergi Diana memegang tangan Danu terlebih dahulu.
"Mau kemana kak?"
"Mau melihat Aqilah."
"Jangan terlalu dekat kak, kita tunggu saja di sini."
"Tidak bisa ini sudah 30 menit."
Setelah mengatakan itu Danu langsung pergi ke arah kamar Aqilah, ia langsung mengetuk pintu kamar Aqilah.
Tok-tok.
Namun tidak ada jawaban dari dalam membuat Danu langsung masuk ke dalam kamar itu dengan berjakan pelan.
Danu memanggil Aqilah saat tidak mendengar suara air dari dalam kamar mandi.
"Danu! Tolongin aku di kamar mandi!"
Danu yang mendengar teriakan Aqilah dengan ragu-ragu ia masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat Aqilah yang terduduk di lantai masih menggunakan handuk.
"Astaga Qi!"
Danu langsung berjongkok di depan Aqilah yang langsung di sambut dengan rentangan ke dua tangan Aqilah.
"Tolong angkat aku, kakiku sakit."
Danu mengangguk ia langsung mengangkat tubuh Aqilah keluar dari kamar mandi sambil sesekali Danu menelan ludahnya dengan kasar saat melihat belahan dada Aqilah yang terlihat jelas dan paha yang terlihat jelas.
Walau pun Danu tidak pernah berpikir mesum tentang Aqilah dan sudah sering melihat Aqilah berpakaian terbuka, tapi saat melihat itu semua lebih jelas membuat Danu menelan ludahnya dengan kasar, bagai mana pun juga ia lelaki normal.
Walau pun mencintai Aqilah dengan sangat tulus, tapi memang tidak ada cinta dengan tidak di barengi rasa nafsu.
Danu meletakan tubuh Aqilah di atas ranjang, ia langsung memegang kaki Aqilah yang membiru.
"Apa sakit?"
__ADS_1
Aqilah hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Kamu itu habis jatuh masih bisa senyum iya Qi, heran aku kapan bisa melihat kamu mengeluh."
Danu berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan ekspresi yang di tunjukan oleh Aqilah.
"Kalau kamu ingin melihat wanita lemah jangan di diriku Dan, karena aku tidak memiliki sisi itu."
"Iya kamu memang wanita yang sangat berbeda."
"Bajuku masih di kamar mandi Dan."
"Iya sudah bentar aku ambilkan bajumu dulu Qi."
Danu langsung pergi ke arah kamar mandi, ia langsung mengambil baju ganti yang sudah di siapkan oleh Aqilah tadi.
"Ini bajunya, nanti aku panggil tukang urut tetangga sini."
Aqilah mengangguk pelan sambil menerima baju yang di berikan Danu.
"Jangan senyum terus Qi, dari tadi kamu senyum terus pagi-pagi sudah buat aku diebetes."
"Sejak kapan aku memasang wajah cemberut? Sana cepat keluar aku mau ganti baju, entar kalau milikmu berdiri aku tidak akan tanggung jawab, eh iya juga tidak ada istilahnya seorang Danu suka cewek aneh seperti aku, tapi yang jelas pasti kamu normalkan? Walau pun tidak suka pasti memiliki nafsu?"
"Andai saja kamu bukan bosku Qi sudah aku jitak kepala kamu!"
Setelah mengatakan itu Danu langsung keluar dari kamar Aqilah. Aqilah hanya menggelengkan kepalanya melihat wajah menerah Danu yang terkesan malu.
Apa lagi Aqilah tau kalau Danu itu tidak suka di dekati wanita, ia pikir Danu itu tidak memiliki malu saat ia berbicara prontal pada Danu.
Aqilah langsung memakai bajunya sambil melihat kakinya yang membiru menghitam karena jatuh tadi
Setelah selsai memakai baju Aqilah langsung mengambil ponselnya di samping ranjang, ia langsung melihat internet yang mengatakan orang hilang.
"Ucapan macam apa ini Wira."
Di sana di tuliskan Syaqilah istri saya hilang, yang menemukan keberadaannya dan bisa membawa Syakilah dengan selamat akan di berikan uang 300 juta.
"Gila kali iya Wira? Masa aku di hargai 300 juta murah banget, eh tunggu ngapain juga Wira mengatakan aku hilang? Bukan'kah aku pergi bersama Danu, apa lagi baru 2 hari aku keluar dari rumah Atmaja sudah bikin berita orang hilang saja."
Aqilah mengoceh sendiri saat membaca berita itu, ia juga mendapatkan banyak panggilan dari Mahesa dan Mehesa juga mengirimi pesan untuk berhenti bermain-main dengan Wira, lalu menyuruh ia juga untuk segera bercerai dengan Wira yang menurut Mahesa Wira tidak pantas untuk ia maafkan.
Aqilah menghela nafas berat saat membaca pesan dari Mahesa, di tambah lagi pesan dari Daddy yang mengatakan untuk segera bercerai dan Daddy tidak suka memiliki putri yang lemah hanya karena cinta. Deddy kasih kamu waktu 3 bulan, kalau 3 bulan kamu masih ingin bertahan jangan salahkan Daddy kalau Atmaja Grup hanya tinggal nama.
Sekali lagi Aqilah menghela nafas berat setelah membaca pesan dari Daddynya dan sepertinya Daddynya sudah mengetahui segalanya, bisanya Daddynya orang yang memegang teguh janjinya, tapi sekarang Daddy tidak memejang janjinya yang menyuruh sampai 3 tahun, bahkan sekarang 1 tahun saja belum.
__ADS_1