
Memang perkara menolong itu hingga membuat Aqilah berakihir di pindahkan ke luar negri, tepatnya karena Daddynya tidak suka kalau ia bertindak gegabah, saat itu lengannya terluka hingga membuat Daddynya marah dan memutuskan untuk mengirim ia ke luar negri, tapi karena ia meminta waktu 1 minggu untuk bertemu teman baru yang ia tolong, membuat Daddynya memberikan waktu 1 minggu.
"Karena Daddy marah aku bertindak gegabah hingga membuat aku di kirim ke luar negri, tapi aku tidak pernah menyesal telah menolongmu! Namun aku sangat menyesal karena pernah mencintaimu!"
Bukan hanya pernah, tapi perasaan itu masih tetap ada untuk suaminya, tapi ia sadar bagai mana sakitnya saat orang yang di cintai tidak mencintai kita kembali, ia pernah merasakannya saat mencintai suaminya, jadi ia tidak mau kalau Danu merasakan hal yang sama.
Aqilah tau sekarang cintanya sangat salah, ia harus menduakan perasaannya untuk Danu karena masih mencintai suaminya, tapi ia masih terus belajar hingga cintanya seutuhnya untuk Danu.
"Maafkan aku Aqilah, maaf untuk segala rasa sakit yang kamu dapatkan dariku."
Mata Wira memerah saat mendengar ucapan dari istrinya, ia langsung memeluk istrinya dengan sangat erat, tidak peduli walau pun istrinya terus mencoba membrontak.
"Kasih aku kesempatan Aqilah, aku tidak ingin berpisah denganmu, aku sangat mencintaimu, kalau saja dulu aku tau kamu itu adalah Gadis kecilku, mana mungkin aku menyiksamu, bahkan tanpa kamu suruh untuk meninggalkan Alexsa saja aku akan meninggalkan Alexsa. Kamu adalah Gadis yang sangat berarti dalam hidupku Aqilah."
"Lepas Wira! Tanganku sakit, apa kamu ingin membunuhku?!"
Wira memang sengaja memeluk istrinya dengan ke dua istrinya ia tahan dengan ke dua tangannya agar tidak membrontak, hingga ia lupa kalau lengan istrinya terluka.
"Maafkan aku, aku lupa sayang."
Wira langsung melepaskan pelukannya pada istrinya, lalu ia langsung mengecup kening istrinya sekilas.
"Aku sangat mencintaimu Aqilah."
"Ciuh! Makan tuh cinta!"
Wira menghela napas berat saat melihat istrinya mengusap-usap keningnya sendiri karena bekas di kecup olehnya, seolah-olah istrinya sangat jijik dengannya.
"Aku serius kalau aku sangat mencintaimu Aqilah...!"
"Dan aku juga serius kalau aku mencintai Danu, Wira...!! Kenapa kamu tega merebok kertas itu?! Kenapa kamu tidak membiarkan aku bahagia dengan Danu? Kata kamu tadi kamu cinta, tapi cintamu itu egois Wira!!"
Aqilah berbicara sambil menujuk kertas-kertas yang di robek oleh suaminya tadi, ia kesal dan marah saat suaminya dengan seenaknya memeluk dan mencium keningnya.
Rika menghela napas kasar saat melihat menantunya sangat emosi, ia melihat ke arah putranya yang sedang menatap menantunya dengan perasaan kecewa.
"Lepaskan Wira, pernikahan kalian memang tidak sehat dari awal, lebih baik kalian akhiri saja pernikahan kalian."
Menurut Rika pernikahan putranya memang tidak sehat dari awal, dari menantunya seperti orang gila terus mengejar-ngejar putranya dan berakhir di siksa, putranya terus mempertahankan Alexsa kekasihnya, lalu sekarang saat putranya mencintai Aqilah, Aqilah mencintai lelaki lain, jadi menurut ia melepaskan pernikahan adalah cara satu-satunya untuk jalan keluar mereka.
"Mama pikir Wira akan mudah melepaskan Aqilah?! Aqilah itu Gadis kecil Wira dan hanya milik Wira Ma!"
__ADS_1
Rika menghela napas berat, ia jadi bingung sendiri kalau putranya sudah berbicara dengan nada berteriak, sifat putranya sama seperti almarhum suaminya, sangat keras kepala.
"Aku bukan milik kamu Wira!"
Dret... Dret...
Suara telpon membuat mereka beralih melihat ke arah tas Aqilah. Aqilah langsung mengangkat telpon dari Sinta.
"Selamat sore Nona Vero."
"Iya sore, ada apa?"
"Saya tidak sengaja bertemu dengan tuan Kenzi, atau memang bawahnya sengaja mencari saya, tuan Kenzi ingin bertemu dengan Nona dan ingin minta maaf, tapi Nona tidak perlu kuatir, identitas Nona masih aman, tuan Kenzi hanya tau kalau saya memiliki hubungan baik dengan Nona."
"Urusan saya dengan si brengsek belum selsai, katakan pada Kenzi, saya tidak sudi bertemu dengan lelaki yang sudah membahayakan nyawa saya, tanggung saja sendiri perusahannya yang akan bangkrut dalam hitungan beberapa hari ini!"
"Biak Nona, selamat sore."
"Iya sore."
Setelah memutuskan sambungan telponnya Aqilah langsung memasukan ponselnya ke dalam tasnya lagi.
"Aku akan membuat surat persetujuan cerai kita besok Wira."
"Aku akan pergi dulu."
Baru juga satu langkah tangan Aqilah sudah di cekal oleh Wira.
"Kamu tidak boleh pergi Aqilah! Kamu hanya akan tetap menjadi istriku!"
Setelah mengatakan itu tangan kanan Wira langsung mencekal ke dua tangan istrinya dan mengangkat tubuh istrinya untuk menaiki tangga.
Sedangkan Aldo baru saja sampai ke rumah Wira, ia menghela nafas berat saat melihat adegan itu, sudah ia duga kalau Aqilah tidak akan mudah lepas dari Wira dan sudah ia duga kalau rumah tangga mereka akan semakin rumit.
"Lepaskan aku bajingan! Kamu jangan seenaknya melakukan ini Wira!"
Wira tidak peduli, ia terus saja membawa istrinya ke arah kamar, setelah sampai kamar ia menurunkan istrinya di atas ranjang dan buru-buru ke arah pintu, ia langsung mengunci pintu kamarnya, lalu langsung mencabut kuncinya.
Aqilah langsung berjalan ke arah suaminya dengan mata menatap tajam pada suaminya.
"Berikan kuncinya Wira! Kamu jangan bersikap kanak-kanakan dan jangan menunggu ke dua tanganku ini melayangkan pukulan!"
__ADS_1
Wira berjalan mundur mendekati jendela kamar yang terbuka saat istrinya terus saja berjalan maju ke arahnya.
"Kamu menginginkan ini Gadis kecilku?"
Wira bertanya sambil menujukan kunci yang di genggamnya dan sambil tersenyum menyeringai ke arah istrinya.
"Aku bukan Gadis kecilmu! Aku sudah dewasa!!"
Aqilah menjawab ucapan suaminya sambil berteriak marah saat melihat senyuman mengejek dari suaminya, ia merasa pirasatnya sudah tidak enak.
Aqilah masih terus berjalan maju ke arah suaminya, tapi betapa terkejutnya ia saat melihat suaminya melempar kunci itu keluar jendela.
"Wira! Kamu gila melempar kunci itu?!"
Aqilah menatap ke arah kunci yang jatuh di rumput-rumput halaman rumah sambil menghela nafas berat.
Wira mengelus rambut istrinya yang sedang menundukan kepalanya menatap kunci yang ia lempar.
"Ini cara satu-satunya agar kamu tidak pergi sayang."
Sebenarnya Wira memiliki banyak setok kunci kamar di ruangan kerjanya, tapi jika kunci dari luar yang memiliki kunci cadangan kamarnya hanya Aldo. Aqilah menghela napas berat sambil membalikan tubuhnya ke arah Wira.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan Wira?!"
"Menginginkanmu tetap menjadi Aqilah masa kecilku, menemaniku dan hidup bersamaku untuk selamanya.
"Jangan bermimpi Wira!"
Aqilah langsung melayangkan pukulan pada perut suaminya.
Bugk...!
"Kamu yang mengikis habis kesabaranku Wira! Dan itu balasan untukmu!"
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung mencari tali untuk ia turun dari jendela, ia tidak mungkin loncat dari lantai 4 ke arah lantai 1, nyawanya bisa melayang kalau sampai itu terjadi.
Wira hanya tersenyum lebar sambil memagangi perut bekas di pukul oleh istrinya, ia suka saat melihat istrinya menujukan sifat beraninya lagi, selama menikah istrinya selalu saja berpura-pura lemah dan pasrah saat ia memukul atau mencambuk istrinya, tapi kali ini Aqilah Gadis kecilnya telah kembali.
"Ah! Kenapa tidak ada tali!"
Aqilah berbicara sambil mengacak-acak rambutnya purutasi.
__ADS_1
"Tidak ada apa pun Aqilah, aku bukan lelaki bodoh!"