
Walau pun Wira hanya mengenal istrinya 1 Minggu, ia tau sifat istrinya seperti apa, jadi ia sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang, ia tidak akan pernah membiarkan istrinya pergi untuk ke dua kalinya. Cukup sekali Wira di tinggalkan istrinya dan itu tidak akan terjadi lagi.
Setelah lelah mencari tali di semua laci Aqilah langsung melihat ke arah suaminya dengan mata menatap tajam.
"Di mana kuncinya Wira?! Cepat berikan, aku tidak ingin bermain-main!"
"Bukan'kah kuncinya sudah aku lempar sayang."
Wira menjawab ucapan istrinya sambil mengusap lembut pipi istrinya yang langsung di tepis oleh istrinya.
"Jangan menyentuhku brengsek! Aku yakin kamu masih memiliki kunci cadangan, kalau tidak memiliki kunci cadangan mana mungkin kamu melempar kunci itu!"
"Aku tidak memilikinya sayang."
"Cuih! Menjijikan, jangan memanggilku dengan panggilan sayang bodoh!"
"Yang kamu katakan memang benar kalau aku bodoh, kalau tidak bodoh mana mungkin aku tidak tau kalau kamu adalah dia, Gadis kecilku."
"Jangan memanggil aku Gadis kecil, mendengarnya pun sangat menjinikan!"
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung berjalan ke arah pintu di ikuti oleh suaminya. Aqilah langsung menendang pintu dengan sangat kencang berkali-kali.
Brukkk...!!
Brukkk...!!
Brukkk...!!
"Jangan gila Aqilah, kakimu bisa terluka!"
Wira langsung menarik istrinya saat istrinya akan menendang pintu lagi, ia langsung memeluk istrinya.
"Tetaplah bersamaku Aqilah, tetap di sini, aku tidak mau kamu meninggalkanku lagi, dulu kamu pergi, lalu setelah menjadi istriku kamu masih mau pergi lagi. Kenapa Aqilah? Kenapa tidak memberikan aku kesempatan ke dua?"
Aqilah langsung melepaskan pelukan dari suaminya.
"Karena kamu tidak pantas untuk aku berikan kesempatan ke dua."
__ADS_1
"Apa karena Danu hingga kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan ke dua?"
"Iya, aku tidak bisa berpisah denganya."
"Kamu pasti bisa melupakan Danu dengan berjalannya waktu Aqilah, tinggal kamu berusaha untuk tidak mengingatnya lagi dan buang impian kamu yang mau menikah bersama Danu."
"Tidak bisa Wira! Aku mencintainya!"
Aqilah langsung berjalan ke arah jendela, ia menatap nanar mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan raya, terlihat dengan jalas dari jendela kamar suaminya, tapi tiba-tiba saja ponsel Aqilah bergetar.
Dret... Dret....
Aqilah langsung mengambil ponselnya, ia tersenyum saat tau yang menelponnya adalah Danu, tapi setelah di angkat suaminya langsung mengambil ponsel miliknya.
"Aku sudah bilang kalau kamu harus belajar melupakan Danu, bukan mengangkat telpon dari Danu Aqilah!"
Setelah mengatakan itu Wira langsung berbicara pada Danu.
"Jangan pernah menghubungi istriku lagi bajingan! Dan jangan berharap kalau kamu bisa menikahi istriku!"
Setelah mengatakan itu Wira langsung melempar ponsel istrinya ke tembok
"Wira...!"
Aqilah langsung lari ke arah ponselnya, ia terduduk sambil menggenggam kuat ponsel itu dengan posisi tangan yang di letakan di dada, air matanya langsung mengalir deras.
"Kenapa kamu mengganti nomermu Aqilah?! Sampai-sampai aku sulit menghubungimu, tapi Danu yang bukan suamimu tau nomer kamu...!"
Aqilah tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, tubuhnya bergetar masih sambil meneteskan air mata, ponsel itu adalah satu-satunya kenangan kado terakhir yang di berikan oleh Mommynya, di ponsel itu ada banyak kenangan bersama Mommynya, dari foto-foto, video dan lagu Mommynya.
Walau pun yang lainnya sudah di simpan di flshdiks, tapi ponsel itu adalah kado saat usia 5 tahun, jadi ponsel itu sangat berarti untuk Aqilah.
Wira langsung mendekati istrinya, ia sangat terkejut saat melihat istrinya memeluk ponsel sambil menangis dan tubuhnya gemetar.
"Aqilah, kamu kenapa?"
Wira bertanya sambil memegang ke dua bahu istrinya yang langsung di tepis oleh istrinya.
__ADS_1
"Tolong jangan menyentuhku, kamu jahat."
Wira bisa mendengar suara istrinya yang sangat lirih, ia menjadi kecewa saat istrinya bisa menangis, dan ia yakin kalau ponsel itu bisa saja dari Danu sebelum ia menikahi istrinya.
"Aku akan belikan ponsel yang kamu inginkan jadi jangan menangis karena hal yang sepele Aqilah!"
Aqilah menatap mata suaminya dengan perasaan kecewa saat mendengar ucapan dari suaminya.
"Kamu bilang sepele?! Ponsel ini sangat berarti dalam hidupku, ponsel ini kado terakhir yang di berikan Mommy sebelum Mommy meninggalkanku, kamu bilang sepele Wir?! Kamu gampang sekali mengatakan itu terhadapku, apa kamu masih ingat saat aku baru memasuki kamarmu dan aku tidak sengaja menyenggol fotomu bersama Alexsa, lalu kamu memarahiku habis-habisan dan mengataiku bodoh! Kamu juga bilang kalau foto itu sangat berharga, jelas-jelas Alexsa masih hidup! Kamu tau aku berusaha menjaga ponsel ini agar masih tetap bagus, aku tidak mau ada satu pun yang di rubah dari ponsel ini."
Hati Aqilah sangat sakit saat mendengar ucapan dari suaminya, ia seharusnya tidak pernah mencintai lelaki keras kepala seperti suaminya, entah suaminya tidak mencintai atau mencintai, suaminya sangat lah keras kepala.
Pada akhirnya Aqilah menujukan kesedihannya pada orang lain selain Danu, hanya saja permasalahannya sangat berbeda, kalau dengan Danu, ia cengeng setiap kali Danu mengatakan isi hati Danu, karena ia juga pernah sakit hati saat cintanya tidak pernah di hargai, jadi ia bisa menangis setiap kali Danu mengatakan tentang isi hatinya.
Sedangkan sekarang Aqilah menangis karena masalah ponsel di depan suaminya, karena ponsel itu sangat berharga dalam hidupnya.
Nyatanya Aqilah tidak bisa berjanji pada Mommynya untuk selalu menangis hanya di depan Daddynya, tanpa di depan Daddynya ia tidak boleh menangis, tapi ia tidak setegar itu saat sudah menyangkut perasaan hati.
Wira menghela nafas berat, ia merasa sangat bersalah saat tau kalau ponsel itu adalah kado terakhir dari Mommy istrinya, tadi ia terlalu emosi saat melihat senyuman istrinya untuk lelaki lain.
"Maafkan aku Aqilah, aku tidak tau kalau itu adalah ponsel pemberian dari Mommymu, tolong maafkan aku."
"Kata maaf tidak akan membuat ponselku kembali seperti semula, aku sangat kecewa sama kamu Wira, aku juga benci pada diriku sendiri, kenapa aku pernah mencintai lelaki sepertimu, seharusnya aku dari dulu hanya mencintai Danu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Aku benci menjadi wanita bodoh selama ini, bodoh karena aku mencintaimu dan terus menyakiti hati lelaki yang tulus mencintaiku!"
"Tolong maafkan aku Aqilah."
Wira minta maaf sambil menghapus air mata istrinya dengan ke dua ibu jarinya, hatinya sangat sakit saat melihat istrinya menangis dan ini lebih sakit dari pada melihat Alexsa menangis dulu.
Wira memang merasakan sakit saat melihat Alexsa menangis dulu, tapi tidak seperti saat ia melihat istrinya menangis, hatinya sangat sakit seperti tertusuk ribuan belati.
Aqilah hanya menggelengkan kepalanya, perlakuan suaminya sekarang tidak bisa ia maafkan, soal kekerasan saja ia masih tidak bisa memaafkan, apa lagi sekarang menyangkut keluarga, ia sudah tidak bisa memaafkan orang itu.
"Tolong buka pintunya Wira, aku tidak mau tinggal di neraka lagi."
"Itu tidak akan terjadi lagi, kamu tidak akan hidup seperti di neraka, kamu boleh melakukan apa pun di rumah ini, asalkan jangan meninggalkanku."
"Aki tidak bisa bersamamu lagi Wira, kita harus akhiri pernikahan yang sudah tidak sehat ini. Apa lagi yang Mama katakan itu memang benar, pernikahan kita tidak sehat dari awal, lebih baik kita akhiri."
__ADS_1
"Aku tidak bisa Aqilah, kamu akan tetap menjadi istriku sampa kapan pun."