Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 79 Obat tidur


__ADS_3

Aqilah masih menggengam vas bunga, ia juga berkali-kali menghela napas berat, ia merasa berurusan dengan suaminya sama sekali tidak memiliki ujung yang baik, rasanya ia ingin sekali memukuli suaminya, tapi ia berkali-kali ia tahan.


"Kamu gila Wira!"


"Sudah aku katakan kalau aku memang gila, memang apa salahnya kalau aku ingin memiliki wanita yang aku cinta, bukan'kah itu sama seperti kamu?! Kamu juga ingin memilikiku hingga melakukan banyak cara, lalu apa aku salah melakukan banyak cara agar aku bisa mendapatkan cinta dari kamu kembali?!"


"Jelas kamu salah Wira! Aku mencintai Danu!"


"Kamu yang salah Aqilah, kamu mencintai lelaki lain sedangkan kamu masih bersetatus istriku."


"Sudah aku katakan kalau aku ingin bercerai denganmu Wira!"


"Sudah aku katakan juga kalau aku tidak akan pernah menceraikanmu!"


Tanpa berbicara lagi Aqilh langsung melempar vas bunga itu ke arah pintu balkon.


Bruk..,!


Crak..!


Pintu balkon itu hanya retak, tapi vas bunga itu pecah. Wira menghela napas kasar saat melihat vas bunga itu hancur, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk memarahi istrinya karena istrinya lebih berharga dari pada vas bunga.


"Sial! Kenapa hanya vas bunganya saja yang pecah, ah dasar!"


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung berjalan ke arah samping lemari, ia mengambil pemukul, untuk memukul pintu kaca lagi, ia merasa bukan hanya seperti tawanan, tapi ia merasa seperti orang gila yang terus sajs merusak semua barang di rumah.


"Apa yang akan kamu lakukan lagi Aqilah?!"


"Tentu memukul pintu kaca."


"Jangan aneh-aneh Aqilah! Kakimu bisa terluka kalau menginjak pecahan vas bunga, pakai sendalmu, jangan sampai kakimu itu terluka."

__ADS_1


"Ciuh! So perhatian, bukan'kah dulu kamu sering mencambukku, menamparku, menjambak rambutku, menggoreskan pisau di lenganku, jadi tidak perlu so perhatian, aku tidak suka dengan lelaki sepertimu yang so perhatian, tapi nyatanya dulu kamu penganiyaya!"


Setelah mengatakan itu Aqilah berjalan ke arah pintu balkon sambil membawa pemukul, ia tidak peduli dengan kakinya, dan tidak peduli juga dengan lengan tangannya yang sudah terasa sakit karena banyak bergerak.


Apa lagi Aqilah tau kalau lukanya itu tidak boleh banyak bergerak, tapi ia tidak peduli itu yang terpenting ia keluar dari kamar suaminya terlebih dahulu.


Wira langsung mengambil jarum suntik di laci, lalu langsung berjalan pelan ke arah istrinya sambil membawa jarum suntik yang sudah di beri obat tidur. Wira langsung memeluk istrinya dari belakang lalu langsung menyuntukan obat tidur itu ke lengan kanan istrinya.


"Wira!"


Aqilah berteriak saat jarum suntik menusuk lengannya.


"Kamu gila Wira!"


Tanpa pikir panjang Aqilah langsung memukul suaminya dengan pukulan yang ia genggam, tapi dengan sigap suaminya menahan tangannya hingga pandangannya mulai kabur.


"Maaf Aqilah, cukup dulu aku melukaimu, tapi kali ini tidak akan aku biarkan tubuhmu terluka karena hal gilamu!"


"Maafkan aku yang selalu bersikap egois Aqilah, aku janji tidak akan membuat kamu terluka lagi mau hati atau pisikmu."


Setelah mengatakan itu Wira mengecup kening istrinya sekilas, lalu ia langsung berjalan ke arah tempat kerjanya untuk menyuruh pelayan membersihkan pecahan kaca.


"Bi Ira, tolong bersihkan vas bunga pecah di depan pintu balkon."


"Baik tuan."


Bi Ira langsung membawa sapu dan pengki mengikuti Wira. Wira mengambil jarum suntik yang terjatuh tadi, lalu langsung ia simpan di laci, setelah itu langsung duduk di sofa. Bi Ira membersihkan vas bunga sambil menghela napas pelan saat melihat Wira mengambil jarum suntik di lantai


Sesekali bi Ira juga melihat ke arah ranjang, ia melihat Aqilah tertidur pulas di sana, entah apa yang Wira lakukan pada Aqilah, yang jelas ia sangat kasihan melihat Aqilah selalu di perlakukan semena-mena oleh Wira.


Dari Wira membenci Aqilah mau pun sekarang saat Wira mencintai Aqilah, Wira tetap melakukan semena-mena menurut bi Ira.

__ADS_1


"Apa Tuan itu seorang iblis? Sekali pun tidak memiliki rasa iba terhadap nyonya. Nyonya selalu saja di perlakukan buruk oleh tuan." batin bi Ira


Setelah membereskan pecahan vas bunga, bi Ira langsung pergi lagi ke tempat semula dengan perasaan tidak enak, ia tidak mengerti kenapa Aqilah sangat mencintai Wira, jelas-jelas Wira sangat egois.


"Nyonya sudah cantik, baik, ramah, dan pintar, tapi kenapa mencintai tuan, tuan lelaki kasar dan semena-mena, kenapa bisa mencintai lelaki seperti itu, lelaki yang tidak memiliki belas kasih." batin bi Ira


Setelah bi Ira pergi Wira langaung berjalan ke arah ranjang, ia langsung membaringkan tubuhnya di sana sambil memeluk istrinya.


"Aku mencintaimu Aqilah, apa kamu tidak mengerti juga kalau aku ini serius ingin beraamamu, tapi kamu selalu saja menolakku."


Wira mengecup kening, ke dua mata, hidung, dan ke dua pipi termasuk bibir istrinya.


"Maafkan aku Aqilah."


Untuk ke sekian kalinya Wira minta maaf pada istrinya, ia merasa tidak tega saat melihat istrinya tertidur pulas karena ulahnya.


Namun di sisi lain Wira juga tidak ingin istrinya terluka, sudah cukup dulu istrinya selalu terluka karena ulahnya, tapi kali ini ia tidak ingin k5elihat istrinya terluka lagi.


Wira yang memeluk istrinya, ia bingung dengan pikiranya yang sedang herpikir licik, ia bingung apa'kah ia harus melakukan making love di saat istrinya tertidur agar istrinya hamil, atau ia memperjuangkan cinta istrinya terlebih dahulu baru merencanakan tentang kehamilan.


Pikiran itu membuat Wira pusing sendiri, kalau ia melakukan itu ia takut Aqilah semakin membencinya, tapi kalsu ia tidak melakukan itu, ini adalah kesempatan untuk ia mendapatkan istri sepenuhnya.


Namun pikiran itu sama sekali tidak Wira lakukan, ia takut istrinya nanti semakin membencinya, ia tidak mau sampai itu terjadi, jadi ia nemutuskan untuk tidak melakukan apa pun pada istrinya.


Perut Wira merasakan sangat lapar, dari kemarin ia tidak makab4, dan pagi-pagi bukannya mendapat sarapan, tapi sudah mendapat ancaman bertubi-tubi dari istrinya hingga ia tidak habis pikir kalau istrinya memiliki banyak cara agar bisa lepas darinya.


Namun Wira bukan lelaki bodoh, ia sudah menyiapkan segalanya agar istrinya tetap di sampingnya dan tidak kabur lagi darinya.


Sudah cukup istrinya kabur hingga hampir 1 bulan, tapi kali ini Wira tidak akan membiarkan istrinya kabur untuk yang ke dua kalinya karena ia tidak mau kehilangan istrinya untuk yang ke dua kalinya.


"Aqilah, cintaku dan cintamu itu sama-sama egois, kita sama-sama ingin memiliki, tapi kenapa kamu tidak memberikan kesempatan ke dua? Kamu juga pernah mengalaminya kalau cintamu itu egois, kamu selalu melakukan berbagai cara untuk mendapatkanku, jadi apa aku salah kalau aku melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cintamu? Bukan'kah aku juga boleh melakukan banyak cara agar aku selalu bisa bersamamu Aqilah? Aku adalah suamimu, aku memiliki hak lebih dari Danu. Danu hanya kekasihmu dan status Danu tidak akan pernah berubah, Danu tetap akan menjadi kekasihmu, bukan suamimu Aqilah, karena sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu."

__ADS_1


__ADS_2