
Setelah sarapan dan obat-obatan yang di minta Aqilah juga sudah datang kini mereka baru akan berjalan ke kampung Danu.
"Aku saja yang menyetir, ini tulus mapnya, nanti kamu baru yang nyetir saat sudah masuk mau ke perkampungan."
"Tidak perlu, aku saja yang menyetir."
"Kamu itu mengantuk, kamu lebih baik istirahat dulu, nanti baru gantian kamu yang menyetir setelah tidur."
"Tapi kamu tidak bisa menyetir mobil sendiri."
Danu tau kalau Aqilah jarang membawa mobil, kalau pun Aqilah tidak di antar Kenan, ia akan di antar Sinta, kalau tidak dengan mereka berdua, Aqilah memilih naik taksi, jadi ia tau kalau Aqilah jarang membawa mobil.
"Tidak apa-apa."
Dengan terpaksa Danu langsung menulis map di ponsel Aqilah lalu langsung masuk ke dalam bangku penumpang depan.
"Pelan-pelan saja bawa mobilnya."
"Iya."
Aqilah langsung melajukan mobilnya ke arah tempat yang sudah ada di map sambil memutarkan musik milik milik sang Mommy.
Setelah perjalan 30 menit, tiba-tiba saja Aqilah menerima pesan.
Dret...
Aqilah langsung membuka pesan dengan tangan kirinya.
Kapan pulang nak?
Itu lah pesan yang di trima oleh Aqilah dari Bagas. Bagas memang mengetahui ke dua nomer Aqilah.
Aqilah sama sekali tidak berniat membalas pesan itu. Aqilah terus saja fokus ke arah jalan, entah kenapa bayangannya itu ke arah masa lalu bersama Wira saat kecil.
Flashback on
Aqilah saat itu masih berusia 8 tahun, ia sudah bisa sedikit demi sedikit seni bela diri saat itu.
Saat Aqilah kabur dari mansion lari ke arah jalanan sepi, ia melihat anak kecil lelaki yang sedang di panggul oleh ke dua preman saat itu.
Aqilah mengikuti pereman itu dengan cara mengendap-endap, saat Wira melihat Aqilah, Aqilah langsung mengisyaratkan dengan tangannya agar Wira tidak bersuara hingga ia berhenti di bawah pohon-pohon menatap Wira yang di bawa masuk ke rumah kosong.
Aqilah diam di bawah pohon, ia menunggu ke dua preman itu keluar dari rumah kosong.
Setelah ke dua preman itu sudah benar-benar keluar, Aqilah masuk dengan mengendap-endap, ia langsung melepaskan ikatan tangan Wira
"Kenapa kamu ada di sini? Ini bahaya buat kamu."
"Sssttt... Diam, ayo kita cepat kabur dari sini."
Aqilah langsung menarik tangan Wira ke luar, tapi naas di luar sudah ada ke dua preman yang akan masuk.
"Wow Gadis kecil kamu berani sekali menyelusup ke tempat ini untuk menyelamatkan tawananku!"
"Dia bukan tawananmu!"
"Ayo tangkap mereka berdua!"
__ADS_1
Satu pereman itu langsung mengajak preman yang satunya.
Aqilah tidak melepaskan genggaman tangannya pada lelaki kecil itu, ia langsung maju dan menendang pusat inti milik salah satu preman itu.
"Ajing! Kecil-kecil kamu berani juga!"
Lelaki itu maju ke arah Aqilah, Aqilah melepaskan genggaman tangannya untuk melawan preman itu.
"Cepat kamu kabur! Jangan pedulikan aku!"
Sebelum melawan Aqilah berteriak pada Wira yang di jawab hanya dengan gelengan kepala dengan mata yang sudah memerah.
Aqilah langsung mulai berkelahi dengan salah satu pereman itu hingga preman itu tumbang dalam waktu beberapa menit, tapi sayang ia kecolongan hingga salah satu preman itu hampir menusuk pinggangnya.
"Awas!"
Wira berteriak kencang hingga Aqilah langsung menghindarinya, tapi naas tangan bawah bahu miliknya itu tertusuk pisau, pisau itu nacab di tangan Aqilah.
"Is sialan kamu!"
Aqilah sambil memegang lengan yang tertusuk pisau ia melawan kembali pereman itu hingga ke dua preman itu sama-sama tumbang.
Setelah itu tangan kiri Aqilah menggenggam tangan Wira, ia langsung mengajak lari Wira dari sana dengan tangan kanan yang masih memegangi pisau di lengannya hingga mereka bisa menemukan jalan keluar dari sana.
Aqilah menghentikan langkah kakinya di bawah pohon, ia sudah lelah dengan nafas terengah-engah dan rasa nyeri di lengannya, darahnya sudah mengalir dari tadi.
"Ayo kita ke rumah sakit, aku gendong."
Wira langsung berjongkok untuk mengajak Aqilah ke rumah sakit.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja."
"Boleh aku meminta syalmu?"
"Oh iya ini ambil."
Wira memberikan syal pada Aqilah. Aqilah langsung mengambil syal itu, ia juga mengambil obat tabur pereda nyeri di saku calananya, lalu langsung mengoleskannya tanpa meringis sama sekali.
Bahkan yang meringis merasakan sakit adalah Wira, ia berkali-kali menggigit bibir bawahnya.
Setelah selsai Aqilah meminta Wira untuk mengikat lengan yang luka dengan syal milik Wira.
"Tolong ikat."
"Iya."
Wira mulai mengikat syal itu dengan perlahan, ia takut Aqilah merasakan sakit.
"Yang kencang, kalau tidak kencang percuma darahnya masih keluar."
"Iya-iya."
Wira langsung mengikat kembali lengan Aqilah dengan sangat kencang.
"Maaf ini karena aku dan terima kasih sudah menolongku."
"Aku baik-baik saja, sesama manusia harus saling tolong-menolong itu yang selalu di katakan Mommy dan Daddy."
__ADS_1
"Kenalkan nama aku Qilah."
Aqilah mengulurkan tangan pada Wira dan langsung di jabat oleh Wira.
"Aku Wira, kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak perlu aku baik-baik saja, kamu bisa'kan pulang sendiri dari sini? Aku sudah tidak bisa mengantarmu lagi."
"Iya tidak apa-apa, tapi kamu yakin tidak apa-apa? Aku bisa membawamu ke rumah sakit nanti aku meminjam ponsel rumah sakit untuk menghubungi orang tuamu."
"Aku baik-baik saja."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung berjalan untuk pulang, baru 3 langkah Wira sudah berteriak.
"Apa kita bisa menjadi teman?!"
Aqilah langsung membalikan badannya sambil tersenyum lebar.
"Iya boleh kita bisa menjadi teman! Besok kita bertemu di sini jam 10 pagi!"
"Oke, aku tunggu! Hati-hati Qilah!"
Wira berbicara sambil melambaykan tangan pada Aqilah yang hanya di jawab dengan anggukan kepala lalu pergi.
Esok harinya mereka berdua bertemu di tempat yang sudah di janjikan, ke duanya sama-sama datang sendiri.
Dari situ lah mereka semakin dekat hingga 6 hari mereka selalu bermain tidak jauh di tempat bertemu mereka memang ada sebuah danau, di samping danau itu mereka bercerita dan tertawa.
"Wira, lusa aku harus pergi ke luar negri."
"Kenapa?"
"Aku dapat hukuman dari Daddy, aku harus pergi ke luar negri dan melanjutkan pendidikanku di sana."
"Kapan kamu kembali ke Indonesia?"
"Aku kurang tau, dan aku tidak tau berapa lama aku di hukum oleh Daddy."
"Besok kita masih bisa bertemu di sini?"
"Iya besok terakhir kita bisa bertemu di sini."
Setelah mengatakan itu mereka pulang ke rumah masing-masing, keesokan harinya mereka bertemu lagi di tempat itu.
Wira yang sudah mengambil beberapa foto bersama Aqilah di ponselnya, ia langsung membuat dua kalung yang memiliki bandul love di depannya ada tulisan WiQi.
"Ini untuk kamu Qilah, aku juga sudah memakainya, di dalamnya ada foto kita, sini aku pakaikan."
Aqilah mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.
Wira langsung memakaikan kalung itu ke leher Aqilah.
"Nanti kalau kita bertemu lagi kita akan ingat oleh kalung ini, ingat iya kita tidak boleh menghilangkan kalung ini."
"Iya Wira."
Flash back off
__ADS_1
Aqilah menghela nafas berat saat mengingat kejadian masa kecilnya bersama Wira.