
Walau pun hati Danu begitu sakit, tapi ia tetap menampilkan senyum pada Aqilah untuk menutupi rasa sakit di hatinya.
Danu sangat sadar kalau ia dan Aqilah memang tidak akan pernah bisa bersama, alasan pertama karena Aqilah tidak mungkin menyukainya, alasan ke dua Aqilah adalah pewaris satu-satunya dari keluarga Anderson, tentu saja Albet tidak akan mencari menantu sembarangan untuk putri satu-satunya itu.
"Kamu kenapa Dan?"
Walau pun Danu tersenyum menatap Aqilah, tapi Aqilah bisa tau kalau senyuman Danu itu berbeda dari biasanya.
"Tidak apa-apa Qi."
Aqilah langsung menggenggam tangan kanan Danu dengan raut wajah bingung.
"Dan, kalau memang ada sesuatu yang ingin kamu katakan tolong katakan, aku ini sahabatmu, bukan atasanmu, aku tau kamu memiliki sesuatu yang kamu sembunyikan."
"Tidak ada Syaqilah."
Danu berbicara dengan tangan kirinya mengelua kepala Aqilah sambil tersenyum lebar.
Sekali lagi Danu harus terjatuh saat mencintai Aqilah, walau pun sekarang ia merasa bahagia karena Aqilah ada di sampingnya, tapi tetap saja nyatanya ia tidak bisa memiliki Aqilah.
Aqilah menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari Danu, ia menunduk untuk beberapa saat.
"Kenapa wajah Danu mendadak murung? Apa Danu mencintaiku? Tapi tidak mungkin kalau Danu mencintaiku, Danu lelaki yang tidak suka di dekati wanita." batin Aqilah
"Memangnya tuan menjodohkanmu dengan siapa Qi?"
Danu bertanya bukan sekedar ingin tau, tapi ia ingin mencari tau latar belakang lelaki yang akan di jodohkan dengan Aqilah dan memastikan kalau lelaki itu pantas untuk Aqilah.
Cukup masalah Wira Danu tidak ikut campur tangan, sekarang ia akan ikut campur tangan, ia tidak mau wanita yang ia cintai jatuh pada lelaki yang salah seperti sikap Wira.
"Aku tidak tau, mungkin aku di jodohkan lagi dengan Mahesa, apa lagi kedekatan kita sudah beredar di internet walau pun sudah di hapus oleh Mahesa."
Danu menghela nafas lega saat mendengar jawaban dari Aqilah. Danu seorang lelaki, ia tau kalau Mahesa juga mencintai Aqilah seperti ia.
"Syukurlah kalau memang kamu mau di jodohkan bersama Mahesa."
"Itu hanya jawaban sementara Dan, aku juga tidak tau pasti tentang itu, kalau memang benar aku akan di jodohkan dengan Mahesa, rasanya aku ingin mengakhiri saja hidupku. Mahesa memang lelaki yang baik, tapi aku tidak memiliki perasaan dengannya dan kalau sampai aku menerimanya lalu bagai mana dengan making love? Aku tidak bisa menolak karena dia adalah sahabatku, kalau aku melakukannya jelas hatiku tidak mau. Mahesa bukan lelaki polos, ia sudah sering melakukannya dulu bersama Alexsa, aku tidak mau menikahi bekas nenek lampir itu."
__ADS_1
Danu hanya tersenyum lebar saat mendengar ucapan panjang dari Aqilah, ternyata Aqilah masih sama, masih menolak memiliki hubungan dengan Mahesa.
"Dan, sebenarnya kamu tadi kenapa?"
Danu menggelengkan kepalanya untuk ke dua kakinya saat mendengar pertanyaan dari Aqilah hingga membuat Aqilah menghela nafas berat.
Aqilah langsung memeluk Danu dengan sangat erat, ia membiarkan Danu menenangkan dirinya yang sama sekali tidak ia pahami hati Danu.
Aqilah memang pintar dalam hal apa pun, tapi ia tidak bisa menebak hati sesaorang seperti apa.
Apa lagi semejak Danu tau identitasnya, ia merasa kalau Danu menjauhinya, andai'kan saja ia belum menjadi penerus Daddynya, mungkin ia akan terus menyembunyikan identitasnya.
"Kamu tau Dan? Kamu adalah orang pertama yang tau perihal rumah tanggaku, itu artinya aku sangat menganggapmu sebagai sahabat terbaikku, tapi kenapa kamu tidak bisa terbuka denganku? Aku sahabatmu, aku bukan atasanmu, kamu mengerti itu'kan?"
Danu juga membalas pelukan dari Aqilah, pelukan yang mungkin tidak akan Danu dapatkan lagi setelah Aqilah pulang dari rumahnya.
Mungkin Danu tidak bisa melihat senyuman Aqilah lagi kalau sampai perjodohan itu terjadi karena ia harus menjaga jarak lagi dengan Aqilah seperti dulu.
"Aku baik-baik saja Qi, aku sama sekali tidak memiliki masalah sedikit pun."
Aqilah semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik Danu sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau ia memang tau Danu tidak baik-baik saja.
"Kamu tidak sakit, tapi kenapa detak jantungmu berdetak lebih cepat Dan? Atau jangan-jangan kamu selama ini sakit?"
Wajah Aqilah menujukan wajah kuatir terhadap Danu dan tatapan matanya sangat layu.
"Aku baik-baik saja Qi."
Danu menjawab ucapan dari Aqilah sambil mengelus kepala Aqilah, ia senang saat wanita yang ia cintai sangat kuatir padanya, walau pun ia tau kalau Aqilah mungkin hanya perhatian sebagai seorang sabat, dan ia juga bersyukur karena Aqilah tidak mengerti arti dari jantungnya yang berdetak lebih cepat.
Rasanya Aqilah ingin sekali memukul Danu yang bilang baik-baik saja, apa sesulit itu untuk jujur pada ia membuat ia semakin penasaran apa yang Danu sembunyikan darinya.
"Baiklah terserah kamu saja Danu."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Danu yang masih duduk di atas ranjangnya.
Aqilah merasa kecewa saat Danu masih menganggapnya sebagai orang asing dalam kehidupan Danu.
__ADS_1
Danu yang melihat Aqilah, ia menghela nafas berat karena ia tau Aqilah pasti marah padanya.
"Qi ayo kita sarapan dulu, kamu belum sarapan."
Aqilah hanya diam, ia langsung memejamkan mata karena kesal pada Danu.
"Qi, jangan seperti ini nanti kamu sakit."
Danu berbicara lagi sambil mengelus kepala Aqilah. Aqilah langsung duduk lagi, ia menatap mata Danu.
"Aku ingin pulang."
Hanya kalimat itu yang tiba-tiba keluar dari mulut Aqilah, ia mengikuti Danu ke rumahnya sebagai sahabat, bukan sebagai orang asing seperti sekarang. Danu yang mendengar permintaan Aqilah ia sangat terkejut.
"Kenapa? Apa di rumah ini kamu tidak betah? Aku tau Qi rumah ini memang tidak sebagus rumahmu maaf."
Danu minta maaf sambil menunduk, ia merasa bersalah karena membawa Aqilah ke rumahnya.
"Aku nyaman di sini Dan, tapi aku tidak nyaman dengan sikapmu yang seolah-olah menganggap aku orang asing, kenapa Dan? Apa persahabatan kita yang sudah terjalin lama itu memang belum cukup, kalau memang belum cukup kita akhiri saja persahabatan kita!"
Aqilah langsung turun dari ranjang, walau pun kakinya masih sakit ia langsung meraih ponsel dan tasnya. Danu langsung menggenggam tangan kanan Aqilah.
"Kamu mau kemana Qi?"
"Aku mau pulang! Kamu tidak perlu mengantarku, aku akan menelpon Kenny untuk menjemputku dan akabmn bertemu di tengah jalan."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung menghempaskan tangan Danu, ia buru-buru keluar dari kamar, tidak peduli dengan yang lainnya, yang jelas dompet dan ponsel sudah jauh lebih cukup untuknya.
"Aqilah! Tunggu!"
Danu langsung berjalin menghampiri Aqilah yang sudah sampai di ruang tamu, ia tidak menyangka kalau masalahnya akan serumit itu.
"Qi dengar penjelasanku dulu."
"Tidak perlu Dan, aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi."
"Ini ada apa nak Qi? Dan?"
__ADS_1
Mata Sonia melihat putranya dan Aqilah secara bergantian, begitu pun dengan suaminya yang menatap bingung dengan mereka berdua, layaknya seperti sedang bertengkar.
Apa lagi melihat Aqilah yang sudah menjijing tas dan memegang ponselnya seperti mau pergi.