Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 23 Kebohongan Aldo


__ADS_3

Senyum dan tertawa itu lah yang Aqilah dapatkan saat sampai di rumah bu Lili, keluarga dari bu Lili memperlakukan Aqilah dengan baik dan mereka juga mengajak ngobrol tentang hal yang lucu-lucu hingga membuat Aqilah sampai memegangi perutnya sendiri.


Aqilah saja sampai lupa kapan ia tertawa bahagia seperti saat di rumah bu Lili, semenjak kematian sang Mommy, ia selalu menampilkan senyum palsu dan tawa palsu seperti biasanya.


Seolah-olah orang di dunia ini seperti sudah tidak menarik lagi, hanya Wira satu-satunya harapan ia yang ingin tersenyum lepas dan bahagia selain dari Daddynya, tapi nyatanya hanyalah harapan kosong.


Semua itu hanya ilusinya saja, nyatanya suaminya tidak pernah bisa membuat ia bahagia.


Sekarang Aqilah dan Aldo baru saja sampai rumah, dengan Aldo di belakang Aqilah, masa cuti Aldo memang sudah habis.


Sedangkan Wira yang ikut baru datang di belakang mereka dari masuk ke kompleks perumahan samgat terkejut saat mobil Aldo di belakang mobil istrinya, seolah-olah mereka memang habis pergi bersama.


"Al, terima kasih untuk hari ini, saya sangat bahagia."


Aqilah berbicara sambil tersenyum lembar pada Aldo.


"Seharusnya saya yang mengucapkan terima kasih pada nyonya, bukan nyonya yang mengucapkan terima kasih pada saya."


Wira tidak menyangka kalau dugaannya memang benar, istrinya habis menghabiskan waktu bersama Aldo.


"Wow, seleramu rendah sekali Aqilah, dari Danu, Mahesa, dan sekarang turun ke Aldo yang notabenya asisten pribadiku."


"Selamat sore tuan."


Aldo menyapa Wira sambil membungkukan badan dengan perasaan tidak enak, ia lelaki dewasa tentu saja ia mengerti maksud ucapan dari tuannya.


"Iya sore."


Mata Wira masih fokus melihat pada istrinya yang terlihat tersenyum ceriah seperti habis mendapatkan emas batangan.


"Yang penting puas, selama aku puas, sama siapa pun juga boleh."


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung menaiki tangga meninggalkan suaminya yang sudah membuka mulut, entah mau berbicara apa yang jelas ia sedang tidak ingin berdebat dengan suaminya.


Setelah istrinya pergi Wira langsung melayangkan pukulan pada Aldo


"Berani kamu memakai istri saya!"


Bugk...!


Aldo tersungkur karena mendapatkan pukulan mendadak.


"Bagai mana rasanya apa nikmat?! Menyetubuhi istri dari tuanmu sendiri!"


Wira menarik kerah kemeja Aldo, lalu langsung melayangkan pukulan lagi.


Bugk...!


Aqilah yang mendengar suara menggema dari suaminya ia buru-buru lari ke arah mereka lagi, dengan terburu-buru saat suaminya akan memukul untuk ke 3 kalinya Aqilah langsung memeluk Aldo.

__ADS_1


Bugk...!


Pukulan Wira mendarat tepat di punggung istrinya.


"Astaga nyonya!"


Aldo memekik dengan suara lantang saat Aqilah di pukul punggungnya oleh Wira.


Aqilah melepaskan pelukannya, ia merasa punggungnya terasa nyeri.


"Kamu tidak apa-apa Al? Maaf ini salah saya."


Aldo menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum lebar.


"Saya tidak apa-apa nyonya."


Bisa Aqilah lihat kalau ke dua sudut bibir Aldo mengeluarkan darah membuat ia menghela nafas berat.


"Sekali lagi maaf Al."


Aqilah merasa tidak enak hati saat melihat ke dua sudut bibir Aldo mengeluarkan darah.


"Tidak apa-apa nyonya."


Wira langsung menarik tangan istrinya untuk menaiki tangga saat melihat istrinya begitu perhatian pada asisten pribadinya.


Sedangkan Aldo hanya menghela nafas berat sambil menyeka darah yang ada di sudut bibirnya saat melihat tuannya menarik paksa pergelangan tangan Aqilah.


"Bodoh! Berani sekali kamu memeluk Aldo secara terang-terangan di depan mataku!"


Aqilah langsung duduk sambil melihat ke arah suaminya, senyuman di bibir tipisnya mengambang.


"Sepertinya harus aku ingatan lagi tentang ucapanmu itu padaku. Kamu bilang aku wanita murahan, dan kamu juga bilang kalau aku adalah istri di atas kertas, apa lagi aku hanya mengikuti jejakmu yang telah bercumbu di atas ranjang Alexsa, lalu apa aku salah melakukan hal yang sama?"


"Cepat layangkan gugatan ceraimu bodoh! Aku jijik melihat wanita murahan sepertimu!"


"Sudah aku katakan suatu saat kamu akan tau siapa yang lebih terhormat!"


Wira langsung melayangkan tamparan cukup keras pada istrinya.


Plak...!


"Dasar wanita gila! Berani sekali tubuh murahanmu itu di bandingan dengan Alexsa!"


Setelah kepala istrinya tersungkur ke ranjang, Wira langsung mencekik istrinya.


"Seharusnya kamu itu mati! Kamu tidak pantas hidup di dunia ini wanita murahan!"


Aqilah sama sekali tidak melawan saat suaminya menindih tubuhnya sambil mencekik lehernya. Tangannya hanya menggenggam pergelangan tangan suaminya, bibirnya masih sama, masih menampilkan senyum ceriah.

__ADS_1


Wira yang melihat istrinya tidak melawan seperti biasanya ia langsung melepaskan tangannya dari leher istrinya.


Aqilah langsung berdiri setelah suaminya bangun dari tubuhnya.


"Kamu memang lelaki yang menarik Wira, awal pertemuan kita kamu hampir melecehkanku, bahkan bibirmu itu mencium bibirku dengan buas, lalu sekarang kamu bilang seolah-olah aku menjijikan? Dasar Munafik!"


Setelah mengatakan itu Aqilah langsung pergi ke kamar mandi, ia juga langsung mengunci pintu kamar mandinya.


Sedangkan Wira hanya mematung saat mendengar ucapan dari istrinya, itu artinya ia memang pernah bertemu sebelumnya.


Tidak heran saat Wira menatap wajah terlelap istrinya di teras balkon ia merasa sangat familiar dengan wajah istrinya, dan sekarang ia menemukan jawabannya kalau ia pernah bertemu dengan istrinya.


Namun Wira sendiri lupa entah di mana pertemuan ia dengan istrinya dulu.


Wira buru-buru ke luar dari kamarnya untuk menemui Aldo, ia yakin kalau Aldo tau sesuatu tentang istrinya.


Setelah di depan kamar Aldo, Wira langsung mengetuk pintu itu.


Tok-tok


Tidak lama pintu itu terbuka lebar, menampilkan Aldo sedang memegangi sudut bibirnya dengan kapas yang sudah di berikan obat merah.


"Ada apa tuan?"


Wira tidak menjawab pertanyaan dari Aldo, ia langsung masuk ke dalam kamar Aldo, ia langsung duduk di sofa di ikuti dengan Aldo.


"Ada apa tuan?"


Aldo bertanya untuk yang ke dua kalinya saat pertanyaannya tidak di jawab.


"Apa kamu tau siapa Aqilah? Apa sebelumnya saya pernah bertemu dengan Aqilah?"


"Seingat saya tidak tuan."


Aldo tidak mungkin menceritakan pertemuan tuannya bersama Aqilah.


"Saya berharap juga begitu, tapi wanita murahan itu bilang kalau saya pernah memaksa dia, bahkan saya mencium paksa dia, coba kamu ingat-ingat di mana pertemuan saya dengannya? Selama ini kamu selalu ingat segalanya, jadi tidak mungkin kalau kamu tidak ingat."


"Baik tuan."


Aldo mengetuk-ngetuk dagunya menandakan ia sedang berpikir, bukan berpikir seperti yang di suruh Wira, tapi ia sedang berpikir bagai mana caranya kalau mengatakan yang sebenarnya tanpa membuka identitas Aqilah hingga ia memiliki ide untuk membohongi Wira.


"Iya tuan, memang tuan dan nyonya pernah saling bertemu saat di Jerman, saya baru mengingatnya, kejadianya sekitar 2 tahun yang lalu saat kita mengadakan makan malam bersama rekan bisnis, saat itu tuan terpengaruh obat perangsan dan hampir melecehkan nyonya, tapi beruntung karena saat itu nyonya memiliki obat penawarnya, jadi nyonya menjejalkan obat penawar itu pada mulut tuan."


Walau pun Aldo sudah menceritakanya Wira masih tidak ingat, bayang-bayangnya masih samar.


"Kenapa Aqilah bisa ada di sana? Siapa sebenarnya Aqilah?"


"Nyonya adalah asisten tersembunyi dari Nona Veronica, nyonya saat itu sedang menghadiri pesta pernikahan rekan bisnisnya."

__ADS_1


"Kenapa kamu baru bilang kalau Aqilih ternyata asisten Veronica?!"


"Maaf tuan, saya baru mengetahuinya tadi pagi."


__ADS_2