Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 42 Di urut


__ADS_3

Aqilah juga membalas pesan pada Mahesa kalau secepatnya ia akan bercerai, tapi ia masih butuh bermain-main dengan Wira.


Selama ini hanya Wira yang terus mempermainkan Aqilah, jadi ia akan membalas permainan itu pada Wira walau pun hatinya masih mencintai Wira, tapi ia akan berusaha tidak boleh bodoh karena cinta lagi.


Cukup hampir 1 tahun Aqilah menjadi wanita bodoh dan ia tidak mau menjadi wanita bodoh seterusnya.


Jika memang Aqilah tidak bisa mendapatkan cinta dari Wira maka ia seharusnya bisa melupakan Wira, itu lah yang di pikirannya sekarang.


Aqilah juga membalas pesan dari Daddy untuk menunggu sebentar lagi sampai ia benar-benar yakin kalau melepaskan Wira adalah hal yang terbaik.


Bahkan setelah itu Daddy membalas pesan lagi pada Aqilah, Daddynya mengatakan kalau Daddy mau Aqilah bersama dengan orang yang di pilihkan Daddynya membuat Aqilah menghela nafas berat.


Aqilah tidak tau lelaki mana lagi selain Mahesa yang dulu pernah memiliki perjodohan denganya hingga sama-sama membatalkannya.


Lelaki seperti apa yang di pilih oleh Daddynya Aqilah tidak tau, tapi ia merasa sangat cemas, ia takut kalau Daddynya akan menjodohkan ia untuk ke dua kalinya dengan Mahesa.


Danu masuk ke dalam kamar Aqilah dengan seorang wanita paruh baya yang di panggil Danu untuk mengurut kaki Aqilah.


"Qi, ini bi Ranti, tetanggaku untuk mengurut kaki kamu, sepertinya kakimu terkilir."


Aqilah mengangukan kepalanya, ia langsung menggeser tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang dan meletakan ponselnya di sampingnya sambil menghela nafas berat.


"Kenapa?"


Danu bertanya sambil mengelus kepala Aqilah. Tanpa berbicara Aqilah langsung memeluk Danu dengan posisi Danu masih berdiri.


"Kenapa? Ada apa dengan ponselmu?"


"Aku takut Dan."


"Kamu takut di urut?"


Aqilah menggelengkan kepalanya sambil mengeratkan pelukannya pada Danu membuat Danu bingung sendiri.


"Kamu di urut dulu, nanti kamu ceritain iya?"


Danu merasa tidak enak dengan bi Ranti tetangganya yang dari tadi berdiri. Aqilah menganggukan kepalanya, ia melepaskan pelukannya pada Danu.


"Aku tinggal iya Qi, mau mengantar Diana ke sekolah dulu, mumpung aku ada di sini, biasanya juga ibu kalau tidak Ayah."


"Iya, berapa lama?"


"Hanya 10 menit."


Danu menjawab ucapan dari Aqilah sambil mengelus kepala Aqilah yang di jawab hanya anggukan kepala oleh Aqilah.


Sebelum keluar kamar Danu mengambil handuk Aqilah untuk ia jemur terlebih dahulu, lalu baru keluar dari kamar Aqilah.


"Silahkan duduk bi."


"Iya dek, mana yang sakit?"


"Ini bi."

__ADS_1


"Tahan iya dek mungkin sakit."


"Iya bi."


Bi Ranti mulai ngengurut kaki Aqilah sambil sesekali ia melihat wajah Aqilah yang sama sekali tidak meringis kesakitan.


"Adek siapanya Danu iya kalau boleh tau? Biar lebih akrab gitu dek."


"Danu bawahan saya bi."


"Walah ternyata bosnya Danu, kirain bos Danu sudah tua, eh masih cantik imut gitu."


Bukan hanya sekedar memuji dari mulut, bi Ranti juga memuji dari hatinya.


"Bibi bisa saja."


Namun hati bi Ranti sangat penasaran pada Aqilah dan Danu, bos dan bawahan, tapi berpeluk-pelukan layaknya seperti sepasang kekasih.


Apa lagi bi Ranti tau selama ini Danu selalu menolak setiap wanita yang datang menawarkan diri untuk menjadi istri dari Danu, tapi kali ini ia melihat Danu tidak memberikan jarak.


Bahkan Danu juga mengelus kepala Aqilah dengan sayang membuat bi Ranti penasaran ada hubungan apa Danu dan bosnya, tapi ia tidak berani bertanya lebih jauh, bagai mana pun juga Aqilah bukan tetangganya. Setelah mengantarkan adik tirinya Danu langsung masuk lagi ke kamar Aqilah.


"Tidak sakit Qi?"


"Sama sekali tidak."


" Kamu kenapa bisa jatuh di kamar mandi?"


"Ini semua karena."


Aqilah mengingat kejadian semalam yang membuat ia tidak melihat lantai. Setelah perkenalan dengan ke dua sahabat Danu, ia ngotot ingin masuk ke rumah hantu.


Di dalam rumah hantu bukan Aqilah yang sesekali terkejut melainkan Danu, dan lebih parahnya lagi Danu menyembunyikan kepalanya di dada milik Aqilah layaknya seperti anak kecil.


"Karena apa?"


"Ini karena kamu semalam, masa iya kamu menyembunyikan kepala kamu di dadaku, gila, otakku jadi ngbleng karena kebodohan kamu."


Wajah Danu langsung memerah karena malu, apa lagi sekarang sedang ada bi Ranti, ia merasa kalau ucapan Aqilah begitu prontal.


"Jangan malu-maluin aku Qi, sekarang sedang ada bi Ranti."


"Yang malu-maluin itu kamu tau."


Danu langsung duduk di samping Aqilah tanpa berbicara lagi, ia tidak mau membuat diri sendiri tambah malu karena ucapan Aqilah yang prontal.


Bi Ranti yang sedang mengurut Aqilah ia tersenyum lebar saat melihat interaksi Danu dan Aqilah tidak memiliki batas, mereka berdua seperti sepasang kekasih.


"Biasanya ngurut itu bayarnya berapa bi?"


"Tergantung sedikasih dek, kadang 100 ribu kadang 50 ribu."


"Kenapa tidak di tarif bi?"

__ADS_1


"Di sini kampung dek, mana bisa di tarif, kecil besar rezeki yang bibi dapat masih alhamdulilah."


Aqilah mengangguk pelan membenarkan ucapan bi Ranti. Bi Ranti selsai mengurut Aqilah.


"Sudah selsai dek, apa masih nyeri?"


"Sudah tidak bi, terima kasih banyak."


"Sama-sama dek."


Danu langsung mengambil uang lembaran 100 ribu untuk bi Ranti.


"Tambahin 100 lagi Dan."


Danu mengambil lembaran 100 ribu lagi lalu langsung memberikan pada bi Ranti.


"Ini bi, terima kasih banyak."


"Sama-sama Dan."


"Iya sudah kalau begitu bibi permisi pulang dulu."


"Eh tunggu bi, mamang masih batuk?"


"Iya kamu tau sendiri sudah 2 tahun obatnya tidak ada yang cocok Dan."


"Qi, obat batuk mana?"


"Kamu cium sendiri Dan, saat itu juga kamu mengambil obat tidur untuk aku pasti kamu cium semua obat-obatan itu."


Danu menghela nafas berat, sekali lagi ia di buat malu di depan bi Ranti oleh ucapan Aqilah.


Walau pun Danu tidak melakukan apa pun pada tubuh Aqilah, tapi pikiran itu berbeda-beda, bisa saja bi Ranti mengira kalau ke dekatan ia dan Aqilah karena sudah terjadi sesuatu.


Danu langsung melihat ke arah obat-obatan di sana, ternyata di dalam botol obat-obatan sudah di beri nama, tidak seperti di tas Aqilah yang semua obatnya berbentuk bubuk dan tidak di beri nama. Danu mengambil obat batuk 1 botol kecil untuk bi Ranti.


"Ini bi obatnya, di minum pagi sama sore saja, kalau cocok dan belum sembuh bibi bisa minta kesini."


Bi Ranti langsung mengambil obat yang di serahkan Danu.


"Terima kasih Dan, dek. Kalau begitu permisi."


"Iya bi."


Setelah bi Ranti pergi Aqilah langsung merebahkan tubuhnya. Sedangkan Danu duduk di samping Aqilah sambil mengelus kepala Aqilah.


"Tadi ada apa? Kenapa kamu sepertinya menyembunyikan sesuatu?"


"Daddy akan menjodohkanku dengan sesaorang."


Danu yang mendengarnya mendadak seperti di sambar petir, tubuhnya sedikit lemas, detak jantungnya berdetak lebih lambat, ia tidak menyangka kalau Albet akan menjodohkan Aqilah.


"Lalu untuk apa tuan Albet menyuruhku untuk membuat Aqilah jatuh cinta kalau pada akhirnya Aqilah akan di jodohkan dengan orang lain?" batin Danu

__ADS_1


"Kamu mendengar ucapku Dan?"


"Iya Qi aku mendengarnya, mungkin itu yang terbaik untuk kamu."


__ADS_2