Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 77 Ungkapan hati Aqilah


__ADS_3

Semalam Aqilah tidak menceritakan tentang mimpi itu pada suaminya, tapi semalaman hatinya sangat gelisa memikirkan Danu, ia selalu berpikir jika mimpi itu benar adanya, lalu bagai mana dengan Danu, apa Danu menerimanya atau menolaknya.


Bahkan semalam Aqilah tidur bersama suaminya karena suaminya kekeh ingin tidur besama, sedangkan ia tidak memiliki tenaga untuk berdebat bersama suaminya karena masalah ponsel, jadi ia membiarkan suaminya tidur di ranjang yang sama, walau pun rasa bersalah terus menghantui Aqilah.


Aqilah tau kalau ia dan suaminya tidak melakukan apa pun, suaminya hanya memeluk ia dari belakang, tapi rasa bersalah terhadap Danu menghantuinya, ia merasa kalau ia telah menghianati Danu.


Seharusnya Aqilah merasa bersalah pada suaminya karena ia telah menghianati suaminya, tapi ia jauh lebih merasa bersalah terhadap Danu yang masih berstatus kekasih.


Pagi hari Aqilah bangun lebih dulu, ia pelan-pelan melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya, lalu ia langsung berjalan ke arah tasnya, mengambil ponsel miliknya yang ia matikan saat akan ke rumah Danu.


Aqilah langsung berjalan ke arah kamar mandi, ia langsung mengunci pintu kamar mandi, setelah itu langsung menghubungi nomer Danu.


Aqilah menghela napas berat saat telponnya tidak di angkat oleh Danu hingga tiga kali, membuat rasa cemasnya semakin menjalar di hatinya, ia tau kalau perasaan itu adalah perasaan takut kehilangan, ia tau kalau Danu memang berhasil mendapatkan cintanya. Ini untuk empat kalinya Aqilah menghubungi Danu hingga telpon itu akhirnya tersambung juga.


"Hallo, Danu."


"Iya sayang."


Aqilah bisa mendengar suara bahagia dari Danu membuat setetes air matanya jatuh.


"Dan, aku rindu kamu, aku tidak mau kehilangan kamu."


"Maksud kamu apa sayang? Kehilangan bagai mana? Aku akan selalu ada untuk kamu sayang."


"Tapi aku takut kamu menerima perjodohan itu."


Beberapa saat Aqilah tidak mendengar jawaban dari Danu, membuat ia berpikir apa ia salah dengan mimpi itu, ia merasa kalau mimpi itu sangat nyata, tapi kenapa Danu hanya diam.

__ADS_1


"Kamu tau dari mana tentang porjodohan itu sayang?"


Danu berusaha bertanya dengan suara lembut, walau pun ada rasa kecewa di hati ia saat Aqilah mengetahui perjodohannya, itu artinya Aqilah mengirim mata-mata untuknya, ia merasa kecewa karena nyatanya cinta Aqilah tidak memberi ia kepercayaan sedikit pun, tapi ia tidak mau kalau masalah ini hubungan yang baru saja di mulai itu kandas.


"Aku mimpi buruk Danu, tapi aku yakin kalau mimpi itu nyata, hingga membuat aku tidak bisa tidur, aku mencintai kamu Danu."


Andaikan saja Aqilah mengungkapkan perasaannya di depan Danu, mungkin ia akan langsung memeluk Aqilah, tapi walau pun kejujuran itu hanya melalui telpon, Danu tetap merasakan sangat bahagia.


"Yakin kamu mencintaiku sayang?"


"Iya aku yakin kalau aku mencintaimu, aku berharap Wira segera menyetujui perceraianku, kamu tau Danu, Wira telah merobek kertas persetujuan cerai kita, bahkan Wira juga membanting ponsel pemberian dari Mommy, semalam aku menangis tidak berdaya karena ponsel itu adalah kado terakhir dari Mommy, tubuhku sangat gemetar Dan."


Danu menghela napas kasar saat mendengar cerita dari Aqilah, pantas ia semalaman tidak bisa tidur, ia selalu memikirkan Aqilah, ternyata rasa kuatirnya itu bukan hanya perasaan ia saja, tapi Aqilah memang mendapatkan masalah besar.


"Tapi sekarang apa kamu baik-baik saja sayang?"


"Aku baik-baik saja, hanya saja aku mau bilang kalau panggilan sayangmu itu terdengar sangat kaku."


"Kurang tau, aku di kunci di kamar oleh Wira, tapi tentang perjodohan itu bagai mana?"


Aqilah masih mencemaskan tentang perjodohan karena belum mendengar jawaban dari Danu.


"Aku menolaknya karena sampai kapan pun aku hanya mencintai kamu sayang, tapi satu hal yang harus kamu tau kalau cintaku tidak akan egois, jika suatu saat kamu ingin kembali bersama Wira, aku akan tetap mengijinkanmu, asalkan Wira bisa membuat kamu bahagia sayang."


Walau pun berat kata itu selalu Danu ucapkan untuk Aqilah, ia tidak mau kalau Aqilah menerima dan ingin bersamanya hanya karena tidak ingin menyakitinya.


Danu ingin kalau Aqilah ingin bersamanya karena Aqilah sangat mencintai ia bukan karena rasa bersalah, jadi ia tidak pernah bosan mengatakan kata itu pada Aqilah.

__ADS_1


"Tidak akan pernah kembali bersamanya Danu, aku hanya ingin bersamamu, aku ingin di nikahi olehmu, dan ingin menjadi Mama dari anak-anak kita nanti."


Setelah mengatakan itu Aqilah menghela napas kasar, ia memang menginginkan bersama Danu, tapi jalan untuk memiliki Danu tidak semudah itu, ia masih memiliki banyak masalah, dari Daddynya akan menjodohkan ia dengan lelaki lain, dari suaminya yang tidak ingin melepaskan ia, dan sekarang ke dua orang tua Danu akan menjodohkan Danu.


Aqilah tau kalau Danil tidak tau identitasnya, kalau Danil tau identitas ia, tidak mungkin kalau Danil melarang Danu untuk bersamanya hingga menjodohkan Danu dengan wanita lain.


"Yakin?"


Danu bisa mendengar hebusan napas kasar dari Aqilah, itu artinya Aqilah tidak begitu yakin ingin berpisah bersama Wira.


"Yakin, tapi jalan untuk bersamamu ini sangat sulit, aku harap kamu bersabar Danu, mungkin cinta kita sedang di uji, aku harap ujian cinta kita hanya sebelum menikah, aku berharap kita bisa bahagia setelah menikah nanti. Dari Daddy yang akan menjodohkan aku, dari Wira tidak ingin menceraikan aku, dan sekarang kamu di jodohkan juga."


"Kalau soal perjodohanku, kamu tidak perlu memikirkan itu sayang, aku akan tetap memilihmu walau pun keluargaku tidak setuju, lagi pula ibu setuju dengan hubungan kita, cukup restu dari ibu yang aku butuhkan, tapi aku tidak tau, jika tuan Albet melarangmu bersamaku, apa kamu juga siap meninggalkan kekayaanmu untukku?"


"Tentu aku bisa meninggalkan kekayaanku jika Daddy tidak setuju, aku tau kamu lelaki yang baik Danu, aku percaya kalau kamu bisa membuat aku bahagia, harta masih bisa di cari Danu, bagai mana pun juga aku seorang dokter dan pembuat obat, aku bisa berdiri tanpa bantuan dari Daddy, asalkan kamu tetap di sisiku, bagiku sudah lebih dari cukup."


Aqilah sudah pernah meninggalkan kekayaannya hanya untuk mendapatkan cinta dari Wira, jadi ia sudah terbiasa hidup sederhana jika Daddy tidak merestui hubungan percintaannya lagi, ia akan tetap menentang Daddynya, tapi ia akan buktikan pada Daddynya kalau Danu adalah satu-satunya lelaki yang pantas untuk mendampinginya.


Saat mendengar jawaban dari Aqilah, Danu sangat bahagia, itu artinya kalau Aqilah memang sudah bersungguh-sungguh ingin hidup bersamanya.


Namun sekarang Danu harus memikirkan mencari pekerjaan lagi atau memikirkan akan membuka usaha apa dengan uang yang ia miliki jika kejadian itu benar-benar terjadi.


"Baiklah sayang, aku bisa bernapas lega, jangan lupa kamu harus menjaga kesehatan, lalu bagai mana dengan luka yang ada di lenganmu?"


"Aku baik-baik saja Danu, bahkan lukaku ini jauh lebih membaik, kamu tidak perlu kuatir, aku bisa menjaga diriku, tapi aku minta kamu tidak perlu menghubungiku, aku takut Wira mengambil ponselku, biarkan aku yang menghubungimu."


"Baiklah sayang, iya sudah kalau begitu aku harus mandi dan akan bersiap-siap berangkat kerja, kamu jangan lupa sarapan sayang."

__ADS_1


"Iya sudah kalau begitu, aku mencintaimu Danu"


"Aku juga mencintaimu Aqilah."


__ADS_2