Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 29 Kemarahan Aqilah


__ADS_3

Malam ini Wira baru pulang setelah menemani Alexsa seharian hingga malam di apartement, sebenarnya ia ingin segera pulang karena ingin memberi pelajaran pada istrinya, tapi karena Alexsa terus saja melarang ia untuk pulang jadi ia tidak segera pulang.


Wira berjalan memasuki rumah dengan perasaan emosi, bahkan setelah di kamar tidak ada istrinya ia buru-buru ke ruang meja makan, ia yakin kalau istrinya sedang makan.


Benar saja di sana istrinya sedang makan bersama kakek, nenek, tante, mamah dan Resya.


"Wira kamu sudah pulang."


Aqilah tersenyum lebar sambil berdiri, tapi ia tau kalau suaminya sedang emosi.


Tanpa menjawab ucapan dari istrinya Wira langsung menarik istrinya untuk keluar dari kursi duduknya, lalu langsung melayangkan tamparan pada istrinya cukup keras.


Plak...!


Aqilah sampai tersungkur, hampir saja kepalanya terbentur pada meja kalau tangannya tidak sigap menahan meja.


Wira langsung membalikan tubuh istrinya lalu langsung menjambak rambut istrinya agar mendongkak.


"Apa yang kamu lakukan pada Alexsa bodoh!"


"Apa yang kamu lakukan Wira!!"


Bagas sangat emosi saat melihat Wira melakukan kekerasan pada Aqilah.


"Kakek diam saja! Lama-lama Aqilah semakin berani membuat masalah dengan Wira!"


Saat Bagas akan melayangkan pukulan, Aqilah memberi isyarat dengan matanya agar Bagas tidak ikut campur dengan urusannya, dengan terpaksa Bagas menurunkan kembali tangan yang sudah siap memukul cucunya.


"Jawab bodoh! Apa kamu menyuruh Mahesa untuk melecehkan kekasihku!"


Aqilah tersenyum lebar walau pun sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah dan rambutnya ada beberapa helai tercabut oleh suaminya.


Aqilah perlahan memegang lengan suaminya seperti biasanya, lalu senyumannya berubah menjadi senyuman menyeringai.


Sedetik kemudian Aqilah langsung menarik paksa tangan suaminya dari rambutnya lalu ia putar ke belakang tubuh suaminya agar membelakanginya.

__ADS_1


"Ini yang kamu mau'kan Wira! Kekerasan dariku!"


Aqilah langsung memelintir lagi tangan suaminya hingga tangan itu berbunyi.


Krek.


Tanda tangan suaminya itu sudah terkilir, Aqilah langsung mendorong suaminya hingga kepala suaminya membentur meja.


Bruk...


Wira langsung berdiri dengan tangan yang merasa sangat sakit dan kening sedikit mengeluarkan darah karena meja makan itu terbuat dari kaca.


Namun Wira tidak mengaduh kesakitan, ia malu pada istrinya yang selama ini selalu mendapatkan kekerasa darinya, tapi tidak pernah mengeluh sedikit pun.


Wira menatap mata istrinya, bisa ia lihat kalau istrinya menatap ia dengan penuh amarah dan aura mebunuh itu keluar dari tatap mata istrinya.


Sebelumnya Wira belum pernah melihat istrinya semarah ini, bahkan memohon dan melawan saja tidak.


"Sekali lagi kamu melakukan kekerasan akan aku pastikan kalau tangan kamu itu patah!!"


Suara Aqilah sangat menggema di seluruh lantai dua, para pelayan juga sangat aneh saat mendengar suara marah dari Aqilah.


"Bukan! Tangan patah itu tidak sebanding dengan kekerasan yang hampir 1 tahun aku alami! Jadi akan aku buat burung kamu tidak akan berpungsi lagi kalau perlu!"


Susan dan Bagas menelan ludahnya dengan kasar, ini lah yang ia takutkan saat sifat asli Aqilah muncul.


Sedangkan Rika, Amel dan Resya mulutnya hanya menganga tidak percaya saat melihat Aqilah melakukan kekerasan dan suara lantangnya.


Selama ini mereka tidak pernah melihat Aqilah seberani ini, jangankan melakukan kekerasan, melawan saja tidak pernah.


"Wira, seumur hidupku yang paling aku sesali adalah pernah jatuh cinta padamu, hingga cinta menutup segelanya, cinta yang membuat harga diriku terus saja di injak-injak, cinta yang membuat aku terus bertahan di rumah ini walau pun rumah ini seperti neraka. Kamu tau? Dalam kamus hidupku tidak pernah ada keinginanku yang belum bisa aku capai, semua keinginanku selalu aku capai, tapi hanya kamu satu-satunya orang yang membuat aku gagal untuk memenuhi keinginanku."


Aqilah menghela nafas sesaat untuk melanjutkan kembali ucapannya.


"Sudah cukup perjuanganku sampai di sini, aku akan pergi dari hidupmu Wira, bukan karena ini ada kaitannya dengan Alexsa, tapi aku tidak akan membuang waktu berhargaku lagi di rumah ini. Kalau kamu menyalahkan aku tentang Alexsa di pecat? Bukan'kah itu pantas mendapatkannya? Namun jika kamu menyalahkan tentang pelecehan yang Alexsa alami, aku sama sekali tidak tau menau."

__ADS_1


Aqilah langsung membuka tas di kursi, setelah makan ia memang mau pergi bersama Danu.


Aqilah mengambil flashdiks dari tasnya, ia letakan di meja.


"Ini adalah bukti perselingkuhan Alexsa, Mahesa juga putus karena Alexsa ketahuan selingkuh 3 kali berturut-turut hingga Mahesa memutuskan untuk mengahiri hubungan itu. Mahesa dan Alexsa melakukan atas dasar suka sama suka, bukan pelecehan, kejadian itu saat Mahesa masih menjalin hubungan bersama Alexsa, dan kalau bukti itu tidak cukup, kamu bisa datang setiap hari minggu jam 8 malam di Anderson Hotel jalan Cempaka, kamu akan melihat dengan kepala kamu sendiri siapa yang wanita murahan dan siapa yang wanita terhormat."


Wira hanya diam mematung dengan tatapan kosong saat melihat flshdiks itu di meja, mulutnya terasa terkunci.


Aqilah langsung melihat ke arah Bagas dan Susan.


"Saya mengucapkan terima kasih pada kalian karena kalian menepati janji kalian untuk menikahkan saya dengan Wira, tapi saya sudah tidak ingin lagi di rendahkan, 1 bulan lagi tepat di hari anneversary pernikahan saya dan Wira ke 1 tahun saya akan melayangkan gugatan cerai."


"Saya tidak mau Aqilah, tolong pikirkan lagi, saya menyayangi kamu tulus, bukan karena kedudukan kamu bukan karena kamu telah menyelamatkan suamiku dari kom'a, tapi ini dari hati saya yang paling dalam kalau saya sangat menyayangi kamu."


Air mata Susan langsung mengalir deras, ia memang sudah menyayangi Aqilah saat tau kepribadian Aqilah yang sebenarnya, Aqilah memang sangat baik, hanya saja kebaikannya selalu di tutup dengan wajah angkuh dan sombongnya.


Kalau dulu mungkin Susan hanya takut karena Aqilah adalah seorang Nona dari keluarga Anderson, tapi kini ia sangat tulus menyayangi Aqilah.


Mereka semua tercengang saat mengatakan kedudukan, terlebih Susan memanggil diri sendiri dengan panggilan saya, mereka merasa kalau ada sesuatu yang di sembunyikan.


"Maksudnya menolong Papa dari kom'a itu apa Ma?"


Amel bertanya dengan raut wajah bingung.


"Aqilah adalah seorang peracik obat yang handal, dan dia juga seorang dokter sepesialis bedah."


Mereka semua sangat tekejut saat mendengar ucapan dari Susan, tapi tidak dengan Bagas yang memang sudah tau.


"Tolong pembicaraannya jangan di teruskan lagi nek."


Aqilah berbicara dengan nada lembut sambil tersenyum pada Susan, dan memberi kode juga pada mata Susan agar tidak membuka identitasnya.


Wira menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan tangan kiri yang memegangi tangan kanannya.


"Kenapa kalian baru bilang kalau kakek di tolong oleh Aqilah? Kenapa kalian semua menyembunyikan identitas Aqilah sebagai dokter sepesialis bedah?"

__ADS_1


"Aku yang menyuruh mereka untuk menyembunyikannya, sudah aku bilang kalau aku tidak butuh di kasihani. Aku bukan Alexsa yang meminta di kasihani, dari kecil aku sudah di didik dengan keras, agar tidak bergantung dengan siapa pun termasuk orang tuaku sendiri. Kamu ingin kita bercerai'kan? Aku akan kabulkan itu Wira, semoga kamu tidak menyesalinya dengan pilihanmu. Aku akan pergi."


Aqilah langsung mengambil tasnya lalu langsung pergi meninggalkan meja makan.


__ADS_2