
Danu mau pun Aqilah tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Sonia, ke duanya sama-sama diam.
"Kalau ada masalah selsaikan baik-baik nak, jangan sampai kalian menyikapinya seperti anak-anak. Nak Qi, sebaiknya kamu tinggal dulu, kakimu juga masih sakit."
Lukman yakin kalau Aqilah akan pergi, melihat sudah menteng tas dan ponselnya.
"Qi, kalau kamu memang betah tinggal di sini kenapa harus pulang?"
"Aku tidak ingin tinggal bersama orang asing, aku benci kamu Danu!'
"Aku tidak pernah menganggapmu orang asing."
"Bohong! Buktinya kamu tidak pernah terbuka dengan masalahmu, tapi aku, orang pertama yang tau masalah rumah tanggaku hanya kamu Dan!"
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung berjalan lagi yang langsung di peluk dari belakang oleh Danu.
"Aku akan jujur semuanya, tapi aku harap setelah aku jujur kamu masih menganggapku sahabat, bukan orang asing."
Aqilah membalikan tubuhnya, ia melihat mata Danu dengan serius dan menunggu apa yang membuat Danu seperti gelisah.
"Kamu masih ingat pertemuan kita saat kamu mengejar pencopet?"
Aqilah menganggukan kepalanya sebagai jawaban kalau ia memang masih ingat kejadian saat ia kelas 1 SMA.
"Aku mencintaimu dari pandangan pertama Qi, aku mencari tau tentang kamu hingga aku tau kalau kamu bersekolah yang sama denganku, aku sangat bahagia saat itu, terlebih saat kita semakin dekat dan mengajari kamu untuk menyempurnakan seni beladirimu, aku benar-benar bahagia, saat aku lulus sekolah, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku, tapi aku malu karena aku pikir kamu adalah kekasih dari Mahesa."
__ADS_1
Danu menghentikan ucapannya untuk mengambil nafas sesaat.
"Saat aku Wisuda, aku di suruh Papa untuk melanjutkan pekerjaannya bekerja sebagai kepercayaan MD Anderson Grup. Namun betapa terkejutnya aku saat kamu yang mengambil alih MD Anderson Grup, aku melangkah mundur menjauhi kamu bukan karena aku tidak ingin bersahabat, tapi cintaku terhadap kamu semakin besar. Saat kuliah saja aku tidak bisa melupakan namamu, apa lagi saat kita dekat menjadi atasan dan bawahan tanpa jarak, itu semakin tidak mungkin."
Aqilah yang mendengar penjelasan panjang dari Danu, ia sangat terkejut saat tau Danu mencintainya selama ini.
"Lalu saat kamu akan menikah dengan Wira, hatiku hancur dan bahagia secara bersamaan, hatiku hancur karena tidak bisa memilikimu, tapi di sisi lain aku sangat bahagia karena kamu menikah dengan lelaki yang kamu cintai, dan aku hanya berharap kalau kamu selalu bahagia bersama Wira lelaki pilihanmu. Namun saat tau Wira melakukan kekerasaan dan tidak pernah menyentuhmu, menganggap tubuhmu itu menjijikan, hatiku sangat sakit, tapi aku hanya bisa diam, aku sangat sadar siapa diriku, cukup kamu menceritakan tentang permasalahan rumah tanggamu aku sangat lega, itu artinya kamu menganggap aku orang terdekatmu."
Danu menghela nafas berat dan matanya sudah memerah, menandakan kalau ia memang merasakan sakit saat tau rumah tangga Aqilah.
"Lalu saat kamu memelukku menggunakan aku untuk membuat Wira cemburu, aku sangat senang, walau pun kamu hanya menganggapku sebagai sahabat, begitu pun saat kamu ingin membalaskan rasa sakit hatimu ingin menghancurkan Alexsa, hatiku sangat lega, dan akhirnya Aqilah yang aku kenal dulu kembali walau pun kamu tidak setegas dulu. Lebih bahagia lagi saat kamu mengatakan akan berpisah dengan Wira, aku bahagia bukan karena melihat kamu terluka, tapi aku bahagia karena kamu tidak menjadi wanita bodoh karena cinta."
Entah kenapa melihat tatapan terluka Danu membuat mata Aqilah berkaca-kaca, seumur hidupnya tidak ada orang yang bisa menggerakan hatinya sedalam ini selain Daddy dan almarum Mommynya.
"Aku tau kamu masih ragu untuk berpisah dengan Wira, tapi aku selalu berharap kalau kamu benar-benar berpisah dengan Wira. Wira tidak pantas untuk wanita baik seperti kamu. Kamu memang terlihat angkuh dan sombong saat memakai nama Veronica, tapi aku tau kalau kamu wanita baik-baik. Satu hal yang pasti aku sangat senang saat aku bisa menjadi sandaran untukmu, menjadi tempat kamu mengeluh tentang pernikahanmu."
"Lalu saat kamu mau pergi bersamaku ke rumah ini, aku sangat bahagia, walau pun lagi-lagi aku hanya mendapat kata sahabat darimu, kamu tau? Detak jantungku selalu tidak normal saat kamu memelukku, karena aku sangat mencintai kamu Syaqilah, dan tadi aku merasa kecewa karena pada akhirnya cintaku akan selalu bertepuk sebelah tangan. Kamu akan di jodohkan dengan lelaki pilihan Daddy kamu, tapi lagi-lagi aku harus berusaha sadar kalau aku ini hanya orang biasa. Wira saja tidak seimbang dengan kekayaan yang kamu miliki. Bahkan tidak ada setengah dari kekayaanmu, apa lagi aku yang hanya kepercayaanmu."
Setelah mendengar penjelasan panjang dari Danu air mata Aqilah langsung mengalir deras, hatinya sangat sakit.
Bahkan Aqilah merasa kalau hatinya tertusuk oleh ribuan pisau, begitu perih dan sakit saat mendengar penjelasan dari Danu. Ini untuk pertama kalinya Aqilah menangis untuk orang lain selain karena ke dua orang tuanya.
Entah perasaan apa Aqilah sendiri tidak mengerti dengan hatinya yang mendadak sangat sakit.
Danu yang melihat Aqilah menangis, ia langsung menghapus air mata Aqilah dengan ke dua ibu jarinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Qi, nyatanya aku tidak bisa menganggap kamu seperti kamu menganggapku sebagai sahabat, aku mencintamu. Jika penjelasanku ini membuat hatimu kecewa, anggap saja kalau tadi hanya mimpi untuk kamu."
Aqilah menggelengkan kepalanya, bibirnya terasa kelu, bahkan sekedar untuk mengatakan tidak saja ia tidak sanggup.
"Kamu boleh membenciku setelah ini, aku tau aku hanya lelaki biasa, tidak pantas mendapatkan wanita sepertimu yang seorang Nona dari keluarga Anderson."
Tubuh Aqilah langsung bergetar dan tiba-tiba saja ponselnya jatuh begitu saja.
Brukk!
Setelah ponselnya jatuh Aqilah langsung memeluk Danu dengan pelukan yang sangat erat, dan seoalah-olah ia membutuhkan ketenangan untuk sesaat.
Aqilah masih tidak percaya kalau ke baikan Danu selama ini karena mencintainya, dan bodohnya ia tidak pernah sadar akan hal itu.
Andai saja Danu mengatakannya saat masa SMA, mungkin Aqilah akan belajar mencintai Danu, lelaki yang sangat baik menurut Aqilah.
Lukman dan Sonia menghela nafas berat saat melihat putranya dan Aqilah yang hatinya seperti sama-sama terluka.
"Kalau pun kamu mau memecatku juga tidak apa-apa, sekali lagi aku minta maaf karena aku telah mencintaimu. Aku tau kamu pasti sangat kecewa, hingga kamu bisa mengeluarkan air mata yang sebelumnya tidak pernah kamu keluarkan selain karena rindu terhadap Mommy kamu."
Tangisan Aqilah bukan mereda, tapi menjadi pecah, membuat Danu tidak mengerti dengan tangisan Aqilah, yang jelas ia hanya bisa memeluk Aqilah semakin erat sambil mengelus kepala Aqilah.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang. Hiks... Hiks... Pasti sangat berat buat kamu terus saja bertahan di sampingku yang tidak pernah menyadari kalau kamu mencintaiku. Apa lagi aku juga merasakan sakit saat suamiku tidak pernah menginginkanku, pasti rasanya tidak jauh berbeda."
"Sama sekali tidak, aku bahagia asalkan melihat kamu bahagia, cintaku bukan seperti cintamu yang sangat egois."
__ADS_1
"Kenapa kamu masih mencintaiku setelah aku menceritakan rumah tanggaku? Seharusnya kamu jijik karena aku begitu gila mengejar lelaki."
"Aku tidak berpikir seperti itu, yang aku tau aku mencinatimu."