
Danil tetap kekeh dalam pendiriannya kalau ia akan menjodohkan Danu dengan Olivia, apa lagi ia tau kalau Olivia sangat mencintai putranya, jadi apa salahnya kalau ia menjodohkan putranya dengan keluarga yang sepadan.
Bukan tanpa alasan Danil tetap menjodohkan putranya, tapi ia tidak mau kalau putranya menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga Wira.
Wira adalah pewaris Atmaja Grup, Danil tidak mau bemain-main dengan Wira yang mungkin akan menyebabkan kerugian besar.
"Papa tetap dengan pendirian Papa kalau Danu harus menikah dengan Olivia, bukan hanya saling mengenal, tapi Olivia juga mencintai Danu."
Henny menghela napas kasar saat mendengar ucapan dari suaminya.
"Lakukan apa pun yang Papa inginkan, tapi ingat satu hal, Danu bukan lagi putra Papa mulai hari ini, jadi Papa tidak bisa melarang Danu, kalau begitu Danu pergi."
Danu bukan lelaki yang mudah goyah dalam pendiriannya, selama permasalahan itu bukan dari ibunya yang melarangnya, ia tidak pernah peduli dengan hal lainnya.
"Apa jangan-jangan kamu sudah meniduri wanita itu hingga kamu terus saja ingin bersamanya?"
Danil bertanya dengan raut wajah kecewa saat mendengar jawaban dari putranya.
"Iya Pa, Danu sudah meniduri Aqilah, bahkan Danu yang mengambil keperawananya, karena selama ini Wira tidak pernah menyentuh Aqilah."
Danu terpaksa berbohong, saat Papanya menuduhnya. Danil yang mendengar jawaban dari putranya ia sangat marah, ia langsung melayangkan dua pukulan pada putranya.
Bugk...!
Bugk...!
"Papa tidak mengajari kamu untuk meniduri istri orang apa lagi sampai mengambil keprawanan dari wanita itu...!"
"Papa sudah Pa!"
Henny berteriak sambil berlari ke arah putra tirinya yang tersungkur ke lantai.
"Kamu jangan memancing emosi Papa nak."
Henny berbicara sambil membangunkan putra tirinya dengan perasaan kuatir.
__ADS_1
"Danu pergi dulu Ma, Pa, Danu tidak akan pernah sudi di jodohkan."
Setelah mengatakan itu Danu melangkahkan kakinya, baru juga dua langkah Henny sudah memeluk putra tirinya dari belakang.
"Jangan pergi nak, kenapa kamu selalu tinggal di apartement dari pada di rumah? Mama sangat kesepian di rumah."
Danu langsung menggenggam tangan Mama tirinya yang ada di pinggangnya.
"Kalau merasa kesepian Mama dan Papa kenapa tidak segera memiliki anak? Kalau Papa tidak mau memiliki anak lagi, lebih baik Mama gugat cerai saja Papa, untuk apa memikirkan bibit-bobot kalau Mama tidak bahagia."
Setelah mengatakan itu Danu langsung melepaskan pelukan Mama tirinya lalu langsung pergi dari rumah.
Henny menangis sambil menatap ke pergian putra tirinya, ia baru saja senang saat tau putra tirinya pulang, tapi nyatanya putra tirinya sudah pergi lagi.
Danil menghela nafas berat saat melihat putranya pergi dari rumah, ia tidak mengerti kenapa bisa putranya melakukan hal di luar dugaannya. Henny langsung menghapus air matanya sambil melihat ke arah suaminya.
"Pa, restui saja hubungan mereka, tolong jangan katakan seolah asal-usul dan sepadan, cukup kita yang merasakan rumah tangga ini hanya sebuah pratner, biarkan Danu bahagia dengan pilihannya, Mama lihat juga Aqilah itu wanita baik-baik."
"Kalau Aqilah wanita baik-baik tidak akan memiliki scandal dengan Mahesa Pradipita saat itu!"
"Sekalinya Papa tidak suka, tetap tidak suka dan tidak bisa di bantah!"
Henny menghela napas berat, tapi ia akan tetap mendukung putra tirinya bersama Aqilah bagai mana pun caranya, terkecuali Aqilah tidak mau berpisah dengan Wira, ia tidak bisa mendukung putra tirinya karena putra tirinya yang salah.
Danu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia marah saat mengatakan Papanya tidak mau merestuinya, apa lagi tentang perjodohan membuat ia semakin marah.
Danu sangat tidak suka di jodoh-jodohkan, apa lagi orang tuanya tidak bahagia setelah di jodohkan, mereka hanya saling menghormati sebagai suami istri, tapi bisa-bisanya Papanya masih ingin ia mengalami nasib yang sama.
Apa lagi hubungannya bersama Aqilah baru saja dk mulai, Danu tidak akan menyerah begitu saja, ia sudah berjuang untuk mendapatkan hati Aqilah, jadi ia tidak peduli tentang restu keluarga.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit Danu sampai di depan apartement, ia buru-buru berjalan ke arah apartement, tapi betapa terkejutnya dia saat di depan pintu apartement sudah ada Olivia membuat Danu menghela napas kasar.
"Dan, kamu sudah tau tentang perjodohan kita?"
Olivia bertanya pada Danu sambil tersenyum lebar, ia senang karena akan di jodohkan bersama Danu, ia sudah lama mencintai Danu, tapi lagi-lagi Danu selalu menolak berbagai alasan tanpa mau belajar untuk menerimanya.
__ADS_1
"Tidak tau dan tidak mau tau, karena sampai kapan pun hanya Aqilah yang akan aku nikahi."
Senyuman Olivia langsung pudar, lagi-lagi Aqilah selalu menempati hati Danu, dari masa SMA Danu mencintai Aqilah, hingga sekarang Aqilah sudah memiliki suami, Danu masih tetap mencintai Aqilah.
Olivia memang sudah tau kalau Danu mencintai Aqilah, dari saat ia jujur untuk pertama kalinya kalau ia mencintai Danu, tapi Danu menolaknya dan mengatakan kalau Danu mencintai Aqilah.
"Kenapa harus Aqilah dan Aqilah? Bukan'kah kamu sudah tau kalau Aqilah sudah memiliki suami, tapi kenapa kamu masih saja mengejar-ngejar Aqilah?!"
"Sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu, kamu pasti tau jawabannya karena sama dengan kamu. Aku sudah menolaknya berkali-kali, tapi kamu masih tidak tau malu untuk terus mengatakan tentang perasaanmu, kamu seolah-olah tidak pernah peduli dengan penolakanku, begitu pun dengan aku yang sangat mencintai Aqilah, tidak peduli walau pun aku tau kalau Aqilah sudah memiliki suami."
Setelah mengatakan itu Danu langsung membuka kode apartemennya, lalu langsung masuk ke dalam apartement tanpa mempedulikan Olivia yang masih berdiri di depan pintu.
Danu langsung berjalan ke arah lemari penyimpanan Wine, ia langsung mengambil satu Wine. Danu duduk di ruang televisi sambil meneguk Wine, ia bingung dan cemas bagai mana dengan ke adaan Aqilah, tapi ia juga bingung harus bagai mana untuk melihat keadaan Aqilah kalau Aqilah benar-benar baik-baik saja.
"Qi, kamu sedang apa? Bagai mana dengan keadaanmu?"
Danu berbicara sambil meneguk Wine, lalu ia langsung mengambil ponselnya di saku celananya untuk menghubungi Kenny, ia ingin bertanya pada Kenny tentang Aqilah, setelah di angkat ia langsung berbicara lebih dulu.
"Ken, apa Aqilah mengatakan sesuatu? Aku sangat kuatir pada Aqilah."
"Tuan Danu tidak perlu memikirkan tentang Nona."
Kenny biasanya memanggil Pak Danu pada Danu, tapi ia di suruh memanggil tuan oleh Aqilah pada Danu lewat pesan singkat saat perjalanan pulang ke Jakarta.
"Bagai mana saya tidak memikirkan tentang Aqilah kalau Aqilah tidak bisa di hubungi?"
Kenny menghela napas berat, ia juga memang menghubungi Aqilah, tapi nomer Aqilah dua-duanya tidak aktif.
"Nona hanya berpesan pada saya kalau 1 Minggu Nona tidak ada kabar, itu artinya Nona tidak baik-baik saja, dan Nona menyuruh Sinta untuk menyebarkan video percumbuan tuan Wira bersama Nona Alexsa."
Danu menghela napas lega saat mendengar jawaban dari Kenny, setidaknya Aqilah sudah merencanakan sesuatu.
"Baik kalau begitu, lalu bagai mana dengan keadaan Sinta?"
"Sinta sudah membaik tuan, kalau tuan butuh bantuan telpon saya saja."
__ADS_1
"Iya Ken."