
Kali ini Aqilah tidak bisa menutupi rasa sedihnya saat mendengar percakapan kaka beradik yang sangat menyedihkan.
Mata Aqilah sudah memerah, ia sudah pernah di posisi ini saat usianya 6 tahun, dan bayang-bayang itu berputar kembali.
"Oh iya Allena, ini nyonya Aqilah, istri dari tuan Wira."
Allena langsung mengulurkan tangan pada Aqilah. Aqilah langsung menjabat tangan Allena.
"Allena."
"Syaqilah."
Mereka langsung melepaskan jabatan tangannya, sebenarnya Allena sangat bingung kenapa kakanya membawa istri dari tuannya kemari.
Namun Allena tidak ingin mempermasalahkan itu karena hatinya sangat sedih.
"Aldo, jangan menjual mobilmu lagi, saya bisa melunasi biyaya oprasi ibumu, kamu cukup tanda tangani saja surat perjanjiannya."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung pergi untuk meminta ijin pada pemilik rumah sakit.
Tok-tok.
"Masuk!"
Aqilah masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum lebar.
"Silahkan duduk Nona."
"Terima kasih Pak."
Aqilah langsung duduk sambil tersenyum.
"Sebelumnya kenalkan nama saya Veronica Syaqilah Anderson."
Aqilah berbicara sambil mengulurkan tanganya, tentu langsung di balas oleh lelaki yang bernama Andika Senxi itu pemilik rumah sakit.
"Saya Andika Senxi, saya tidak menyangka akan bertemu dengan putri dari tuan Anderson langsung."
Andika menjabat uluran tangan Aqilah sambil tersenyum lebar saat mengetahui nama lengkap dari Aqilah.
"Saya kesini untuk meminta surat rujukan agar mengijinkan saya untuk membantu mengoprasi bu."
Aqilah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sungguh ia lupa menanyakan nama ibu dari Aldo.
"Untuk nama putranya Aldo, mungkin bapak tau?"
"Oh untuk bu Lili, sebelumnya apa pernah mengeprosasi sesaorang?"
Yang Andika tau kalau putri dari keluarga Anderson berkulih mengambil jurusan dokter kulit, jadi ia tidak percaya kalau wanita di depanya ini mampu mengoprasi.
"Wah ternyata rumor saya yang bisa membuat obat alami anda belum mendengarnya?"
Aqilah merogoh saku celananya untuk memberikan kartu pada Andika.
"Saya sama sekali bukan dokter kulit, saya hanya khurus saja di bagian kulit, sedangkan jurusan yang saya ambil adalah sebagai dokter sepesialis bedah."
Andika mengambil kartu yang di berikan Aqilah, itu memang benar, tapi rumor yang di dengar oleh Andika kalau Aqilah mengambil jurusan dokter kulit.
"Baik kalau begitu, tapi apa Nona Veronica bisa menjamin kesalamatan pasien?"
__ADS_1
"Saya pastikan kalau saya bisa menyelamatkan bu Lili. Rahasiakan identitas saya, yang bernama Veronica Anderson. Cukup memakai nama Syaqilah dan saya yang akan ambil alih merawat bu Lili sampai siuman."
Andika mengangguk pelan, ia langsung menulis surat rujukan untuk Aqilah.
"Ini surat rujukanya, Nona Veronica bisa datang ke ruangan dokter Yuda."
"Oke terima kasih Pak Andika."
"Sama-sama Nona."
Aqilah langsung menjabat tangan Andika, tidak lupa ia memasukan kembali kartu identitasnya di dalam saku celananya.
Aqilah langsung keluar dari ruangan itu menuju ke resepsionis untuk melunasi tagihan rumah sakit bu Lili.
"Permisi, saya mau melunasi tagihan bernama bu Lili dan apa Aldo sudah menandatanganinya?"
"Pak Aldo sudah menandatanganinya, dan ini tagihan rumah sakitnya."
Aqilah langsung melihat jumblah yang tertera di sana, lalu langsung membayarnya lewat ponselnya.
"Ini surat pelunasannya Nona."
"Terima kasih, ruangan dokter Yuda di mana?"
"Sama-sama Nona, di sana."
Resepsionis itu berbicara sambil menujukan tempat yang di tanya oleh Aqilah.
Aqilah langsung berjalan ke arah dokter Yuda, ia langsung mengetuk pintu ruangan itu.
Tok-tok.
"Masuk!"
Dokter Yuda sangat terkejut dengan wanita yang masuk ke dalam ruanganya.
"Apa tidak salah Pak Andika menyuruh Gadis ini untuk membantu saya?" batin Yuda
"Apa anda yang akan membantu saya mengoprasi bu Lili?"
"Iya dokter Yuda."
Aqilah memberikan surat rujukan itu pada dokter Yuda.
Dokter Yuda langsung membacanya, lalu ia langsung memberikan baju putih khas baju dokter pada Aqilah.
"Kita mulai sekarang, suster sudah menyiapkan segalanya dari tadi."
"Baik dok."
Aqilah langsung memakai baju dokter itu, tidak lupa memakai masker.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil mengobrol tentang oprasi yang akan di lakukan.
Saat sudah di depan pintu Aldo memegang pergelangan tangan Aqilah, saat melihat Aqilah akan masuk ke ruangan oprasi.
"Nyonya mau ngapain?"
"Ada yang harus saya kerjakan di dalam, kamu cukup berdo'a saja supaya ibumu selamat."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Aqilah melepaskan tangan Aldo lalu langsung masuk ke ruangan oprasi.
Aldo melihat pintu tertutup dengan perasaan tidak percaya, ia merasa cemas pada ibunya dan bingung pada Aqilah.
Aldo merasa ada keanehan dalam diri Aqilah, Aqilah membantu ia dengan sangat muda untuk menyuruh Danu melajutkan kotrak kerja sama, dan sekarang ia harus di kejutkan dengan Aqilah masuk ke ruangan oprasi menggunakan baju khas dokter.
"Kak, memangnya nyonya Aqilah itu dokter?"
"Kaka tidak tau Allena, yang kaka tau kalau nyonya Aqilah itu adalah lulusan SMA, tapi ada satu hal yang baru kakak ingat, nyonya Aqilah selalu tidak memiliki bekas luka saat di cambuk oleh tuan Wira, bisa jadi kalau nyonya Aqilah itu sebenarnya bukan orang dari kalangan biasa."
Hanya itu dalam pikiran Aldo sekarang. Walau pun Aldo cemas, tapi otaknya masih bisa untuk berpikir.
Allena mengangguk pelan, ia langsung menarik kakanya untuk duduk di sampingnya, lalu langsung memeluk kakanya sangat erat.
"Kita berdo'a saja supaya Tuhan melancarkan oprasi ibu."
Allena hanya mengangguk pelan. Sudah hampir 3 jam oprsi itu di lakukan hingga Aldo melihat lampu oprasi itu mati.
Sebelum keluar dokter Yuda tersenyum sambil membuka maskernya.
"Ternyata anda sangat handal Nona, saya tadi sudah benar-benar panik saat jantung pasien semakin melemah."
"Dokter Yuda tidak perlu panik, justru kalau panik kita tidak bisa berpikir jernih dan mengakibatkan akan membahayakan nyawa pasien."
Dokter Yuda mengangguk pelan, lalu mereka langsung keluar dari sana.
Saat pintu itu terbuka Aldo langsung buru-buru menghampiri dokter.
"Bagai mana keadaan ibu saya dok?"
"Oprasinya berhasil, kalau begitu saya permisi."
"Terima kasih dok."
"Sama-sama Pak."
Setelah dokter Yuda pergi Aqilah langsung memeluk Allena.
"Jangan menangis ibumu sudah selamat, saya akan mengambil alih merawat bu Lili sampai bu Lili siuman."
"Terima kasih nyonya."
Allena juga membalas pelukan dari Aqilah. Setelah mereka melepaskan pelukanya, Aqilah bisa melihat wajah sedikit ceriah dari Allena, ia menghela nafas lega, cukup ia yang merasakan kehilangan sosok seorang ibu dari kecil.
"Terima kasih atas bantuan nyonya, saya tidak tau harus melakukan apa agar bisa membalas budi pada nyonya."
Aqilah tersenyum memandang Aldo, ia menepuk pelan punggung Aldo.
"Cukup rahasiakan keanehan yang kamu temui di dalam diri saya, dan jangan pernah bertanya siapa saya sebenarnya. Suatu saat kamu akan tau siapa saya."
Aldo hanya menganggukan kepalanya, sebenarnya otaknya penuh dengan pertanyaan tentang Aqilah, tapi ia hanya bisa pasrah saja.
Saat ada suster akan memindahkan bu Lili, Aqilah langsung menyuruh mereka untuk memindahkan ke ruangan VIP.
"Sus, tolong pindahkan bu Lili ke ruangan inap VIP."
"Baik Nona."
Setelah para suster itu masuk, Aqilah langsung mengajak mereka makan.
__ADS_1
"Al, kita makan dulu yuk, saya tau kalian berdua pasti tidak nafsu makan, tapi perut kalian harus di isi."
Aldo dan Allena hanya mengangguk pasrah saja, mereka tau kalau Aqilah tidak ingin membuat mereka sakit.