
Aqilah yang sekarang bukan Aqilah yang dulu, dulu terlihat polos dan kanak-kanakan hanya untuk mendapatkan cinta dari Wira, tapi Aqilah yang sekarang terlihat angkuh, tatapan matanya menatap tajam layaknya seperti berhadapan dengan orang asing.
"Apa maksudmu di akhiri Aqilah?"
Wira bertanya pada Aqilah dengan raut wajah kecewa.
"Seperti janjiku, aku akan memberikan surat persetujuan cerai tepat di unnaversery kita, tapi nyatanya aku tidak bisa, aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku tidak bisa jauh dari Danu, aku mencintai Danu."
Setelah mengatakan itu Aqilah langsung mengambil surat persetujuan cerai dan pena yang sudah ia siapkan untuk suaminya.
"Ini tinggal kamu tandatangani, aku sudah tandatangan."
Bukan hanya Wira yang terkejut, tapi Rika, Amel dan Resya juga sangat terkejut, tapi tidak dengan Susan, ia sudah tau kalau kejadiannya akan seperti ini, tapi Susan masih ingin memastikan dengan kepalanya sendiri kalau dugaannya salah, namun ternyata dugaannya itu benar.
Rika tidak melihat menantu yang dulu, dulu begitu terlihat ceriah dan polos, tapi kali ini menantunya hanya ada tatapan tajam, entah kemana Aqilah yang dulu, yang selalu mengejar-ngejar putranya layaknya orang gila.
"Aku tidak akan tandatangan, kamu tetap akan menjadi istriku dan tetap menjadi milikku Aqilah."
"Aku bukan barang yang seenaknya kamu buang dan kamu pungut kembali, tolong segera tandatangani Wir, aku tidak mau membuang waktu berhargaku untuk meladenimu!"
"Bagai mana dengan lukamu?"
Wira langsung menyingkab lengan baju istrinya untuk melihat luka yang di derita istrinya.
"Apa ini parah?"
Wira bertanya dengan raut wajah kuatir saat melihat lengan istrinya masih di perban, tapi dengan sigap istrinya menghempaskan tangannya.
"Aku baik-baik saja! Jadi kamu tidak perlu menyentuhku! Aku juga tidak sudi di sentuh bekas tangan lelaki yang pernah memeluk jallang!"
Ucapan Aqilah mampu membuat orang di sana tercengang, bukan hanya mereka para asisten rumah tangga di sana juga tercengang saat mendengar ucapan Aqilah.
Para asisten rumah tangga tidak melihat sosok Aqilah yang selalu tersenyum ceriah, tatapan matanya mampu membuat mereka takut saat melihat Aqilah memasuki rumah Wira.
"Apa maksudmu Aqilah?"
__ADS_1
Aqilah tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, ia melihat jam di tangannya sekilas.
"Segera tandatangani! Aku tidak memiliki banyak waktu, masih ada urusan yang harus aku urus!"
Sebenarnya Aqilah tidak memiliki urusan lain, tapi ia tidak betah lama-lama di rumah suaminya, itu sama saja mengingatkan ia ke masa lalu, terlebih ia belum bisa melepas cinta untuk suaminya, tapi ia tidak ingin mengecewakan lelaki yang sudah menyembuhkan luka yang di buat oleh suaminya.
"Aku mohon kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Aqilah, kamu boleh melakukan kekerasan seperti yang pernah aku lakukan, tapi tolong beri aku kesmpatan ke dua."
Wira berbicara sambil berlutut di depan istrinya, ia tidak peduli dengan harga diri, ia tidak mau kehilangan istrinya untuk yang ke dua kalinya.
"Kamu bilang kesempatan? Bukan'kah sudah aku bilang kalau aku jijik pada tubuhmu, aku tidak ingin di sentuh oleh lelaki yang sudah menyentuh jallang!"
Aqilah berbicara sambil bersidakep dada, ia sama sekali tidak berniat membangunkan suaminya yang sedang berlutut di hadapannya.
"Lalu apa bedanya kamu dan Alexsa?! Bukan'kah kalian berdua sama-sama jallang?! Bahkan kamu kabur bersama Danu dan di antar pulang bersama Danu, tanpa tau malu kalian berdua peluk-pelukan lalu cium-ciuman di depan gerbang!"
Resya memang melihat adegan Danu dan Aqilah dari cctv rumah tadi.
"Tutup mulutmu Resya...!!!"
Wira berteriak marah saat Resya menyamakan istrinya dengan Alexsa, ia tidak suka kalau ada orang yang menyamakan kelakuan istrinya dan Alexsa.
"Bukan'kah dulu kamu jijik terhadapku? Bukan'kah dulu kamu bilang aku wanita murahan? Lalu sekarang untuk apa kamu membelaku? Aku tidak butuh pembelaan dari siapa pun, tanpa pembelaan dari siapa pun aku bisa menjatuhkan lawanku sendiri, apa lagi anak ingusan seprti Resya!"
"Berani sekali kamu bilang aku anak ingusan! Dasar wanita murahan gila!"
"Diam kamu Resya...!!!"
Susan berteriak marah saat cucunya masih saja memojokan Aqilah, apa lagi hatinya sangat hancur saat tau kalau Aqilah datang kemari hanya untuk meminta tandatangan.
"Ih Nenek! Kenapa Nenek selalu saja membela Aqilah?!"
Resya semakin kesal saat di bentak oleh Neneknya, tapi Neneknya tidak membalas pertanyaannya.
"Aku tau aku salah Aqilah, tapi tolong berikan kesempatan untuk kali ini saja, aku tidak mau kehilangan kamu lagi."
__ADS_1
Aqilah menghela nafas kasar saat mendengar permintaan dari suaminya.
"Segera tandatangani Wira, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi."
"Aku tidak akan menandatangani surat itu sampai kapan pun, karena sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi istriku."
"Aku tidak ingin menjadi istrimu lagi, aku ingin menjadi istri dari Danu, aku mencintainya."
Susan tidak percaya saat mendengar ucapan dari Aqilah yang kekeh ingin bercerai, ternyata Aqilah semudah itu melupakan cucunya.
Susan tau kalau cucunya memang tidak bisa di maafkan, cucunya sudah sangat keterlaluan, tapi ia tidak menyangka kalau Aqilah mudah berpaling pada lelaki lain, apa lagi Danu adalah bawahannya sendiri.
"Aku tidak akan menceraikanmu, aku mencintaimu Aqilah, aku akan buat kamu jatuh cinta lagi padaku kalau cinta untukku sudah tidak ada lagi."
"Wira, kamu jadi lelaki jangan seenaknya! Kalau kamu mencintaiku sekarang, kamu sangat salah karena aku mencintai Danu!"
"Apa aku salah mempertahankan istriku sendiri? Tentu jawabannya tidak salah Aqilah, tapi yang salah itu Danu, Danu hadir menjadi orang ke tiga di rumah tangga kita."
Aqilah tertawa terbahak-bahak, seolah-olah ucapan suaminya itu sangat lucu.
"Lalu apa kabar dengan mantan jallangmu? Bukan'kah perkara kehancuran rumah tangga kita karena kamu tidak pernah memberikan aku harapan walau pun hanya sedikit? Kamu menyiksa hati dan pisikku, kamu yang menyuruh aku menjauh dari kehidupanmu, lalu kamu menyalahkan Danu yang tidak tau apa-apa. Apa kamu tidak waras Wira? Danu selalu ada untukku, menujukan cintanya dengan ketulusan, sekali pun Danu menolak wanita yang tidak di cintainya, Danu selalu menolaknya secara halus tidak sepertimu tanpa belas kasih!"
Wira menghela nafas berat saat mendengar ucapan panjang dari istrinya, apa lagi saat membanding-bandingkan ia bersama Danu, ia sangat tidak suka.
"Aku tidak peduli, kamu tetap akan menjadi istriku Aqilah!"
Setelah mengatakan itu Wira langsung mengambil kertas yang ada di meja, ia langsung merobek-robek kertas itu.
"Jangan bermimpi kamu bisa bercerai daruku! Sampai kapan pun kamu adalah istriku dan milikku!"
Aqilah yang melihat kertas surat perjanjian cerai di robek-robek oleh suaminya ia langsung berdiri sambil menatap tajam mata suaminya.
"Apa kamu gila Wira?!!"
"Iya aku memang gila karena telat menyadari kalau aku mencintaimu, kamu adalah Gadis masa kecilku dan kamu akan tetap menjadi dia, kamu tetap menjadi Gadis kecilku Aqilah! Tidak boleh ada orang yang merebut kamu dariku!"
__ADS_1
Aqilah mengusap wajahnya dengan kasar, sifat keras kepala suaminya itu tidak pernah berubah.
"Aku bukan Aqilah yang dulu Wira! Aku bukan Aqilah yang bodoh karena telah menolongmu, Daddy sampai-sampai menghukumku untuk pergi ke luar negri!"